MENULIS SEUMUR HIDUP

“KETIKA HASRAT MENULISPUN MEMUDAR”

Posted on: June 26, 2009

Kehidupan, seperti yang daku ketahui. Tidak selamanya berjalan lurus. Kadang di atas, kadang di bawah. Hari ini seseorang sedang semangat-semangatnya tapi bisa jadi hanya dalam hitungan detik semangatnya itu bisa berubah menjadi bubur, lemah tak berdaya. Kitapun mengetahui bahwa hati dan keimanan seseorang selalu naik turun. Ia mirip seumpama jam dinding. Selalu berputar dari satu angka ke angka yang lain. Jika mencapai angka 12 melonjaklah ia, tapi jika jarumnya menunjuk angka 6 lunglailah ia. Layu seperti pohon yang kebanyakan tersiram hujan.

Tapi teman, meskipun kehidupan ini seperti itu, seperti jam dinding atau seperti roda yang terus berputar. Sebenarnya, semua itu tergantung dari kita sendiri. Tergantung dari bagaimana kita menanggapi dan berespon terhadap segala gejolak hidup yang terjadi pada diri kita. Di sini terlihat kualitas kedewasaan seseorang.

Nah, untuk kasus ini. Daku punya pengalaman yang akan daku bagikan kepada teman-teman semua. Ini berkaitan dengan hobiku saat ini, menulis. Begini ceritanya.

Kesenanganku menulis bermula ketika daku membaca tetra logi Laskar Pelangi, buku-buku sang seniman kata-kata, Andrea Hirata, yang biasa disapa bang Ikal itu. Ketika membacanya, daku terbius sampai pusat saraf oleh keindahan gaya bahasa dan keluasan ilmunya. Ia mampu merangkai kata-kata dengan sangat indahnya. Untuk kemudain ia balut dengan muatan intelektualitas tingkat tinggi. Kata-katanya menyihirku pada saat itu. Karena ialah pujangga itu, seniman itu. Tapi daku tidak akan banyak bercerita tentang ia dan novel-novelnya disini. Itu nanti ada tempatnya tersendiri.

Singkat kata, setelah membaca ke empat novelnya itu. Tiba-tiba saja seperti ada suatu magnet yang menarikku untuk membacanya lagi, lagi dan lagi. Daku tak tahu kekuatan apakah itu. Seingatku, setidaknya daku telah membaca novel pertamanya, Laskar Pelangi sebanyak 3 kali, Sang Pemimpi sebanyak 5 kali, Edensor sebanyak 5 kali dan Maryamah Karpov sebanyak 2 kali saat ini. Tak jemu-jemu daku membacanya. Kupastikan, angka-angka itu akan terus membengkak. Artinya daku masih akan terus membacanya. Magnet macam apakah itu teman?

Dari membaca novel itulah semuanya bermula. Akibat ulah novel itulah daku mulai keranjingan membaca. Karena novel itulah daku mulai merasakan darah seniman mulai merasuk ke dalam jiwaku. Bergerak bersama aliran darahku. Berdetak bersama-sama denyut jantungku. Daku sering berkata-kata secara puitis, layaknya seorang pujangga, meskipun itu hanya di dalam benakku. Kian hari intensitasku menggumamkan kata-kata puitis itu kian menjadi-jadi. Hasrat demikian membuncah. Tidak ada tembok yang kuat menghalangi terjangan badainya. Dan dari situlah daku mulai mencari saluran yang pas. Agar tidak di anggap gila karena telah senewen bergumam, merenung dan tertawa sendiri. Kucari-cari cara untuk menyalurkan bakat terpendamku itu. Dan akhirnya kutemukan juga. Melalui menulislah daku harus menyalurkannya. Tidak bisa tidak. Karena itulah satu-satunya cara yang paling pas agar aku tak dianggap gila.

Semenjak saat itulah daku mulai menulis. Mulai dari menulis catatan harian, meresensi buku-buku yang daku baca, kutulis pula ide-ide yang datang secara tiba-tiba, kata-kata bijak seorang tokoh, hingga kejadian-kejadian lucu yang kualami. Tapi seperti judul yang kutulis di atas. Tidak selalu hasratku untuk menulis selalu konstan menggebu-gebu. Ada saatnya letupan-letupannya mereda. Ada saatnya pasang surut keinginan. Dan obat disaat keinginanku mulai surut ialah novel itu. Hanya dengan membacanya, cukup satu bab saja atau sekitar 6-8 halaman maka hasratku untuk menulis kembali meluap-luap. Membanjiri sekujur tubuhku. Dan kini, daku selalu melakukan ritual rutin sebelum menulis, kuawali dulu dengan membaca salah satu dari novel itu. Tidak lama-lama. Hanya butuh waktu sekitar 5 menit untuk meng-on-kan gairahku untuk menulis.

Sekarang daku ingin berterima kasih, melalui tulisan ini kepada sang pujaan hati, seniman kata-kata kesayanganku itu, Bang Ikal. I love you so much. Ingin rasannya bertemu. Ingin kuungkapkan di hadapanmu semua rindu yang demikian bergolaknya. Hingga ia seperti menusuk ulu hatiku. Oh, dimanakah gerangan engkau berada. Di Kye Gompakah, di Belitongkah, atau engkau sedang merencanakan sesuatu yang dahsyat. Bang, teruslah memuntahkan larva-larva prestasi ke muka bumi ini. Agar semua manusia bisa merasakan kesuburan dari larvamu itu. Agar namamu tetap abadi di dalam ingatan kolektif manusia sejagat.

Thx bang tuk inspirasinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Total Kunjungan:

  • 519,430 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Kenal Lebih Dekat di:

%d bloggers like this: