MENULIS SEUMUR HIDUP

“PAGI YANG INDAH II”

Posted on: August 26, 2009

Pagi yang indah, gemericik air mancur mengalir konstan mengikat hati untuk turut menikmati pagi yang indah. Suara burung berkicauan mendendangkan lagu bersama aliran kebebasan hidupnya. Ia berterbangan, melompat-lompat dengan riangnya, meliuk-liuk, bersenggama, mencari makan, membuat sarang, bertasbih menggemakan keagungan ciptaan ALLAH di pagi ini. Kokokan ayam turut pula menandakan permulaan hari untuk memburu kebaikan demi kebaikan yang ditawarkan oleh kehidupan. Desingan suara motor itu, turut pula memberikan kombinasi suara yang sebenarnya acak-acakan, tetapi, jauh dilubuk hati yang terdalam, jika kita terhanyut terbuai mengikuti alunan lembut hati kita, maka, kegembiraanlah yang terus menyelimuti hari-hari kita, disetiap pagi kita.

Kulirik jam di handphoneku. Tepat pukul 06.00. Dan nun jauh disana, diatas pusara ketinggian yang tak bertepi itu. Jauh melulu ke timur sana. Ketika kaki langit kulihat seperti bertemu dengan badan bumi. Kulirik dengan pandangan mata serba ketakjuban. Sang raja siang itu sedikit demi sedikit mulai muncul untuk mendeklarasikan dirinya keharibaan dunia. Inilah moment yang selalu kutunggu-tunggu. Moment tatkala sang mentari malu-malu untuk keluar dari tempat pembaringannya. Indah sekali teman. Lebih indah dari lenggokan tarian seorang penari biduan. Dan aihh, lagi-lagi awan-awan itu. Ia demikian menggodanya hingga terkadang diri ini mulai tak realistis. Ingin sekali daku pergi ke atas awan sana untuk menyentuhnya barang sejenak. Ingin kunikmati basuhan lembut sinar mentari dari ketinggian sana. Inging pula rasanya kubuat rumah diatas sana. Biar kujadikan singgasana tempatku untuk selalu sujud terpekur menikmati saat-saat berdua dengan-Nya.

Terkadang, jika malam tiba. Maka bukan surut keinginan itu yang kudapatkan. Justru sebaliknya, hasrat ini kian berkobat-kobar menggelora menelingkupi diri. Malam, oh malam. Ia tak kalah menggodanya dengan pagi atau siang. Justru malamlah tempat segala kerinduan bersemi. Malamlah yang selalu menancapkan kerinduan yang demikian hebatnya untuk bertemu. Maka, disanalah, ditempat itu kumelarikan diri. Di atas sana, dikejauhan langit yang mulai menghitam. Saat rembulan menggantikan peran mentari. Saat rembulan itu mulai bekerja dibantu oleh kerlipan-kerlipan bintang yang lain untuk mebasuh bumi dengan sinarnya yang temaram itu. Maka jika demikian tak tertahankan rindu ini. Kubiarkan saja fantasi dari imajinasiku untuk pergi mengembara melintasi kerajaan langit tak bertiang yang mulai gelap itu. Terkadang imajinasi ini mulai mampir sejenak ke atas sana, tempat bintang-bintang mengistirahatkan dirinya, tempat bulan itu menunggui nasibnya, tempat segala sesuatunya yang masih sangat minim kita ketahui, tempat segala yang gaib-gaib dan yang tersamar-samar oleh panca indera. Kubergumam dalam hati. “Akankah daku bisa sampai kesana, pergi mendarat di bulan, menyaksikan bintang-bintang itu dari jarak dekat, berpetualang berlayar mengeliling planet-planet dalam tata surya, meneliti segala sesuatu yang ada disana, membongkar rahasia alam yang masih minim sekali diketahui orang.

Ah, tapi pagi ini. Ingin sekali kumiliki pagi ini. Tak ingin kulewatkan barang sedetikpun moment untuk bersua. Biarlah malam itu yang menungguku. Toh ia pasti akan datang juga nanti. Maka sekarang, daku ingin menikmati pagi ini dengan segenap hati dan perasaan. Seluruh jiwa dan raga. Seluruh kemampuanku untuk bisa menikmati. Untuk bisa menghayati. Menikmati suguhan alam yang dihidangkan kepadaku, menikmati segala sesuatunya yang ada dibumi dan langit, menikmati serta menghayati segala sesuatu yang bisa kutangkap, kurasa, kucium, kusentuh, kulihat, kurekam oleh panca indera.

Aih, tak bosan-bosan daku mendengar ocehan burung-burung itu. Bergerombol-gerombol saling bertingkah. Yang jantan bertingkah menarik hati sang betina. Sedang yang betina berusaha tampil anggun dihadapan sang pejantan. Sama saja. Tapi entahlah mengapa ketika daku mendengar ocehan-ocehannya itu, terkadang daku merasa heran apakah burung-burung itu sedang gembira hatinya hingga melulu melantunkan pekikan-pekikan suara bergema itu. Ataukah itu hanya sebuah bahasa untuk menarik lawan jenisnya. Atau yang lain, mungkin saja ia sedang ingin membangunkan kita, manusia-manusia ini, untuk segera berkemas menyambut hari, untuk bersegera mandi membersihkan diri. Tapi apa dayaku sebagai manusia biasa. “Ah, dasar manusia. Engkau hanyalah seorang manusia. Engkau tak punya kuasa untuk mengerti bahasa hewan itu. Itu hanyalah ilmu milik Tuhanmu. Lupakanlah”. Demikianlah bisikan hati turut menengahi.

Nun jauh dibawah sana. Kulihat deretan rumah berdesak-desakan membentuk bangunan geometris tiga dimensi: rumah-rumah beratap genteng cokelat, masjid-masjid yang tampak tinggi sendiri, pohon-pohon yang saling beselang-seling, jalan-jalan setapak yang berkelak-kelok, lapangan-lapangan luas tempat berolahraga, tiang-tiang listrik, kendaraan-kendaraan yang hilir mudik, para manusia dan anak-anak kecil yang turut berlari berteriak-teriak. Tak kalah indahnya dengan segala ketenangan yang ditawarkan oleh kehidupan di atas langit sana. Maka disini, di bumi ini, turut pula kita saksikan keindahan yang lain itu. Seolah ia ada untuk saling melengkapi. Seolah ia hadir untuk menggenapi kehidupan. Bukankah itu yang kita ketahui bahwa ketika ada malam maka pastilah ada siang, ada langit ada bumi, ada pria dan ada wanita, ada senang pun ada duka. Selalu seperti itu komposisinya. Jika demikian itu adanya. Mengapa terkadang kita masih serba takut dengan kepedihan, dengan kegelapan, dengan pasangan hidup, dengan ujian-ujian dan cobaan. Bukankah jika kita memahami aturan alam itu, harusnya kita pun meyakini bahwa dibalik semua itu, pasti ada kegembiraan hidup, pasti ada keterangan jiwa, pasti ada tambatan hati untuk berlabuh, dan pasti ada prestasi-prestasi gemilang yang akan kita capai suatu saat nanti. Bukankah alam tak pernah ingkar dengan janji-janjinya? “Ah dasar manusia, maunya melulu serba yang enak. Bersabarlah banyak-banyak”. Begitulah nasihat seorang guru.

Teman, tulisan ini hanya sebagai selingan hidup untuk selalu ingat akan pentingnya rasa syukur kita atas semua yang pernah diberikan-Nya. Jika kita bandingkan dengan segala yang telah Ia berikan kepada kita dan bumi kita ini. Tentulah jauh lebih besar apa yang telah Ia berikan dibandingkan dengan usaha-usaha kecil kita. Maka melalui tulisan ini. Daku ingin mengingatkan diri daku khususnya, marilah kita mulai untuk mensyukuri setiap sendi kehidupan kita ini dengan sesyukur-syukurnya, dengan tekad yang membaja bahwa apapun yang terjadi pada diri kita, baik saat lalu ataupun saat-saat yang akan datang, rasa bersyukurlah yang akan selalu menghiasi hari-hari kita. Marilah kita mulai membiasakan diri mensyukurinya disetiap pagi-pagi kita. Hingga ia nanti menjadi sebuah kebiasaan kita. Apabila hal ini telah terbentuk. Maka gembira hatilah yang selalu hadir di setiap hal yang terjadi dalam kehidupan kita. Marilah kita mempercayakan segalanya kepada sang perencana kehidupan kita yang adiluhung itu. Marilah sama-sama kita lupakan masa lalu. Tapi tetap, harus ada nilai-nilai yang bisa kita ambil disana untuk kita jadikan bahan evaluasi kita, untuk kemudian kita jadikan batu lecutan semangat kita untuk terus menyempurnakan kehidupan kita. Biarlah masa yang akan datang, datang mengalir dengan indahnya menjembut kita disana. Kita hanya perlu mengarahkannya agar sampai juga ia ketambatan hatinya. Muara laut itulah yang kita tuju.

Dan teman, hari inilah hari milik kita, hari inilah yang menentukan kualitas diri kita, hari inilah prestasi kehidupan kita mulai terbingkai, hari inilah segala-galanya hari. Marilah sama-sama kita tekadkan dengan tekad sekeras baja bahwa hari ini akan menjadi hari terbaik kita selamanya.

Insa ALLAH.

Sekian teman,

Daku berlindung dari segala kekhilafan atas semua kata-kataku, atas semua untaian kalimat yang tak bermakna, atas segala kesombongan dan ego diri. Hanya kepada-Nyalah kita kembali. Dan hanya milik-Nyalah kita ini semua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Total Kunjungan:

  • 519,803 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Kenal Lebih Dekat di:

%d bloggers like this: