MENULIS SEUMUR HIDUP

“USULAN: FOKUS DSI MII KE DEPAN”

Posted on: August 27, 2009

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Teman-temanku semua, khususnya kru-kru DSI MII. Apa kabarnnya? Kumaha damang? Gimana puasanya? Udah jebol berapa? Pertanyaan nih…

Mudah-mudahan bisa full ampe abis romadhon. Masa kalah sama keponakan saya yang kelas 3 SD. He he

Nah teman, puasanya harus bisa dapetin puasa yang inti. Intinya puasa. Bukan puasa sekedar puasa kulit. Maksudnya apa? Ituloh, kalo kita puasa, tapi puasanya cuma nahan laper aja. Kalo bisa, kita harus bisa menahan diri. Menahan dari segala sesuatu yang membuat ibadah puasa kita jadi berkurang nilainya di sisi Allah. Termasuk nahan marah, nahan syahwat, nahan-nahan yang lain. Agar kelak, kita bisa menjadi orang-orang yang bertakwah. Seperti yang dijanjika Allah di dalam surat cintanya. Dan seperti kata teman saya, biar puasanya bisa lulus dengan predikat Cum Laude.

Amin dah.

Kenapa tulisan ini saya buat?

Ada beberapa alasan. Salah satunya adalah pengen latihan nulis. Agar saya bisa semakin lincah menulis dan bisa semakin gesit berkelit kata. Adapun, salah duanya adalah ingin menyampaikan pesan yang teramat penting kepada teman-teman semua –anak-anak DSI-. Harus saya buat tulisan ini dan teman-teman harus baca hari ini juga. Kenapa? Karna, hari Rabu tanggal 25 Agustus 2009 pukul 10 pagi, kita mau ngadain teambuilding (timbul) DSI. Jadi, ada waktu bagi teman-teman untuk membaca dan memikirkannya serta menanggapinya. Jadi, diharapkan, jika teman-teman semua telah membaca tulisan ini, teman-teman bisa menanggapinya besok.

Sedang untuk teambuilding. Kenapa diadakan? Tujuannya, biar kita semakin solid. Tak usahlah melihat berapa lama lagi waktu yang tersisa untuk kita bisa menghabiskan sisa-sisa dakwah kita di MII. Tapi, lihatlah apa yang bisa kita lakukan dan berikan, di sisa waktu yang ada.

Begini teman, saya ingin menawarkan sebuah ide. Sebuah gagasan. Atau apalah namanya. Terserah teman-teman menyebutnya apa. Tapi yang jelas, semua gagasan ini mencuat karna adanya satu hal. Satu hal yang membuat saya selalu mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah SWT.

Apa?

Perlukah teman-teman tau?

OK, baik kalo gitu.

Semuanya berawal dari anugrah yang Allah berikan kepada saya berupa kesenangan terhadap Buku, Membaca, dan Menulis.

Ada apa dengan ketiga kata ini?

Cukup lah teman. Saya tak mau memperpanjangnya. Harap teman maklum semaklum-maklumnya. Karna disini bukan forum saya untuk bercurhat ria. Curhatan blak-blakan kita, ditujukan saja pada Allah sang Maha Pembantu setiap kesulitan yang kita alami. OK

Dia ini idenya:

Teman-temanku, kita semua kan tau bahwa proker-proker DSI yang tersisa tinggal Id Qurban, Jenazah en Semusim.

Tuk Semusim, kita ketahui bersama bahwa proker yang satu ini jadi proker kepengurusan MII sesi berikutnya.

Kenapa?

Alesannya begini. Semusim ini kan diadakan pada bulan Desember atau Januari tahun depan. Sedangkan, kepengurusan MII tahun ini diperkirakan sudah akan berakhir pada bulan Desember. November kalo ga salah sudah akan Muktamar. Untuk memilih siapa jawara yang siap mengemban amanah menjadi pendekar MII. Dan selama muktamar ini, konon dilarang untuk mengadakan segala acara.

Lalu, gimana dengan proker Id Qurban dan Jenazah. Kita terusin or gimana?

Sebelumnya, saya ingin menjelaskan beberapa hal berikut:

Begini teman, tugas DSI itu kan mensyiarkan Islam di lingkungan MIPA khususnya. Kalo di luar MIPA giman? Sebenarnya ga masalah kita mensiyiarkan Islam di luar arena MIPA. Tapi kan masing-masing sudah ada jatahnya. Misal, di teknik.  Ya itu jatahnya orang-orang FUSI. Trus di FKM. Ya itu jatahnya Nurani. Secara umum lagi, untuk dakwah Islam se-UI. Itu tugasnya SALAM UI.

Nah, untuk MII. Berarti, fokus kita adalah masyarakat civitas academika FMIPA UI. Sampai di sini gimana? Paham tak?

Ada satu lagi teman. Menurut pengakuan seseorang di DSI. Syuro yang pernah dilakukan oleh tim DSI MII bersama kadept yang lama, selama kurun waktu 7 bulanan, hanya sebanyak 3 kali. Teman-teman bisa bayangkan sendiri, seberapa ekspansive kah geliat aksi yang diperlihatkan teman-teman DSI dalam kurun waktu itu. Dan menurut teman-teman, apakah syiar Islam yang dilakukan oleh tim DSI sudah maksimal, sudah ekspansive, sudah membidik hingga ke jantung sasaran, sudah mengenakah di hati kawula MIPA, sudah skak mat atau belum?

Teman-teman jawab sendiri.

Lalu kita semua tahu bahwa sasaran Id Qurban itu adalah masyarakat yang berada jauh di luar MIPA. Kalo ga salah, mau diadain di daerah terpencil yang masyarakatnya notabene kurang mampu. Dan estimasi dananya kurang lebih 40 juta. Lumayan besar. Saya menghormati proker hebat DSI yang satu ini. Ini ide kreatif. Akan tetapi, jika ini tetap dilakukan. Bukankah sasaran dakwah kita justru telah melenceng? Lagi pula, dana yang dimakan sangat besar menurut saya. 40 juta.

Pertanyaannya, berapa sisa waktu yang kita miliki untuk mempersiapkan itu semua?

Lalu, berapa banyak SDM yang dimiliki oleh tim DSI?

Setau saya, kru di Ihwannya ada sejumlah 3 orang termasuk kadep. Sedang di ahwat, ada lumayan banyak, 12 orang termasuk korwat.

Satu lagi, untuk proker Jenazah. Ini ide yang kreatif. Tapi saya belum tau kapan waktu dilaksanakannya. Yang saya pertanyakan. Efektifkah proker yang satu ini?

Coba teman-teman pikirkan.

Berkaitan dengan itu semua. Saya ingin menawarkan sebuah usulan atau sebuah ide.

Saya punya bayangan begini.

Selama kurang lebih tiga bulan waktu yang tersisa untuk DSI. Syiar kita, kita fokuskan pada tiga kata kunci ini: Buku, Baca, Tulis (B2T).

Kenapa?

Ada beberapa alasan:

Pertama, bukankah suatu bangsa yang maju adalah bangsa yang menjadikan ketiga kata di atas sebagai prioritas utama. Mereka menjadikan ketiga kata itu menjadi semacam lifestyle gitu. Bisa kita bayangkan jika ketiga kata itu bisa melekat kuat di benak kita dan masyaraka civitas academuca MIPA. Dan, menurut saya, secara tidak langsung kita telah memberikan andil yang cukup besar demi perbaikan bangsa ini.

Kedua, terkait dengan buku. Yang satu ini emang udah ga bisa diragukan lagi. Apa sebab? Ya iyalah, betapa enggak. Kalo kita mau baca, sumbernya dari mana? Dari buku kan.

Nah, pertanyaannya: Kalo kita ga punya buku / ga cinta buku / ga rajin-rajin nyentuh en megang buku, gimana mau dapetin ilmu?

Teman, yuk kita coba napas tilas keadaan yang ada di kampus kita, UI. Coba kita lihat di perpus jurusan kita masing-masing. Berapa banyak buku yang dikarang oleh orang-orang asli Indonesia. Ga banyak kan? Bukankah buku-buku yang ada di sana rata-rata di datangkan dari luar yang tentu harganya jadih begitu mahal. Karna harganya begitu mahal, alhasil buku yang bisa didatangkan terbatas jumlahnya. Tapi, rata-rata buku yang ada di perpustakaan kita juga buku-buku lama kan? Perpusnya juga, perpus lama? Di sudut-sudut raknya udah banyak debu-debu. Menurut saya, hal ini bisa menjadi penyebab kita ga cinta sama buku. Bandingkan jika seandainya teman-teman pergi ke tokoh buku. Dimana disana banyak terdapat buku-buku baru dan terlihat menyegarkan. Tertarikkah temana-teman? Mudah-mudahan tertarik.

Tapi alhamdulilah, UI bentar lagi akan punya perpus modern yang katanya, total koleksinya nanti akan mencapai 3-5 juta. Mudah-mudahan banyak buku-buku baru yang di input. Amin

Ketiga, terkait budaya membaca. Semua orang tau. Semua orang paham bahwa untuk menjadi pintar dan cerdas. Kita butuh banyak-banyak membaca. Bukankah membaca itu adalah anjuran pertama dari Allah kepada Rasul. Iqra, bacalah. Hal itu terpampang jelas pada surat Al-Alaq ayat 1-5. Kitalah, orang-orang muslim yang menekankah bahwa betapa pentingnya kata yang satu ini. Akan tetapi, betapa mirisnya kita melihat kenyataan pahit yang terjadi pada tubuh umat ini. Minat baca umat atau bangsa ini masih sangat rendah. Hal itu bisa terlihat dari data-data statistic yang menempatkan bangsa ini pada urutan yang sangat rendah dalam hal kualitas dan kuantitas membaca. Kalo gitu, kapan bangsa ini mau maju.

Dan menurut Ust. Herry Nurdi. Jika kita ingin menjadi bangsa yang besar. Maka, tiap-tiap kita harus bisa menjadi pembaca super. Lebih lanjut, dalam suatu forum diskusi. Beliau pernah menanyakan pada para hadirin. “Siapa di antara antum yang membaca buku 30 buah dalam satu bulan?”. Busyet dah. Seandainya jika kita bisa. Tapi, mudah-mudahan kita bisa.

Ada contoh lain teman. Kawan kenal Asma Nadia. Itu lho, salah satu penulis produktif Indonesia. Namanya sekarang telah menjadi buah bibir para penggila buku. Konon, ia biasa membaca 3-4 buah buku dalam satu hari. Busyet lagi.

Jadi, bagus kah usulan ini?

Ke-empat, terkait dengan budaya menulis. Yang saya pahami hingga saat ini adalah kenyataan bahwa ada hubungan yang sangat erat antara membaca dan menulis. Membaca, kurang lengkap tanpa adanya aktivitas menulis. Menurut Hernowo –pengarang buku Mengikat Makna-, membaca harus menulis dan menulis harus membaca. Jadi, ada semacam istilah two side in one coin. Membaca di satu sisi, dan menulis di sisi yang lain dalam satu mata uang.

Nah, ngomong-ngomong dengan budaya menulis. Apakah masyarakat MIPA, -dalam hal ini doen-dosen dan mahasiswa- telah menjadikan aktivitas yang satu ini menjadi bagian dari kehidupannya. Terutama yang mengaku-ngaku menjadi seorang peneliti.

Banyakkah manusia-manusia yang suka menulis di kalangan MIPA UI ini?

Setau saya dan berdasarkan hasil diskusi dengan beberapa teman-teman di MIPA. Masih sangat sedikit sekali mahasiswa MIPA yang mau menulis. Padahal sungguh sangat banyak sekali keuntungan jika kita mau dan bisa menulis. Lah betapa enggak. Kita anak Science, kalo ga bisa nulis. Kita akan jadi penikmat karya-karya orang melulu. Akhirnya ga ada karya-karya kita. Ga ada jurnal-jurnal, paper-paper seperti yang diharapkan oleh pihah dekanat atau dosen-dosen kita.

Untuk sejenak, marilah kita tilik realita yang lebih luas terhadap bangsa ini.

Kita bisa melihat perbandingan antara bangsa Jerman, Jepang dengan Negara kita dalam hal total penerbitan buku pertahunnya. Miris teman. Miris sekali. Jauh sekali perbandingannya. Mungkin, di Negara sana banyak sekali penulis dan buku-buku yang diterbitkan tiap tahunnya. Sehingga, akan sangat banyak sekali bahan yang bisa di jadikan referensi. Sedang di negeri ini. Berapa banyak buku yang diterbitkan tiap tahunnya? Ah lagi-lagi.

Lagipula, bukankah menulis itu sudah menjadi tren para ulama zaman dahulu? Lihatlah itu para salafusshalih semisal Al-Ghazali, Ibnu Taimiyah, Ibnul Jauzi, Imam Nawawi, Imam Bukhari, Sayyid Qutb, de el el. Betapa melimpah ruahnya karya-karya mereka. Dan kita bisa meraskan pada saat itu hasil karya mereka. Bahkan hingga saat ini. Tidak adakah keinginan untuk bisa menelurkan banyak karya seperti mereka-mereka itu? Tidak inginkah nama kita abadi di laut kehidupan ini?

Saya ingin berbagi sedikit pengalaman.

Dia ini:

Saya pernah sedikit didamprat oleh pihak dekanat.

Begini ceritanya.

Waktu itu saya ingin minta tanda tangan pak Herman, manajer Mahalum FMIPA UI. Nah, kebetulan pada saat itu beliau baru pulang dari malang. Menghadiri lompa ilmiah nasional tingkat mahasiswa. Yang membuat beliau miris adalah kenyataan bahwa orang-orang MIPA –fakultas kita- hanya meloloskan 2 orang saja. Padahal, peserta yang lolos dari masing-masing fakultas yang ada di UI lumayan banyak pada saat itu. Dan lebih-lebih, total peserta yang lolos dari UI masih kalah dengan universitas-universitas lain yang ada di Indonesia. Yang juara juga bukan anak-anak UI. Lebih miris lagi, beliau bilang gini ke saya.

“Mana anak-anak MIPA. Katanya MIPA pesantrennya UI. Banyak aktivis-aktivis Islamnya. Tapi, yang ngewakilin UI untuk karya ilmiah dengan tema-tema ke-Islaman justru kebanyakan dari luar MIPA”.

Belum puas dengan dampratannya, beliau menyemprot saya lagi.

“Kalian, para aktivis, kenapa selalu membuat acara-acara yang notabene semacem kajian, seminar, symposium, muktamar. Tapi mana, apa yang dihasilkan dari acara-acara kalian. Mana hasil riset-riset kalian. Mana paper-paper kalian. Mana karya tulis kalian. Mana prestasi kalian di tingkat nasional? Mana?”.

“Busyet dah. Jadi saya yang kena korban”, batin saya bergumam.

Tapi, tiba-tiba teman. Anehnya, dalam perjalanan pulang. Saya merenungkan juga hal itu. Semprotan dari pak Herman itu. Dan sempat tertegun ketika saya mengatakan dalam hati, “Benar juga ya apa yang dikatakan pak Herman. Apa yang telah kita hasilkan dari acara-acara kita. Kita anak MIPA. Tapi, anak-anak yang menghasilkan karya tulis atau prestasi semacam itu masih minim sekali. Nyeri de kepala ini”.

———————————————————————————————————————

Nah, berawal dari situlah. Dari: waktu yang hanya tinggal beberapa bulan saja kita miliki, sasaran target dakwah kita yang memang harus kita fokuskan untuk civitas academika FMIPA, kurangnya sumber daya, tuntutan dari dekanat, tuntutan dari bangsa dan agama kita, keigairahan saya pribadi juga dengan tiga kata di atas –buku, baca, tulis-, yang melatar belakangi ide saya untuk membuat acara atau rangkaian acara yang tema besarnya adalah Buku, Baca, Tulis. Acara inilah yang nantinya akan kita fokuskan di sisa kepengurusan DSI MII tahun ini. Makanya, usul saya, acara Id Qurban dan Jenazah diganti dengan acara-acara yang memfokuskan dengan ke tiga hal di atas.

Tapi, otak ini terus berputar, berputar, dan berputar. Dan tiba-tiba cling. Dapet dia.

Mau tau?

Bayar dulu. He he

Dia ini acaranya:

Sebenarnya, sudah sejak dua tahun yang lalu saya mendapatkan ide untuk membuat suatu acara semacam Islamic Book Fair (IBF). Tapi terkendala dengan beberapa hal.

Pertama, SDM yang ga memungkinkan

Kedua, waktu yang mepet-mepet melulu

Ketiga, ada pertanyaan yang selalu nyantol di benak saya pada saat itu. “Kalo MII mau ngadain IBF. Nanti apa bedanya MII dengan Event Organizer (semisal IBF yang ada di Istora Senayan) yang ada? Apakah esensi dakwahnya kena?”

Akhirnya, setelah dua tahun waktu berlalu. Seiring bergantinya bulan dan matahari. Pengetahuan kian bertambah. Ajalpun kian dekat. Saya mendapatkan suatu ispirasi baru. Inspirasi yang mengobarkan semangat juang yang terhujam dengan sangat kuatnya. Dan inspirasi itu bertemu dengan kesempatan berupa moment yang sangat tepat.

Jadi, saya memutuskan untuk menawarkan suatu proposal kegiatan pada teman-temanku semua.

Dia ini:

Yang mau kita buat, esensinya adalah bukan bertumpu pada banyaknya buku dan pengunjung yang akan dateng ke stand IBF kita. Tapi, titik tekannya adalah. Kita ingin mengajak kepada diri kita khususnya, masyaraka civitas academika FMIPA UI pada umumnya, orang-orang UI lebih luas lagi, untuk menjadikan Buku, Baca, Tulis sebagai suatu lifestyle kita. Makanya, harus ada acara-acara yang mendukung ke arah itu. Adapun untuk pemeran-pameran buku, itu semua adalah untuk meramaikan dan memeriahkan rangkaian acara yang akan kita godok.

Nah, untuk acara-acaranya seperti apa. Mungkin bisa dibicarakan kemudian. Ada sedikit bayangan di benaka saya. Apa?

Begini, untuk merangsang minat terhadap Buku, Baca, Tulis, maka kita harus mendatangkan tokoh-tokoh yang memang sudah sangat melekat dengan ketiga hal di atas. semisal, Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, Anis Matta, Ust Herry Nurdi, Habiburrahman El-Shierazy. Wah, syukur-syukur kita bisa mendatangkan Andrea Hirata. Ngimpi kali ye.

Setelah kita mendapatkan sedikit inspirasi dari tokoh-tokoh tersebut. Hal yang berikutnya adalah kita harus langsung mempraktekkan apa yang harus dilakukan. Ya kita adain tuh semacem lomba. Entah itu lomba penulisan puisi, cerpen, karya tulis, de el el. Intinya, hal-hal yang menuntut kita semua untuk praktek nulis.

Pertanyaanya, bukankah itu beririsan dengan tugas-tugasnya Ilmi or Media or Keilmiahan BEM MIPA. Nah, inilah dia yang menurut saya suatu kesempatan. Kalo saya melihatnya, bukan dari sisi perebutan job desk pekerjaan. Tapi, bukankah kita bisa bekerja sama antara DSI, Ilmi, dan Media atau keilmiahan BEM utuk bisa membuat acara ini menjadi besar. Besar manfaatnya, besar juga acaranya.

Oh ya, hampir terlupa. Kita, di DSI, kan ada salah satu proker tambahan –sebenarnya proker ini sudah dicanangkan sebelumnya-, yaitu bahwa setiap minggu kita ingin menerbitkan sebuah tulisan. Dengan bebas tema. Dalam bentuk selembaran kecil. Apa tujuannya?

Pertama, itu sarana dakwah kita.

Kedua, kalo kita bisa konsisten menjalankannya. Saya berharap, kita bisa membuat sebuah buku yang akan kita wariskan untuk, minimal MII.

Ketiga, sarana bagi kita untuk berlatih menulis. Bagi yang belum terbiasa menulis. Kali aja, ajang kita yang satu ini bisa menjadi batu lecutan bagi kita untuk bisa menulis. Jangan-jangan kita punya kemampuan hebat untuk menulis. Kali aja.

Itulah, sekelumit ide sederhana dari seorang dhaif seperti saya ini. Orang yang masih banyak kekurangannya. Orang yang masih lebih banyak bermain-main dengan wacana. Belum bisa mengkongkritkan semua wacana yang pernah terpikirkan. Orang yang masih lebih besar ego pribadinya. Orang yang masih suka mud-mudan. Orang yang masih dalam perjalanan panjang untuk menyempurnakan kehidupannya. Tapi teman, inilah sarana bagi kita, bagi saya khususnya untuk bisa mengekspresikan diri secara bebas berdasarkan nilai-nilai yang benar.

Dan akhir kata, saya meminta perlindungan pada Allah dari kata-kata sombong yang pernah terucap dan tertulis. Untuk semua tulisan yang tak berguna. Untuk semua wacana yang hanya sekedar wacana. Untuk semua bualan-bualan besar yang pernah didera. Untuk semua kekhilafan yang pernah terbuat.

Ya Allah, ampunilah semua dosa-dosa hamba.

Amin

Waslm

[Nur Ali Muchtar / DSI MII / BTA LA]

https://alymerenung.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Total Kunjungan:

  • 519,816 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Kenal Lebih Dekat di:

%d bloggers like this: