MENULIS SEUMUR HIDUP

Hiduplah Dalam Alam Realita

Posted on: June 13, 2011

Section 1

Hidupnya sengsara. Batinnya tertekan. Setiap hari, ia hanya berjalan mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya sambil menggumamkan syair-syair yang tak jelas. Ia begitu merindukan kekasih pujaan hatinya. Ia tak bisa hidup normal tanpa orang yang dicintainya. Dan ketika cinta tak bertemu dalam alam realita, ia hanya akan menimbulkan derita. Maka pahlawan cinta itu, seketika berubah menjadi sekuntum bunga indah yang layu. Jiwa romantisnya berubah menjadi haru biru tersebab cinta tak menemukan terminalnya yang tepat. Maka pelariannya, hidup dalam angan. Obatnya, hidup dalam imajinasi. Penyalurannya, melalui syair-syair gila yang tak diketahui juntrung maknanya. Pelampiasannya, mengembara sedapat-dapatnya hingga kaki melepuh dan tak mampu lagi melangkah. Seperti itulah yang terjadi pada Qais terhadap Layla karena cintanya tak menyatu. Yang menyebabkan dirinya lemah tak berdaya. Jiwanya rapuh. Maka ia hidup dalam alam imajiner. Sebuah alam di tempat antah berantah yang mungkin hanya bisa dijangkau dalam angan pikiran. Sebuah alam yang bertolak belakangan seratus delapan puluh derajat dengan the real world. Maka ia menderita. Sekena-kenanya menderita. Tak mampu berbuat apa-apa. Hanya melamun. Hanya bersyair. Hanya bersenandung duka. Hanya berjalan dan berlari sambil meratap melintasi aral waktu yang tak jelas dimana ujungnya. Kasihan.

Kisa hidup ini, kisah hidup pilu yang terangkum dalam kisah melegenda “Layla Majnun”, haruslah mengajarkan pada kita akan makna hidup yang harus kita hadapi sebagaimana mestinya. Bahwa meski cinta telah mengharu biru di dalam dada, hingga seolah ia telah menyatu di dalam jiwa, haruslah mampu untuk kita papras jika ia hanya menyebabkan hidup menjadi seorang pahlawan melankolik yang pasti kan hidup dengan derita jika kasih tak sampai. Karena pahlawan melankolik, adalah pahlawan tanpa daya. Pahlawan tanpa tanda jasa. Maka hiduplah dalam alam realita. Terimalah jika memang cinta harus bertepuk sebelah tangan. Tak perlu seperti Qais. Kembalilah ke bumi. Jangan melulu hidup di langit. Dan percayalah, bahwa Allah telah mendisain bangunan indah bagi alur cerita hidup kita. Kuatkanlah iman kita. Jangan kita tekluk pada cerita hidup yang tak pernah kita ketahui baik buruknya untuk kita. Berharaplah bahwa jalan cinta penuh bunga-bunga surga kan tersemai dalam hidup kita di masa-masa yang kan datang.

Section 2

Hiduplah kawan. Hiduplah engaku dalam alam realita. Jangan engkau menjadi orang idealis tapi tak berdaya. Engkau boleh bercita-cita setinggi langit. Engkau boleh bermimpi untuk memadamkan matahari. Engkau boleh berangan-angan mendarat di bulan. Engkau boleh berambisi untuk membelah lautan. Engkau boleh berandai-andai melukis pelangi di atas kanvas langit jingga. Engkau boleh melakukan segalanya. Menciptakan segalanya. Menaklukkan segalanya. Tapi ingatlah akan satu hal: Hiduplah dalam alam realita.

Bumi kita ini bulat. Di atasnya ada langit. Terdapat gunung-gunung yang menyangganya agar tetap kokoh. Ada samudera tempat penyimpanan air. Ada makhluk-makhluk lain selain manusia. Ada tumbuhan. Dan mungkin, ada makhluk lain di luar bumi. Inilah bumi kita. Inilah tempat kita hidup. Inilah realita yang kita hadapi saat ini. Maka menyadari realita yang ada, berarti kita telah hidup untuk menyesuaikan diri dengan segala sesuatu apa adanya. Disitulah engkau berpijak. Disitulah seharusnya engkau memulai dan melangkah. Inilah pijakan yang kokoh.

Partai-partai besar, jamaah-jamaah besar, ideologi-ideologi besar, dan kumpulan-kumpulan organisasi lainnya, haruslah bergerak dalam realita masyarakat yang ada pada saat itu. Banyak sekali kita temukan kumpulan-kumulan organisasi tak realistis yang hanya mengandalkan bumbu-bumbu manis dari angannya yang tak berdasar. Itulah yang menyebabkan mengapa mereka tidak bisa tumbuh menjadi besar. Umurnya singkat saja. Memang banyak tokoh-tokoh besar di dalamnya. Tapi mereka muncul bukan karena sistem dari organisasi tersebut. Mereka muncul karena memang produknya sudah unggul. Karena mereka sudah terlahir sebagai manusia unggul. Maka mereka mampu mencuat seorang diri di atas organisasinya. Pemikirannya melampaui pemikiran kolektif organisasinya. Tapi sekali lagi, percayalah, mereka tak akan berdaya. Organisasinya hanya akan berumur seusia jagung. Tak menyejarah. Hanya akan tumbuh untuk kemudia hilang ditelan bumi. Tak realistis segala angan-angannya.

Bergeraklah dalam alam realita. Lihat kondisi diri dan masyarakat seperti apa adanya. Petakanlah potensi diri dan masyarakat yang ada. Dari sana, kau akan beroleh satu pegangan awal bagi sebuah kenyataan hidup yang akan mengantarkanmu ke pintu gerbang surga di atas langit sana. Sekali lagi, hiduplah dalam alam realita, kawan.

*sebuha nasihat untuk diri sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Total Kunjungan:

  • 519,803 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Kenal Lebih Dekat di:

%d bloggers like this: