Kamis, 27 Agustus 2009
Akhirnya, berani juga saya memproklamirkan blog ini (http://alymerenung.wordpress.com) ke haribaan dunia. Meskipun memang masih sangat sederhana pabila dilihat dari sisi manapun, ditilik dari segi manapun, diamati dari sudut manapun, ditembak dari arah manapun. Penampilannya memang belum bisa mengundang makhluk-makhluk maya lain tuk datang walau hanya sekedar mampir sejenak untuk say hellow. Apalagi mengundang decak kagum pada dunia. Namun, saya patut mengacungkan jempol kepada diri saya sendiri karna telah berani mengambil keputusan besar itu. Berani mengabarkan kepada alam sejagat bahwa saya, makhluk kerempeng yang penuh gaya ini, telah merintis sebuah rumah yang akan saya jadikan sebagai tempat penampungan ide-ide dan gagasan-gagasan saya. Tampilannya memang masih teramat sederhana. Belum ada embel-embel fotonya. Belum ada profil saya. Belum ada coment-comentnya. Karna memang saya belum memiliki teman di dunia maya ini (cucian de lo). Saya masih belum banyak mengerti tentang dunia wordpress ini. Jadi kesimpulannya, saya masih belum bisa memperindah penampilan diri dari blog saya ini. Insa-Allah, lambat laun, seiring merangkaknya umur, meluasnya ilmu, meningginya tubuh, semakin tersadarkan akan makna hidup ini, bejibunnya buku-buku yang dibaca, kualitas dan kuantitas menulis yang semakin mencengangkan, bertambahnya forum-forum diskusi, pertemuan dengan orang-orang sehati dan seiman, olahraga yang dilakukan tiap hari, dan tak lupa karna seringnya minum susu, saya optimis menggelora dengan buncahan yang amat dahsyatnya bahwa saya, orang yang bernama lengkap Ali, dengan nama pena Nur Ali Muchtar, akan merapikan blog saya. Sehingga, blog itu ga malu-maluin pabila dijenguk orang. Mudah-mudahan semakin banyak orang yang mau melirik blog saya kedepannya. Amin.
Dulu, saat-saat awal saya merintis blog ini. Yang tercatat dalam sejarah pada tanggal 26 Juni 2009. Saya agak sedikit minder sebenarnya. Malu-malu kucing gitu. Apa pasal? Itu lho, kalo saya melihat blog-blog makhluk lain. Kebanyakan mereka sudah menulis berlembar-lembar halaman dengan penampakan blog yang meyakinkan. Blog-blognya tampak amat cantik dan gantengnya. Terlihat penuh daya pesona. Sehingga, membuat saya amat minder pada saat itu.
Lima hari berjalan, saya mulai bosan dan mulai jenuh meladeni blog ini. Saya tidak punya buku panduannya, sulit pula mencari panduan memperindah wordpress yang sumbernya dari internet. Saya jenuh, frustasi, bahkan hampir gila. Akhirnya, saya putuskan untuk berhenti. Jadilah ia blog yang menganggur. Menambah beban bagi dunia. Dalam hal ini adalah dunia maya.
Namun, kegairahan saya menulis justru datang karna suatu hal. Kebetulan, saya punya milis angkatan 06 FMIPA UI. Nah, dari sanalah semuanya bermula. Satu demi satu tulisan-tulisan sederhana saya kirim. Tulisan apa saja. Curhatan saya, pengalaman-pengalaman lucu, penglaman-pengalaman ga lucu, ide-ide atau gagasan-gagasan sederhana, resensi buku, cerpen, iklan-iklan, promosi, hasil syuro (rapat), puisi-puisian, balasan-balasan untuk tulisan sohib-sohib yang lain. Pokoknya, apapun yang bisa saya tuliskan pada saat itu, akan saya posting. Tujuannya, agar bisa dibaca oleh semesta. Tapi apa dinyana, di tengah jalan, ada seorang sohib yang menegur. Akh, kalo bisa, antum jangan kirim curhatan-curhatan antum ke milist 06. Tau kawan apa yang terjadi setelah itu? Saya ga berani nulis lagi. Tapi sempet merenungkannya juga. Kenapa ya ga boleh posting curhatan-curhatan kita untuk dibaca semesta!? Apa karna aib saya jadi terbongkar? Apa karna saya terlalu kotor? Apa karna-karna yang lain? Intinya, saya berhenti menulis pada saat itu. Ngerih ada yang salah dalam tulisan-tulisan saya.
Apakah setelah itu ceritanya tamat sampai disini? Ah, kalo sudah tamat mah, rekan-rekan sekalian, tak akan pernah melihat blog sederhana saya ini: (http://alymerenung.wordpress.com).

Suatu ketika, tiba-tiba saya ingin membaca kembali buku-buku karya Andrea Hirata (Kang Ikal), tetralogi Laskar Pelangi itu. Entahlah sudah berapa kali saya mengulang-ulang membacanya. Seingat saya, saya sudah membaca Laskar Pelangi sebanyak 2 kali. Untuk Sang Pemimpi, sepertinya saya sudah membacanya sebanyak 5 kali. Sedang, untuk Edensor saya telah melahap untuk yang ke-6 kalinya. Dan untuk karyanya yang terakhir, saya baru membaca 2 kali, Maryamah Karpov itu.



Entahlah teman, melulu, setiap kali saya membaca karya Kang Ikal itu, serasa ada sesuatu yang aneh menjalar pada diri saya. Mulanya, saya memang membacanya untuk mendapatkan spirit semangat yang secara keseluruhan memang menghiasi buku itu. Sehingga bisa dapet rangsangan untuk kembali bangkit. Tapi, entah kenapa, meskipun misalnya kondisi saya sedang tune in, sedang semangat-semangatnya, sedang fit gitu, saya tetap ingin membacanya. Dari sini saya mulai menyelidiki, apa sebenarnya yang terjadi antara saya dengan tetralogi itu? Lambat laun, akhirnya terbongkar juga misterinya.
Dia ini kesimpulannya:
Ternyata, saya terpelincut dengan gaya bahasa yang dikemas oleh Kang Ikal itu.
Inilah agaknya teman misteri dibalik kegemaran saya membaca berkali-kali karya Kang Ikal itu.
Saya akui teman bahwa sampai dengan saat ini saya masih belum puas membaca, merenungkan, menikmati liukan kata-kata dari buku fenomenal itu. Alhasil, dapat saya prediksi bahwa persuaan saya dengan buku-buku itu, masih akan terus berlanjut.
Dan inilah teman titik balik dalam hidup saya. Suatu ketika, tatkala saya sedang bersenda gurau dengan sang buku, dan saya seperti merasakan biusan yang amat memabukkan, tiba-tiba saja air mata ini jatuh berderai-derai membasahi bumi. Mulanya sedikit saja air mata ini. Namun, semakin saya terbius dan terpesona dengan liukan kata-kata maut dari buku itu. Air mata ini kian jatuh menderas. Dan teman, saya sempat bergumam pada saat itu, Suatu saat nanti, saya akan buat karya fenomenal yang sepeti ini. Dan setelah itu, saya akan buat yang lebih bagus lagi. Buat lagi, dan buat lagi.
Esoknya, saya langsung lari menuju toko buku. Saya beli buku-buku yang berkaitan dengan kiat-kiat menulis. Dan dari sana, saya mendapatkan sebuah kesimpulan bahwa untuk bisa menulis, maka ada dua hal yang harus kita lakukan. Yang pertama adalah menjadi seorang pembaca. Dan yang kedua adalah latiha menulis, menulis, dan menulis (3M). Untuk yang pertama, insa-Allah itu sudah melekat di dalam diri saya. Namun untuk yang kedua, bukankah saya sudah menghentikan kegiatan tulis menulis saya hanya karna seseorang melarang memposting tulisan yang berupa curhatan-curhatan itu ke milist?
Lalu, ada satu lagi kejadian yang memotivasi saya. Simple, sederhana sekali kejadiannya. Bermula dari seorang kawan di milis 06 yang memuji tulisan saya. Katanya, bahasa tulisan yang saya gunakan, nyastra gitu. Dan berlanjut, esoknya ada sohib yang memuji kreativitas saya dalam menaburkan guyonan-guyonan segar ke sekujur tubuh tulisan. Nah lo, tiba-tiba, dunia ini terasa amat cerahnya dan kepalapun kian meledak-ledak.
Inilah dia, pertemuan antara spirit yang ditawarkan oleh buku gaib Kang Ikal dengan pujian tulus dari seorang kawan.
Setelah itu, bukan main, hasrat ini kian menyala-nyala, meletup-letup, jengkang-jengkang mirip anak kecil yang ngambek minta permen. Ruh ini sempat berbisik, teman, tulislah, tulislah, tulislah apapun yang bisa kau tulis. Kau harus berlatih menulis. Mulailah dari sekarang. Jangan buang-buang waktu lagi. Tulisanmu itu bagus. Engkau bisa seperti Kang Ikal. Bahkan, kau bisa lebih hebat dari sang guru. Jadilah seniman kata-kata sejati. Penuhi dunia ini dengan tulisan-tulisanmu. Ingat teman, tulisanmu bisa menginspirasi setiap orang untuk berubah. Torehkanlah namamu pada dunia dengan tulisan itu. Agar kelak, engkau tercatat dalam lembaran sejarah umat manusia. Ingatlah kawan akan moto hidup dari Muhammad Muhyidin: Cerahkanlah dirimu dengan menulis. Karna cara terbaik untuk hidup adalah dengan menuliskan kabar baik yang datang dari langit. Ingatlah pula akan kata-kata Imam Ali Bin Abi Thalib: Ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Serta, masih ingatkah engkau kawan akan kisa Imam Syafii yang sebenarnya tidak terlampau cerdas, tapi namanya bisa melampaui zamannya. Beliau bukanlah orang yang paling cerdas pada saat itu. Karna masih banyak dari kawan-kawannya yang lebih cerdas dari beliau. Tapi mengapa Imam Syafii menjadi begitu fenomenalnya. Sedang, teman-temannya itu tidak. Malah jauh sekali meninggalkan sohib-sohibnya itu di belakang pada akhirnya. Ya, itulah kawan, karna Imam Syafii adalah murid yang rajin menulis. Dia selalu menuliskan apa-apa yang di ajarkan oleh sang guru. Dan saat ini, kita bisa melihat karya-karya abadinya memenuhi setiap sudut bumi.
Itulah kata-kata yang kian bergaung di dalam kepala saya.
Dimulailah pertualangan saya menuangkan unek-unek yang memenuhi batok kepala ini. Saya tidak takut lagi dengan segala hinaan, gunjingan, cemoohan, kritikan, semprotan, dampratan orang lain. Dan, subhanallah, Maha Suci Allah. Ternyata Allah memberikan saya kegairahan untuk terus menulis, menulis, dan menulis. Jari jemari ini selalu menuntut untuk bergerak apabila satu hari saja saya tidak menulis. Ada sesuatu yang mengganjal di benak apabila saya tidak menulis. Serasa mampet aliran fikiran ini apabila proses perenungan yang memang setiap saat saya lakukan, tidak dibarengi dengan menulis.
Dan saat ini, sekali lagi, meskipun tulisan saya, apabila dibaca, belum selezat tulisan-tulisan semisal: Andrea Hirata, Anis Matta, Ust. Herry Nurdi, Arvan Pradiansyah, Asma nadia, Pramoedya Ananta Toer, dan penulis-penulis hebat yang lain. Namun, saya senang sekali karna ternyata, hanya dalam waktu kurang lebih dua bulan, saya telah menghasilkan beratus-ratus lembar tulisan. Dan ini dilakukan oleh seorang yang baru mulai berlatih berkilat kata dengan jari jemarinya pada tanggal 26 Juni 2009.
Alhamdulillah, inilah yang membuat saya bangga dan tak jemu-jemunya mengucapkan syukur pada Allah SWT. Dan mudah-mudahan Allah SWT tetap memberikan pada saya kegairahan untuk menggerakkan jari jemari ini untuk menuliskan segala sesuatunya. Menuliskan segala sesuatu yang datang dari-Nya. Amin.
Akhirnya, saya ingin menutup tulisan ini dengan sebuah persembahan kata untuk guru tak langsung yang telah membantu saya melentikkan semangat utuk menulis. Yang sekaligus juga memberi panduan pada saya dalam menemukan potensi-potensi saya yang lain. Dan juga tak lupa, untuk teman-teman yang telah memberikan koment yang mampu mengorbitkan hati saya hingga ia berani berterbangan di atas sana bersama awan-awan.
Untukmu wahai sang guru
Untukmu wahai sang teman
Kalianlah yang telah mengorbitkan sang diri
Hingga ia berani muncul untuk menatap dunia
Terbang bebas membebaskan semesta
Membuang belenggu jauh di sebrang sana
Betapa bahagianya sang diri
Tatkala ia tahu
Bahwa ia bisa menulis
Suatu hal yang jauh, jauh dahulu kala
Saat tubuh masih kecil
Saat dunia dipenuhi dengan angka-angka
Dan saat itu ia menyangka tak bisa sama sekali menulis
Namun, berkat jasa kalian
Ia bisa memahami akan satu potensi lain dalam dirinya
Ah guru
Ah teman
Trima kasih yang tak hingga kuhanturkan pada kalian
Kalianlah yang telah membuat segala sesuatunya tampak begitu indah
Seindah kehidupan surga
[Nur Ali Muchtar / DSI MII / BTA LA]
http://alymerenung.wordpress.com
Akhirnya, berani juga saya memproklamirkan blog ini (http://alymerenung.wordpress.com) ke haribaan dunia. Meskipun memang masih sangat sederhana pabila dilihat dari sisi manapun, ditilik dari segi manapun, diamati dari sudut manapun, ditembak dari arah manapun. Penampilannya memang belum bisa mengundang makhluk-makhluk maya lain tuk datang walau hanya sekedar mampir sejenak untuk say hellow. Apalagi mengundang decak kagum pada dunia. Namun, saya patut mengacungkan jempol kepada diri saya sendiri karna telah berani mengambil keputusan besar itu. Berani mengabarkan kepada alam sejagat bahwa saya, makhluk kerempeng yang penuh gaya ini, telah merintis sebuah rumah yang akan saya jadikan sebagai tempat penampungan ide-ide dan gagasan-gagasan saya. Tampilannya memang masih teramat sederhana. Belum ada embel-embel fotonya. Belum ada profil saya. Belum ada coment-comentnya. Karna memang saya belum memiliki teman di dunia maya ini (cucian de lo). Saya masih belum banyak mengerti tentang dunia wordpress ini. Jadi kesimpulannya, saya masih belum bisa memperindah penampilan diri dari blog saya ini. Insa-Allah, lambat laun, seiring merangkaknya umur, meluasnya ilmu, meningginya tubuh, semakin tersadarkan akan makna hidup ini, bejibunnya buku-buku yang dibaca, kualitas dan kuantitas menulis yang semakin mencengangkan, bertambahnya forum-forum diskusi, pertemuan dengan orang-orang sehati dan seiman, olahraga yang dilakukan tiap hari, dan tak lupa karna seringnya minum susu, saya optimis menggelora dengan buncahan yang amat dahsyatnya bahwa saya, orang yang bernama lengkap Ali, dengan nama pena Nur Ali Muchtar, akan merapikan blog saya. Sehingga, blog itu ga malu-maluin pabila dijenguk orang. Mudah-mudahan semakin banyak orang yang mau melirik blog saya kedepannya. Amin.
Dulu, saat-saat awal saya merintis blog ini. Yang tercatat dalam sejarah pada tanggal 26 Juni 2009. Saya agak sedikit minder sebenarnya. Malu-malu kucing gitu. Apa pasal? Itu lho, kalo saya melihat blog-blog makhluk lain. Kebanyakan mereka sudah menulis berlembar-lembar halaman dengan penampakan blog yang meyakinkan. Blog-blognya tampak amat cantik dan gantengnya. Terlihat penuh daya pesona. Sehingga, membuat saya amat minder pada saat itu.
Lima hari berjalan, saya mulai bosan dan mulai jenuh meladeni blog ini. Saya tidak punya buku panduannya, sulit pula mencari panduan memperindah wordpress yang sumbernya dari internet. Saya jenuh, frustasi, bahkan hampir gila. Akhirnya, saya putuskan untuk berhenti. Jadilah ia blog yang menganggur. Menambah beban bagi dunia. Dalam hal ini adalah dunia maya.
Namun, kegairahan saya menulis justru datang karna suatu hal. Kebetulan, saya punya milis angkatan 06 FMIPA UI. Nah, dari sanalah semuanya bermula. Satu demi satu tulisan-tulisan sederhana saya kirim. Tulisan apa saja. Curhatan saya, pengalaman-pengalaman lucu, penglaman-pengalaman ga lucu, ide-ide atau gagasan-gagasan sederhana, resensi buku, cerpen, iklan-iklan, promosi, hasil syuro (rapat), puisi-puisian, balasan-balasan untuk tulisan sohib-sohib yang lain. Pokoknya, apapun yang bisa saya tuliskan pada saat itu, akan saya posting. Tujuannya, agar bisa dibaca oleh semesta. Tapi apa dinyana, di tengah jalan, ada seorang sohib yang menegur. Akh, kalo bisa, antum jangan kirim curhatan-curhatan antum ke milist 06. Tau kawan apa yang terjadi setelah itu? Saya ga berani nulis lagi. Tapi sempet merenungkannya juga. Kenapa ya ga boleh posting curhatan-curhatan kita untuk dibaca semesta!? Apa karna aib saya jadi terbongkar? Apa karna saya terlalu kotor? Apa karna-karna yang lain? Intinya, saya berhenti menulis pada saat itu. Ngerih ada yang salah dalam tulisan-tulisan saya.
Apakah setelah itu ceritanya tamat sampai disini? Ah, kalo sudah tamat mah, rekan-rekan sekalian, tak akan pernah melihat blog sederhana saya ini: (http://alymerenung.wordpress.com).
Suatu ketika, tiba-tiba saya ingin membaca kembali buku-buku karya Andrea Hirata (Kang Ikal), tetralogi Laskar Pelangi itu. Entahlah sudah berapa kali saya mengulang-ulang membacanya. Seingat saya, saya sudah membaca Laskar Pelangi sebanyak 2 kali. Untuk Sang Pemimpi, sepertinya saya sudah membacanya sebanyak 5 kali. Sedang, untuk Edensor saya telah melahap untuk yang ke-6 kalinya. Dan untuk karyanya yang terakhir, saya baru membaca 2 kali, Maryamah Karpov itu.
Entahlah teman, melulu, setiap kali saya membaca karya Kang Ikal itu, serasa ada sesuatu yang aneh menjalar pada diri saya. Mulanya, saya memang membacanya untuk mendapatkan spirit semangat yang secara keseluruhan memang menghiasi buku itu. Sehingga bisa dapet rangsangan untuk kembali bangkit. Tapi, entah kenapa, meskipun misalnya kondisi saya sedang tune in, sedang semangat-semangatnya, sedang fit gitu, saya tetap ingin membacanya. Dari sini saya mulai menyelidiki, apa sebenarnya yang terjadi antara saya dengan tetralogi itu? Lambat laun, akhirnya terbongkar juga misterinya.
Dia ini kesimpulannya:
Ternyata, saya terpelincut dengan gaya bahasa yang dikemas oleh Kang Ikal itu.
Inilah agaknya teman misteri dibalik kegemaran saya membaca berkali-kali karya Kang Ikal itu.
Saya akui teman bahwa sampai dengan saat ini saya masih belum puas membaca, merenungkan, menikmati liukan kata-kata dari buku fenomenal itu. Alhasil, dapat saya prediksi bahwa persuaan saya dengan buku-buku itu, masih akan terus berlanjut.
Dan inilah teman titik balik dalam hidup saya. Suatu ketika, tatkala saya sedang bersenda gurau dengan sang buku, dan saya seperti merasakan biusan yang amat memabukkan, tiba-tiba saja air mata ini jatuh berderai-derai membasahi bumi. Mulanya sedikit saja air mata ini. Namun, semakin saya terbius dan terpesona dengan liukan kata-kata maut dari buku itu. Air mata ini kian jatuh menderas. Dan teman, saya sempat bergumam pada saat itu, Suatu saat nanti, saya akan buat karya fenomenal yang sepeti ini. Dan setelah itu, saya akan buat yang lebih bagus lagi. Buat lagi, dan buat lagi.
Esoknya, saya langsung lari menuju toko buku. Saya beli buku-buku yang berkaitan dengan kiat-kiat menulis. Dan dari sana, saya mendapatkan sebuah kesimpulan bahwa untuk bisa menulis, maka ada dua hal yang harus kita lakukan. Yang pertama adalah menjadi seorang pembaca. Dan yang kedua adalah latiha menulis, menulis, dan menulis (3M). Untuk yang pertama, insa-Allah itu sudah melekat di dalam diri saya. Namun untuk yang kedua, bukankah saya sudah menghentikan kegiatan tulis menulis saya hanya karna seseorang melarang memposting tulisan yang berupa curhatan-curhatan itu ke milist?
Lalu, ada satu lagi kejadian yang memotivasi saya. Simple, sederhana sekali kejadiannya. Bermula dari seorang kawan di milis 06 yang memuji tulisan saya. Katanya, bahasa tulisan yang saya gunakan, nyastra gitu. Dan berlanjut, esoknya ada sohib yang memuji kreativitas saya dalam menaburkan guyonan-guyonan segar ke sekujur tubuh tulisan. Nah lo, tiba-tiba, dunia ini terasa amat cerahnya dan kepalapun kian meledak-ledak.
Inilah dia, pertemuan antara spirit yang ditawarkan oleh buku gaib Kang Ikal dengan pujian tulus dari seorang kawan.
Setelah itu, bukan main, hasrat ini kian menyala-nyala, meletup-letup, jengkang-jengkang mirip anak kecil yang ngambek minta permen. Ruh ini sempat berbisik, teman, tulislah, tulislah, tulislah apapun yang bisa kau tulis. Kau harus berlatih menulis. Mulailah dari sekarang. Jangan buang-buang waktu lagi. Tulisanmu itu bagus. Engkau bisa seperti Kang Ikal. Bahkan, kau bisa lebih hebat dari sang guru. Jadilah seniman kata-kata sejati. Penuhi dunia ini dengan tulisan-tulisanmu. Ingat teman, tulisanmu bisa menginspirasi setiap orang untuk berubah. Torehkanlah namamu pada dunia dengan tulisan itu. Agar kelak, engkau tercatat dalam lembaran sejarah umat manusia. Ingatlah kawan akan moto hidup dari Muhammad Muhyidin: Cerahkanlah dirimu dengan menulis. Karna cara terbaik untuk hidup adalah dengan menuliskan kabar baik yang datang dari langit. Ingatlah pula akan kata-kata Imam Ali Bin Abi Thalib: Ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Serta, masih ingatkah engkau kawan akan kisa Imam Syafii yang sebenarnya tidak terlampau cerdas, tapi namanya bisa melampaui zamannya. Beliau bukanlah orang yang paling cerdas pada saat itu. Karna masih banyak dari kawan-kawannya yang lebih cerdas dari beliau. Tapi mengapa Imam Syafii menjadi begitu fenomenalnya. Sedang, teman-temannya itu tidak. Malah jauh sekali meninggalkan sohib-sohibnya itu di belakang pada akhirnya. Ya, itulah kawan, karna Imam Syafii adalah murid yang rajin menulis. Dia selalu menuliskan apa-apa yang di ajarkan oleh sang guru. Dan saat ini, kita bisa melihat karya-karya abadinya memenuhi setiap sudut bumi.
Itulah kata-kata yang kian bergaung di dalam kepala saya.
Dimulailah pertualangan saya menuangkan unek-unek yang memenuhi batok kepala ini. Saya tidak takut lagi dengan segala hinaan, gunjingan, cemoohan, kritikan, semprotan, dampratan orang lain. Dan, subhanallah, Maha Suci Allah. Ternyata Allah memberikan saya kegairahan untuk terus menulis, menulis, dan menulis. Jari jemari ini selalu menuntut untuk bergerak apabila satu hari saja saya tidak menulis. Ada sesuatu yang mengganjal di benak apabila saya tidak menulis. Serasa mampet aliran fikiran ini apabila proses perenungan yang memang setiap saat saya lakukan, tidak dibarengi dengan menulis.
Dan saat ini, sekali lagi, meskipun tulisan saya, apabila dibaca, belum selezat tulisan-tulisan semisal: Andrea Hirata, Anis Matta, Ust. Herry Nurdi, Arvan Pradiansyah, Asma nadia, Pramoedya Ananta Toer, dan penulis-penulis hebat yang lain. Namun, saya senang sekali karna ternyata, hanya dalam waktu kurang lebih dua bulan, saya telah menghasilkan beratus-ratus lembar tulisan. Dan ini dilakukan oleh seorang yang baru mulai berlatih berkilat kata dengan jari jemarinya pada tanggal 26 Juni 2009.
Alhamdulillah, inilah yang membuat saya bangga dan tak jemu-jemunya mengucapkan syukur pada Allah SWT. Dan mudah-mudahan Allah SWT tetap memberikan pada saya kegairahan untuk menggerakkan jari jemari ini untuk menuliskan segala sesuatunya. Menuliskan segala sesuatu yang datang dari-Nya. Amin.
Akhirnya, saya ingin menutup tulisan ini dengan sebuah persembahan kata untuk guru tak langsung yang telah membantu saya melentikkan semangat utuk menulis. Yang sekaligus juga memberi panduan pada saya dalam menemukan potensi-potensi saya yang lain. Dan juga tak lupa, untuk teman-teman yang telah memberikan koment yang mampu mengorbitkan hati saya hingga ia berani berterbangan di atas sana bersama awan-awan.
Untukmu wahai sang guru
Untukmu wahai sang teman
Kalianlah yang telah mengorbitkan sang diri
Hingga ia berani muncul untuk menatap dunia
Terbang bebas membebaskan semesta
Membuang belenggu jauh di sebrang sana
Betapa bahagianya sang diri
Tatkala ia tahu
Bahwa ia bisa menulis
Suatu hal yang jauh, jauh dahulu kala
Saat tubuh masih kecil
Saat dunia dipenuhi dengan angka-angka
Dan saat itu ia menyangka tak bisa sama sekali menulis
Namun, berkat jasa kalian
Ia bisa memahami akan satu potensi lain dalam dirinya
Ah guru
Ah teman
Trima kasih yang tak hingga kuhanturkan pada kalian
Kalianlah yang telah membuat segala sesuatunya tampak begitu indah
Seindah kehidupan surga
[Nur Ali Muchtar / DSI MII / BTA LA]
amin.
semangka (SEMANGat KAwan)
Awalnya gak sengaja buka blog ini…
trus coba membaca sedikit artikelnya, hmm… kok makin asyik yah…
tek lanjutin lagi… kpengen berhenti baca … tapi kok gak bisa yach..
Ternyata Aku tlah terbius dengan coretan penamu…
sungguh indah bahasamu …
I Like It…
Trus berkarya teman…
nicee
nicee blog.. syekh hahaha
thanx bek. blog lo apa lagi
waaah keren, terharu, senang, terinspirasi, termotivasi, dan saya juga ingin sepertimu… Makasih ya, alhamdulillah saya bertemu dengan blog kamu
subhanallah.. aku ingin belajar dan mengajarkannya..
February 22, 2010 at 1:01 pm
kereeennnn,,,
saya jadi terinspirasi bwt menuliskan kisah dibalik pembuatan blog saya,,
moga dengan kita terus berusaha menulis menulis dan menulis kita bernar-benar bisa menelurkan karya hebat..
semangat!!!!