MENULIS SEUMUR HIDUP

Cemburu Buta

Posted on: May 6, 2011

Malam berganti fajar. Burung-burung berkicau menyenandungkan lagu riang di alam raya. Tapi aku, di sini, di pojokan kamar kost-an ini, sendu sedan menahan pilu. Sesak, sesak sekali di dada. Aku heran. Aku heran. Mengapa engkau, yang begitu kucintai seluruh jiwa ragaku hingga membuatku mambuk kepayang, masih tak peduli padaku. Engkau acuh padaku. Engkau buang mukamu seolah aku pengemis tua berbaju kumuh yang penuh dengan kecompang campingan sedang mengiba-iba meminta belas kasihanmu. Sungguh harus bagaimana lagi diriku mencari cara untuk menarik perhatianmu. Kutekurkan suara dan sayap-sayap melodiku layaknya burung dara menggoda kekasihnya, sudah. Sudah kulakukan. Tapi kau tak peduli. Kupamerkan gaya uwa-uwaku mirip monyet di ragunan, sudah. Sudah kulakukan. Tapi kau tak peduli. Kuuntai rangkaian kata yang telah kubuat dengan jerih payah kebahagiaan, hingga aku merasa seperti penyair asal Lebanon, Khalil Gibran, sudah. Sudah kulakukan. Tapi kau pun masih tak peduli. Harus bagaimana lagi cara kulakukan untuk bisa menarik perhatianmu, sayang? Sunggingkanlah sejumput senyum ke arahku. Pasti aku akan sangat senang. Dan pasti itu akan menjadi moment paling spesial dalam hidupku melebihi hari ulang tahunku.

Hal yang membuatku lebih menderita adalah kenyataan bahwa aku telah cemburu. Cemburu padamu. Seseorang menyebut namamu dengan penuh rasa exited. Tiba-tiba, darahku berdesir, jantungku tercekat, otakku tak bisa berpikir. Seolah aku akan pingsan seketika. Atau mati secara tiba-tiba. Cemburu sekali diriku ini. Padahal, kau bukan siapa-siapaku. Berpacaran? Tak mungkin bagi kita. Ada tembok penghalang yang begitu besar menghalangi antara kau dan aku. Penghalang itu adalah: tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi. Dalam lamunanku, sering aku berkhayal fantasi, “Bilamanakah kau jadi istriku?” Mungkinkah itu? Aku tak yakin. Aku ragu. Bisa saja cintaku ini bertepuk sebelah tangan. Aku sangat mencintaimu. Tapi kau, aku tak tahu. Bisa saja kau malah membenciku. Bisa saja bagimu aku adalah musuh pertama yang harus kau enyahkan dari muka bumi. Mirip seperti Amerika yang memiliki dendam kesumat pada Osama Bin Ladin. Tapi aku tak peduli. Keinginanku hanya satu, bisa melihat wajahmu tersenyum dalam mimpiku. Maka jauh saat malam hari datang, sering aku berdoa pada Tuhan Yang Maha Kuasa agar menghadiahiku mimpi bertemu dengan bidadari pujaan hatiku. Kau datang padaku dan memberikan senyummu yang begitu sumringah hingga membuatku terbang melayang mengitari surga. Tak sampai di situ. Di dalam mimpiku, aku membayangkan bisa mencium jari indahmu yang dipenuhi kuku-kuku lentik penuh permata. Seketika, aku pingsan meski hanya dalam lamunan. Dan saat aku tersadar, wajah anggun malaikatmu sekonyong-konyong berubah menjadi iblis yang menggerayangi keseluruhan diriku. Aku takut. Aku berlari menjauh darimu sambil meratap-ratap, “Duhai pujaanku, mengapa wajahmu berubah jadi seperti itu. Mungkinkah ini kutukan alam semesta karena aku telah berani mencintaimu? Mungkinkah ini neraka yang dihadiahkan padaku karena telah berani memimpikan dirimu meski hanya dalam angan? Oh kekasihku, maafkan aku atas semua kesalahanku. Hukum diriku dengan cambukan jika itu bisa membuatmu senang. Hukum diriku dengan gantungan jika itu bisa membuatmu bahagia. Tapi biarkan aku mengatakan satu hal untuk kali terakhir dalam hidupku: Aku mencintaimu segenap perasaanku, segenap jiwaku.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Total Kunjungan:

  • 519,430 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Kenal Lebih Dekat di:

%d bloggers like this: