MENULIS SEUMUR HIDUP

Jangan Fokus Pada Orangnya

Posted on: June 1, 2011

(Tulisan ini untuk menguatkan hati saya. Sebuah nasihat untuk diri sendiri. Mohon maaf jikalau tulisan ini berasa menggurui dan terkesan bertele-tele hingga mungkin hanya kehambaran yang para pembaca dapati. Tak lain dan tak bukan hanya untuk meringankan beban pikiran. Dan berusaha untuk menguatkan komitmen untuk menulis seumur hidup. Juga sebagai sarana pengikat ilmu. Itu saja).

Agaknya, inilah yang harus kita lakukan. Bahwa ketika kita hendak menikah, janganlah kita fokus pada orangnya, tetapi fokus pada pertanyaan dan doktrin berikut ini: “Apakah kita menikah karena kebutuhan yang demikian mendesaknya ataukah hanya karena dirinya kita hendak menikah? Dan yang harus kita telan mentah-mentah adalah kenyataan bahwa menikah adalah syariat dalam Islam”. Allah dan Rasul sangat menganjurkan kita, para pemuda dan pemudi yang sudah akil baligh, untuk menikah. Ingat lho hadits Rasul yang bilang bahwa orang yang paling hina kematiannya adalah seorang pemuda yang mati dalam keadaan membujang. Seperti kata Bang Rhoma: “Susahnya kalau jadi bujangan. Hidup tidak akan bisa tenang. Urusi segala macam sendirian. Ohhh..bujangan. Bujangan”.

[Sedikit curcol] Pernah saya amat mencintai seseorang. Ingin rasanya menjadikan dirinya sebagai istri (ups..ketauan dech. hehehe). Bergairah sih memang. Tapi saya menyadari sekarang bahwa ada yang salah jika kita ingin menikah karena si dia. Pertanyaannya: “Apa yang kita lakukan setelah kita berhasil menggaet makhluk pujaan hati kita itu?” Nah karena tujuan utama kita adalah ingin “merebut” si dia dari genggaman orang tuanya, maka setelah berhasil “mecurinya”, dan di malam pertama yang konon katanya indah itu, tiba-tiba kita merasa stagnant karena misi utama kita untuk “merampas” anak orang usai sudah. Lantas kita bertanya, “Apa lagi yang harus saya lakukan sedang pendakian tertinggi telah saya taklukkan?”. Hal inilah yang mungkin kita takuti bahwa ketika kita memilih fokus pada satu individu untuk dijadikan pasangan hidup kita, akan timbul suatu stagnasi dalam diri kita setelah kita berhasil merenggutnya hingga jatuh ke pangkuan kita. Padahal mestinya, tujuan nikah harus kita bingkai dalam suatu ruang berekskalasi besar atas dasar peran kita sebagai abid dan khalifah di muka bumi.

Menikah karena fokus pada orangnya juga berpotensi besar mengecewakan diri kita sendiri. Gimana kalo semisal setelah nikah kita mendapati pasangan kita itu tidak sesuai dengan ekspektasi yang kita harapkan di awal? Tentu kita akan kecewa bukan? Tapi kalaupun sudah terlanjur, kedawasaan berpikir sangat ditutut di sini. Hal yang harus kita fahami jika kejadian demikian telah terjadi adalah kenyataan bahwa yang membuat bahagia hubungan rumah tangga adalah apabila kita mampu menerima segala kelebihan dan segala kekurangan pasangan hidup kita. Inilah mungkin hal tersulit dalam keseluruhan kehidupan berumah tangga. Kata para orang tua, jika kita sudah bisa menerima apa adanya pasang hidup kita, insyaAllah kehidupan bahagia bisa kita raih. Ini kan yang dicari semua orang?

Kekurangan yang lain jika kita fokus pada orangnya adalah kenyataan bahwa kita tidak bisa lagi memilih yang lain. Kan pikiran kita hanya fokus pada satu titik? Kan kalo udah jatuh cinta pada orang lain, segala yang kita lihat pada dirinya adalah bunga. Segalanya berasa indah dan manis. Ini disebabkan karena cinta telah merasuk ke dalam hati sanubari orang yang mencinta hingga ia tak mampu lagi berpikir secara objektif. Perasaannya lebih dominan ketimbang logikanya. Padahal, mungkin saja yang lain itu lebih baik dari yang kita pilih. Kerugiannya saya analogikan seperti ini: Misalkan ada tiga macam buah yang kualitasnya berbeda satu dengan yang lain. Buah yang pertama adalah buah yang paling enak. Buah yang kedua adalah yang sedang. Dan buah yang terakhir adalah buah yang paling tidak enak. Jika di awal kita telah fokus pada buah yang kedua, maka kita hanya akan mendapatkan buah dengan kualitas kw 2. Tapi kalo seandainya kita tidak menentukan pilihan di awal, tapi lebih berfokus pada mencari buah yang terbaik dari ketiganya, maka ada sebuah peluang yang cukup besar hingga mendekati satu bahwa kita akan mendapatkan buah dengan kualitas kw 1. Hal yang sama berlaku juga ketika kita hendak memilih pasangan.

Terkadang saya malah berpikir, kalo ahwat itu kan biasanya nunggu. Nunggu sampe ada yang dateng (Betul gak? Mohon maaf kalo salah. Maklum pengetahuan masih secuil dan masih anak bawang). Tapi kalo ihwan -meski tidak semua- sejauh yang teramati oleh mata saya, kebanyakan telah menentukan di awal siapa ahwat yang hendak ia gaet. Nah terkadang malah saya berpikir: “Ada enaknya juga ya jadi ahwat. Kalo yang dateng banyak, dia bisa milih yang mana yang terbaik dari kesemuanya”. Bener ga?

Sekarang gimana kalo kita berfokus pada nikahnya (bukan pada orangnya)? Mungkin ini pilihan yang lebih baik ketimbang pilihan yang pertama (*sebenernya ini penguatan dari guru saya. Hehehe). Memang tidak ada yang menjamin bahwa kita akan bahagia dan tidak akan kecewa ketika kita tidak menentukan orangnya di awal. Tapi asiknya jika kita “berjudi” dengan pilihan yang satu ini, kita bisa memilih yang mana yang paling cocok dengan sisi-sisi kepribadian kita. Karena yang paling penting -menurut saya- dalam memilih pasangan adalah memilih yang mana yang paling cocok dengan karakter kita. Bukan memilih yang mana yang paling hebat dan yang mana yang paling wah di mata kita. Tetapi yang mana yang paling mendekati kemungkinan klopnya dengan keseluruhan jiwa raga kita. Di tulisan sebelumnya saya pernah berkata bahwa ada pasangan yang bertemu karena kesamaan jiwanya seperti dua sungai yang mengalir pada samudera yang sama. Ada yang bertemu karena jiwanya saling menyeimbangkan seperti gelora api yang dipadamkan oleh gelombang air. Ada juga yang klop karena kegenapan jiwanya seperti air jernih yang mengaliri hamparan ladang. Apabila kita ada di salah satunya, bahagialah kita. InsyaAllah.

Terkadang, untuk memantapkan hati saya lagi agar mampu mengambil pilihan yang kedua (bukan pada orangnya), saya sering menjejali pikiran saya dengan kalimat berikut: “Belum nikah aja lo sengsara karena cinta. Apalagi setelah nikah”. Astaghfirullahaladzim. Semoga gak kejadian. Terkadang saya juga suka menguat-nguatkan diri dengan anjuran kakak kandung dan guru saya bahwa “Jodoh itu udah diatur sama Allah. Allah gak akan kebalik menempatkan jodoh bagi seseorang. Keputusan-Nnya adalah keputusan yang terbaik. Jadi gak usah takut mikirin yang tidak-tidak. Fokus aja untuk memperbaiki diri. Orang yang baik akan dapet yang baik juga”.

Yah terlepas dari entar dapetnya yang mana (yang kita tentukan orangnya di awal ataukah yang kedua), yuk kita berdoa pada Allah SWT agar memilihkan untuk kita pasangan yang terbaik di mata-Nya. Agar kelak Ia menganugerahkan pusaka terindah dalam hidup yang membuat kita bahagia tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat yang kekal itu. Semoga Allah senantiasa membimbing dan meluruskan niat kita saat hendak memutuskan merengkuh salah satu moment terbesar dalam hidup kita. Semoga prosesnya juga baik. Semoga akhirnya juga baik. Amin.

Wallahu alam bishawab

10 Responses to "Jangan Fokus Pada Orangnya"

HEHEHE … nyengir.com saya
ya ya ya … emang jangan fokus pada orangnya
menurut saya, hanya jiwa2 yang tingkat spiritualnya di atas sedikit rata2 yang bisa melakukannya😀
karena yang rata2 biasanya sih pasti liat orangnya dulu
baru deh dijaja(l)kin, baru deh dinikahi

anda tidak begitu? alhamdulillah!

pengennya yang terbaik mba🙂

uawwwwww postingan yang bagus, btw bergairah ya mas? Hihihihi

Aku suka banget tulisan ini…
Sementara ini aku berusaha menjadi baik sambil menunggu orang baik yg datang dg cara yang baik..
Hmm.. Insya Allah..

Nah, Bang, gimana kalo saya berpikir, “Saya ingin mengarungi bahtera rumah tangga dengan si dia. Saya yakin!”
Boleh tidak?

wah, topiknya sangat menarik tentang menikah. Kalau di sini biasanya ikhwannya meminta kepada murabbi-nya untuk dicarikan akhwat, nanti akan dicarikan.

Setelah itu akan ada proses taaruf, kalau cocok maka masuk ke khitbah, lalu menikah.

Tapi kadang suka minder juga kalau mau target akhwat yang pengen dinikahi, biasanya kalau main target-targetan gitu lebih sering ke pacaran tersembunyi. Hehehe,

pengalaman kayaknya nich?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Total Kunjungan:

  • 520,163 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Kenal Lebih Dekat di:

%d bloggers like this: