MENULIS SEUMUR HIDUP

“DAHSYATNYA MERENUNG”

Posted on: June 26, 2009

Teman, pernahkah dikau merenung? Ah, pertanyaan bodoh. Bukankah setiap orang pasti pernah merenung? Lihatlah, bukankah orang-orang gila yang sering berkeliaran di jalan-jalan itu suka merenung? Bukankah anak-anak juga suka merenung? Bukankah kalau kita sedang berada di (maaf) WC juga suka merenung? Bukankah kalau para orang tua yang sedang dirundung banyak masalah pasti suka merenung sendirian? Bukankah itu semua adalah merenung? Lantas, apa dahsyatnya kalau merenung bisa dilakukan oleh siapa saja. Mulai dari anak kecil, ibu-ibu hamil, nenek-nenek, kakek-kakek, tukang becak, supir angkot, orang gila bahkan mungkin dedemitpun ikut-ikutan merenung. Lalu, apa dahsyatnya kalo merenung bisa dilakukan kapan saja. Di jalan, di kamar tidur, di masjid, di (maaf) WC, di kampus, di angkot, di tengah laut, di alam kubur, dll. Apa uniknya? Kalau gitu mana dahsyatnya? Sabar teman. Mari kita lanjutkan.

Teman, bukan itu yang daku maksud dengan merenung di sini. Merenung dalam definisi daku memiliki makna yang lebih dalam dari itu semua. Dan memiliki dampak positif yang luar biasa bagi perkembangan diri kita. Merenung dalam artian daku adalah merenung yang disertai dengan pikiran dan kesadaran yang terjaga disertai keinginan yang kuat untuk mendapatkan sesuatu yang baik dari proses merenung itu. Maka pasti terdapat banyak dampak bagi perkembangan diri kita dari proses merenung ini.

Masih tidak percaya teman, bahwa merenung ini bisa menghasilkan banyak sekali kebaikan bagi diri kita. Percayakah kau bahwa dengan merenung ini, harta karun yang terdapat di dalam diri kita ini sedikit demi sedikit akan terkuak. Potensi kita, yang awalnya seperti buah yang masih muda dan sepet, ga enak rasanya. Jika kita banyak melakukan proses perenungan. Maka buah itu akan cepat matang dan ranum. Jadi ada proses percepatan kematangan di sini. Yang disebabkan proses merenung tadi. Merenung ini bisa membangkitkan kegairahan dan semangat yang luar bisa dalam diri kita. Dan lewat merenunglah kita bisa mengumpulkan energi dahsyat yang setiap saat bisa kita muntahkan. Dan nanti, muntahannya ini bisa mencuatkan ledakan karya yang maha dahsyat. Ibarat sebuah gunung merapi yang akan meletus. Maka ia menghasilkan larva-larva panas yang mampu menyuburkan tanah yang dihinggapinya.

Mungkin dikau masih belum yakin akan kekuatan dahsyat dari merenung ini. Apalagi bagi orang-orang super sibuk yang bahkan sedikit sekali memiliki waktu untuk dirinya. Bukan egois karena hanya memikirkan diri sendiri melulu. Tapi percaya atau tidak. Bagi daku, orang-orang yang tidak memerhatikan segala sesuatu tentang dirinya. Pastilah ia akan susah untuk memerhatikan orang lain. Mau bukti? Lihatlah itu, anak-anak muda yang memilih narkoba sebagai jalur hidupnya. Bukankah mereka tidak memerhatikan dirinya. Mereka tidak sayang dengan dirinya. Dan dampaknya, mereka tidak akan memiliki kekuatan untuk memerhatikan orang lain. Dan seperti yang kita ketahui. Tidak ada orang yang mau memerhatikan mereka. Kecuali mungkin sanak keluarga, kaum kerabat atau handai taulan. Tapi itu tidak semua.

Baiklah teman. Daku sedikit ingin berbagi pada teman-teman semua. Mengenai pengalamanku yang lain dalam hal merenung. Begini ceritanya:

Daku sudah memulai proses merenung ini setidaknya satu setengah tahun yang lalu. Semuanya bermula dari ide tentang pemanfaatan waktu jika kita sedang berada di dalam angkot. Nah teman, apa yang kita lakukan jika kita berada di dalam angkot? Membaca buku, melihat-lihat pemandangan, melihat wanita cantik nan semlohay untuk cowo atau pria ganteng (seperti saya) untuk cewek, stress di dalam mobil jika macet, mendengarkan mp3, sms+telpon-telponan atau bahkan tidur mendengkur di dalam angkot? Daku pribadi sering menghabiskan waktu di angkot dengan melakukan hal-hal itu. Tapi, itu daku lakukan sebelum satu setengah tahun belakangan ini. Sebelum daku menemukan resep ampuh untuk mengatasi masalah ini. Dan daku telah mendapatkan jawabannya sekarang. Jawabannya adalah habiskan waktu di dalam angkot dengan merenung. Merenung apa saja. Asalkan merenungkan hal-hal yang sifatnya positif. Merenung tentang keajaiban alam semesta, merenung tentang motivasi kita, merenungkan hasil diskusi kita dengan orang lain, merenungkan sifat-sifat yang harus kita perbaiki, merenungkan akan kata-kata bijak tokoh-tokoh besar, merenungkan pelajaran yang baru kita pelajari, merenungkan segala sesuatu yang pernah kita baca, merenungkan mengapa ada orang yang sukses dan ada orang yang gagal, ada orang yang kaya dan ada pula orang yang miskin, merenungkan akan misi hidup, dll. Akan tetapi, dari kesemua itu, satu hal yang terbaik untuk direnungkan. Yaitu merenungkan tentang keberadaan, kekuasaan, kemaha agungan, kebesaran, kekekalan Zat yang Maha Sempurna. Yaitu ALLAH SWT. Karena semakin banyak kita mengingat ALLAH maka hati kita ini akan semakin tenang. Dan dari situ muncullah kebahagiaan hidup yang selalu diburu oleh setiap manusia yang berdomisili di muka bumi ini.

Karena banyak waktu yang kuhabiskan di dalam angkot. Maka aku pun semakin banyak untuk merenung. Bahkan hampir setiap hari. Mulanya hanya di angkot saja. Tapi lama-kelamaan, merenung ini seperti menjadi candu bagiku. Apalagi jika daku sedang dirundung banyak sekali masalah. Semakin intens daku merenung. Pagi, siang, sore, malam, tengah malam pun daku suka merenung. Tapi, waktu yang tak boleh daku lewatkan barang satu haripun untuk merenung adalah pagi hari. Setelah shalat subuh berjamaah di masjid dan sedikit tilawah.

Keyakinanku semakin kuat akan manfaat dari merenung ini setelah daku membaca buku karya Anis Matta. Judulnya Delapan Mata Air Kecemerlangan. Di sana, di buku itu. Sang penulis menjelaskan akan urgennya merenung. Bahkan ia mengatakan bahwa merenung ini adalah basis dari keberhasilan seseorang. Seseorang bisa menemukan dirinya dengan merenung ini. Ia bisa menemukan tuhannya melalui jalur ini. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa kejeniusan pun berasal dari sini. Dari proses merenung ini. Asalkan seseorang telah bisa melalui tiga tahap proses perenungan. Yang pertama, apabila ia telah bisa mendapatkan ketenangan dari proses merenung ini. Yang kedua, apabila ia telah bisa mendapatkan daya konsentrasi yang luar biasa dari merenung ini. Sehingga tidak terpengaruh oleh hal apapun juga yang terjadi di sekitarnya apabila ia sedang merenung. Dan yang terakhir, yang ketiga adalah apabila seseorang telah bisa memikirkan tentang satu tema dalam jangka waktu yang lama. Hingga nanti pada saatnya ia mendapakan kegairahan yang luar biasa apabila ia telah mendapatkan titik terang dari tema yang ia pikirkan.

Keyakinankupun kembali diperkuat dari buku Berpikir dan Berjiwa Besar karya David J Schwartz. Ia mengatkan bahwa orang-orang besar. Bahkan yang super sibuk. Selalu menghabiskan banyak waktu sendirinya untuk merenung, untuk berpikir. Apalagi jika ia sedang menghadapi masalah-masalah yang pelik. Mereka banyak menanyakan pendapat orang lain. Tetapi, kemudian mereka mencari tempat dan waktu yang tepat untuk merenungkan semua pendapat-pendapat dari orang lain itu. Mengolahnya, menganalisanya, dan mencari solusinya. Sendiri, hanya sendiri. Di tempat yang tenang. Dan jauh dari keramaian. Begitulah orang-orang besar mencari solusi dari beragam masalah-masalah hidup yang menghinggapi mereka.

Dan ada satu lagi teman, tokoh terkenal yang sekali lagi kukatakan menambah keyakinanku akan dahsyatnya proses merenung ini. Tokoh ini memiliki julukan Si Elang Botak. Alias Stephen R Covey. Pengarang buku legendaris The Seven Habits of Highly Effective People. Di sana, di buku itu beliau mengatakan bahwa sewaktu beliau tinggal di Honolulu, Hawai. Beliau menghabiskan waktunya sekitar satu jam setiap hari untuk merenung di pinggir pantai.

Itu belum kutambahkan pendapat-pendapat lain dari ulama-ulama besar Islam. Seperti Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, Ibnu Taimiyah, Al-Ghazali, dll. Yang juga berpendapat bahwa untuk mengenal tuhan maka cara terbaik adalah melalui proses perenungan yang panjang dan mendalam. Dan ada pula tokoh-tokoh besar dunia yang gemar akan merenung. Sebutlah orang-orang macam Issac Newton yang menemukan teori gravitasi tatkala merenung di sebuah kebun. Dan melihat apel jatuh di hadapannya. Melalui proses merenung inilah ia terilhamkan untuk menemukan teori gravitasi yang sudah kondang kemana-mana. Leonardo Da Vinci yang terlihat dari lukisan-lukisan abstraknya.

Teman, sudah cukup yakinkah dikau sekarang bahwa merenung itu bukan pekerjaan yang bisa-biasa saja. Ia pekerjaan orang-orang besar. Kebiasaan manusia-manusia luhur. Atau dikau masih belum yakin? Baiklah, dikau memang keras kepala. Tapi daku akan segera membungkam mulutmu itu dengan satu hal ini. Teman, pastilah dikau kenal akan Nabi Agung kita. Nabi Muhammad SAW. Baiknya kita tilik sedikit kehidupan beliau. Seperti yang tersurat secara eksplisit di dalam sirah-sirah nabawiyyah. Bahwa masa kecil Nabi Muhammad berada di pedalaman arab sana. Yang masih sangat jarang sekali penduduknya. Alamnya masih alami. Hijau. Gurunnya terhampar luas dan sungainya mengalir dengan jernih mengantarkan sang ikan berkelana tak tentu arah. Dan pada masa itu. Nabi kita itu menghabiskan masa kecilnya sambil menggembala ternak di padang-padang rumput yang rindang. Nah, pertanyaan daku adalah. Apa yang nabi Muhammad pikirkan ketika menggembala kambing? Merenung teman, itu jawabannya. Dan dikau tau juga kan teman, bahwa selam usia 37-40 tahun nabi Muhammad menghabiskan waktunya untuk merenung di gua Hira. Hingga akhirnya nabi kita itu mendapatkan pencerahan. Dan siap untuk dinisbatkan menjadi Rasul pembawa risalah keabadian ini, Islam.

Sudah yakinkah dikau teman sekarang? Blm. Satu lagi dah. Dikau kenal meditasi teman? Meditasi, pekerjaan yang sering di lakukan oleh orang-orang Hindu dan Budha. Apa yang mereka lakukan tatkala meditasi itu. Bukankah mereka itu merenung?

Sudi kiranya percaya akan dahsyatnya kekuatan dari merenung ini. Daku, karena daku sadar akan potensi dari merenung ini. Maka tak ambil cingcai lagi. Setiap hari daku putuskan untuk merenung. Bahkan sekarang, daku bisa merenung dalam keadaan atau aktivitas apapun. Daku merenung ketika memandangi hamparan langit yang tinggi tak bertiang, daku merenung ketika membaca, merenung ketika berjalan, merenung ketika makan dan minum, merenung ketika menonton TV, merenung ketika menulis, merenung ketika berdiskusi, merenung ketika mendengarkan khutbah seseorang, merenung ketika mandi, merenung ketika diomeli orang tua, merenung ketika rapat, merenung ketika mengajar, merenung ketika (maaf) pups, bahkan daku merenung tatkala tidur. Makanya daku sering mengigau tatkala tidur. Hehehe,,

Semua itu kulakukan semata-mata hanya untuk satu hal. Memuaskan hatiku yang selalu ingin untuk merenung memikirkan segala seuatu. Maka aku membayangka diriku tak ubahnya Einstein junior. Bukankah Einstein senang dan amat gemar untuk berpikir. Konon jika ia sudah kehabisan bahan untuk di kaji. Ia kembali mengumpulkan semua teorema, penjelasan dan bukti-bukti yang pernah ia kerjakan. Semata-mata hanya untuk satu tujuan. Memenuhi keinginannya untuk berpikir. Ah, semoga daku  bisa sejenius Einstein. Amin.

6 Responses to "“DAHSYATNYA MERENUNG”"

poe, ali juga suka merenung, tapi merenung jadi orang tajir, hee..
itu mah namanya ngayal yak..hahaa

eh, salah nulis yak, maksudnya
“ali, poe juga suka merenung, tapi merenung jadi orang tajir, hee..
itu mah namanya ngayal yak..hahaa”

hehe
malu mode on

bagus poe
semoga renungan poe untuk menjadi orang tajir bisa segera di ijabah oleh sang Khaliq

amin

SEmoga renungan ku tuk belajar ber sabar bisasegera di ijabah sang Kholig
Aamin allah’huma’ amin…

insya allah aminn…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Total Kunjungan:

  • 519,816 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Kenal Lebih Dekat di:

%d bloggers like this: