MENULIS SEUMUR HIDUP

PROSES TERBENTUKNYA TAKDIR

Posted on: September 22, 2009

“PROSES TERBENTUKNYA TAKDIR”

“Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga kaum itu sendiri yang mengubah keadaan yang terjadi pada dirinya. (Ar-Ra’d: 11)

Kawan, seperti apakah terbentuknya takdir itu? Apakah kita tak punya andil dalam proses terciptanya takdir itu? Apakah grand design Allah adalah final? Artinya, apakah kita tak punya hak barang sikitpun untuk merubah nasib kita? Lalu, bagaimanakah menjelaskan fenomena antara dualitas yang ada: kaya dan miskin, sukses dan gagal, bahagia dan nelangsa? Apakah ada cara untuk bisa merubah takdir hidup kita?

Biasanya, orang-orang yang pesimis selalu mengatakan “yah mau gimana lagi, emang udah nasib begini: miskin, gagal, nelangsa”. Mereka menyalahkan nasib. Sedang, ciri-ciri orang yang optimis ketika mendapatkan kenyataan pahit dalam hidupnya adalah selalu berusaha mencari tahu apa yang membuatnya gagal dan jatuh terpuruk. Tak pernah, tak pernah barang sikitpun ia surut nyali. Tak pernah mereka mencari kambing hitam atas fenomena yang terjadi pada dirinya. Mereka akan terus berusaha, berusaha, dan berusaha hingga mereka mendapatkan apapun yang mereka impikan. Mereka adalah the real dreamers seperti yang dikatakan Andrea Hirata. Oleh karena itu, mereka tak peduli dengan segala cemoohan alam semesta.

Untuk mengetahui seperti apakah misteri dibalik takdir itu. Baiknya, kita lihat dulu rujukan berikut. Ia orang bernama Anis Matta dengan buah goresan tintanya yang bertitel “8 Mata Air Kecemerlangan”. Ia mencoba mengurai takdir seperti dia ini: “Akar dari semua tindakan, perilaku, kebiasaan, dan karakter kita adalah lintasan pikiran. Lintasan pikiran itu menyerbu benak kita, maka ia berkembang menjadi memori, dan memori itu secara perlahan berkembang menjadi ide / gagasan / pikiran. Pikiran itu selanjutnya menukik lebih jauh dalam wilayan emosi kita membentuk keyakinan. Maka, keyakinan berkembang menjadi kemauan, dan secara perlahan, kemauan berkembang menjadi tekad. Setelah itu, tekad menjalar ke dalam tubuh dan menggerakkannya. Maka, lahirlah tindakan. Bila tindakan tersebut dilakukan secara berulang-ulang, maka terbentuklah kebiasaan, dan bila kebiasaan itu berlangsung dalam waktu lama, terbentuklah karakter. Karakter inilah yang akan menentukan kualitas dan nasib hidup kita”.

Jadi, intinya disini adalah lintasan pikiran yang berkeliaran bebas di alam rimba pikiran kita. Kita tidak bisa mematikan lintasan pikiran ini. Menurut Muhammad Al-Ghazali, setiap hari, kita mengkonsumsi ribuan lintasan pikiran dalam benak pikiran kita. Oleh karena itu, yang bisa kita lakukan adalah mengontrolnya secara ketat. Yang perlu kita perhatikan disini adalah memastikan bahwa gizi pikiran yang masuk itu adalah segala sesuatu yang berbau positif, tidak sebaliknya.

Dan menurut Arvan Pradiansyah –mantan mapres UI era 1990an- dalam bukunya “The Seven Laws of Happenies”, mengatakan: “Anda adalah apa yang berulang-ulang kali anda pikirkan”. Penekanannya disini adalah kata “berulang-ulang kali”. Artinya apa? Artinya, kalau yang masuk pikiran itu hanya sekelebatan saja, maka ia tidak akan menjadi hal yang dominan dalam pikiran kita. Akibatnya, dia tidak akan mempengaruhi kehidupan kita. Namun, jika yang mampir selalu itu-itu melulu, maka ialah yang akan menjadi hal dominan dalam hidup kita. Dan itulah yang akan terjadi dalam diri kita. Jadi, kita harus dengan sengaja memasukkan unsur-unsur positif dalam pikiran kita. Terus, melulu itu-itu terus, secara berulang-ulang, berkali-kali tanpa pernah bosan. Maka, itulah yang akan terjadi pada diri kita.

“Jika anda yakin dengan kemampuan anda. Bahwa anda pasti bisa melakukan hal itu. Yakin, benar-benar yakin. Dan anda mau berkorban untuk itu. Maka anda akan mendapatkan itu”. Itulah yang dikatakan David J Schwartz. Jadi, ada semacam proses pemaksaan pada pikiran kita untuk mendorongnya dengan energi positif berupa keyakinan untuk bisa melakukan hal itu.

Lalu didalam Al-Qur’an dikatakan bahwa ada dua potensi dalam diri manusia yaitu potensi kebaikan dan potensi keburukan. Hal itu tergantung diri kita untuk pro yang mana. Di dalam surat Ar-Ra’d ayat 11 pun Allah menjelaskan bahwa kita diberi kewenangan khusus untuk merubah takdir hidup kita. Dan menurut Ust. Herry Nurdi, “kita diberikan pilihan oleh Allah di permulaan, tapi Allah tidak memberikan pilihan akhir pada kita”. Artinya, Allah telah menetapkan semuanya dalam kitabnya, lauh mahfuz. Namun, semua bergantung pada permulaan hidup yang kita pilih.

Maka kesimpulannya adalah bahwa kita bisa mengubah takdir hidup kita jika kita mau. Dimulai dari tataran yang paling kecil berupa penyeleksian repetition positif terhadap apa yang masuk dan mengeram pada lintasan pikiran kita. Namun, Allah telah merancang semuanya dalam lauh mahfudz. Maka disinilah perlunya kita tawakal (berserah) pada Allah SWT. Dan semoga kelak Allah memberikan yang terbaik pada kita. Amin.

Wallahu’alam.

[Nur Ali Muchtar / DSI MII / BTA LA]

https://alymerenung.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Total Kunjungan:

  • 520,123 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Kenal Lebih Dekat di:

%d bloggers like this: