MENULIS SEUMUR HIDUP

Ada Energi Yang Besar Di Sana

Posted on: June 15, 2011

Selalu seperti itu, dirinya memang sedikit sentimentil. Gairahnya mudah meluap. Emosinya mudah meledak. Jika ada sesuatu hal yang mengingatkannya akan sebonggah kisah getir masa lalunya. Setiap orang memang memiliki cerita yang penuh dengan warna warni serta lika liku dan romantika hidup. Ibarat sebuah pelangi yang menghiasi angkasa. Ada merah. Ada jingga. Ada kuning. Ada hijau. Ada biru. Ada nila. Ada ungu. Dan ada warna-warni perpaduan di antara kesemuanya. Begitupun cerita dalam hidupnya. Tapi saat kenangan pahit mampir di dalam benaknya karena satu dan lain hal, bukan main, inilah yang terjadi pada dirinya: matanya melotot seolah ingin keluar dari garis orbitnya, emosinya meledak-ledak, tangannya ingin selalu menjotos apa saja yang ada dihadapannya, dadanya melonjak, jalannya tak keruan seumpama ayam yang baru disembelih. Begitulah: ada unlimeted energy yang menyangga keselurahan jiwa raganya. Ia sulit untuk menguasai dirinya seketika itu. Maka jika semuanya telah sampai pada gunung klimaksnya, dan ia tak kuasa lagi untuk menahan dirinya, maka pelariannya hanya pada dua hal ini: berlari sampai jantungnya tak mampu lagi untuk berdetak dan menulis hingga jari-jemarinya keriting dan tak bisa lagi untuk diluruskan.

Tapi lambat laun, ia mulai menyadari akan satu hal. Bahwa gairahnya itu, yang tersembul buah kenangan pahit yang kembali melintasi memorinya, tak baik untuk keseimbangan dirinya. Meski ketika gairah itu mencuat dengan skala yang tak bisa diukur dengan alat apapun, seolah ia memiliki kekuatan untuk menghancurkan gunung dan membelah lautan sekalipun. Sekali lagi, ia menyadari bahwa itu tidak baik untuk hormon-hormon kimia yang ada di dalam tubuhnya.

Tapi kini, lambat laun, ia bisa sedikit lebih tenang saat semua kejadian pahit yang pernah ia alami kembali bertamu ke dalam ruang jiwanya. Mungkin karena faktor kedewasaan yang sedikit mencelupkan aura kebijaksana di dalam dirinya. Mungkin juga karena ia sudah demikian capeknya merasakan kelelahan yang amat sangat menghadapi gempuran jiwa seperti itu. Jadi ia kapok dan mulai berpikir untuk menyalurkan hasrat besar pemudanya itu pada hal-hal yang positif.

Kini ia memiliki tekad di dalam hati sanubarinya yang paling dalam. Bahwa kenangan pahit sepahit apapun dalam hidupnya, tak akan menjadikan dirinya terkoyak lemah hingga tak berdaya. Tak akan membuat dirinya kehilangan kendali. Tak akan menjadikannya hilang arah. Tak akan membuatnya menjadi senewen. Tak akan membuatnya menjadi galau. Ia akan mengerahkan segala daya upaya dan mengeluarkan senjata-senjata andalannya untuk bisa menghalau serangan gila yang tak kasat mata itu.

Bahkan satu hal bertolak belakang yang sering ia lakukan adalah menertawakan segeli-gelinya semua kenangan pahit yang coba-coba untuk kembali melintas. Dengan melakukan kegiatan ini, ia merasa seolah sedang menyatukan kenangan pahit masa lalunya dengan dirinya sambil membungkusnya dengan keceriaan. Ia beroleh hikmah di sana. Kini ia merasa lebih sehat jiwa dan raga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Total Kunjungan:

  • 519,656 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Kenal Lebih Dekat di:

%d bloggers like this: