MENULIS SEUMUR HIDUP

Gundah Gulana

Posted on: September 22, 2009

Hati melulu gundah

Saat realita tak sesuai idealita

Tapi jika idealita terlampau mengawang-awang

Biarlah logika menjadi tumpuan yang lain

Aku gelisah melihat semua ini

Kaumku

Bangsaku

Sukuku

Apa yang telah kalian perbuat

Duhai betawi

Kau mengaku sebagai suku asli Jakarta

Engkau dengan bangganya mencercau suara:

Gue, si Entong anak betawi, tinggal di Jakarte”

Seolah, engkaulah suku terhebat di sana

Tapi karya apa yang telah engkau pahatkan

Apa yang telah engkau wariskan untuk peradaban dunia

Lihatlah kampong Jakarta ini

Tempat dimana engkau menjejakkan mimpi

Mimpi sekedar mimpi

Mimpi dalam tidurmu

Di sini, di Jakarta ini

Apa kontribusimu untuk bumi Jakarta ini?

Akumu hanya sebatas aku utofia

Tak berdasar

Tak berlogika

Tak beralasan

Buktinya, kau tak bisa berbuat apa-apa untuk induk semangmu

Kau terdiam terpukau dan tersudutkan dalam sudut kota ini

Tanah-tanah, rumah-rumah, kebun-kebun warisan, kau gadaikan semua

Tak pernah engkau berpikir akan hari esok

Hai ini kau bergelimang harta

Milyaran kau dapatkan

Tapi hanya dalam sekejap

Fulus itu bak tertelan bumi

Tak ada rimbanya

Seperti tak pernah ada kisahnya

Egoismu menguasai jiwa

Pikiranmu cetek

Dangkal

Kau hanya melulu berpikir akan hari ini

Tanpa pernah perduli akan potensi masa depan

Kau korbankan mimpi indah pendidikan generasimu

Yah generasimu

Anak-anakmu, cucu-cumu, keturunanmu itu

Kau korbankan semuanya demi gengsimu hanya pada tetanggamu

Padahal mereka adalah sesama kaummu

Namun, jika anakmu berhasil menembus kungkungan dunia

Kau puji mereka dengan senyum merekah yang bisa merobek jalan dunia

Kau selalu berbangga

Setiap hari kau khotbahkan cerita pada dunia

Dulu kau memang penguasa Jakarta

Tapi kini, kau kian tergerus oleh kaum pendatang

Sulit sekali bagimu untuk bisa bersaing di era globalisasi ini

Aku khawatir duhai betawi

Suatu saat nanti

Kau terjebak dalam rumahmu sendiri

“Merantau di kampungmu sendiri“

Aku gundah dengan sukuku

Aku gundah dengan kaumku

Aku gundah dengan bangsaku

Aku gundah

Namun aku tak mau terjebak dalam lingkaran tak bertepi ini

Aku ingin terlepas dari semua kenyataan ini

Aku ingin membebaskan diri ini

Ingin terbang bersama angin dan awan

Angin ingin bermimpi

Bermimpi setinggi-tingginya

Aku ingin menggapai bintang

Bintang di kejauhan sana

Aku ingin berkelana menuntut ilmu

Aku ingin mendaki semua mimpiku

Kan kuraih ia di puncak tertinggi sana

Tak akan surut nyaliku

Seberat apapun rintangannya

Kurebut semua pusaka ilmu pengetahuan

Walau harus berpetualang hingga ujung dunia

Aku akan susuri

Aku akan lalui kawan

Semua negeri

Semua bangsa

Seluruh dunia

Aku berjanji

Kuwujudkan semua mimpi ini

Demi bumi pertiwi

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Total Kunjungan:

  • 520,123 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Kenal Lebih Dekat di:

%d bloggers like this: