MENULIS SEUMUR HIDUP

Sepenggal Kisah Tentang Masa Lalu

Posted on: April 27, 2011

Disini saya hanya ingin berbagi. Semoga ada hikmah yang bisa diambil.

Mungkin tidak banyak orang (luar departemen matematika) yang tahu bagaimana kehidupan pertemanan saya di departemen matematika dahulunya. Mungkin hanya rekan-rekan di departemen matematika saja yang tahu seperti apa hubungan saya dengan sohib-sohib di departemen sendiri. Yang jelas, jika saya mengenangnya kembali ke masa silam dan melihat potret diri saya pada etalase civitas academica matematika UI, saya hanya akan berkata: “Alhamdulillah semuanya telah berubah”. Kenapa demikian? Begini jalan hidup ceritanya:

Dahulu kala, di departemen matematika, bisa dibilang saya tergolong orang yang jarang kelihatan di departemen. Lebih tepat jika dikatakan orang hilang mungkin. Batang hidung saya hanya kelihatan saat kuliah saja. Diluar itu, saya raib bak ditelan bumi dari departemen. Waktu itu saya lebih banyak berkegiatan diluar departemen ketimbang di dalam departemen. Hal ini menyebabkan lambat laun saya mulai betah di luar ketimbang di dalam departemen. Karena saya menemukan lingkungan nyaman di luar departemen, bisa ditebak dong jalan cerita selanjutnya? Yah, itu menyebabkan saya tidak menyukai departemen saya sendiri. Bahasa kasarnya: benci.

Buruknya lagi, saya tidak hanya membenci departemen saya, tapi keseluruhan “ekosistem” yang ada di departemen matematika ini saya benci. Saya mulai tidak menyukai pelajaran matematika. Saya mula tidak menyukai teman-teman di matematika. Saya mulai tidak menyukai dosen-dosen yang mengajar. Saya mulai tidak menyukai karyawan-karyawan yang bekerja di sana. Dan di atas segala-galanya, saya mulai membenci tugas-tugas yang diberikan dosen kepada saya (yang ini harus dikerjakan kan?).

Maka dimulailah tinta kelam masa-masa hidup saya di kampus. Pada saat itu. Hal ini berlangsung selama beberapa semester. Hingga akhirnya, pada suatu saat, saya dihadapkan pada kenyataan pelik bahwa nilai-nilai kuliah saya amat sangat memprihatinkan. Sungguh mengenaskan. Tak enaklah jika saya menyebutkan berapanya. Yang jelas, problem ini menyebabkan derita hidup saya bertambah. Belum lagi saya harus menghadapi kenyataan bahwa sebagian teman-teman saya di departemen mulai mengacuhkan saya. Tentu hal ini terjadi lantaran saya tidak mengikuti hukum kehidupan yang berlaku: Jika saya ingin direspek orang lain, maka saya harus terlebih dahulu merespek orang lain. Justru sebaliknya, saya malah acuh tak acuh pada rekan-rekan saya itu. Maka terjadilah kenyataan seperti itu: Saya dijauhi teman-teman.

Saya mulai mengeluhkan masalah-masalah ini pada keluarga terutama kakak saya. Saya mintai masukan dan saran-sarannya untuk membantu saya menghadapi masalah-masalah ini. Dan kebijaksanaanpun turun dari telaga jiwanya. Ia bak hujan bagi musafir di tengah kegersangan gurun. Penyelamat itu datang membawa suntai kalung berisi nasihat-nasihat bijak. Simpel saja sarannya: “Ali kurangi kegiatan di luar. Perbanyak nongkrong dan bergaul di departemen sendiri”. Semudah itulah kelihatannya. Tapi nyatanya hal ini tidak mudah untuk dilakukan. Butuh usaha ekstra untuk katakanlah memperbaiki citra diri yang sebelumnya sudah dipersepsikan (agak) buruk oleh orang lain. Saya jalankan nasihat singkatnya itu. Dan sekarang, alhamdulillah, sedikit banyak saya telah berhasil membangun respek dari teman-teman saya di departemen. Yang tadinya saya kira saya akan sulit untuk bisa keluar dari tempurung departemen matematika, alhamdulillah sekarang saya boleh sedikit mengumbar rasa optimisme akan kelulusan yang telah di depan mata. Alhamdulillah, semuga ini berkat Allah Swt. dan dukungan keluarga saya (saya belum beristri. Jadi ini keluarga ibu bapak saya).

Ceritanya cukup panjang jika harus saya teruskan bagaimana teknik-tekniknya membangun respek pada orang lain, Dalam hal ini rekan-rekan saya di departemen matematika UI. Tapi inti dari kesemua cara yang saya lakukan adalah: gagasan untuk mencintai. Saya memutuskan untuk mulai mencintai segala sesuatu yang berhubungan dengan matematika. Ya itu pelajarannya, tugas-tugasnya, teman-temannya, dosen-dosennya, karyawan-karyawannya, kegiatan-kegiatannya, dan lani-lainnya. Tentu tidak mudah awalnya. Tapi saya berusaha keras untuk memutuskan tali buhul kebencian yang sempat hinggap di hati dan pikiran saya. Saya ganti dengan kata indah yang penuh daya gelora ini: mencintai. Alhamdulillah saya bisa. Dan respek itu pun saya dapatkan. Tentu ini menurut penilaian saya yang saya lihat dari sudut pandang saya.

Dari sepenggal kisah hidup saya di kampus ini, tentunya boleh sedikit kita ambil ibrah bahwa masalah-masalah sosial yang sering kita hadapi baik itu di dalam lingkungan kampus, keluarga, masyarakat, berbangsa dan bernegara, itu bisa kita atasi dengan cara: membangun gagasan untuk mulai mencintai. Baik itu di dalam lingkungan keluarga, kampus, masyarakat, bangsa dan negara. InsyaAllah, apabila kita benar-benar serius untuk melibatkan hati, emosi dan pikiran untuk bisa mencintai, kehidupan kita akan penuh ditaburi bunga-bunga harus semerbak nan wangi. InsyaAllah.

2 Responses to "Sepenggal Kisah Tentang Masa Lalu"

kitaharus saling menjaga linkungan ini…..dengan begitu kita mewujudkan rasa syukur kita kehadapan Tuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Total Kunjungan:

  • 519,430 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Kenal Lebih Dekat di:

%d bloggers like this: