MENULIS SEUMUR HIDUP

Refleksi Pasca Ramadhan

Posted on: September 22, 2009

Ied bukanlah bagi mereka yang memakai baju baru

tetapi bagi mereka yang taatnya bertambah

-KH. Rahmat Abdullah-

Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar

Laaila ha ilallahuwallahu akbar

Allahu akbar walillahilham

Gema takbir berkumandang. Tempias suaranya menggetarkan relung hati yang terdalam. Menusuk-nusuk qalbu yang rindu akan hari kemenangan. Suaranya bersahut-sahutan menggemakan asma-asma keagungan. Umat merayakan hari kemenangan. Membebaskan semua belenggu yang melekat dalam jiwa. Cahayanya melesat bak buraq melinatasi prahara langit. Mengabarkan suka cita pada alam semesta. Seluruh yang ada di dunia menyambut dengan gegap gempita. Karena hari yang dijanjikan telah tiba menyapa. Adakah lagi suara tangis yang disebabkan oleh derita?

Saudaraku yang budiman, satu bulan Ramadhan telah kita lalui. Sempat cekcok awalnya mengenai hari yang akan kita gunakan untuk berlebaran. Namun akhirnya, pemerintah menetapkan bahwa satu Syawal 1430 H jatuh pada hari Minggu yang bertepatan dengan tanggal 20 September 2009 kalender Masehi. Tidak seperti biasanya, jika tahun-tahun sebelumnya kita berpuasa satu bulan penuh yaitu 30 hari berpuasa, namun kali ini angka itu berkurang satu hari. Adakah orang yang protes akan fenomena ini? Nah, disinilah pelajaran bagi kita untuk bisa menjadi warga negara yang beriman seperti yang diajarkan dalam Al-Qur‘an yaitu taat pada pemimpin yang adil. Dalam hal ini, kita sebagai warga negara, meneng bae ajalah dengan apa yang ditetapkan oleh pemerintah. Insya-Allah disini kita telah belajar untuk tsiqah (percaya) pada pemimpin kita.

Satu bulan kita berpuasa. Menahan jiwa dan raga. Tidak makan, minum, bersenggama dengan suami / istri, menahan pandangan, dan menahan segala nafsu yang bisa mengurangi pahala puasa kita atau bahkan membatalkan puasa kita. Semuanya telah kita kerjakan. Shalat tarawih, dhuha, tahajjud, jamaah di masjid, sunnah rhawatib, tilawah, infak, silaturrahim pun telah kita kerjakan. Semua kita kerjakan dalam koridor untuk bisa mencapai kualitas taqwa seperti yang Allah perintahkan dalam surat Al-Baqarah: 183. “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa“.

Kita merasakan seperti ada sesuatu yang berbeda di bulan Ramadhan ini. Segala sesuatunya seperti menyambut bulan istimewa ini. Karena memang Allah telah menganak emaskan bulan yang satu ini. Gegap gempita itu kita rasakan hingga ia menusuk-nusuk relung jiwa kita yang terdalam. Segala sesuatunya berubah di bulan suci ini. Orang-orang yang tadinya “buruk“ tiba-tiba berubah menjadi “baik“. Yang tadinya tidak pernah ke masjid, tiba-tiba sering ngejogrog di masjid. Yang tadinya jarang tilawah Qur‘an, tiba-tiba menjadi rajin tilawah. “Daku ingin menghatamkan minimal satu kali dalam satu bulan ini“, begitulah seloroh kita. Yang tadinya pelit medit untuk merelakan sebagian hartanya sebagai infak, tiba-tiba berubah menjadi seorang yang dermawan. Seolah menyadari bahwa uang bukanlah segala-galanya dalam hidup ini. Yang tadinya bermuka ganas nan garang, tiba-tiba berubah menjadi wajah yang teduh ayem. Mendia-media, baik massa maupun elektronik, turut merubah muka dan penampilannya. Begitu banyak acara-acara keislaman yang dipertontonkan. Dan mungkin, inilah salah satu advantage bagi kita yang berdomisili di negara yang katanya memiliki jumlah warga muslim terbanyak di dunia. Semuanya berubah. Semuanya berlomba-lomba dalam kebaikan. Semuanya ingin menjadi manusia takwa.

Namun kawan, ada satu hal yang paling mendasar yang harus menjadi bahan refleksi / perenungan bagi kita semua. Yaitu pertanyaan-pertanyaan ini: Seberapa membekaskah Ramadhan kemarin bagi jiwa-jiwa kita? Apkah ia, semua yang kita lakukan itu, bisa merubah hidup kita menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik? Apakah satu bulan kita berpuasa bisa membekap 11 bulan yang siap menghadang di depan kita? Apakah ibadah-ibadah, amal-amal kebaikan yang banyak kita lakukan selama bulan Ramadhan itu bisa tetap kita pertahankan secara konsisten baik secara kualitas ataupun kuantitasnya? Apakah kita bisa terbentengi selama 11 bulan mendatang karena satu bulan yang telah kita lakukan itu? Apakah gemericik keindahannya bisa tetap kita rasakan di bulan-bulan lainnya? Pertanyaan-pertanyaan inilah pertanyaan yang paling mendasar yang harus kita renungkan bagi diri kita setelah melewati bulan Ramadhan. Jangan sampai satu bulan yang kita kerjakan kemarin tak berdampak sedikitpun bagi kualitas perbaikan diri kita. Nauzubillah himinzalik. Jangan sampai. Tentunya tak ingin kita menjadi orang-orang yang merugi. Seperti apa yang dikatakan Rasul: “Orang-orang yang merugi adalah ia yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dan yang hari esoknya lebih buruk lagi dari hari ini“.

Apakah kita semua mau menjadi orang-orang yang merugi itu? Mungkin tak ada yang akan menjawab dengan anggukan kepala. Semua dari kita akan menggeleng-geleng seperti lagu Project Pop itu. Lalu apa yang harus kita lakukan agar kita tidak menjadi orang yang merugi? (Semoga kita tidak menjadi orang yang berputus asa untuk mencari rahmat dan ridha Allah). Satu-satunya cara yang bisa kita lakukan agar kita tidak merugi adalah tetap mempertahankan kualitas ibadah kita agar sama seperti yang kita lakukan di bulan Ramadhan kemarin, baik segi kualitas ataupun kuantitasnya. Bahkan, menurut saya, kita harus lebih gencar lagi menggeliatkankan semuanya itu. Kenapa? Karena 11 bulan yang kita hadapi kali ini berbeda dengan satu bulan Ramadhan kemarin. Ibarat kata, 11 bulan ini lebih ganas penampakannya. Bukankah di bulan Ramdahan mendadak semuanya menjadi baik, menjadi indah, menjadi adem ayem. Suasana seperti berubah menjadi damai. Angin serasa bertiup sepoi-sepoi. Pokoknya, ayik aja mengerjakan segala kebaikan di bulan itu. Segala sesuatunya mendukung kita. Tapi, hal ini tak kita dapatkan di 11 bulan yang lain. Jadi, usaha kita harus lebih keras lagi agar kita tetap bisa menjadi orang yang beruntung. Dengan demikian kita tetap menjaga kualitas diri kita pada tataran yang insaya-Allah advance.

Jadi, tunggu apa lagi teman. Yuk kita memulainya sekarang. Di awali dengan puasa enam hari di bulan Syawal. Yuk kita perbanyak zikir kita pada Allah. Yuk kita bumbui malam-malam kita dengan tahajud di keheningan malam. Yuk kita pertahankan shalat jamaah di masjid. Yuk kita tetap menghatamkan Al-Qur‘an kita dalam waktu satu bulan. Yuk kita tetap perbanyak infak-infak kita. Yuk kita baca buku-buku Islami untuk menambah kefahaman kita pada agama ini. Yuk kita saling nasihat menasihati, saling berlomba dalam berbuat kebajikan. Yuk kita kerjakan segala sesuatunya yang membuat kualitas diri kita membengkak menjadi lebih baik tiap harinya. Insya-Allah.

[Nur Ali Muchtar / DSI MII / BTA LA]
https://alymerenung.wordpress.com

“REFLEKSI PASCA RAMADHAN”

Ied bukanlah bagi mereka yang memakai baju baru

tetapi bagi mereka yang taatnya bertambah

-KH. Rahmat Abdullah-

Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar

Laaila ha ilallahuwallahu akbar

Allahu akbar walillahilham

Gema takbir berkumandang. Tempias suaranya menggetarkan relung hati yang terdalam. Menusuk-nusuk qalbu yang rindu akan hari kemenangan. Suaranya bersahut-sahutan menggemakan asma-asma keagungan. Umat merayakan hari kemenangan. Membebaskan semua belenggu yang melekat dalam jiwa. Cahayanya melesat bak buraq melinatasi prahara langit. Mengabarkan suka cita pada alam semesta. Seluruh yang ada di dunia menyambut dengan gegap gempita. Karena hari yang dijanjikan telah tiba menyapa. Adakah lagi suara tangis yang disebabkan oleh derita?

Saudaraku yang budiman, satu bulan Ramadhan telah kita lalui. Sempat cekcok awalnya mengenai hari yang akan kita gunakan untuk berlebaran. Namun akhirnya, pemerintah menetapkan bahwa satu Syawal 1430 H jatuh pada hari Minggu yang bertepatan dengan tanggal 20 September 2009 kalender Masehi. Tidak seperti biasanya, jika tahun-tahun sebelumnya kita berpuasa satu bulan penuh yaitu 30 hari berpuasa, namun kali ini angka itu berkurang satu hari. Adakah orang yang protes akan fenomena ini? Nah, disinilah pelajaran bagi kita untuk bisa menjadi warga negara yang beriman seperti yang diajarkan dalam Al-Qur‘an yaitu taat pada pemimpin yang adil. Dalam hal ini, kita sebagai warga negara, meneng bae ajalah dengan apa yang ditetapkan oleh pemerintah. Insya-Allah disini kita telah belajar untuk tsiqah (percaya) pada pemimpin kita.

Satu bulan kita berpuasa. Menahan jiwa dan raga. Tidak makan, minum, bersenggama dengan suami / istri, menahan pandangan, dan menahan segala nafsu yang bisa mengurangi pahala puasa kita atau bahkan membatalkan puasa kita. Semuanya telah kita kerjakan. Shalat tarawih, dhuha, tahajjud, jamaah di masjid, sunnah rhawatib, tilawah, infak, silaturrahim pun telah kita kerjakan. Semua kita kerjakan dalam koridor untuk bisa mencapai kualitas taqwa seperti yang Allah perintahkan dalam surat Al-Baqarah: 183. “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa“.

Kita merasakan seperti ada sesuatu yang berbeda di bulan Ramadhan ini. Segala sesuatunya seperti menyambut bulan istimewa ini. Karena memang Allah telah menganak emaskan bulan yang satu ini. Gegap gempita itu kita rasakan hingga ia menusuk-nusuk relung jiwa kita yang terdalam. Segala sesuatunya berubah di bulan suci ini. Orang-orang yang tadinya “buruk“ tiba-tiba berubah menjadi “baik“. Yang tadinya tidak pernah ke masjid, tiba-tiba sering ngejogrog di masjid. Yang tadinya jarang tilawah Qur‘an, tiba-tiba menjadi rajin tilawah. “Daku ingin menghatamkan minimal satu kali dalam satu bulan ini“, begitulah seloroh kita. Yang tadinya pelit medit untuk merelakan sebagian hartanya sebagai infak, tiba-tiba berubah menjadi seorang yang dermawan. Seolah menyadari bahwa uang bukanlah segala-galanya dalam hidup ini. Yang tadinya bermuka ganas nan garang, tiba-tiba berubah menjadi wajah yang teduh ayem. Mendia-media, baik massa maupun elektronik, turut merubah muka dan penampilannya. Begitu banyak acara-acara keislaman yang dipertontonkan. Dan mungkin, inilah salah satu advantage bagi kita yang berdomisili di negara yang katanya memiliki jumlah warga muslim terbanyak di dunia. Semuanya berubah. Semuanya berlomba-lomba dalam kebaikan. Semuanya ingin menjadi manusia takwa.

Namun kawan, ada satu hal yang paling mendasar yang harus menjadi bahan refleksi / perenungan bagi kita semua. Yaitu pertanyaan-pertanyaan ini: Seberapa membekaskah Ramadhan kemarin bagi jiwa-jiwa kita? Apkah ia, semua yang kita lakukan itu, bisa merubah hidup kita menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik? Apakah satu bulan kita berpuasa bisa membekap 11 bulan yang siap menghadang di depan kita? Apakah ibadah-ibadah, amal-amal kebaikan yang banyak kita lakukan selama bulan Ramadhan itu bisa tetap kita pertahankan secara konsisten baik secara kualitas ataupun kuantitasnya? Apakah kita bisa terbentengi selama 11 bulan mendatang karena satu bulan yang telah kita lakukan itu? Apakah gemericik keindahannya bisa tetap kita rasakan di bulan-bulan lainnya? Pertanyaan-pertanyaan inilah pertanyaan yang paling mendasar yang harus kita renungkan bagi diri kita setelah melewati bulan Ramadhan. Jangan sampai satu bulan yang kita kerjakan kemarin tak berdampak sedikitpun bagi kualitas perbaikan diri kita. Nauzubillah himinzalik. Jangan sampai. Tentunya tak ingin kita menjadi orang-orang yang merugi. Seperti apa yang dikatakan Rasul: “Orang-orang yang merugi adalah ia yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dan yang hari esoknya lebih buruk lagi dari hari ini“.

Apakah kita semua mau menjadi orang-orang yang merugi itu? Mungkin tak ada yang akan menjawab dengan anggukan kepala. Semua dari kita akan menggeleng-geleng seperti lagu Project Pop itu. Lalu apa yang harus kita lakukan agar kita tidak menjadi orang yang merugi? (Semoga kita tidak menjadi orang yang berputus asa untuk mencari rahmat dan ridha Allah). Satu-satunya cara yang bisa kita lakukan agar kita tidak merugi adalah tetap mempertahankan kualitas ibadah kita agar sama seperti yang kita lakukan di bulan Ramadhan kemarin, baik segi kualitas ataupun kuantitasnya. Bahkan, menurut saya, kita harus lebih gencar lagi menggeliatkankan semuanya itu. Kenapa? Karena 11 bulan yang kita hadapi kali ini berbeda dengan satu bulan Ramadhan kemarin. Ibarat kata, 11 bulan ini lebih ganas penampakannya. Bukankah di bulan Ramdahan mendadak semuanya menjadi baik, menjadi indah, menjadi adem ayem. Suasana seperti berubah menjadi damai. Angin serasa bertiup sepoi-sepoi. Pokoknya, ayik aja mengerjakan segala kebaikan di bulan itu. Segala sesuatunya mendukung kita. Tapi, hal ini tak kita dapatkan di 11 bulan yang lain. Jadi, usaha kita harus lebih keras lagi agar kita tetap bisa menjadi orang yang beruntung. Dengan demikian kita tetap menjaga kualitas diri kita pada tataran yang insaya-Allah advance.

Jadi, tunggu apa lagi teman. Yuk kita memulainya sekarang. Di awali dengan puasa enam hari di bulan Syawal. Yuk kita perbanyak zikir kita pada Allah. Yuk kita bumbui malam-malam kita dengan tahajud di keheningan malam. Yuk kita pertahankan shalat jamaah di masjid. Yuk kita tetap menghatamkan Al-Qur‘an kita dalam waktu satu bulan. Yuk kita tetap perbanyak infak-infak kita. Yuk kita baca buku-buku Islami untuk menambah kefahaman kita pada agama ini. Yuk kita saling nasihat menasihati, saling berlomba dalam berbuat kebajikan. Yuk kita kerjakan segala sesuatunya yang membuat kualitas diri kita membengkak menjadi lebih baik tiap harinya. Insya-Allah.

[Nur Ali Muchtar / DSI MII / BTA LA]

https://alymerenung.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Total Kunjungan:

  • 519,816 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Kenal Lebih Dekat di:

%d bloggers like this: