MENULIS SEUMUR HIDUP

“PAGI YANG INDAH”

Posted on: July 8, 2009

Sudah sejak pukul setengah enam tadi daku menunggu sang mentari bangun dari sarangnya. Dan kini, ia terbangun juga. Asyikk

Cahayanya membangunkan alam semesta. Menandakan permulaan hari untuk hidup. Bolehlah ia dijadikan sebagai poros dari kehidupan. Bukankah ia pembeda antara siang dengan malam?

Burung-burung menyambut dirinya dengan kicauan-kicauan merdunya. Ah, kurang ajar. Burung-burung itu, burung gereja itu, bertingkah seenaknya di hadapanku ini. Melompat meledek-ledekku dengan memekikan kicauan-kicauan suaranya. Dan kini, ia lebih kurang ajar lagi. Ia bersenggama, sex bebas di depan mataku. Tak kurang delapan kali daku menghitungnya. Untuk kasus yang satu ini, daku lebih memilih untuk berdiam diri. Hihi

Pohon-pohon itu bangkit dari tidurnya demi mengucapkan selamat pagi pada sang surya. Seperti biasa, ia bekerja dalam diamnya, diamnya untuk bekerja. Patutlah kita contoh ia untuk menjadi teladan kita dalam bekerja dan berusaha.

Nun jauh di angkasa sana. Kulihat hilir mudik barang temuan Wright bersaudara itu. Hebat betul mereka. Suatu hal yang hampir mustahil, tapi mereka, berkat mimpi-mimpi gila mereka, berhasil juga mereka merampungkan misinya itu. Membikin alat yang bisa mengangkut para manusia terbang di angkasa. Inilah kekuatan mimpi teman. Acungan jempol untuk mereka.

Awan-awan itu kian berarak membentuk lukisan-lukisan hidup di atas kanvasnya, langit itu. kuamati warnanya selalu berubah-ubah dari satu warna ke warna yang lain. Sulit kulukiskan dengan kata-kata tentang keidahannya. Jika tadi pagi, pagi-pagi sekali kulihat warnanya campuran antara warna kuning emas, putih, biru, merah jingga, ungu, dan lain-lainnya. Maka semakin kesini waktu bergeser. Semakin pula ia menampakkan warna aslinnya. Putih bersih tak bernoda. Bentuknya yang dinamis itu, berurai-urai, bertumpuk-tumpuk, kian meregang, berpegangan satu sama lainnya bak mata rantai yang menyatu, kian memantikkan keidahan dirinya dalam diriku. Kini, ia berhasil untuk menghalangi uraian cahaya yang dipancarkan oleh sang surya untuk bisa sampai ke bumi.

Maka, teduhlah suasana di bumi. Ditambah dengan belaian serta tusukan-tusukan angin yang bertiup sepoi-sepoi. Semakin hanyutlah diri ini merasakan keseluruhan pagi ini. Maka, bisa kupastikan bahwa tidak ada lagi hari yang lebih indah ketimbang pagi hari ini. Tiba-tiba saja, diri ini bergumam, “Maka nikmat tuhanmu manakah yang kau dustakan”.

Raja siang itu mulai naik sedikit demi sedikit mengikuti irama teratur alam semesta. Menapaki satu anak tangga ke anak tangga yang lain.

Kuamati ia,

Mula-mula ia tampak malu-malu untuk  bangun. Berat sekali langkahnya. Gontai ia. Perlahan tapi pasti, setelah mendapatkan berbagai macam dukungan dari alam, ia kian menampakkan keseluruhan jati dirinya. Apa adanya. Secara alami. Itulah tabiatnya.

Dan siapa dinyana ketika ia telah tampil seutuhnya.

Gagah betul ia di atas sana. Ia tampil dengan elegan. Begitu percaya dirinya ia bak penyanyi dangdut di atas panggung.

Pantas saja dahulu kala nabi Ibrahim pernah terpelincut dengan pangeran elok nan rupawan itu.

Tampilannya kokoh berwibawa, kuning warnannya, bulat betul bentuknya.

Tapi kuyakin, ia menyimpan energi yang begitu besar disana. Di dalam dirinya itu.

Tamparan sinarnya itulah yang selalu kutunggu-tunggu di setiap pagiku.

Lembut, halus, menggetarkan, sehat, dan penuh dengan keoptimisan jika mengikuti aura kehidupannya.

Kubiarkan saja tubuhku ini pasrah ditusuk-tusuk oleh lesatan cahayanya. Kulitku merekah. Hangat betul. Rambutku berkilauan terkena sengatan cahayanya. Mataku menyipit menyibak tirai singgasananya.

Dan bisanya, daku habiskan waktu sekitar 30-45 menit untuk menikmati suguhannya itu. Terkadang, seperti anak-anak yang apabila sudah menginginkan sesuatu. Dakupun tak mau meninggalkan tempat itu.

Sulit kugambarkan betapa indahnya alam pagi hari ini.

Betapa terbatasnya kata-kata untuk melukiskannya. Betapa ceteknya ilmu untuk menjelaskannya. Maka, sekarang, yang bisa kulakukan adalah menikmati sepenuhnya suguhan yang ada di depanku ini sekarang. Dengan sepenuh hati dan jiwa ragaku

Kemudian daku bangkit dari tempat dudukku, kugerakkan seluruh anggota tubuhku, kugeleng-gelengkan kepalaku, kerentangkan tangan, lalu kuberkata dalam hati “dunia, sambutlah aku dengan pelukmu. kuingin dirimu mejadi bagian dari diriku”.

OOO betapa indahnya alam ini.

Terima kasih wahai tuhan

“maka nikmat tuhanmu manakah yang kau dustakan”

Maka, kukutuki diriku yang selalu mengeluh pabila ditimpa musibah itu.

Ah, dasar lelaki tak tahu diri. Lihatlah alam itu. Kemudian bersyukurlah di setiap pagimu. Itulah yang sekarang daku pilih.

Walhasil, sampai disini perjumpaan kita

Tulisan ini tidak boleh hanya sekedar dibaca. Tapi untuk dihayati dengan keseluruhan jiwa dan raga.

Kalau ada yang protes dengan segala sesuatunya. Baiknya, kita selesaikan saja di belakang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Total Kunjungan:

  • 519,430 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Kenal Lebih Dekat di:

%d bloggers like this: