MENULIS SEUMUR HIDUP

“ISLAMIC BOOK FAIR DAN PAMERAN BUKU JAKARA 2009”

Posted on: July 2, 2009

Ah teman, apa beda pula antara Islamic Book Fair dengan Pameran Buku Jakarta? Beda? Jelasa beda dong teman. Dari namanya aja kita sudah bisa melihat. Melihat apa? Ya itu, yang satu Islam, yang satu sekuler. Ga ding. Salah. Gini.

Kalo Islamic Book Fair berarti buku-buku yang diobral di sana adalah buku-buku tentang Islam. Dan biasanya diselebraitkan hanya satu kali dalam setahun, tepatnya pada bulan Februari. Hiburannyapun tak jauh dari hadirnya tim Nasyid ibu kota, ustad-ustad nusantara yang diundang untuk berkhotbah, bedah buku-buku Islam terbaru, dll. Yang dateng juga dah pasti bisa di tebak. Jilbaber-jilbaber and jenggoter-jenggoter / pecier-pecier. Ahwat-ahwat berjubah Zoroaster alias jilbab panjang yang terkadang bisa menjuntai sampe tanah. Para ahwat-ahwat masa kini alias ahwat cihuy. Kenapa? Karena mereka sedikit modis. Dan tentunya, dari segi pria juga menampilkan sesuatu yang khas. Yang dateng ke sana biasanya ya ihwan-ihwan yang bejenggot. Baik jenggot panjang maupun jenggot pendek. Serta para pecier-pecier. Kebanyakan dari mereka dateng bersama keluarga. Berarti ayah, ibu, dan anak. Lengkap. Posibbility yang lainnya, mereka dateng bersama kawan-kawan. Ya iyalah, mana mungkin mereka dateng seorang diri. Hanya orang-orang ga tau malu yang dateng sendiri, hanya seorang diri. Kita liat entar. Lanjutin aja bacanya.

Nah, sedangkan kalo Pameran Buku Jakarta beda lagi. Mereka biasanya dihadirkan pada bulan-bulan Juni sampai Juli. Apa sebab? Hayo, sopo yang bisa tebak? Yuph, jawaban dikau tepat. Karena bulan Juni itu hari lahirku. Percaya? Bodoh sekali kalau dikau percaya teman. Orang yang namanya Nur Ali Muchtar pastilah ia lahir pada bulan November. Nyambung ga? Ga nyambung. Biarin. Begini, namanya juga Pameran Buku Jakarta. Ya pasti di adain untuk sesuatu yang special untuk abang Jakarta ini. Teman, kalau dikau mau tau. Seperti yang kuketahui berdasarkan hikayat sejarah. Bulan Juni tepat tanggal 22, itulah hari kelahiran abang Jakarta kita. Nah, sekarang dari segi buku. Apa perbedaannya dengan Islamic book fair? Kalo di pagelaran ini, buku- buku yang di obral adalah buku-buku umum. Jadi jelas, lebih banyak dalam hal koleksi bukunya. Kalo ga salah ada sekitar 305 stand yang terdiri dari 265 penerbit yang ikut memeriahkan event ini. Terus, kalo dari segi yang dateng gimana? Umum. Dari segi hiburan, waduh dateng aja dah sendiri. Yang ada satu kepastian di sini. Bahwa event ini bisa mebuat orang menjadi gila, senewen, dan tidak mengindahkan ceramah-ceramah orang lain. Begini ceritanya.

Seperti yang sudah kuceritakan di atas kawan. Bahwa kemungkinan besar orang-orang yang datang ke sana adalah mereka yang sudah berkeluarga. Atau minimal, kalo di pameran buku Jakarta membawa pasangan lah. Nah, orang-orang yang dateng ke sana sendirian, hanya seorang diri, tanpa teman, hanya ditemani oleh baju-baju yang bercokol di badannya adalah orang-orang yang nekat, ga ada pekerjaan, bisa jadi ga waras kalo dateng ke sana sendirian berkali-kali. Nah, berkaitan dengan itu. Di bulan Februari 2009. Tepat saat perayaan Islamic Book Fair. Daku datang ke sana seorang diri, hanya seorang diri, dan, berkali-kali.

Seorang teman sampai bertanya.

“Ga iseng Li?”

“Iseng?”

“Ah, iseng. Satu hal yang tidak mungkin bagiku untuk beriseng ria di sana”.

Karena bagiku acara-acara seperti itu sungguh aku tunggu-tunggu. Mirip bang Ridho Roma yang selalu setia menunggu lewat lagunya. Yang kudapatkan adalah kenyataan tentang kegairahan, kegembiraan, salah tingkah, rindu dendam, remuk redam, dan ga waras tentunya. Dan mata ini enggan untuk berkedip biasanya. Bukan karena melihat wanita-wanita cantik or para ahwat-ahwat yang aduhai. Tapi karena pesona buku itu. Daku terbius olehnya. Oleh banyaknya buku, oleh sedapnya aroma terapi yang di keluarkan oleh aura dalamnya.

Dan untuk penutup. Izinkan daku untuk menyampaikan bait-bait kata ini untuk sang kekasihku itu. Idaman hatiku itu.

Kutunggu dirimu

selalu

karena kau hanya bisa hadir

dua kali dalam setahun

maka kusiapkan segala sesuatunya

dan kini, dikau datang untuk menjemputku

sungguh lama bagiku

untuk menunggumu

dari Februari hingga Juni

seperti seribu tahun lamanya

dan kini, sekali lagi, kau datang di hadapanku

kerinduan yang begitu membuncah

begitu menyayat hatiku

hasrat tak dapat di bendung

api kian berkobar di dalam dada

kegairahan kian meletup-letup

hanya untuk bertemu

bertemu dikau

wahai kekasih

hari ini daku akan bertandang

ke rumahmu

sambut daku dengan pelukan mesramu

di sana

di tempat biasa kita bertemu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Total Kunjungan:

  • 519,656 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Kenal Lebih Dekat di:

%d bloggers like this: