MENULIS SEUMUR HIDUP

“MENULIS DIRI SENDIRI”

Posted on: August 27, 2009

 

SEBUAH GORESAN PENA, TAJAMNYA BISA MELEBIHI SERIBU PEDANG

–M. Fauzil Adhim–

Teman, biar kan saya menjawab mengapa harus “curhat” melalui tulisan. Izinkan saya memaparkan sedikit alasan mengapa kita harus memulai menulis dari dalam diri sendiri.

Jelekkah itu?

Burukkah itu?

Semuanya tergantung dari cara teman memaknai kesemuanya.

Dialah ini:

Mengapa saya selalu menulis tentang hal-hal yang menyangkut pribadi?

Mengapa pula saya selalu menggunakan kata ganti orang pertama, “saya”, di hampir semua tulisan-tulisan saya?

Mengapa kesannya seperti telihat ingin curhat, ingin cari perhatian orang lain, ingin jadi salah satu orang penting?

Dia ini jawabannya:

Maka alasan saya yang paling utama untuk menjawab semua deret dari pertanyaan-pertanyaan itu adalah karna menulis segala sesuatu tentang diri sendiri jauh lebih mudah dan mengasyikan ketimbang menulis tentang hal-hal lain. Apalagi teman, kemistri yang akan kita dapatkan ba’da kita menuliskan segala unek-unek yang ada di kepala kita, sungguh sangat luar biasa menggairahkannya. Tiba-tiba saja pikiran ini menjadi jernih. Jernih sekali, sejernih mata air di pegunungan sana. Gairah itu muncul seakan-akan ingin mengajak kita untuk menumpahkan semua potensi terpendam yang ada di dalam diri. Bergeliat, menggelinjang, gelinding ke sana ke mari, seperti ikan lele yang terlempar dari tambak. Kesenanganlah yang menelingkupi detik-detik hari kita pasca kita menuliskan apa-apa yang selalu bergelayut dan memenuhi benak kita ini. Maka pas sekali jika ia mendapatkan saluran yang terbaik itu. Yaitu melalui tulisan-tulisan yang kita tulis.

Bagaimana, sampai disini, apakah sohibb-sohib semua puas?

Saya berharap belum. Karna dengan begitu kita bisa melanjutkan uraian saya selanjutnya.

Di tulisan-tulisan terdahulu saya pernah memaparkan tentang pendapat dari JK Rowling.

Bilang apa dia?

Begini, dia bilang: “untuk memulai menulis, maka menulislah dari apa-apa yang kau ketahui. Menulislah dari apa yang pernah kau alami. Menulislah dari apa yang ada di benakmu. Tak usah takut. Tak usah resah. Apabila ada orang yang menghina atau mencemoohmu, beritahu saya. Biar nanti saya laporkan ke Harry Potter. Biar di sihir ia. Hehe keterusan”.

Maka teman, abadilah kisah Harry Potter itu. Terbanglah ia, JK Rowling itu dengan sang penyihir ke angkasa sana untuk mengabadi di kancah zaman.

Lalu ada lagi

Kali ini datang dari Andrea Hirata.

Dia bilang apa?

Begini, dia mengatakan bahwa menulis yang terbaik adalah menulis tentang diri sendiri. Menulis ke dalam diri sendiri.

Dari rentetan kalimat-kalimat itu kita bisa memahami, bahwa ada kemiripan antara pendapat JK Rowling dengan Andrea Hirata. Yaitu menulis itu bermula dari pengalaman pribadi.

Dan ini lagi

Kali ini datang dari pak Hernowo

Teman kenal siapa pak Hernowo ini?

Dia bekerja di penerbit Mizan. Salah satu petinggi sana.

Orang yang terkenal dengan kreatifitasnya dalam memilih judul atau tema. Lihatlah itu bukunya: “Andaikan Membaca Buku Itu Seperti Memakan Sepotong Pizza”. Atu liahatlah itu bukunya yang lain: “Mengikat Makna”.

Dan teman, belakangan saya tahu bahwa beliau telah menumpahkan kepingan-kepingan idenya ke dalam 34 buah buku. Subhanallah. Maha suci Allah. Semoga kita bisa seperti beliau. Menuliskan segala “keisengan-keisengan” kita ke dalam banyak buku. Amin

Teman, ada satu hal penting yang ingin saya sampaikan perihal tokoh kita yang satu ini.

Apa?

Teman, setau saya, ke 34 buah buku itu, kesemuanya dia tulis dalam kata ganti orang pertama. “Saya”. Jadi apa disini. Ya teman, itu, tak lain dia hanya menuliskan semua pengalaman-pengalaman pribadinya ke dalam buku-bukunya itu. Nah, bukankah itu sebuah bentuk curhatan individu yang dipublikasikan untuk dibaca oleh dunia?

Masih belum puas.

Baiklah

Kali ini datang dari tokoh yang di juluki sebagai Sang Penggoda Indonesia, Prie GS. Kenal teman siapa beliau? Sudahlah teman tak usah dipikirkan. Saya juga belum kenal. Baru cuma tau.

Orang ini juga sudah banyak menuliskan ide-idenya ke dalam sebuah buku.

Nah, salah satu yang ingin saya bicarakan di sini adalah tentang karyanya yang berjudul “Catatan Harian Sang Penggoda Indonesia”.

Apa? Dia bercerita apa di situ?

Bacalah itu judulnya dengan saksama teman. Catatan harian. Nah biasanya seperti apa catatan harian itu. Yap betul. Pengalaman-pengalaman dan curhatan-curhatan pribadi. Jika teman-teman membaca bukunya itu. Buku setebal kurang lebih 600 halaman yang hampir terdiri dari 100 artikel itu mengupas tuntas segala curhatan-curhatan dari setiap jengkal kehidupannya.

Ga percaya? Baca aja sendiri?

Terus ada lagi nih teman

Kali ini datang dari petingginya Jawa Pos, Dahlan Iskan namanya

Liahatlah itu bagaimana dia mengisahkan pengalaman pribadinya sewaktu dia harus transplantasi livernya. Di dalam bukunya yang berjudul “Ganti Hati”, dia membeberkan kesemuanya. Tragis.

Lalu pertanyaannya adalah mengapa pula dia mau capek-capek menuliskan sekelumit perjalanan kisah hidupnya untuk dibaca oleh khalayak. Lagipula yang dia ceritakan merupakan aibnya. Sakitnya itu. Livernya. Tapi nyatanya, dia bela-belain untuk menuliskannya juga. Tepat satu minggu pasca operasi besar itu, dia menuliskan kisahnya itu. Secara pribadi. Semuanya. Mulai dari mengapa dia sakit, saat-saat dioperasi, hingga pasca operasi. Tidak ada rasa malu untuk menuliskan kesemuanya itu.

Saya malah sempat menduga, jangan-jangan salah satu faktor kuat atas kesembuhannya karna ada motivasi kuat dalam dirinya untuk menuliskan pengalaman zikrul mautnya itu. Hal ini terlihat dari bagaimana dia memang dengan sengaja merekam semuanya untuk kemudian dituliskan. Dan jadilah itu Ganti Hati yang Best Seller.

Baiklah teman, mudah-mudahan satu ini adalah yang terakhir.

Asma Nadia

Siapa yang tak kenal beliau?

Bukankah beliau termasuk penulis kondang dari Indonesia yang sekarang tengah bersinar itu?

Dan pernahkah teman membaca salah satu karyanya yang berjudul “Jilbab Traveler”?

Bukankah itu kisa perjalanan hidupnya sewaktu dia keliling dunia. Bukankah itu sungguh mengasyikkan. Menyuguhkan suatu kisah hidup yang bisa dibaca oleh banyak orang. Dan penekanannya disini adalah MENULIS DIRI SENDIRI.

Ok

Saya rasa cukup sampai di sini. Sekarang, terserah teman-teman semua. Apakah itu masih “menjijikan” untuk menuliskan pengalaman pribadi teman-teman untuk kemudian kita sebar agar dunia mau membaca goresan pena kita itu?

Dan tentunya sudah menjadi harapan kita semua bahwa apa-apa yang kita tulis ini merupakan sebuah kebenaran. Serta mengandung banyak manfaat bagi semesta.

Amin

Wallahu’alam bishowwab

[Nur Ali Muchtar / DSI MII / BTA LA]

https://alymerenung.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Total Kunjungan:

  • 519,816 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Kenal Lebih Dekat di:

%d bloggers like this: