MENULIS SEUMUR HIDUP

RAMADHAN SEBAGAI MOMENT PENGEMBANGAN DIRI

Posted on: September 22, 2009

“RAMADHAN SEBAGAI MOMENT PENGEMBANGAN DIRI”

Apa keistimewaan dari bulan Ramadhan? Benarkah kesempatan Ramadhan adalah momentum yang paling tepat untuk bisa melipatgandakan potensi diri? Lalu, bagaimana cara memanfaatkannya jika memang benar bahwa peluang terbesar untuk bisa melesatkan potensi diri itu terdapat di bulan Ramadhan? Apakah kegemilangan kita di bulan Ramdhan akan berpengaruh terhadap 11 bulan yang siap menghadang di depan? Apakah event Ramadhan ini bisa mendekatkan kita pada Sang Khalik?

Insa-Allah semuanya akan di bahas di sini. Seperti yang kita ketahui bahwa bulan Ramadhan ini adalah bulan yang paling mulia dibandingkan 11 bulan yang lain. Allah menganak emaskan bulan yang satu ini. Ia melesat jauh melampaui kawan-kawannya itu. Allah telah mengobral janji bagi siapa saja yang memanfaatkan moment suci ini dengan iming-imingan pahala yang berlipat. Di sana, di bulan Ramadhan itu, Allah menyuguhkan satu malam, ya, satu malam agung yang nilainya sama dengan 1000 bulan atau sekitar 83 tahun lebih bagi siapa saja yang bisa mencuri peluang emas itu. Bodohlah orang-orang yang acuh tak acuh dengan perihal yang satu ini. Konon, Allah mengikat mati setan-setan yang biasanya berkeliaran bebas di jagat raya demi menyuguhkan atraksi Ramadhan ini. Orang-orang yang memberikan makan, ingat: hanya memberikan makan, pada orang-orang yang berpuasa, maka pahalanya sama dengan orang yang berpuasa itu. Subhanallah.

Lalu jika kita tinjau dalam realita masyarakat kita. Bukankah bulan ini adalah bulan yang bisa merubah sesorang yang tadinya “buruk” menjadi “baik”. Seluruh alam menyambut bulan yang satu ini. Seolah-olah mereka bergembira atas kehadiran moment langka ini. Manusia, hewan, tumbuhan, bintang-bintang, planet-planet, langit, tanah, dan semua yang ada di semesta, seolah menyalakan pijar kehangatan dengan riangnya demi memeriahkan bulan yang satu ini. Para umat manusia berbondong-bondong melakukan kebaikan. Yang biasanya tak pernah sedekah, namun, saat Ramadhan tiba, seolah money tak ada artinya lagi. Mereka dengan senang hati untuk bersedekah. Yang shalatnya biasanya hanya dua kali dalam setahun yaitu shalat Id Fitri dan Id Qurban, mendadak jadi rajin shalat di bulan Ramadhan ini. Tidak hanya itu, mereka berbondong-bondong memenuhi masjid. Yang jarang tilawah Qur’an, lihatlah di bulan Ramadhan, mereka pasang target untuk bisa hatam bahkan dalam satu bulan. Mereka mulai mengkaji ayat per ayat. Mereka baca tafsirnya. Bahkan tak jarang mengucurkan derai air mata yang mengharu biru menebas bumi saat beribadah pada Rabb. Fenomena inilah yang dijelaskan oleh Ust. Anis Matta dalam bukunya “Menuju Cahaya”. Kalo begitu, bukankah sudah jelas terlihat bahwa event besar yang satu ini sangat tepat sekali untuk bisa mengkalilipatkan semua potensi yang ada pada diri kita. Tidak hanya itu, lebih jauh meruncing, pagelaran yang satu ini bisa melesatkan potensi umat yang sempat tertidur. Bukankah untuk skala yang lebih luas, terlebih dahulu adalah memaksa individu untuk bisa keluar dari segala belenggu? Dan nantinya akan berkembang pada tataran yang lebih luas.

Yang perlu dicamkan baik-baik adalah keharusan kita memanfaatkan moment yang satu ini untuk bekal kita kedepannya. Bekal apa? Bekal untuk mengarungi pertempuran hidup selama 11 bulan ke depan. Lho kok gitu? Ya, karena menurut om Anis tadi, jika kita bisa memanfaatkan momentum Ramadhan ini dengan kesungguhan niat, maka kita akan mendapatkan energi yang lebih besar untuk memanfaatkan 11 bulan ke depan. Sedang menurut AN. Ubaedy dalam bukunya “Mukjizat puasa Ramadhan”, berkata ia: Ramadhan ini adalah proses membuat benteng langkah kita selama 11 bulan ke depan agar diri kita ini tidak mudah dihancurleburkan oleh pengaruh jahat hawa nafsu.

Namun, yang terpenting agar event Ramadhan ini bisa mengorbitkan gelak potensi kita, tentunya ada syaratnya. Syaratnya tidak mahal. Namun ia mengharuskan kesungguhan bagi kita, para manusia yang menjalankan shaumnya, untuk mencurahkan segenap kemampuan kita dalam berpuasa. Artinya apa? Puasa ini harus menyentuh esensi dari puasa itu sendiri. Seperti yang dikatakan AN. Ubaedy: bukan hanya kulitnya saja, namun harus bisa mencapai kualitas inti puasa. Jadi puasa ini haruslah mengerahkan daya lahir dan batin kita. Tidak melulu hanya menahan diri dalam tataran fisik ragawi saja. Yang jauh lebih penting adalah harus bisa menahan diri dari hal-hal yang bersifat batin. Contonya: menahan diri dari hawa nafsu. Hal ini pernah ditanyakan oleh seorang sahabat bernama Ali Bin Abi Thalib pada Baginda Rasul. “Ya Rasul, amalan apakah yang paling utama di bulan Ramadhan?”. Jawab Nabi: “Amalan yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah”. Nah, menahan diri dari hawa nafsu adalah sama dengan menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah.

Lalu pertanyaanya adalah, potensi apa yang harus kita kembungkan agar terus membesar? Menurut Anis Matta dalam bukunya “8 Mata Air Kecemerlangan”, ada 6 aspek yang harus dikembangkan terkait potensi-potensi diri kita. Dia ini keenam itu: Apek fisik, emosi, intelektual, spiritual, jaringan sosial, dukungan finansial. Keenam aspek ini harus dikembangkan oleh siapapun orang yang mengaku dirinya individu. Karena sekarang adalah bulan Ramadhan, maka sangat pas sekali untuk kita jadikan sarana mengembangkan keenam hal itu. Yuk kita coba merunutnya satu persatu.

Pertama, aspek fisik. Terkait dengan aspek fisik ini, bukankah sudah banyak penemuan-penemuan di bidang kedokteran dan kesehatan yang menyimpulkan bahwa aktivitas shaum yang kita lakukan justru membuat badan kita sehat dan segar bugar. Lihatlah itu Nabi Muhammad, bukankah Nabi kita itu adalah contoh nyata orang yang shaum, namun kualitasa fisiknya sungguh prima. Konon, Sang Nabi tak pernah sakit dalam hidupnya. Sakitnya hanya sekali, itu pun menjelang kematiannya. Aktifitas puasa ini adalah semacam rehat bagi seluruh organ tubuh kita, terutama orang-organ yang berkaitan dengan sistem pencernaan. Ada semacam proses cleaning pada tubuh kita melalui shaum ini. Bukankah mobil yang digunakan terus menerus juga membutuhkan proses pembersiahan agar tetap kinclong dan ngejreng.

Kedua, aspek emosi. Belakangan, ilmu pengetahuan meyakini bahwa bukan semata kecerdasan intelektual yang menunjang kesuksesan seseorang. Ternyata ada yang tak kalah pentingnya. Dia itu bernama kecerdasan emosional. Inilah salah satu peran dominan yang menentukan seseorang sukses atau tidak dalam hidupnya. Ada beberapa saran yang dikutip dari buku AN. Ubaedy yang berjudul “Mukjizat Puasa Ramadhan”, untuk bisa mengembangkan kecerdasan emosi. Dia ini: Pertama, belajar menjaga keseimbangan hidup (balance). Caranya adalah tidak menjadikan reaksi pertama sebagai landasan keputusan tunggal. Rasul mengajarkan: Jika seseorang memaki engkau atau dia tidak mengetahui engkau sedang berpuasa, maka katakanlah “sesungguhnya saya berpuasa, sesungguhnya saya berpuasa”. Kedua, belajar mempertebal kesadaran diri (self awarness). Caranya dengan memperbanyak merenung dan berzikir. Bukankah di bulan Puasa kita diperintahkan untuk memperbanyak berzikir? Dan bukankah di dalam Islam kita dianjurkan untuk lebih banyak diam ketimbang mengoral banyak kata yang tak berguna? Ketiga, belajar meningkatkan rasa tanggung jawab (self responsibility). Keempat, belajar ber-empati. Ini hadits yang menganjurkan kita untuk ber-empati terhadap sesama: ”Sedekah yang paling utama adalah sedekah pada bulan Ramadhan” (HR. Tirmidzi).

Ketiga, aspek intelektual. Dibulan puasa, kita juga dianjurkan untuk banyak membaca buku-buku bertemakan Islam. Tafsir Qur’an terutama.

Keempat, aspek spiritual. Spiritualitas dalam Islam adalah mengaktifkan kesadaran beribadah. Kesadaran beribadah akan mengingatkan kita tentang siapa diri kita, apa tujuan kita, kemana kita akan kembali, apa makna hidup kita, dan lain-lain. Inilah inti dari spiritualitas. Dan dengan berpuasa, bukankah kita dituntut untuk bisa terus melakukan segala sesuatunya dalam koridor ibadah kepada Allah? Unutuk terus memuhasabah diri di sepertiga malam saat kita hendak tahajud.

Kelima, aspek jaringan sosial. Banyak sekali moment-moment yang tersaji di bulan Ramadhan yang bisa menambah koneksi jaringan kita. Bukankah Islam sangat memuliakan orang-orang yang menjaga silaturrahim? Di bulan Ramadhan, bisa kita temukan ia saat moment: tarawih di masjid, subuh di masjid, iftor bersama, dan tentunya adalah saat hari kemenangan tiba, Id Fitri.

Keenam, dukungan finansial. Inilah yang sering terjadi pada tataran realitas masyarakat kita. Banyak orang yang menghabiskan uang untuk membeli makanan secara berlebih, beli baju lebaran padahal baju yang lama masih bagus-bagus, dan lain-lain. Moment Ramadhan ini harus kita jadikan sebagai moment bagi kita untuk bisa belajar berhemat. Dan juga moment untuk bisa menyucikan harta-harta kita.

Masih banyak lagi hal-hal yang akan kita peroleh dengan hadirnya bulan Ramadhan ini. Yang secara keseluruhan, jika kita bisa menghayati aktivitas yang satu ini dengan kualitas kesungguhan, akan mengorbitkan segala potensi diri yang sempat terpendam. Diketahui pula bahwa puasa adalah sarana untuk bisa mengendalikan hawa nafsu. Rasul pernah mengatakan bahwa jihad yang besar itu adalah jihad hawa nafsu. Tak terbayangkan jika seandainya kita bisa mengekang nafsu hewani yang berkecamuka dalam diri kita melalui puasa ini. Mungkin nantinya kita akan terkaget-kaget sendiri melihat perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri kita. Disamping itu, puasa juga sebagai sarana untuk menyucikan jiwa kita.

Sebelum saya akhiri tulisan ini. Ada baiknya saya sajikan pesan dari seorang syaikh besar asal Arab Saudi bernama DR. Aidh bin Abdullah Al-Qarni. Pesan ini diadaptasi dari bukunya yang berjudul ”Ramadhankan Dirimu”. Dia ini pesannya:

Setelah shalat subuh adalah waktu yang kondusif untuk menghapal dan membaca Al-Qur’an, berzikir, dan bertafakkur. Sejak matahari meninggi hingga waktu zhuhur adalah waktu yang tepat untuk mencari rezeki, berdagang, dan menuntut ilmu. Setelah shalat zhuhur merupakan waktu yang cocok untuk menuntut ilmu dengan membaca buku-buku umum ataupu sejarah. Setelah shalat ashar adalah waktu yang pas untuk pergi ke perpustakaan, menggali potensi dan memecahkan masalah. Setelah shalat maghrib adalah waktu yang tepat untuk mengunjungi saudara dan bercengkerama dengan teman. Sedangkan setelah shalat isya adalah waktu yang sesuai untuk keluarga lalu tidur. Di akhir malam bangun untuk mendirikan shalat tahajjud. Hari Kamis adalah hari istirahat dan sedikit bersantai. Hari Jumat adalah hari ibadah, membaca Al-Qur’an, dan berzikir. Sebelum shalat Jumat sebaiknya mandi, bersiwak, memakai parfum dan pakaian bagus, serta bersegera pergi ke masjid.

Ada baiknya jika kita praktekkan apa yang telah dinasihatkan sang syaikh. Tentunya dengan menyesuaikan jadwal kita di bulan Ramadhan ini. Semoga dengan Ramadhan ini, kita bisa mengeruk semua potensi terpendam yang belum kita optimalkan. Amin.

Wallauhu’alam bisshowwab

[Nur Ali Muchtar / DSI MII / BTA LA]

https://alymerenung.wordpress.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Total Kunjungan:

  • 550,361 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Kenal Lebih Dekat di: