MENULIS SEUMUR HIDUP

Kenapa Gak Berani Nikah?

Posted on: May 8, 2011

Kemarin, saat pulang nganterin temen ke Roxy di Jakarta, ban belakang motor temen saya bocor. Bocornya itu tepat sekali di depan Pasar Baru. Kebetulan ga jauh dari TKP, ada tukang tambal ban. Kalo diamati dari face, usia bapak penambal ban ini kira-kira 40 tahun. Masih sangat bugar. Terlihat dari gerakan-gerakan lincahnya membongkar ban motor. Ada yang membuat saya terheran-heran. Unik sekali cara bapak setengah baya ini mengais rezeki. Bukan karena profesinya yang sebagai penambal ban, tapi lebih dikarenakan kesimpelan alat-alat kerja yang dimilikinya. Terlihat hanya sepeda ontel yang ditumpangan belakangnya ada sebuah kotak kecil, dan di atas kotak tersebut ada tulisan: ‘TAMBAL BAN”. Sebenarnya, sejak dari awal saya sudah bertanya-tanya dalam hati, “Nanti masukin anginnya pake apa yah? Apa mungkin ditiup pake mulutnya sendiri. Ahhh,, rasa-rasanya tidak mungkin. Kita lihat saja apa yang akan terjadi nanti”.

Di tengah keterheranan saya itu, saya mencoba untuk mengajak bapak berperawakan mungil ini ngobrol.

Saya: Udah berapa lama pak usaha tambel ban di sini?
Bapak: Belum lama dek. Baru kira-kira satu tahun
Saya: Lumayan pak penghasilannya?
Bapak: Ga juga. Ini aja baru adek yang nambel ban dari jam10 pagi (sekarang udah jam8 malem)
Saya: Ohhhh…. Sudah punya anak berapa pak?
Bapak: Alhamdulillah sudah empat
Saya: Alhamdulillah. Banyak anak banyak rezeki ya pak. InsyaAllah
Bapak: Amin dek

Selanjutnya, saya hanya bisa terheran-heran dengan bapak yang satu ini. Bukan, bukan hanya karena ia telah berani berjibaku mengais rezeki di tengah riuhnya ibu kota. Alih-alih seperti itu, saya malah heran dengan diri saya sendiri. Kenapa saya belum berani nikah? Coba bayangkan, seandainya yang menambal ban hanya saya seorang, berarti sang bapak hanya memperoleh tidak lebih dari 10ribu dalam satu hari. Memang rezeki sudah di atur sama Allah, tapi saya justru salut dengan sang bapak yang telah berani untuk membina rumah tangga. Terbukti anaknya sekarang sudah empat. Lah di sini, saya, yang kebetulan siangnya habis ngajar private matematika, yang jika dibandingkan penghasilan saya dengan sang bapak berpuluh-puluh kali lipat lebih banyak hanya dalam waktu 2,5jam, belum berani juga untuk menyegerakan nikah. Padahal ini adalah perintah Allah Swt. dan juga sunnah Rasul. Ampun ya Allah.

Sebulan yang lalu pun teman saya yang lain pernah “curhat” pada saya. Waktu itu kita habis shalat maghrib di tengah perjalanan saat hendak pulang ke rumah. Di depan pintu gerbang masjid, kebetulan ada pedagang peci, tasbih, minyak wangi, dan barang-barang keperluan shalat lainnya. Tiba-tiba sang teman bilang pada saya: “Li, ane bingung dah ama diri ane”. “Kenapa?”, balas saya. “Tukang kayak ginian kan gajinya kecil ya Li. Tapi ane bingung kenapa ane belom berani nikah meski sambil kuliahpun ane udah bisa ngasilin duit 2jt/bln. Bapak ini pasti udah nikah dan udah punya anak”. Saya, yang dari tadi menyimak “curhatan” teman sambil memperhatikan barang-barang yang dijual pedang tersebut, hanya bisa tersenyum sambil berkata, “Iya yah. Kenapa ya?!”, sambil tentu memasang wajah lugu keheran-heranan.

Sedikit berpikir dari dua kejadian di atas. Ternyata, urusan nikah bukan semata hanya urusan bisa memberikan nafkah istri dan anak-anak kita atau enggak. Tapi ada banyak faktor-faktor yang lain. Seorang ustadz pernah berkata bahwa sebelum nikah, antum harus punya minimal empat kesiapan berikut: kesiapan pemikiran (termasuk di dalamnya pemahaman kita tentang agama dan visi misi hidup kita), kesiapan psikologi (keseimbangan ambivalensi kejiwaan kita), kesiapan fisik, kesiapan materi.

Belum lagi misalkan kita harus bisa ngeyakinin orang tua kita bahwa kita telah siap untuk menikah. Iya kalo orang tua ngijinin, kalo enggak? Kan ribet juga nantinya. Belum lagi ngeyakinin orang tua calon pendamping kita. Tentu banyak hal-hal lain yang membuat kita belum berani untuk mengambil keputusan besar itu. Nah sekarang, yang harus kita lakukan (khususnya saya) adalah mempersiapkan semua faktor-faktor di atas agar saat waktunya tiba, saya telah siap “merebut” bidadari impian saya dari kerajaan langit. Semangat!!

3 Responses to "Kenapa Gak Berani Nikah?"

*saya manggut-manggut*

NUMPANG INFO YA BOS… bila tidak berkenan silakan dihapus:-)

LOWONGAN KERJA GAJI RP 3 JUTA HINGGA 15 JUTA PER MINGGU

1. Perusahaan ODAP (Online Based Data Assignment Program)
2. Membutuhkan 200 Karyawan Untuk Semua Golongan Individu (SMU, Kuliah, Sarjana, karyawan dll yang memilki koneksi internet. Dapat dikerjakan dirumah, disekolah, atau dikantor.
3. Dengan penawaran GAJI POKOK 2 JUTA/Bulan Dan Potensi penghasilan hingga Rp3 Juta sampai Rp15 Juta/Minggu.
4. Jenis Pekerjaan ENTRY DATA(memasukkan data) per data Rp10rb rupiah, bila anda sanggup mengentry hingga 50 data perhari berarti nilai GAJI anda Rp10rbx50=Rp500rb/HARI, bila dalam 1bulan=Rp500rbx30hari=Rp15Juta/bulan
5. Kami berikan langsung 200ribu didepan untuk menambah semangat kerja anda
6. Kirim nama lengkap anda & alamat Email anda MELALUI WEBSITE Kami, info dan petunjuk kerja selengkapnya kami kirim via Email >> http://joinkerjaonline.blogspot.com/

ya benar li.ane juga takjub,orang yang pekerjaannya sederhana aja,bisa mencukupi keluarganya.
Jadi sebenarnya kita ga harus kaya dulu baru nikah.Yang penting uang cukup.cukup utk nikah.cukup untuk pendidikan.cukup utk beli rumah.ya gak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Total Kunjungan:

  • 519,430 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Kenal Lebih Dekat di:

%d bloggers like this: