Nur Ali Muchtar

Murabi: Sebuah Keajaiban

Posted on: June 6, 2011

Saya merasa beruntung sekali menjadi bagian dari gerakan dakwah yang sudah tersebar di hampir 70-80 negara di dunia. Saya merasa beruntung sekali karena dari sana, saya dipertemukan oleh murabi-murabi (guru-guru) yang secara langsung maupun tidak langsung, turut andil serta memberikan perubahan-perubahan dalam hidup saya. Saya ingat dulu ketika SMA, saat masih cupu-cupunya, selalu melarikan diri saat diajak oleh para senior untuk ikut dalam acara yang dulu bernama Pengajian Sabtu (PS). Ini merupakan acara rutin yang dibuat oleh Rohis (Rohani Islam) SMA saya waktu itu, SMAN 13 Jakarta. Sering saya main kucing-kucingan dengan para senior yang mengajak saya untuk ikut serta dalam acara tersebut.

Tetapi karena belum mengetahui keuntungan dari acara tersebut, akhirnya saya lebih sering bolosnya. Tapi yang jarang saya bolos adalah di kegiatan mingguan yang lain yang waktu itu bernama Follow Up. Tentu ada alasan kenapa saya jarang bolos pada saat itu. Alasan yang paling utama adalah karena mentornya adalah alumni SMA saya sendiri yang pada saat itu sedang kuliah di UI di jurusan teknik elektro. Tentu senang dong saban minggu bisa “kongkow-kongkow” dengan beliau bareng temen-temen yang laen. Kalo gak salah saya bisa bertahan dengan kakak mentor saya yang ini hingga semester satu kelas tiga SMA. Waktu itu kita mulai dari semester dua kelas satu. Jadi kegiatan Follow Up ini secara rutin kita lakukan tiap minggu selama dua tahun. Tentu banyak hal yang kita dapatkan di sana. Tapi karena waktu itu masih SMA yang masih lugu-lugunya, jadi saya pribadi gak terlalu ngeh dengan kegiatan rutin yang tiap minggu secara rutin saya ikuti. Yang ada di pikiran saya waktu itu adalah menjadikan tempat kumpul-kumpul itu sebagai sarana refreshing dan curhat-curhatan dari segala macam problematika hidup di sekolah. Berhasil memang karena terbukti dua tahun lamanya saya mampu bertahan.

Nah saya fakum sejak kelas tiga SMA semester dua. Bukan hanya saya yang fakum. Tapi teman-teman saya yang lain juga fakum. Alasannya karena dua hal. Pertama, karena kakak mentor yang jarang kelihatan lagi. Kalo gak salah alasannya waktu itu sibuk skripsi. Kedua, karena kita mau lebih fokus nyiapin UN dan SNMPTN.

Setelah lulus dan kuliah di UI, saya “kejaring” lagi dengan komunitas yang sama. Karena di SMA jarang mengikuti kegiatan-kegiatan organisasi, jadi pas ngeliat kakak-kakak senior di kampus yang menurut saya sangat luar biasa (ini saya lihat dari cara mereka berorasi, memimpin lembaga, kepanitiaan, ceramah, dan prestasi-prestasi lainnya), saya jadi tertarik bergabung dengan komunitas yang sama seperti di SMA dulu. Terus saya ikuti. Dan saya menadapatkan guru baru. Kami menyebutnya Murabi. Murabi saya yang baru ini benar-benar membuat saya terpesona dengan keluasan ilmunya. Basic-nya memang saintis, tapi pengetahuan agamanya tidak kalah luasnya. Ia juga berasal dari salah satu SMA favorit di Jakarta. Makanya saya waktu itu benar-benar kecele dengan beliau. Saya benar-benar sangat mengidolakan beliau. Saya jalani saat-saat indah bersama beliau dan beberapa kawan lain di kampus. Mungkin ada sekitar tiga tahun lamanya kita ngaji dengan beliau. Hingga suatu ketika, kita mendapati beliau tak bisa lagi menemani kita dalam diskusi-diskusi melingkar itu karena satu dan lain hal. Akhirnya kita ditransfer dengan murabi yang baru. Saya merasa begitu berterima kasihnya sama beliau karena waktu itu beliau memang benar-benar menemani kita yang sedang tinggi-tingginya jam terbang kita di kampus segabagai aktivis. Setiap ada masalah, kita pasti curhat pada beliau. Dan biasanya, beliau akan memberikan saran-saran konkrit yang langsung bisa diterapkan di lapangan. Beliau memang benar-benar faham seperti apa berjuang di kampus karena beliau juga produk kampus. Jadi pas gitu ketika memberikan saran-saran dan nasihat-nasihat pada kita.

Sebenarnya saya menjalani dua pengajian saat saya kuliah. Satu adalah kelompok dari teman-teman kampus yang tadi. Yang satu lagi adalah kelompok dari teman-teman SMA. Setelah lulus SMA, teman-teman SMA inisiatif untuk membentuk kelompok angkatan. Saya gabung ke sana juga. Akhirnya saya menjalani keduanya: di kampus dan di SMA. Tapi yang di SMA ini tidak bertahan lama. Mungkin hanya sekitar setahun kurang lamanya karena saya harus memilih antara SMA dan kampus. Jelas gak bisa kedua-duanya saya jalankan. Tapi ada hal begitu mengesankan dari kelompok saya di SMA. Yitu murabinya. Memang salah satu element penting dari pengajian adalah tentor/murabi/guru. Dan murabi saya di kelompok SMA itu memberikan kesan yang begitu mendalam pada diri saya meski jangka waktunya tidak terlalu lama. Hal itu mungkin disebabkan karena dari kesemua murabi yang pernah membimbing saya, beliaulah yang paling tua dan paling banyak pengalamannya. Beliau alumni pesantren modern gontor. Pemahaman dari segi agama, jelas tak bisa diragukan lagi. Nah yang membuat saya berdecak kagum pada beliau adalah pemahamannya terkait kenegaraan dan ilmu-ilmu lain di luar agama. Jadi saya melihatnya beliau adalah orang yang seimbang antara pengetahuan agama dengan pengetahuan umum. Beliau memiliki ilmu yang luas di keduanya serta cukup makan asam garam di lapangan. Dan meskipun usianya jauh di atas kita, tapi beliau benar-benar bisa nyampur dengan kita. Orangnya juga humoris dan pekerjaannya adalah sebagai pengusaha. Gabungan dari kesmuanya inilah yang membuat saya begitu terkesan dengan beliau meski hanya dalam jangka waktu kurang dari satu tahun.

Sekarang saya “jatuh ke pangkuan” murabi yang keempat. Dari segi usia memang belum terlalu tua. Belum sampai tiga puluh tahun. Tapi sudah punya anak tiga (harusnya empat karena meninggal satu disaat masih bayi). Untuk murabi saya yang keempat ini, saya ingin mengatakan: “Usia boleh muda, tapi kedewasaan, cara berpikir, dan cara memandang kehidupan, tak kalah dengan para orang tua”. Sering saya melihat betapa banyak orang-orang yang tua dari segi umur tapi memiliki pemikiran yang tak jauh bedanya dengan anak-anak. Seolah ia tak ubah seorang anak kecil yang terperangkap dalam tubuh orang dewasa. Habisnya, badan besar, usia tua, tapi kedewasaan berpikirnya tak ubahnya anak usia belasan tahun. Nah saya melihat yang kebalikan dari murabi saya yang keempat ini. Usianya memang muda. Tapi pemikiran-pemikirannya jauh melampaui usinya.

Kalo saya menduga, hal itu mungkin tersebab dari beberapa faktor. Sebut misal faktor pernikahan. Beliau menikah pada saat kuliah. Tapi di semester akhir menjelang lulus. Yang saya pahami dari pernikahan adalah bahwa pernikahan bisa menjadi semacam katalis yang mempercepat kedewasaan seseorang secara pemikiran. Jadi orang yang menikah berbeda dengan orang yang belum menikah. Orang yang menikah lebih awal berpeluang lebih cepat dewasanya ketimbang orang yang telat menikah.

Hal lain yang menyebabkan murabi saya ini berbeda dari kebanyakan orang lain adalah pengalaman-pengalaman hidupnya sedari kecil hingga kuliah. Menurut penuturannya, sedari kecil hingga SMA kelas satu beliau adalah anak yang tergolong hedonis. Tapi mendapat pencerahan saat di SMA. Dan pas di kuliahan, beliau merupakan salah satu “pentolan” kampus ternama yang ada di Indonesia. Dan ketika kerja, beliau bekerja di bidang yang sama sekali berbeda dengan basic bidangnya di kampus. Jadi akumulasi dari kesemuanya inilah yang membentuk karakter, kepribadian, dan cara berpikir yang berbeda dari kebanyakan orang yang pernah saya temui untuk usia yang sebaya dengan beliau.

Ada satu perkataan beliau yang begitu melekat dalam benak saya. Yaitu ketika beliau mengatakan, “Tujuan antum ngaji itu cuma satu yaitu mengaplikasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari kita”. Jujur, ini benar-benar menampar diri saya. Saya coba flash back ke belakang. Saya udah ngaji dari SMA sampe sekarang mau lulus kuliah. Pertanyaannya, “Apakah saya sudah benar-benar mempraktekkan Islam dalam keseluruhan hidup saya?”.

Di sini saya ingin menghanturkan puji syukur pada Allah Swt. yang telah mempertemukan saya dengan semua murabi-murabi saya itu. Saya juga ingin mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya pada murabi saya yang telah setia menemani kami dalam masa-masa sulit kami, membimbing mencapai kualitas hidup kami yang lebih tinggi, mengarahkan ke jalan yang benar, menasihati kami dalam kesabaran dan kebaikan, memfasilitasi kami untuk menggapai cita-cinta, dan membantu kami untuk memahi agama ini secara lebih menyeluruh. Tak ada yang bisa saya dan kami berikan melinkan do’a tulus agar semua kebaikan-kebaikan kalian pada kami dibalas oleh Allah dengan balasan yang berlipat. Semoga keberkahan dan rahmat Allah senantiasa tercurah pada kalian semua. Amin.

*Semoga saya tetap bisa istiqomah dengan jamaah ini hingga akhir hayat. Amin.

Advertisements

4 Responses to "Murabi: Sebuah Keajaiban"

murabbi …
pertanyaan buat ali: by the way busway, ali mau jadi murabbi ga ya?

murabbi …
pertanyaan buat ali: by the way busway, kapan ali mau jadi murabbi?

murabbi …
pertanyaan buat ali: by the way busway, ali mau jadi murabbi ga ya? yuk mari …

jadi ingin mengaji lagi, rindu dengan Murabi…. setelah sekian lama menghilang rasanya sangat malu untuk datang kepadanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Total Kunjungan:

  • 558,670 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Kenal Lebih Dekat di: