Nur Ali Muchtar

MERENUNG YUK TEMAN

Posted on: September 22, 2009

“MERENUNG YUK


” Orang yang cerdas adalah orang yang selalu memikirkan (merenungkan) kehidupan setelah kematian

–Muhammad SAW–

“Conversation enriches the understanding, but solitude, is the school of genius”

–Edward Gibbon—


Merenung. Ya, satu kata MERENUNG. Ada apa dengan merenung? Sukakah anda untuk merenung? Lebih lanjut, apa yang anda lakukan saat anda sedang berada di dalam mobil atau angkot, hanya seorang diri, tanpa teman, tanpa telpon sana telpon sini? Mungkin anda bengong-bengong bae. Lalu, apa yang anda lakukan saat anda berjalan seorang diri yang sekali lagi tanpa teman dan tanpa calling sana calling sini? Dan terakhir, apa yang anda lakukan saat anda (maaf) di dalam kamar mandi?

Ada sedikit ide yang mungkin ingin disodorkan oleh penulis. Tujuannya, agar kita bisa memanfaatkan waktu-waktu “bengong” kita itu dengan hal yang lebih bermanfaat. Dia itu: MERENUNG. Merenung apa? Baiklah, sebelumnya saya ingin mengajak anda menapak tilas sejarah umat manusia. Teman kenal dengan makhluk yang namanya Leonardo da Vinci. Bukankah dia makhluk super jenius itu? Dan tau, konon dia memiliki kebiasaan untuk merenung dan berpikir di pinggir hutan yang tenang di desanya sambil memperhatikan hewan-hewan dan alam sekitarnya. Trus kita semua juga sudah amat akrab dengan embah Einstein. Embah kita yang satu ini katanya juga suka merenung. Sejak kecil beliau adalah seorang yang sangat pemalu dan lebih suka menyendiri. Tempat favoritnya adalah di atas bukit yang ada di dekat tempat tinggalnya di Munich, Jerman. Lalu ada lagi yang lebih tragis. Kenal Napoleon dan Hitler kan? Dahulu kala, saat tubuh mereka terlihat masih imut-imutnya, mereka sering diejek “anak kampung” oleh teman-teman sekelasnya, dan juga suka menyendiri dan merenung. Tapi kita tahu sekarang bahwa mereka berdua adalah termasuk pemimpin yang namanya pernah mencuat melanglang buana di alam semesta. Dan yang terakhir, teman tau manusia mulia bernama Nabi Muhammad? Bukankah nabi kita itu sangat gemar untuk melalakukan khalwat (pengasingan) dan tahannuts (menyendiri) untuk mencari pencerahan di atas bukit sekitar gua Hira. Lebih-lebih saat dimana beliau hendak diangkat menjadi Rasul Semesta, semakin intens saja beliau melakukan aktivitas yang satu ini.

Ada satu lagi penguatan dari seorang tokoh tentang potensi merenung ini. Kenal kan dengan Anis Matta? Di dalam bukunya yang berjudul “8 Mata Air Kecemerlangan”, dia menjelaskan tentang dashsyatnya dampak yang akan ditimbulkan oleh akibat merenung ini. Dia orang menjelaskan bahwa dengan banyak merenung, kita bisa menemukan konsep diri yang utuh dan jelas. Bukankah untuk mengenal Tuhan, kita harus mengenal diri kita sendiri lebih dahulu? Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa perenungan bertujuan menciptakan kedekatan dan harmoni antara berbagai unsur kepribadian kita; fisik, akal, dan jiwa. Melalui perenungan kita menjadi lebih dekat dengan diri sendiri dan lebih mampu menikmati saat-saat kesendirian.

Ada tiga sasaran yang ingin dicapai melalui proses perenungan ini menurut Anis, yaitu: Pertama, ketenanga jiwa. Hal ini tercapai jika kita sudah mulai merasa ”betah” duduk seorang diri tanpa terganggu oleh godaan apapun. Kedua, meningkatkan kemampuan konsentrasi. Hal ini tercapai jika kita sudah dapat melebur ke dalam pikiran kita tanpa merasakan berlalunya waktu. Ketiga, meningkatkan kemampuan berpikir mendalam dalam waktu lama. Satu tingkat dari sasaran kedua adalah daya tahan konsentrasi pikiran pada satu tema dalam rentang waktu yang lama. Semua kejeniusan bersumber dari sini.

Lalu pertanyaannya adalah apa yang harus kita pikirkan? Apa yang paling penting yang harus kita pikirkan? Disini saya akan mengajak saudara sekalian melanglang buana menuju pemikiran the great people yang tulisan-tulisannya mampu menginspirasi banyak orang meski ia telah lama tiada. Dia itu Ibnul Qayyim Al-Jauziyah. Di dalam buku fenomenalnya yang berjudul “Kunci Kebahagiaan”, dia orang menjelaskan bahwa bahan perenungan yang utama itu ada empat. Pertama, tujuan yang disukai dan ingin diwujudkan. Kedua, jalan yang mengantarkan kepada tujuan tersebut. Ketiga, mudharat yang dibenci dan tidak diharapkan terjadi. Keempat, jalan yang menyebabkan timbulnya mudharat tersebut. Keempat hal itu sangat erat kaitannya dengan Tuhan Semesta Alam. Kenapa? Karna tujuan yang hakiki adalah hanya pada Allah SWT.

Oleh karena itu, sebelum ajal menjemput, sebelum malaikat maut menyapa, sebelum bumi ini hancur lebur dan gunung-gunung berterbangan bak kapas teombang-ambing oleh sang angin, yuk kita perbanyak perenungan kita terkait tugas-tugas kita di dunia ini, penciptaan alam semesta, kematian, hari kiamat, kehidupan akhirat, dan lain lain yang dapat meningkatkan keimanan kita pada Allah SWT. Setelah itu, marilah kita mencoba mengamalkan dengan sungguh-sungguh apa-apa yang bisa menyelamatkan kita kelak di akhirat.

[Nur Ali Muchtar / DSI MII / BTA LA]

https://alymerenung.wordpress.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Total Kunjungan:

  • 554,999 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Kenal Lebih Dekat di: