MENULIS SEUMUR HIDUP

MENGAPA DAN BAGAIMANA MENULIS BUKU

Posted on: November 30, 2009

“menulislah dan cerahkan batinmu. karena cara terbaik untuk hidup adalah dengan menuliskan kabar baik yang datang dari langit.” [Muhammad Muhyidin]

Bener ga sih kata-kata Muhammad Muhyidin itu bahwa menulis itu bisa mencerahkan batin? Terlepas dari itu, seperti apa yang dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib: “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”, bahwa menulis bisa menjadi wahana bagi kita untuk bisa mengekalkan ilmu di dalam batok kepala kita ini. Jadi, ketika seseorang menuliskan apa yang ia ketahui untuk kemudian ia tuangkan ke dalam sebuah buku, dengan demikian ia telah berusaha untuk menjaga ilmunya itu agar tetap nyantol di kepala.

Lalu apa keutungan lain dari menulis buku? Seperti yang kita ketahui dari setiap orang besar yang pernah menulis buku-buku fenomenal. Sebut saja seperti: Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, Ibnu Taimiyah, Imam Ghazali, Napoleon Hill, David J Schwartz, Pramoedya Ananta Toer, de el el. Mengapa kita masih mengingat orang-orang itu hingga sekarang. Padahal, sebagian dari mereka telah tiada di muka bumi ini!? Jawabannya adalah karena mereka telah menulis buku yang mampu menginspirasi banyak orang. Sehingga nama mereka abadi di kancah zaman ini. Widih-widih.

Ada lagi lho keuntungan lain dari menulis buku yaitu sebagai sarana promosi diri (mau narsis nih certanya?!). Ga percaya? Begini, kawan kenal dengan orang yang bernama Valentino Dinsi? Ia adalah penulis buku “Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian”. Namanya melambung berkat bukunya itu. Dan dampaknya adalah merembet pada karirnya sebagai konsultan perencanaan keuangan buat pensiunan dan wirausaha. Ada lagi Andrea Hirata. Siapa sih orang yang kenal dengan “makhluk” yang satu ini sebelum ia menuliskan tetralogi novelnya: Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, Maryamah Karpov. Namun lihatlah ia sekarang yang namanya diuelu-elukan bak pahlawan superhero itu.

Sedikit info nih teman-teman. Dodi Mawardi di dalam bukunya “Cara Mudah Menulis Buku” mengatakan bahwa jumlah buku yang beredar di Indonesia hanya sekitar 7000 judul per-tahun. Sedang jika kita bandingkan dengan Amerika Serikat, negara itu mampu menelurkan buku sebanyak 70.000 judul tiap tahunnya. Perbandingan yang sangat pincang tentunya. Nah kawan, jika kita mau dan mampu untuk menulis buku, berarti kita telah turut berkontribusi bagi bangsa dan negara ini. Dari mana lagi kita mewarisi ilmu jika tidak dari buku ini?!

Dan masih banyak lagi tentunya motivasi-motivasi lain yang melatari mengapa kita harus menulis buku. Tidak salah juga jika kita memiliki motivasi lain seperti ingin menghasilkan uang tambahan. Demi royalti maksudnya. Tapi percayalah teman bahwa ada banyak sekali keuntungan dari hanya sekedar iming-iming royalti tersebut. Sampai disini agaknya kita paham bahwa menulis buku itu adalah pekerjaan yang sangat penting dan mulia untuk dilakukan. Apalagi kita sebagai mahasiswa. Logikanya, jika kita saja yang mahasiswa ga mau dan ga mampu menulis buku, apalagi yang bukan mahasiswa. Betul tidak?

Lalu bagaimana agar kita bisa menulis buku? Ini adalah pertanyaan yang sangat penting. Kebanyakan referensi menyebutkan bahwa ada satu kunci utama untuk bisa menulis buku. Yaitu berlatih untuk terus menulis, menulis dan menulis (3M). Lah gimana mau buat buku kalo ga bisa menulis. Ya toh? Jadi syarat utama agar kita bisa menulis buku adalah memiliki keahlian dalam menulis.

Menulis itu ibarat pisau yang terus diasah. Atau, ia ibarat seorang anak yang berlatih naik sepeda. Atau, seorang bayi yang berlatih untuk berjalan. Masalahnya hanya tinggal kebiasaan saja. Ala bisa karena biasa. Nah, latihan menulis yang paling mudah dan mengasyikan adalah dengan membuat catatan harian. Buatlah catatan harian. Bawa kemanapun kita pergi. Tuliskan segala unek-unek yang mampir di kepala. Tuangkan semuanya. Jangan pikirkan apa-apa. Yang penting tuliskan saja setiap saat setiap waktu setiap ada kesempatan. Lambat laun pasti akan terbiasa untuk menulis. Jika sudah terbiasa untuk menulis, bukan tidak mungkin suatu saat nanti kita akan bisa menulis buku. Mau?

Penulis juga ingin mengajak kawan-kawan sekalian untuk memanfaatkan teknologi sebagai sarana pembangkit gairah menulis. Apa? Blog. Kawan tau apa itu blog? Hari gene ga tau blog, kemane aja bung. Buatlah blog. Tuangkan segala apa yang kita ketahui di blog ini. Jangan takut tulisan kita akan “dihina” orang karena biasanya, orang yang menghina itu malah ga bisa menulis. Hanya bisa berkoar-koar seperti komentator sepak bola itu. Tapi kawan, kalo kritikannya ngebangun, terima saja dengan senang hati.

Lewat blog ini, kegiatan menulis kita akan jauh lebih mengasyikkan. Kenapa? Karena ada proses sharing-sharing mengenai tulisan-tulisan kita sehingga kita akan jauh lebih bersemangat untuk menulis. Sudah banyak lho orang yang menghasilkan buku berawal dari aktivitas blogging ini. Mulanya hanya iseng-iseng saja. Eh lambat laun tulisannya semakin banyak. Karena banyak yang menanggapi dengan positif, akhirnya terbitlah kumpulan tulisan itu menjadi sebuah buku. Ga percaya? Buktikan saja sendiri. [Ali FMIPA UI]

Nb: ingin dapetin tambahan motivasi agar bisa menulis buku? Dateng aja di acara MII pada hari Sabtu tanggal 5 Desember 2009 pukul 14.00 di gedung B101. Acaranya apa? Tunggu saja kejutan dari kami. To be continue …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Total Kunjungan:

  • 519,816 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Kenal Lebih Dekat di:

%d bloggers like this: