Nur Ali Muchtar

Lelaki Penyayang

Posted on: May 6, 2011

Sayyid, begitulah ia biasa dipanggil. Ia lelaki bungsu delapan bersaudara. Ia duduk di kelas sembilan (kelas tiga SLTP). Ia tidak cerdas. Tidak pula pintar. Bahkan ia tergolong anak yang nakal. Di sekolah, ia terkenal hanya karena paling jago untuk semua cabang olahraga. Di sekolahnya, hanya di sekolahnya. Selain itu, tidak ada yang spesial darinya. Dan bukan karena dia pula ceritera ini dibuat. Karena tokoh utama di balik skenario kehidupan kali ini adalah sang kakak. Namanya Inna. Ia gadis dewasa berumur 32 tahun yang merupakan kakak ke tiga Sayyid. Apa yang terbayang di benak kawan jika ada seorang gadis berusia 32 tahun tetapi masih melajang? Mungkin kebanyakan dari kita akan merasa kasihan. Kasihan pada sang gadis karena biasanya, umumnya masyarakat Indonesia, seorang gadis menikah di usia 22-28 tahun. Inilah mungkin usia ideal bagi seorang gadis untuk menikah. Di bawah rentang usia itu, mungkin terbilang masih terlalu muda. Di rentang usia di atas, bisa dibilang agak sedikit ketuaan. Nah, Inna sang kakak ini belum menikah juga meski usianya kini telah memasuki kepala tiga. Bukan hanya ke dua orang tuanya saja yang cemas, Sayyid pun merasakan derita pilu yang dialami oleh kakaknya itu. Inna adalah kakak terbaik yang pernah ia miliki. Kakaknya ini yang suatu ketika, telah merubah Sayyid menjadi anak yang pintar di kelasnya saat ia duduk di bangku SLTA.

Pabila ditilik dengan mata telanjang, sebenarnya, bisa dibilang sang kakak tidak terlalu jelek. Ia memiliki kualifikasi wajah pada rentang 75-80 menurut penilaian seorang pria. Namun, nilai lebih dari wanita malang ini adalah ia merupakan gadis dengan tingkat pendidikan yang cukup baik yaitu S1. Gelarnya Spd. Sarjana Pendidikan untuk bidang Bahasa Indonesia. Keluarganya pun tergolong keluaraga baik-baik dan berkecukupan. Bapak ibunya tuan haji. Tak kurang Inna mendapatkan gemblengan agama sejak kecil. Hal ini terlihat dari komitmennya untuk memakai jilbab sejak ia berusia 10 tahun. Jadi, secara kualifikasi wajah, pendidikan, keturunan, kekayaan dan  agama, Inna adalah wanita yang merupakan incaran banyak pria. Namun, nasib berkata lain. Ia harus menjadi single hingga usianya telah mencapai 32 tahun. Inilah mungkin yang dikatakan: jodoh ada di tangan Tuhan.

Sebenarnya, bukan karena tidak ada pria yang menyukai sang kakak. Bukan, bukan karena itu. Sudah lumayan banyak pria yang datang padanya, namun tidak ada yang pernah mencapai jenjang perkawinan. Semuanya kandas di tengah jalan. Macam-macam alasannya. Ada yang karena sang bapak dan ibu tidak setuju meski Inna telah setuju. Ada pula yang karena Inna telah setuju namun bapak dan ibunya menolak. Yang ini juga karena bermacam-macam alasan. Entah karena sang pria belum memiliki pekerjaan yang pasti, karena tidak sederajat dengan Inna dari segi pendidikan, karena agamanya kurang baik, dan lain sebagainya. Dan yang paling tragis adalah saat ketiganya telah setuju: Inna, bapak dan ibunya. Namun na’as, sang pria harus meninggal karena tertabrak kereta. Dramatis.

Di tengah kegundahannya pada penantiannya yang panjang akan kedatangan pangeran penyelamat, ia terus memanjatkan doa pada Sang Penguasa Hati. Tiap malam ia bangun untuk bersimpuh memohon pada Ilahi agar segera diberikan jodoh yang terbaik bagi dirinya. Hari berganti bulan, dan doanya terkabul. Kini ada seorang pria yang datang pada dirinya. Tidak jelek wajahnya. Namun untuk dikatakan ganteng jauh lebih sulit. Sebenarnya Inna telah mengenal pria ini sejak lama. Ia merupakan adik dari gurunya sewaktu SLTA. Sudah sejak tiga tahun yang lalu pria ini mendekati Inna. Namun selalu ditampik hanya karena Inna tidak menyukai wajahnya. Pria ini datang lagi untuk yang kesekian kalinya. Tapi kali ini, Inna tidak membuang muka begitu saja. Ia memilih untuk shalat Istikharah terlebih dahulu. Anehnya, di shalat itu ia seolah medapat petunjuk dari Sang Maha Esa untuk menerima pria berwajah tak menyenangkan hatinya yang telah tiga tahun ditolaknya. Berat sekali bagi Inna untuk menerima kenyataan ini. Akan tetapi, keadaan pula yang membuatnya mau tak mau berpikir seribu kali untuk menolak pinangan pria yang satu ini. Usianya kini telah 32 tahun. Bagaimana kejadiannya seandainya ia menolak adik dari mantan gurunya sewaktu SLTA ini? Akankah ia bisa menemukan pria lain yang bisa dijadikan suami? Runyam.

Singkat cerita, setelah berpikir matang-matang, akhirnya Inna menerima cinta sang pria. Resmilah mereka menjadi suami istri. Dan betapa kagetnya Inna melihat kenyataan bahwa suaminya ini, yang telah ia tampik selama lebih dari tiga tahun, yang mukanya jelek di matanya, adalah pria penyayang melebih pria manapun juga di muka bumi. Ia merasa bahagia bersuamikan seorang yang amat penyayang. Di matanya sekarang, pria ini jauh lebih tampan melebihi nabi Yusuf sekalipun. Hari-harinya penuh diliputi kebahagiaan.

Hingga suatu saat, setelah melalui masa pernikahan sampai dikarunia anak sebanyak lima orang, Inna berpesan untuk setiap wanita melalui adiknya itu: “Terimalah pinangan seorang pria yang benar-benar tulus mencintaimu lahir dan batin. Jangan engkau pernah menolaknya sekalipun karena tak akan kau jumpai lagi ada pria yang lebih baik dari dirinya setelah engkau menolaknya.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Total Kunjungan:

  • 561,696 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Kenal Lebih Dekat di: