MENULIS SEUMUR HIDUP

Usai Sudah Lima Tahun Itu dan Kini …

Posted on: June 14, 2011

Tangannya terkepal. Matanya nanar. Ada gairah di sana. Ada semangat di sana. Ada harapan di sana. Kini ia bebas. Bebas dari segala bentuk ketakutan. Bebas dari segala keterkekangan. Kini ia ingin berdiri tegak. Siap menyongsong matahari dan menggapai bintang. Fajar baru telah merekah dalam hidupnya. Inilah penantiannya. Penantian selama menahun. Bukan penantian yang pendek. Tersiksa. Terkungkung. Terhina. Terkucilkan. Terjajah. Hingga ia merasa keropos. Tak berdaya. Tak tegar. Tak mampu berdiri dengan sorot mata elang yang tajam. Jalannya menunduk selama lima tahun itu. Ia mider saat begaul. Tak pernah ada keberanian untuk menyatakan pendapatnya. Tak kuasa menahan kedigdayaan orang-orang besar yang ada di hadapannya. Selama lima tahun itu.

Kini ia bebas. Bebas sebebas-bebasnya. Kini ini merdeka. Merdeka semerdeka-merdekanya. Kini ia burung yang terlepas dari sangkarnya. Kini ia napi bebas yang telah mejalani hukuman selama lima tahun. Kini ia macan bebas yang pernah terjebak dalam sumur yang dalam berbulan-bulan lamanya. Kini ia bintang yang bersinar saat malam datang. Kini ia matahari saat siang menghampiri. Ia ingin berteriak sepuasanya. Jika perlu, hingga terburai semua urat-uratnya. Jika perlu, hingga pecah kepalanya. Jika perlu, hingga jantungnya tak kuasa lagi untuk berdetak. Jika perlu, hingga bumi ini hanycur sehancur-hancurnya.

Itulah yang ia rasakan sekarang. Ia bertekad sejak hari itu bahwa segalanya harus berubah. Ketakutannya, harus berubah menjadi keberanian. Keminderannya, harus berubah menjadi rasa percaya diri. Kerendah diriannya, harus berubah menjadi kerendah hatian. Kemalangannya, harus berubah menjadi kemujuran. Kecemasannya, harus berubah menjadi harapan. Kesemrawutan hidupnya, harus berubah menjadi keteraturan. Kebimbangannya, harus berubah menjadi optimisme. Ketimpangannya, harus berubah menjadi keseimbangan. Kelengahannya, harus berubah menjadi kesigapannya. Kebenciannya, harus berubah menjadi cinta. Kemuramannya, harus berubah menjadi keceriaan. Ketergesaannya, harus berubah menjadi ketenangan. Ketergantungannya, harus berbuah menjadi kemandirian. Kekotorannya, harus berubah menjadi kebersihan. Ketakridhaannya, harus berubah menjadi keikhlasan. Keegoisannya, harus berubah menjadi kesetiakawanan. Kemalasannya, harus berubah menjadi kerajinan. Kejumudannya, harus berubah menjadi kedinamisan. Begitu seterunya. Bahwa setelah melewati masa lima tahun yang suram itu, ia telah bertekad untuk menjadi lebih baik. Menjadi lebih baik dari sekedar baik.

Kini ia mulai mersakan perubahan itu. Bukan hanya perubahan di dalam dirinya. Tapi di luar dirinya. Ia mulai merasakan seolah gunung-gunung menyalurkan bongkahan energi pada dirinya. Ia mulai mendengar burung-burung bersiul dengan merdu di atas kepalanya. Ia mulai sering melihat pelangi melintasi cakrawala langit di atas sana. Ia mulai mendengar alunan indah musik surgawi menjamah dirinya yang ada di bumi ini. Ia mulai melihat di sekelilingnya bidadari yang terus menerus memberinya semangat untuk berjuang meraih piala kehidupan. Ia mulai mencium aroma surga. Ia mulai mersakan segala-galanya yang akan mendukungnya untuk megubah segalanya menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

Kini ia bersumpah pada langit dan bumi. Bahwa ia tak akan pernah takluk dengan apapun juga.

1 Response to "Usai Sudah Lima Tahun Itu dan Kini …"

terus berusaha dan pantang putus asa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Total Kunjungan:

  • 519,989 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Kenal Lebih Dekat di:

%d bloggers like this: