MENULIS SEUMUR HIDUP

MaBa itu “TERSESAT”

Posted on: July 8, 2009

Ampuuuuunnn dah. Kenapa sih judulnya mesti itu?

Pake kata-kata tersesat lagi. Ga ada kata yang laen apa?

Tapi teman, lihat itu? Lihat judul itu? Judul di atas itu?

Kata tersesatnya pake tanda kutip dua.

Tak kurang pake dua apitan.

Biasanya teman, apabila di dalam tulisan ada  tanda kutip dua.

Itu menandakan ada sesuatu yang ga beres disitu.

Berarti judul itu ga beres dong?

Baca terus aja. OK. Thx teman.

Teman kan tau, hari Jum’at kita semua udah kerja keras ngebuat acara yang namanya silaturahim bareng MaBa –kesannya, daku ikut partisipasi gitu, padahalll-. Nah, daku ingin sedikit mengobral kebaikan daku. Karena daku memang selalu menebar kebaikan di setiap penjuru. Tak kurang 8 penjuru mata angin. Aminnnnnn.

Begini ceritanya:

Hari Jum’at yang cerah. Kulihat awan demikian indahnya membuat lukisan hidup. Lukisan yang selalu bergerak-gerak memamerkan kekuasaan Ilahi di atas atap tak bertiang itu. Bayangkan teman, ALLAH membuat langit yang tingginya ASTAGHFIRULLAH dan luasnya membuat bulu kuduk kita merinding.

Cukup.

Tepat pukul 14.30, daku kedatangan seorang tamu. Lebih tepatnya pejalan kaki yang kesasar. Pas di depan gerbang pintu masuk hall matematika yang keren itu. Daku dihampiri oleh sepasang muda mudi yang sedang kebingungan. Dari wajahnya kutahu itu. Wajah yang sedikit menampakkan kecemasan bercampur dengan celingukan baca sana baca sini. Pastilah bisa kita simpulkan bahwa ia itu, pasangan itu adalh MaBa (Mahasiswa Baru) angkatan 2009. Kalo jawaban itu salah, jawabannya lainnya pastilah kedua pasang makhluk itu adalah orang gila. Kejam.

Sejurus saat berpapasan, sempat kulirik wajahnya.

Aih, pandanganku bertemu dengan pandangannya. Dag dig dug dadaku.

Berarti, tau siapa itu kan?

Nah, sempat pula kulirik sang pria yang tepat berada di belakng sang putri. Kutaksir, pasti ia adalah body guardnya. Karna, ketika melihatku. Pandangannya mengisyaratkan, ‘berani lu ganggu majikan gw, gw cincang lu jadi tujuh bagian kaya yang dikerjakan Rian di aprtemen Margonda’. Aih, serem.

“maaf mas”, suara peri mana kah itu

Kucari-cari, kiri kanan kuamati, belakang ku tengok.

Tapi ternyata, ia berada tepat di depanku. Sang putri itu kini berdiri dengan pesonanya memanggilku. Bukan main. Hatiku merekah. Kembang kempis hidungku. Dan kali ini mendadak perutku mulas.

“mau numpang tanya, kalo gedung B.101 itu ada dimanana ya?”

Demi dia yang menggelontorkan pertanyaan itu. Gedung manapun akan daku beri tahu. Kalo perlu daku antarkan sampai masuk, sampai duduk ke ruangannya.

“Aih, itu mbak, anu, itu, gedung B.101 ya? Emm, itu ada di sebelah sana”. Jariku menujuk seperti tunjukan abdi kepada rajanya. Atau, gaya-gaya solo dikit lah.

“Ada acara apa ya mbak?” tak kurang lembutnya.

“gini mas, saya mau ikut acara MII. Tempatnya di gedung B.101 itu”.

Wihhh kesempatan. Saatnya beraksi

“OK mbak, mari saya antar. Kebetulan saya hendak lewat sana juga”. Kalo yang ini bener, ga bo’ong.

Tetapi, siapa disangka teman. Ketika kami bertiga sampai disana. Di gedung B.101 itu. Tak kutemukan barang satu orangpun bertengger disana. Dedemitpun sepertinya tidak.

Dimanakah gerangan itu tempat?

Pasca mengetahi tak ada makhluk hidup di gedung B.101 itu. Daku menawarkan diri untuk melihatnya di lantai atas.

Maka, dengan senang hati daku tawarkan untuk melihatnya di lantai atas. Sedang mereka kusuruh untuk menunggunya tetap berada disana, di depan gedung B.101 itu.

Mereka menyetujui

Karna kutahu bahwa ini adalah kesempatan EMAS ku. Maka kukerahkan semua energi untuk secepatnya berlari menyusuri tangga demi tangga gedung B itu. Tak kurang 3 menit daku sudah berada di lantai 4. Nah dari sana. Kulihat semua ruangan dengan kacamata detektifku ini. setelah meyakinkan diri bahwa acaranya tidak berada di gedung B. Maka, secepat kilat kukerahkan tenaga untuk turun ke bawah.

Kali ini daku dapat satu keuntungan. Karna kali ini daku menruni tangga. Maka, secepat kilat daku telah berada di lantai bawah. Kurang dari setengah menit kuperkirakan.

Setelah sampai di lantai bawah. Kuyakini mereka berdua bahwa acaranya tidak berada di gedung B. Tapi mungkin berada di tempat lain jika memang benar bahwa mereka tidak salah tempat dan waktu.

Tiiiiit.

Stop.

Tiba-tiba ruangan BTA gelap gulita. Suasana kian mencekam. Pekikan serigala meraung-raung di kejauhan sana. Jantungku merinding. Kulitku berdetak kesana kemari.

“Ada apa gerangan ini?” gumamku seorang diri. Karena satu orang temanku telah tepar di kasur empuk.

Kebetulan ada HP ku di samping laptop. Setelah kuraba-raba dalam kegelapan. Dan dapat. Kunyalakan lamu dari HPku untuk menerangi ruangan yang kini mendadak gelap.

Segera kubangkit.

Dan tiba-tiba.

Brakkkkkk…..

Astaghfirullah

Laptopku!@@$^%

Karna saking paniknya. Tak sengaja daku menyerimpet kabel Adabter laptopku. Dan, setelah kuremangi dengan cahaya HP Nokia 3200ku. Kudapati keadaan yang cukup menyayat hatiku. Ujung colokan carger itu kini pengok, ia terlepas dari sarangnnya. Mulutku terhenyah. Menggumamkan kata-kata yang, daku sendiri tak tahu apa itu artinya. Maka, kuratapilah nasib sial yang menyambangi diriku itu.

Setelah kulangak-longok (ini bahasa Betawi), kiri kanan. Akhirnya kutahu keadaan genting ini dikarenakan lampu seantero L.A. (Los Angeles) mati padam.

Kukutuki diriku ini.

Kenapa harus mati di saat daku sedang punya proyek besar ini?

Tapi, tak mengapalah. Daku masih punya sedikit hibuaran meskipun lampu padam.

Segera kuseduh secangkir kopi susu INDOCAFE coffemix 3 in 1. Dan segera daku berhambur ke luara jendela.

Dan astaghfirullah, tempat ini.

Tak bisa kuceritaka padamu kawan saat ini.

Namun, biarlah kuceritakan sedikit, secara singkat, padamu mengenai tempat ini.

Tempat ini berada di belakang BTA LA. Tepatnya di luar jendela. Persis di lantai dua. Dan langsung berhadapan dengan langit. Ukurannya hanya 2X4 meter. Tapi multi fungsi. Bisa digunakan untuk olahraga, ruang baca, tempat merenung, menghilangkan gerah, de el el. Tapi, daku janji teman untuk menceritakan lebih lanjut keunikan-keunikan dari tempat tinggalku sekarang ini.

Namun, percayakah kau kawan kalau tempat ini telah menjadi bagian dalam diriku sejak daku berada di BTA LA ini. Berarti, sejak semester empat. Sudah satu tahun lebih.

Disanalah daku menangis, disanlah daku gembira, disanalah daku merenung, disanalah daku mengeluh, disanalah daku putus asa, disanalah daku bangkit kembali, disanalah kurekam semua cerita tentang diriku.

Dan kini kulihat tempat itu berubah mendadak sekonyong-konyong disergap dalam kegelapan. Suasa semakin mencekam. Kulihat para dedemit dari berbagai jenis berkeliaran kian kesana kemari. Gondoruwo, kuntilanak, sundel bolong, Susana, Nyi Roro Kidul, setan empat dimensi, Jin Tomang, Tuyul berkepala gundul. Dan astaghfirullah, ada malakat Rakib Atid juga disamping kiri kananku.

Dan langit itu kawan. Ah, ia, selalu. Selau menampakkan keidahannya kepadaku. Tidak pagi, siang, sore, malam, tengah malam. Ia selalu bersifat seperti itu. Indah menyayat jiwa.

Dan bintang itu kawan. Ia selalu seperti itu. Duduk seorang diri disana. Hanya seorang diri disana. Kadang daku bertanya-tanya dalam hati. Tidakkah ia merasa kesepian disana? Entahlah. Tapi yang kutahu sekarang, itu semua ulah Jakarta. Jakartalah yang menyebabkan bintang itu kini hanya seorang diri disana. Duduk termenung seorang diri yang terkadang ditemani oleh sang rembulan. Terkadang.

Dan pohon-pohon itu kawan. Aih, selalu. Selalu ia tampak berwibawa dihadapanku. Ialah yang mengajariku arti dari sebuah sifat sabar. Arti dari bekerja dalam diam dan diam dalam bekerja. Arti dari proses pertumbuhan secara alami. Arti dari keteguhan sikap untuk tidak terpengaruh dari hal-hal eksternal dalam diriku. Arti dari keindahan dalam memberi. Arti dari arti-arti yang lain.

Lampu mati mulai pukul 22.59.43. Dan kulihat para pemuda itu, tak kurang 4 orang, yang berjarak sekitar 20 meter dari posisiku, yang letaknya tepat dibahwahku, bersiap-siap untuk melakukan sedikit ritual. Dan ternyata, ritual kali ini adalah ritual utuk membuat api unggun. Suasana kian asik.

“Belom tidur mas?” sayup-sayup kudengar sapa salah seorang pemuda dari kejauhan.

“Oh, belom. Tadi udah tidur. Mati lampu ya mas?”

“Iya nih, mati lampu wae ei”

Setelah itu, daku duduk di sebuah bangku yang juga turut setia menemaniku selama satu tahun itu. Kuyakin, jika seadainya ia bisa bicara. Maka ia akan mengatakan, “aih mas, punya masalah lagi nih”. Mungkin ia sudah paham betul bahwa jika intensitasku ke tempat ini sangat sering. Berarti daku sedang memiliki banyak masalah. Meskipun malam hari ini bukan itu masalahnya.

Lampu kembali menampakan diri pukul 23.29.01. Berbarengan dengan habisnya kopi susuku itu.

Kudengar para pemuda itu berteriak kegirangan merayakan kembalinya sang Thomas Alfa Edison. Berebut mereka mematikan api unggun itu. Mirip seperti kita, sewaktu masih kecil dulu yang selalu berebut dengan adik atau kakak-kakak kita untuk mematika lilin tatkala sang raja bohlam itu kembali muncul.

Dan kini daku kembali ke laptopku.

Sampai dimana tadi?

Oh ya

Begini teman

Setelah kutahu bahwa acara itu tak berada di gedung B. Maka kujelaskan kepada kedua MaBa malang itu bahwa biasanya, jika MII mengadakan acara, tempatnya tak akan jauh dari persegi empat tak beraturan. Gedung B, BSM, Kantin Dalas, Mushollah MII.

Karna pada saat itu kita berada tepat di depan gedung B. Maka bisa kulihat bahwa tempatnya pun bukan di BSM.

Berarti, tinggal dua kesempatan

Tak ambil-ambil pusing. Ini kesempatanku untuk mencari perhatian di depan mereka.

Langsung saja dengan senang hari kuantar mereka meuju Kantin Dalas atau jika tidak ada sekalian ke Mushollah.

Di kantinpun tak ada acara apa-apa.

Berarti kemungkinan besar. Acara itu di mushollah.

Dan benar ternyata. Kudengar gaduh-gaduh suara orang memekikan ALLAHU AKBAR beramai-ramai. Ribut sekali.

Setelah sampai di MII. Mengucapkan salam dan bersalaman. Langsung saja kutanyakan pada sohib-sohib yang berada si sana.

Ah, ternyata benar. Acaranya di sini. Di Mushollah Izzatul Islam yang sama-sama kita cintai.

Langsung saja kuberi tahu kepada ke dua orang malang yang sudah susah payah mencari tempat bagi acara MII kali ini. Ihwan di depan dan ahwat di belakang.

Pelajaran moral no satu: kalo mau ngadain acara dan tempatnya udah ditentukan. Trus akhirnya diputuskan untuk pindah. Jangan lupa untuk memberikan pengumuman di depan pintu tempat pertama kalo acaranya dipindain ke tempat lain.

Dan astaghfirullah. Makhluk apa itu yang kulihat sedang berdiri di depan pintu masuk mushollah.

Mahusiakah ia, daku sedikit ragu.

Setelah kureka-reka dan kukenali. Ah, ternyata ia Sahrul. Sang ketua MII. Pangling daku dibuatnya kali ini. Gagah betul ia hari ini. Tak kurang senyumnya kian tersembul tatkala daku menghampirinya.

“Akhi, ikut yuk ke dalem” tawarnya

“Ngapain teman?” daku pura-pura tidak tahu

“Silaturrahim Akhi bareng MaBa 2009” selorohnya

“oooo, makasih la yaw”

Tanpa basa basi daku pergi saja meninggalkannya menuju sekret MII. Aih-aih, itu secret, sekret itu. Pernah menjadi mozaik-mozaik potongan hidupku. Akankan daku akan bersahabat kembali dengannya? Entahlah. Biar waktu yang kan menjawabnya.

Dan, akhir cerita. Karena abangnya mau belajar MATEMATIKA (daku dendam dengan ilmu ini. Demi ALLAH. Daku pasti bisa menaklukkannya suatu saat. Doakan teman). Akhirnya diakhiri saja perjumpaan kita kali ini. Mohon jangan sedih atas perpisahan ini. daku pasti akan kembali lagi dengan episode-episode yang kian menantang.

Yang benar datangnya dari ALLAH (kita berlindung kepadanya) dan yang salah datangnya dari setan terkutuk (emang kurang aja tuh makhluk. Awas ya).

Oleh karena itu daku mw mengucapkan selamat menempuh hidup baru. Semoga tetap sejahtera selalu. Salam untuk anak-anak di rumah.

Wassalam…

-kian bersambung-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Total Kunjungan:

  • 520,163 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Kenal Lebih Dekat di:

%d bloggers like this: