Nur Ali Muchtar

“MENTERTAWAKAN DIRI SENDIRI”

Posted on: August 27, 2009

Teman, sebelumnya jangan tertawa tatkala teman semua membaca judul di atas. Saran saya, teruslah membaca kalimat perkalimat, perlahan-lahan hingga akhir. Agar tak ada salah praduga di antara kita.

Teman, sebelumnya saya ingin memberikan sedikit prolog.

Ide untuk menuliskan tentang tema ini sebenarnya sudah terbenam kuat di dalam benak saya jauh hari sebelum hari ini. Berbulan-bulan yang lalu bahkan. Sedang untuk pemahaman saya tentang ide ini tentunya sudah lebih lama lagi.

Penasaran??

Kalo gitu lanjutkan saja bacanya.

Dia ini.

Ide ini bukan orisinil datang ujug-ujug dari pikiran saya. Tapi saya dapatkan ide ini dari bung Gede Prama dari salah satu bukunya. Kalo ga salah judulnya “Hidup Sejahtera Selamanya”. Teman kenal kan siapa Gede Prama itu? Ya betul, ia seorang Resi Management. Ia beragama Hindu. Tapi tak apalah teman kita belajar dari beliau. Dari siapapun itu. Bukankah hikmah itu milik kaum muslimin yang sempat hilang? Maka nabi kita menganjurkan untuk mengambil hikmah apapun itu, dari siapapun itu, tercecer dimanapun itu. Maka benarlah teman, bahwa ajaran Islamlah ajaran yang paling luhur. Islam ini menawarkan keselamatan kepada kita semua. Baik di dunia maupun nanti di akhirat kelak.

insaALLAH

Apa sih idenya?

Baiklah, karna teman memaksa. Maka apa boleh buat.

Baca baik-baik judulnya. “MENTERTAWAKAN DIRI SENDIRI”. Sekilas konyol memang. Tapi taukah sohib semua bahwa mentertawakan diri sendiri itu bisa menimbulkan efek yang baik untuk jiwa kita. Bahwa ia, mentertawakan diri sendiri itu, memiliki keampuhan untuk membuat kita menjadi lebih sehat. Ituah yang dikatakan oleh bung Gede Prama. Tapi ada satu titik tekannya disini. Bahwa ia tidak boleh sampai membuat kita rendah diri. Apalagi membuat kita menjadi minder. Dan tentunya, ga boleh membuat kita terlihat seperti orang gila karna saking banyaknya tertawa sendiri.

Lebih lanjut, bung Gede menjelaskan bahwa aktifitas ini merupakan kebiasaan baik kita sewaktu kecil.

Kenapa?

Iya dong. Bukankah anak-anak kecil, bahkan kita sewaktu kecil sering tertawa-tawa sendiri. Melihat cicak kita senang. Tertawa-tawa sendiri. Melihat wajah orang dewasa yang cemberut kita senang. Tertawa-tawa sendiri. Melihat kotoran sendiri, kita senang. Tertawa-tawa sendiri. Pokoknya, sewaktu kecil kita adalah makhluk yang paling bahagia pada saat itu.

Ayo siapa yang sewaktu kecil jarang tertawa?

Jangan-jangan masa kecilnya ga bahagia lagi. hehe

Tapi kenyataannya, kebiasaan ini lambat laun kian terkorosi dalam diri kita. Para orang tua yang tidak tahu, orang-orang dewasa yang sok-sok mengatur dan sering melarang-larang kita itu. Mereka, sedikit demi sedikit, membuat kebiasaan masa kecil kita itu kian tergerus. Membuat kita sulit menemukan kebahagiaan lagi. Omelannya, caciannya, tertawaannya, gunjingannya, sering membuat kita merasa takut dan demikian tertekannya.

Padahal, kebiasaan tertawa ini adalah kebiasaan yang sungguh sangat mengasyikkan asalkan masih dalam takaran yang normal. Lihatlah itu orang-orang yang sering tertawa dan sering menyunggingkan seulas senyum. Bukankah wajahnya terlihat lebih merekah? Ada kesan manis yang tampak di semburat wajahnya.

Lebih lanjut, Dahlan Iskan, dalam bukunya “Ganti Hati” menjelaskan bahwa kemampuan seseorang untuk mentertawakan dirinya sendiri menandakan bahwa ia gampang melakukan introspeksi. Orang yang hanya bisa mentertawakan orang lain pertanda awal bahwa ia sulit melakukan introspeksi untuk melihat kekurangan sendiri.

Lebih lanjut dia mengatakan, “saya memang suka bergurau. Kalau sedang tidak ada yang saya tertawakan, saya sering mencoba mentertawakan diri sendiri”.

Mengetahui ide ini, lantas tidak membuat saya ujug-ujug tertawa terus. Nanti saya dianggap gila lagi. Tapi saya termasuk orang yang melaksananakan ide tersebut.

Kenapa?

Lho, bukankah tertawa itu sehat?

Bukankah yang tidak boleh itu mentertawakan orang lain apalagi sampai menghina-hina segala meskipun itu dilakukan untuk bahan bercandaan saja. Tapi kalo tertawa, ya saya suka itu.

Asalkan jangan terlalu berlebihan. Nanti bisa mengeruhkan hati. Begitulah agama mengontrol kita.

Makanya hampir disetiap pagi, saya meluangkan waktu untuk sejenak mentertawakan semua kebodohan-kebodohan yang pernah saya lakukan. Mentertawakan semua kelucuan-kelucuan yang pernah saya lakukan. Kekonyolan, kejailan, kejelekan, kesedihan, kebahagiaan yang pernah saya lakukan. Saya ingat-ingat terus kejadian-kejadian itu. Lalu saya tertawa lepas saja mengingat itu semua. Plong rasanya.

Benarkah itu sehat?

Benarkah itu pertanda bahwa seseorang telah mampu melakukan introspeksi diri?

Jadi, buktikan saja sendiri

[Nur Ali Muchtar / DSI MII / BTA LA]

https://alymerenung.wordpress.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Total Kunjungan:

  • 565,653 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Kenal Lebih Dekat di: