MENULIS SEUMUR HIDUP

“GELIAT ANAK-ANAK”

Posted on: August 27, 2009

Teman, tiap-tiap kita pernah merasakan masa kanak-kanak. Tiap-tiap manusia yang diberi anugerah berupa umur yang panjang oleh Allah, akan melalui suatu fase berikut: alam rahim, bayi, anak-anak, remaja, dewasa, tua, mati. Kita telah melalui beberapa tahap fase di atas dengan sangat gemilang. Tiap-tiap fase memiliki kekhasannya masing-masing. Baik dari segi batasan-batasan umur, pola tingkah laku, kewajiban-kewajiban, serta hak-haknya.

Namun, ada satu fase yang sangat menarik untuk kita kaji di sini. Dan fase ini, insa-Allah telah kita lewati.

Fase apakah itu gerangan?

Fase anak-anak.

Kenapa saya sangat tertarik dengan fase yang satu ini?

Ada teramat banyak alasan mengapa saya sangat tertarik dengan fase yang satu ini. Dan, diantara alasan-alasan itu, alasan yang paling kuat adalah kenyataan bahwa masa anak-anak inilah masa dimana kehidupan terasa amat indahnya. Betapa tidak, bukankah dimasa anak-anak ini, kita bisa melihat segala sesuatunya dari sisi yang menyenangkan. Melulu menyenangkan. Hidup terasa amat berwarna-warni. Tidak pernah merasakan beban hidup. Apalagi mengeluh terhadap masalah-masalah yang ada. Segalanya penuh canda tawa. Keriangan. Keceriaan.

Saat ini menangais, tapi, hanya dalam hitungan menit bahkan detik saja, mereka bisa kembali tersenyum ria. Mengobatinyapun sungguh sangat mudah. Masih ingatkah kawan dengan guyonan yang sering kita lontarkan apabila ada di antara kita yang ngambek karna suatu hal? Lalu, biasanya kita berkata, “jangan ngambek dong, entar saya beli’in balon atau permen de”. Itulah anak-anak. Jika mereka merasa sakit hati, terapinyapun akan sangat mudah. Hanya dengan sebuah balon atau sebutir permen, mereka sudah bisa tertawa lagi. Tertawa riang seolah ingin mengatakan pada dunia, “akulah orang yang paling bahagia di dunia”.  Tapi kita, bagaimana dengan kita, orang-orang dewasa. Apa yang terjadi jika kita merasa sakit hati akibat ulah kawan kita? Berapa lama kita membutuhkan waktu untuk bisa memafkan sobat kita itu? Bahkan banyak di antara kita, orang-orang dewasa yang masih satu family, karna berebut harta warisan, harus menengguk kenyataan terputusnya tali silaturrahim hingga tidak pernah kembali rujuk. Sungguh, betapa berbedanya kita dengan anak-anak.

Lalu, ada satu lagi gagasan tentang anak-anak yang bisa memberikan mutiara pelajaran bagi kita semua. Lihatlah anak-anak, bukankah mereka tidak pernah menyerah menghadapi segala sesuatunya. Mereka jatuh ketika baru belajar berjalan, menangis, lalu bangkit untuk menyongsong perubahan. Tak butuh waktu untuk menyesali kegagalan-kegagalannya. Secepat kilat mereka mengulanginya untuk berjalan kembali. Pun begitu ketika baru pertama kali belajar bersepeda. Tak terhitung betapa banyaknya kegagalan-kegagalan yang mereka hadapi. Betapa banyak benjolan-benjolan yang mendera. Tapi sekali lagi, mereka tidak pernah merasakan denyut putus asa menjalar di tubuhnya. Mereka kembali mengayuh kakinya untuk menyongsong dunia. Seolah selalu ingin berkata, “Dunia, sambutlah aku dalam pelukmu”.

Tapi, bagaimana dengan kita, orang-orang dewasa? Seberapa kuatkah kita menanggung beban hidup yang disematkan pada kehidupan kita?

Ah, sekali lagi, betapa berbedanya orang-orang dewasa dengan anak-anak.

Oleh karena itu, tidak heran jika Bung Gede Prama menganjurkan kepada kita akan satu hal ini.

“Berkerjalah anda sebagaimana orang-orang dewasa bekerja. Namun, nikmatilah kehidupan anda sebagaimana anak-anak menikmati hidupnya”.

Agaknya, kita memang perlu sejenak merenungkan akan kata-kata Bung Gede Prama itu.

Disamping itu, anak-anak adalah pemilik telaga jiwa yang bersih. Hatinya bening, sebening air embun. Sukmanya lembut, selembut sutra. Dan perangainya penuh dengan kealamian surga. Dari sorot bening matanya, kita bisa melihat akan adanya pancaran jiwa yang menampakkan ketulusan hidup. Kata-katanyapun penuh dengan mutiara kejujuran. Tidak pernah sekalipun ia berbohong kepada kita. Kecuali kita yang mengajarkan.

Hal yang berbeda dengan kita, orang-orang dewasa. Ketika menatap wajah kita, bukan senyum yang diperoleh, tapi rasa iri dan dengki yang sering singgap di hati. Tatkala ada salah seorang yang kita anggap sebagai musuh mendehemkan sesuatu, atau hanya sekedar bersiul ria. Terkadang, kita sering merasa tersinggung. Seolah deheman atau siulan itu disematkan pada kita.

Wajah kita penuh dengan lumpur dosa. Bukan pancaran cahaya yang menghiasi waja kita, tapi kegelapan yang sering menyorot angkara murka. Tapi, apa lacur. Seolah tak peduli dengan semua itu. Kita malah sering menganggap diri kita ini suci. Alhasil, ketidakpekaan selalu menyantol dengan jiwa kita. Ah, dasar orang dewasa. Bertobatlah.

Berkaitan dengan kesucian jiwa ini, saya pernah mengalami sebuah peristiwa yang mampu merekahkan seulas senyum di wajah.

Dia ini ceritanya:

Suatu ketika, dipagi yang kusam. Kepala penuh dengan kepenatan. Serasa aliran fikiran ini tidak berjalan. Runyam sekali kerjanya. Seolah-olah pagi ini tidak datang untuk dinikmati. Datanglah seorang anak TK yang wajahnya memancarkan aura kebahagiaan. Ceria betul ia. Kebetulan, saya tinggal di sebuah gedung yang jika pagi, gedung itu biasa digunakan untuk anak-anak TK belajar dan bernyanyi. Sedang penat-penatnya pikiran ini, datanglah seorang anak menyapa. Tak dinyana, ketika mataku melihat senyum tulus mengembang di wajahnya. Dan bidadari kecil ini menyapaku dengan sapaan imutnya. Tiba-tiba saja dunia ini seakan kembali merekah. Pikiran yang sempat tercekat, tiba-tiba plong seperti aliran lumpur lapindo itu. Sontak, senyumpun turut merekah di sekujur wajah ini. Seolah saya adalah pohon yang telah menerima kucuran air dan hangatnya sinar mentari pagi. Maka, kebahagiaanpun menjalar ke seluruh tubuh ini. Saya sempat bergumam, “Oh, betapa sucinya hati anak ini, hati anak-anak. Hanya dengan seulas senyumnya, sudah bisa membuat diri ini kembali bersemangat. Mengembang dan siap menggapai mimpi”.

Nah pertanyaannya untuk kita sekarang. Masihkah kita memelihara sifat positif kekanak-kanakan kita itu?

Sudahkah kita mengambil pelajaran berharga dari kisah hidup seorang anak-anak?

Dan satu lagi yang tak kalah pentingnya. Cintakah kita pada anak-anak. Terutama pada adik-adik, keponakan, sepupu, tetangga kita yang masih kecil-kecil? Jika belum, marilah kita mulai mencintai mereka dengan cinta yang tulus dari lubuk hati kita yang terdalam.

Wallahu’alam bisshawwab

[Nur Ali Muchtar / DSI MII / BTA LA]

https://alymerenung.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Total Kunjungan:

  • 519,816 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Kenal Lebih Dekat di:

%d bloggers like this: