MENULIS SEUMUR HIDUP

Pengalamanku Berkaitan Dengan Kematian

Posted on: October 7, 2009

Stop. Teman, dimohon jangan salah pikiran dulu. Membaca judul di atas, bisa jadi kawanku akan memiliki beberapa penafsiran terkait dengan kematian. Bisa jadi sohibku menyangka bahwa pengalaman saya dengan kematian itu berarti saya sudah pernah merasakan kematian. Atau bisa jadi sohibku menyangka hal-hal yang lainnya. Namun teman, yang saya maksud dengan judul di atas adalah bahwa saya memiliki beberapa pengalaman yang selalu mengingatkan saya akan kematian itu sendiri. Jangan kemana-mana. Lanjutkan bacanya. Here this is:

Di tulisan terdahulu saya telah menuliskan mengenai pentingnya kita mengingat kematian. Bahwa pabila kita sering-sering mengingat kematian disertai perenungan yang mendalam akan makna dari kematian, insya-Allah kita akan mendapatkan motivasi yang sangat kuat dalam kehidupan kita. Dia ini pengalaman saya. Suatu ketika, saat saya hendak pulang ke kosan di bilangan lenteng dari perpus pusat UI, saya mengalami suatu kejadian yang luar biasa. Kejadian ini berkaitan dengan kematian dan kejadian ini begitu kuatnya mengingatkan diri saya tentang kematian. Waktu itu hujan lebat. Alam menggelora dengan amat dahsyatnya. Kilat dan petir sambar menyambar bergantian. Bunyi geledek meraung-raung memekakan gendang telinga. Mengakibatkan pohon-pohon roboh menyatu dengan tanah. UI mati suri karena alam sedang murka pada saat itu. Dan UI menjadi target buruannya pada saat itu.

Hujan demikian lebatnya. Sekitar 2 jam saya terjebak di lingkungan rektorat yang dekat dengan danau UI. Waktu itu saya bersembunyi di ketiak lorong-lorong UI yang menghubungkan gedung rektorat dengan balairung UI. Setelah hujan mulai mereda, dan saat itu sudah masuk waktu ashar, langsung saya kayuh kaki menuju masjid UI yang berada di seberang danau dari tempat saya berdiri saat itu. Waktu itu perpustakaan UI yang baru belum dibangun. Jadi saya masih bisa berjalan menyusuri jalan setapak di pinggiran danau yang menghubungkan rektorat dengan masjid UI. Nah, disaat on the way menuju masjid indah UI itu, disanalah kutemukan seonggok mayat yang telah tergeletak kaku dihanyutkan oleh air danau yang telah meluap. Jaraknya demikian dekat dengan saya berdiri pada saat itu. Tidak jauh dari jalan setapak yang memang pada saat itu sedang saya lintasi.

Awalnya saya tidak sadar bahwa disana, dijarak sekitar 10 meter dari saya, ada sepotong jenazah yang telah membujur kaku tanpa nyawa. Saya baru menyadarinya saat segerombolan orang berlarian dari kejauhan dari arah masjid UI menuju ke tempat saya berdiri. Sejenak saya tak acuh dengan gerombolan orang yang kocar kacir itu. Namun betapa kagetnya saya saat saya mengetahui bahwa mereka datang untuk mengangkat jenazah yang telah menghitam itu. Bukan main alang kepalang, saya sangat shock pada saat itu. Ada mayat, dekat denan saya, namun saya tidak menyadarinya. Innalillahi wa innalillahi rajiun.

Lalu diantara gerombolan manusia-manusia itu, terdapat teman sepermainan orang malang itu. “Begini bang, saya ini kan datang kesini hendak memancing. Tadi kan hujan lebat sekali. Saat gelegar geledek mulai terdengar, kusurulah si ucok itu untuk buru-buru mengemas barang-barangnya. Tapi ia tak langsung mendengarkan perkataanku bang. Saat aku telah berkemas dan bersiap untuk lari, tiba-tiba dia telah disambar petir yang nyasar itu. Aduh ucok, gimana ini. Mengapa kamu pergi. Jangan tinggalkan aku ucok. Bangun ucok”, begitulah sohibnya bertutur sambil sesenggukan.

Kawan, kejadian itulah yang selalu melekat dalam benak saya. Di setiap saya melewati tempat itu, saya selalu mengingat nasib naas orang itu. Otomatis ini juga yang mengingatkan saya mengenai kematian. Saya sempat merenung, semudah itukah orang mati. Ia mati ketika sedang memancing. Disambar petir pula. Badannya masih kekar sempurna. Namun yang namanya kematian, bisa datang melamun nyawa siapa saja jika Allah berkehendak. Hanya dengan memerintahkan malaikat Izrail, maka sekejap saja kunfayakun manusia tak bernyawa. Semudah seperti kita membunuh nyamuk atau bahkan lebih mudah lagi.

Lalu ada kondisi lain yang membuat saya selalu teringat akan kematian. Begini, saya ini kan tinggal di BTA LA  saat ini. Di belakang gedung BTA LA, tepat di luar pintu gerbang belakang BTA LA, terdapat kuburan Cina sekitar 5 buah banyaknya. Nisannya besar-besar dan hampir sekujur tubuh kuburan itu telah dilumuri dengan semak-semak serta rumput-rumput yang merambat. Jika sedang melewati kuburan itu saat hendak shalat jama’ah di masjid, saya selalu menoleh ke arah kuburan itu, sejenak saya teringat akan nasib naas pemuda yang dilalap petir di danau UI dan teringat pula buku-buku serta hadits nabi yang menganjurkan untuk banyak-banyak mengingat kematian, saya langsung sedih hati atas semua dosa dan kesia-siaan yang saya lakukan. “Bagaimana nanti jika saya mati hari ini atau bahkan detik ini juga. Apa yang sadah saya lakukan untuk diri ini, keluarga ini, bangsa ini, agama ini, dunia ini. Saya belum melakukan apa-apa. Bagaimana nanti tanggapan keluarga saya, sohib-sohib saya, tetangga-tetangga saya. Apakah mereka akan mengenang saya dengan kenangan yang baik-baik atau sebaliknya. Duhai Robb, ampuni dosa-dosa hamba”. Dan setelah mengingat kematian itu, tiba-tiba saya seperti mendapatkan suntikan spirit untuk terus menggelar pertumbuhan. Untuk teus melakukan sesuatu sebagai bekal saya di akhirat kelak.

Itulah kawan sekelumit kisah mengenai pengalaman saya berkaitan dengan kematian. Lebih tepatnya pengalam saya mengenai hal-hal yang bisa mengingatkan saya akan kematian. Saya meyakini bahwa pengalaman saya itu memang masih amat sedikit. Ia belum bisa membuat saya terus menerus mengingat akan kematian. Maka saya akan terus mencari dan memikirkan segala sesuatu yang tujuannya adalah mengingat tentang kematian. Bukankah ada seorang sahabat yang mengingat kematian sebanyak 70 kali dalam satu hari?

Lalu pertanyaanya adalah, bagaimana dengan kawanku. Apakah frends sekalian sering mengingat kematian?

kuburan

3 Responses to "Pengalamanku Berkaitan Dengan Kematian"

ih,,, ka ali pengalamannya banyak ya.
trus ka setelah ka ali ngeliat mayat itu, mayatnya dibawa kemana??

kalo bisa ya ka, setiap ka ali dapet pengalaman yang kaya gitu, langsung ditulis ya… hahaha

akhirnya, mayatnya dikuburin di dalam tanah
heheh

OK OK diah
saya akan usahakan menulis segala pengalaman2 saya
doakan agar saya tetap bisa konsisten
bye

serius li?wua, poe gak pernah tau soal itu, he…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Total Kunjungan:

  • 519,803 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Kenal Lebih Dekat di:

%d bloggers like this: