MENULIS SEUMUR HIDUP

Lelaki Akhirat

Posted on: September 22, 2009

Namaku telah tercatat dalam lembar sejarah umat manusia. Karena aku, seperti makhluk-makhluk yang lain, telah menetas dari alam yang penuh dengan kesucian menuju alam yang penuh dengan penderitaan. Namun kuyakini bahwa suatu saat nanti, aku dan kita semua akan menuju pada kehidupan maha abadi. Disanalah kan kita raih kebahagiaan hidup yang hakiki.

Rabu, tertanggal 18 November 1987, aku menyapa dunia. Suaraku mengguncang alam semesta. Membuat semua orang tersenyum penuh lara. Terlebih orang tuaku saat itu. Kini, setelah aku dewasa, mereka menceritakan semuanya padaku. “Kau tau nak, kelahiranmu ditandai dengan raungan adzan dimana-mana. Kau lahir tepat saat adzan maghrib bergema. Seharian itu alam diliputin kecerahan. Mentari pagi muncul dengan pesonanya. Menebarkan cahaya ke setiap penjuru dunia. Siangnya orang-orang pergi berbondong-bondong dengan siulan hati untuk mengais rizki. Sepertinya setiap orang yang saat itu aku jumpai, tertampak di wajahnya sebuah keoptimisan akan takdir hidup. Sorenya kulihat layang-layang bertebaran mengangkasa. Dan kau tau nak, ibu sangat menginginkan engkau seperti layang-layang itu. Lihatlah itu layang-layang, bukankah saat badai angin datang menerpa, dia tak pernah surut. Bahkan ia justru semakin tinggi membumbung menusuk angkasa saat cobaan hidup kian menderas. Lihatlah itu layang-layang, bukankah ia dengan bebasnya meliuk-liuk di atas kanvas langit kehidupan. Ia tak pernah terpengaruh dengan apapun jua. Ia terbang bebas untuk menemukan dirinya sendiri. Maka, jadilah engkau seperti layang-layang nak”. Itulah cerita kebanggaan yang sering disebarkan oleh ibuku tercinta. Tak pernah sekalipun ia bosan untuk menceritakan hal itu padaku. Bahkan iapun mengkhotbahkan pada dunia tentang lika-liku kelahiranku.

Aku keluar dari rahim seorang ibu yang taat akan perintah agama. Ayahkupun keturunan orang terpandang yang taat pula pada agama. Paman-pamanku dari pihak ibu, hampir semuanya adalah pemuka agama. Jadi bisa dibilang, aku ini adalah orang yang kiri kanannya dibalut penuh oleh nuansa keagamaan. Hal ini memang terlihat dalam desah nafas kehidupan keluargaku.

Dan kini setelah aku dewasa, aku memahami akan satu hal. Bahwa orang-orang yang terlahir dalam rahim keturunan orang-orang yang hanif, mereka itu pada dasarnya adalah orang-orang yang hatinya bersih. Akan mudah untuk mengembalikan mereka pada jalan yang benar apabila suatu saat orientasi mereka telah menyimpang. Cukup disentuh sedikit. Mereka akan kembali putih. Seperti baju putih yang sempat kotor akibat debu. Maka, hanya dengan merendamnya dengan sedikit deterjen, lalu dibilas, dan cling bersih seperti semula. Seperti itulah orang-orang yang terlahir dari ruh yang hanif. Dan kini kupahami, seperti itulah aku. Meski menyimpang seperti apapun, meski banyak kelalaian yang sering kuperbuat, akan dengan sangat mudahnya aku menyesali kesemuannya jika ada orang yang menasihatiku dengan hati yang ikhlas. Dan kehidupankupun kembali berjalan lurus menuju rel kehidupan yang hakiki.

Sebeanarnya, setelah menggondol gelar Mts (setingkat SMP), aku sangat ingin sekali merantau jauh untuk menuntut ilmu di pesantren-pesantren. Aku sangat ingin sekali menjadi Ustadz. Tapi, apa hendak dinyana. Orang tuaku mendelik matanya sesaat kusodorkan keinginanku itu padanya. Melotot hingga bola matanya seperti ingin melompat. ”Apa nak, kamu ingin masuk pesantren. Mau makan apa kamu nanti”. Hingga akhirnya, seperti inilah nasib hidupku.

Nasib hidup memang telah ditentukan oleh Allah. Terkait dengan hal ini, aku teringat akan wejangan dari seorang tokoh, sebut saja ia Ust. Herry Nurdi. Di dalam bukunya ”The Secret of Heaven” aku menemukan potongan kalimat yang tak akan pernah menghilang dari memori ini, ”Allah memberikan kebebasan untuk melakukan apapun di awal. Tapi Allah telah takdirkan semuanya di akhir”. Dan ada lagi ayat yang menambah pemahamanku akan takdir Allah. ”Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga orang itu sendiri yang mengubah nasibnya”. (Ar-Ra’d: 11). Nah, disinilah kupahami akan arti dari nasib hidup. Bahwa aku harus berusaha dahulu semaksimal mungkin. Adapun masalah finishing touch-nya, biarlah saja Allah yang menuntaskannya.

Maka kusyukuri saja kenyataan hidup yang kuperoleh bahwa aku harus menjalani potongan mozaik hidupku di sini, di kampus ini, Universitas Indonesia. Kenapa aku harus mensyukurinya? Ya, karna itu sudah menjadi takdir Sang Penguasa kehidupan. Lagi pula, siapa orang yang tidak bangga jika bisa berkuliah di kampus besar bertitelkan nama Indonesia? ”Pastilah ia orang yang tidak waras jika tak bersyukur bisa masuk UI”, gumamku seketika.

Di UI, aku kuliah di jurusan Komunikasi FISIP UI. Menjadi masyarakat civitas academica suatu institusi perguruan tinggi, sontak melejitkan hasratku untuk mengikut gaya-gaya yang biasa dipraktekkan oleh para kaum intelek. Kuduplikat saja semua gaya itu. Aku masih teringat saat-saat awal masuk kampus. Gaya bicaraku kulebay-lebaykan layaknya gaya seorang ilmuan gaek. Cara berjalanku, tak kurang tangan ini selalu kuumpatkan ke dalam celana. Tentunya berjalan sambil menunduk. Tak lupa pula aku berdehem tiga kali saat hendak berbicara. Rambutku selalu kusisir dengan amat rapihnya. Kelimis. Mirip oli yang ditampar sinar mentari pukul 12 siang. Pakaian yang kugunakan adalah pakaian yang biasa digunakan orang-orang kota terpelajar. Jeans dengan T-shirt terbaru. Tak sudi sikitpun aku menggunakan sandal dan kaos oblong ke kampus. Inti dari kesemuanya adalah: Aku sedang mabuk gaya orang kota berpendidikan tinggi.

Hari-hari kulalui hampir tiap hari di kampus. Aku telah kecanduan dengan dunia kampus. Ia semacam ekstasi bagiku. Pil penumbuh kegairahan. Betapa tidak, disini aku bisa menuntut ilmu disaat tidak semua orang bisa seberuntung aku. Akses segala sesuatupun demikian amat mudahnya tidak seperti di kampung tempat tinggalku. Wanita-wanitanyapun demikian amat menawannya. Akupun sering bergaul dengan orang-orang kalangan tajir, konglomerat, milyardes, jet set, atau apalah namanya. Kesimpulannya adalah: aku sangat menikmati kesemuanya. Namun, seiring roda waktu yang terus berputar. Tibalah masa dimana aku mulai terbius oleh cumbuan dunia. Hingga aku terkadang lalai akan kewajiban-kewajibanku sebagai seorang muslim. Shalat jama’ah yang biasa kulakukan di masjid, lambat laun kian punah. Aku tak pernah mengaji lagi saat itu. Aku menjadi sangat anti dengan ceramah-ceramah seorang Ustadz. Buku-buku Islam yang dahulu hampir tiap hari kulahap, tak pernah kusentuh barang sikitpun. Terkadang, akupun suka lupa menjenguk rumahku di desa terpencil sana, di pedalaman Cirebon.

Saat itu aku telah masuk semester tiga. Niali-nilaiku berantakan. Selalu terjun bebas tiap semester. Hampir semua mata kuliah membentuk rantai karbon (C). Terkadang aku suka bolos hanya karena ingin shoping-shoping bareng teman di suatu mall. Dan di akhir semester tiga itu, saat semuanya demikian amat memperihatinkannya, akupun lemas terkapar tak berdaya. Kehidupan yang kulalui saat itu demikian amat sulitnya. Hatiku sering dilumat oleh kegundahan. Aku sering menangis sesenggukan saat malam datang. Terlebih saat teringat orang tua di kampung. Kuratapi semua kebodohan yang telah kulakukan. ”Mengapa semuanya bisa seperti ini”, gumamku di suatu malam yang pekat. Apa  yang harus kulakukan. Aku lemas. Aku putus asa. Aku tak kuat lagi untuk bertahan hidup. Ingin kuakhiri saja hidup ini. Aku tak kuat lagi. Sungguh, aku tak kuat lagi. Adakah orang yang bisa menolongku?

Begitulah hari-hari yang kulalui pasca semester tiga itu. Kebetulan saat itu liburan semester ganjil tiba. Aku belum berani untuk mudik menjenguk keluargaku. Aku tak tega sekaligus malu pada kedua orang tuaku mengingat nilai-nilaku yang bisa membuat jantung seseorang berhenti berdetak untuk sementara waktu. Dan disaat-saat itulah aku sering pergi menyendiri. Baik saat siang maupun malam. Saat di kampus ataupun saat di kost-an. Always kulalui dengan kesendirian. Karena seringnya sendiri, aku jadi keseringan merenung. Kujelaskan disini kawan bahwa aku merenung, bukan melamun. Kian hari-kian intens proses perenunganku. Kebetulan kuliah libur, maka kuhabiskan waktu-waktuku pergi ke perpustakaan untuk melahap buku-buku. Kian hari aku kian keranjingan membaca. Ya, membaca. Itulah yang kulakukan setiap hari saat itu. Baik siang ataupun malam. Pagi pun sore. Di kampus atau di kost-an. Buku-buku dari jenis apapun kulahap saat itu: motivasi, psikologi, pengembangan diri, marketing, bisnis, filsafat, politik, ekonomi, sains, novel, cerpen, koran, majalah, agama hingga buku-buku kuliah. Proses membaca yang dibarengi dengan perenungan itu, membuat hari-hariku, sedikit demi sedikit, mulai membetikkan sedikit fajar cahaya pada semesta. Aku mulai bangkit. Kini kutatap mentari keoptimisan dengan pandangan tegak penuh kegairahan. Buku itu, proses perenungan itu, telah membawa dampak yang demikian dahsyatnya pada diriku.

Hingga terjadilah semuanya. Moment yang merubah hidupku untuk selama-lamanya. Moment itu, yang terjadi siang itu, di kampus, saat alam menggelora memuntahkan amara, aku tersadarkan untuk selama-lamanya. Awalnya aku hendak pulang menuju kost-an di sekitar wilayah margonda raya. Aku baru saja membaca buku di perpustakaan pusat UI yang letaknya tepat di jantung kota UI. Saat itu tepat pukul satu siang dan untuk menuju kost-an, aku harus berjalan kaki menerabas semak belukar, melewati jalan setapak, menaiki gundukan tanah yang berbukit, menuruni lereng tanah yang curam, berkelit di antara pepohonan rindang yang tersebar di sekujur tubuh UI. Saat di perjalan, saat kaki ini tepat terhuyung di sekitar gedung Rektorat UI, tiba-tiba kucium bau gelagat alam yang hendak menumpahkan amarahnya. Kutatap awan yang biasanya demikian indahnya, kali ini ia menggelap penuh kemuraman. Seolah ia hendak mengancam bagi siapapun yang berada dibawahnya untuk melemparkan batu hujan ke arahnya. Petir, geledek, kilat, berhamburan di angkasa. Memamerkan atraksi sirkusnya pada dunia. ”Ada apa ini”, gumamku. Dan seketika itu, hujan turun dengan amat derasnya. Waktu itu hari Minggu. Seperti biasa, jika hari Minggu, maka UI akan penuh dengan orang-orang yang hendak memancing di sekitar danau UI. Danau yang terletak tepat di samping kiri gedung rektorat. Danua yang indah penuh pesona. Sontak saja orang-orang yang ada disana berhamburan mencari tempat untuk berteduh. Kulihat mereka semua seperti semut yang hendak dilibas oleh pasukan Sulaiman yang hendak memberengus ratu Balkis.

Aku telah mendapatkan tempat berteduh saat itu. Tepat di lorong-lorong yang menghubungkan antara rektorat dengan balairung UI. Seperti yang kuceritakan padamu kawan bahwa alam demikian amat ganasnya pada saat itu. Belum pernah kusaksikan dimanapun aku berada, keadaan alam yang sedemikian itu. Amat dahsyat. Membuat bulu kuduk merinding. Aku meringkuk tepat di ketiak lorong itu. Hujan turun dengan lebatnya. Menimpa semua yang ada di bumi. Satu jam sudah aku menunggu hujan. Tapi ia tak kunjung reda. Bahkan guyurannya kian menderas. Seolah ia ingin menghukum UI beserta cecunguk-cecunguk yang berkeliaran di dalamnya. Dan setelah dua jam, akhirnya ia mulai mau berdamai. Gencatan senjata dimulai. Hatinya kian reda setelah menampar dengan kilatan cahayanya semua yang berada di bawahnya. Seperti raja yang sudah puas mencambuk sang abdi. Mereka puas menjarah bumi.

Tepat pukul 3 sore. Ashar memanggil. Maka kukayuh diriku menuju masjid yang terletak tepat di seberang danau. Namun, aku harus memutari setengah circle danau terlebih dahulu untuk bisa sampai ke sana. Kulihat banyak sekali pohon yang tumbang di sana sini. Tanah demikian beceknya. Air danau meluap ke sekujur jalan yang membatasinya. Daun-daun berguguran. Danau terlihat amat buteknya. Ia terlihat seperti habis diobrak-abrik oleh ribuan entok yang kelaparan mencari makan. Kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri keadaan kampusku itu demikian amat mengenaskannya. Ia seperti keadaan tempat yang baru saja terjadi peperangan hebat di sana. Hancur sudah UI ku. Dan inilah moment itu, moment yang merubah segalanya pada diriku, moment yang membuat aku tersujud tersungkur meratapi kemaksiatan-kemaksiatan yang sering kulakukan. Saat itu, ketika aku hendak menuju MUI (Masjid UI) untuk menunaikan shalat ashar. Tepat dipertengahan perjalanan. Kulihat seonggok mayat terapung tak berdaya tepat 5 meter dari tempatku berdiri. Mayat itu tersangkut oleh akar pohon cemara yang berdiri kukuh seolah ialah yang membunuhnya. Seorang diri aku disana. Hanya ditemanai oleh alam yang membisu seketika. Tidak, mayat itu juga menemaniku. Tak kuasa ku menahan diri. Aku berlari menuju segerombolan orang yang sedang berteduh di pinggiran masjid. ”Tolonggggg…tolonggggg…tolongggg…”, pekikku menggemakan dunia. Sejurus orang-orang itu tau apa yang telah terjadi. Bersama-sama mereka aku menuju tempat mayat itu tergeletak. Kulihat wajahnya sudah menghitam, perutnya membuncit, tubuhnya terbujur kaku. Demikian mengenaskannya. Aku bersama orang-orang yang ada di sana segera mengangkat sang mayat. Tak lama setelah itu datanglah seorang yang mengaku sebagai sohibnya. Ia tak kuasa menahan isak tangis. Tangisnya menggelegar menghentak bumi, pohon, dan langit untuk meratapi kepergian sang teman. Untuk kemudian, setelah ia tenang, ia menceritakan duduk perkaranya.

Bertutur ia, ”kami ini bang dari tanjung priok, hendak memancing disini kami. Waktu hujan datang, kami sebenarnya sudah siap-siap untuk melarikan diri. Kugamit tubuh Ucok itu. Kukatakan padanya: sudahlah cok, tinggalkan itu, mari kita berteduh. Nah ketika aku hendak berlari untuk mencari tempat berteduh, kulihat si Ucok itu telah tersambar oleh petir yang mengamuk. Mungkin karena kakinya masih terendam air dan ia berada di bawah pohon cemara itu bang. Tak kuasalah aku bang melihatnya. Ia dihantam dari bagian atas kepala”. Sambil sesenggukan menahan isak tangis, itulah yang dituturkan oleh sahabat malang itu. Tragis nian.

Sontak aku lemas seketika. Merinding bulu kudukku. Tak kuat aku untuk berdiri. Sejenak bayangan kematian menggerayangi pelopak mataku. Seolah akulah yang menjadi korban ganas sambaran petir itu. Aku terduduk merenung meratapi kejadian itu. Aku sangat takut sekali. Sangat takut jika seandainya aku yang mengalami event itu. Aku belum siap untuk mati. Amalku masih amat sedikit. Banyak sekali dosa-dosaku. Gimana nanti seandainya aku telah mati, apa yang akan dikenang oleh orang tuaku, adik-adik dan kakak-kakakku, sahabatku, guru-guruku, atau orang-orang yang pernah mengenalku. Aku sangat takut jika seadainya yang mereka kenang adalah hal-hal yang buruk menyangkut diriku. Jika seadainya di dunia saja aku sudah dikenang seperti itu. Bagaimana nanti aku akan dikenang oleh makhluk langit? Bagaimana nanti aku harus menemui sang Robb? Bagaimana harus kupertanggung jawabkan semua dosa-dosaku? Ah, aku takut sekali.

Semenjak saat itu, setiap aku melalui tempat itu, aku selalu teringat akan kejadian naas itu. Dan kejadian itu selalu mengingatkanku akan kematian. Kutahu dalam salah satu riwayat bahwa seorang sahabat Rasul, selalu mengingat-ingat kematian hingga tak kurang 70 kali dalam satu hari. Dan kuingat pula bahwa Rasulullah pernah bersabda: ”Orang yang cerdas adalah orang yang pikirannya selalu tertuju pada kehidupan setelah kematian”.

Sontak seperti disengat listrik, aku mendapatkan semangat dan gairah yang amat besarnya dari peristiwa itu. Betapa tidak, mengingat kematian, membuatku selalu memikirkan kehidupan setelah kematian. Membuatku selalu memikirkan akan surga dan neraka. Tiba-tiba saja aku amat rindunya dengan surga dan amat takutnya akan neraka. Mengingat kejadian itu, membuat semangatku melambung hingga puncak everest, untuk kemudian menjelma menjadi tindakan konkret untuk mempersembahkan kehidupan yang terbaik. Kejadian itupun mengembalikan ingatanku akan masa-masa dimana aku amat giatnya untuk menuntut ilmu agama. Kejadian itu membuatku menjadi amat takut untuk melakukan maksiat sekecil apapun, untuk kemudian berusaha semaksimal mungkin mengumpulkan pundi-pundi amal berbuah surga. Hidupku berubah setelah itu. Pikiranku selalu tertuju pada keabadian akhirat. Dunia terasa amat kecilnya sekarang dimataku. Kumaknai sekarang bahwa kematian adalah awal dari kehidupan yang abadi. Dan awal dari perjumpaan indah dengan sang Kekasih. Kusaksikan kini bidadari-bidadari surga menyapaku dengan sapaan lembut nan melembutkan. Kulihat ia melambaikan tangannya padaku. Seolah ia berkata, ”Aku merindukanmu duhai lelaki akhirat”.

Hingga akhirnya kehidupanku berubah 180 derajat. Kini, ingin kuuntai kata-kata indah berasal dari retupan hatiku yang terdalam. Dari seorang fakir yang merindukan manisnya iman dan belitan ketakwaan hidup.

Duhai Rabi, betapa rindu diri ini akan surgamu

Duahi Rabi, betapa takut diri ini akan nerakamu

Ya Rabb, ingin kutemui dirimu di atas Aras sana

Ingin rasanya kubersujud di surga-Mu

Bersimpuh penuh haru akan kuasa-Mu

Lelaki akhirat

Aku ingin menjadi lelaki akhirat

Aku ingin dicemburui oleh bidadari-bidadari-Mu

Aku ingin mati dalam ridho-Mu

Aku ingin kehidupan yang abadi di sisi-Mu

Aku ingin menemu Nabi-Mu disana, di surga-Mu

Kan kukerahkan waktu, tenaga, dan pikiranku hanya untuk-Mu

Segalanya adalah milik-Mu

Aku milik-Mu

Dan akan kembali hanya pada-Mu

Akan terus kusempurnakan kehidupan ini

Kusempurnakan ia hingga aku menjadi makhluk yang

sepenuhnya bertakwa kepada-Mu

Sepenuhnya beriman kepada-Mu

Biarlah kulalui hari-hariku untuk mendapatkan iklas dari-Mu

Kau ya Rabb, yang selalu kurindu

Tiupkanlah ruh kerinduan pada makhluk langit

Agar mereka semua menyimpan rindu padaku

Karna aku ingin

Aku ingin menjadi lelaki akhirat

Seperti yang Kau inginkan

Rindhoilah

Amin

[Nur Ali Muchtar / DSI MII / BTA LA]

https://alymerenung.wordpress.com

1 Response to "Lelaki Akhirat"

terus teman, kamu pasti bisa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Total Kunjungan:

  • 519,816 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Kenal Lebih Dekat di:

%d bloggers like this: