MENULIS SEUMUR HIDUP

Cuma Pindah Gerbong

Posted on: June 21, 2011

Lemah. Lesu. Jatuh tak berdaya. Tak mampu berbuat apa-apa. Hanya ada ratapan kesedihan menghiasi wajahnya. Ia tak kuasa menahan pil pahit itu. Bahwa perjuangannya harus berhenti sampai di sini. Singkat saja karena ia baru memulainya selama lima semester. Padahal ia merasakan kegairahan itu. Kesenangan itu. Tapi apalah daya. Kuliahnya hancur. Ia tak bisa menyeimbangkan keduanya: dakwah dengan kuliah. Maka ia harus memilih salah satunya. Tak bisa ia jalankan keduanya. Dua setengah tahun itu sudah cukup menjadi bukti. Akhirnya ia memilih kuliah dan mundur dari lokomotif dakwah. Setidaknya dakwah di kampus.

Segala emosi bercampur baur di sana, di batinnya. Kesal. Marah. Hancur. Sedih. Begitulah yang ia rasakan tepat di semester lima itu. “Adakah yang bisa membantu?”, batinnya berteriak dengan tempias pilu merias wajahnya. Sejauh burung mencari makan, pada sarangnya pula ia kembali. Maka ia kembali pada keluarganya. Mendengar segala nasihat orang tua dan kakak-kakaknya. “Mundur untuk sementara dari gelanggang pentas gemerlap dakwah. Rehat sejenak. Selesaikan urusan kuliah. Barulah kembali”, begitu sang kakak memberi fatwa pada dirinya. Ia ikuti.

Kala ia menyampaikan perihal pengunduran dirinya pada khalayak, dunia seolah guncang. Bukan karena kehilangan dirinya yang amat potensial itu. Sekali-kali bukan. Tapi lebih kepada keanehan akan seorang bocah yang semula demikian semangatnya berdakwah, lantas di tengah jalan menyuguhkan proposal keruntuhan dirinya dalam panggung dakwah penuh warna warni. Rakyat sekalian tak menyangka. Gaduh. Riuh. Kasak kusuk di sana sini menggunjingkan keputusannya. Tapi, itulah keputusan yang harus ia ambil. Ia pun kecewa dengan kenyataan. Hingga akhirnya, ia putuskan untuk menghilang dalam peredaran. Ia lebih memilih untuk tak menongolkan dirinya meski sebatang hidungnya. Ia lebih memilih untuk diam tanpa banyak cakap. Dan membiarkan segalanya seperti sebatang bambu yang hanyut di derasnya arus sungai yang buas mengalir. Ia tak peduli dengan buaya yang mengamuk di sana. Ia tak peduli dengan jeratan para nelayan yang mengobarak-abrik lingkungan di sekelilingnya. Ia tak peduli dengan segala jampi-jampi pawang laut akan bala keselamatan. Ia lebih memilih untuk diam. Dan tak peduli dengan segala tetek benget yang terjadi di luar.

Yang tak kalah menyakitkannya adalah saat ia mendengar diskusi-diskusi rekan seperjuangannya di forum melingkar itu: “Masul, lajnah, amniah, syura, amal jama’i, amanah, rakor, rihlah, tabayun, jaulah, mukhoyyam, ummul qura, munashoroh, kaput, kabid, palestine, kajian, dan kata-kata yang lain”. Batinnya ingin berteriak. Ingin menangis sejadi-jadinya. Semua kata itu benar-benar membuat dirinya tak kuasa menahan amarah. Tak kuasa menahan geliat emosi yang datang secara spontan tanpa bisa ditahan. Tapi ia lebih memilih untuk diam. Menunduk dalam-dalam sambil menguatkan dan membisikan satu hal pada dirinya sendiri: “Aku hanya pindah gerbong, kawan”.

Begitulah selama dua setengah tahun kemudian berlalu. Kini ia telah berada di ambang batas masa kuliahnya. Dan memori itu, memori kegetiran itu, lamat-lamat masih terbenam hangat di dalam benaknya. Maka sejadinya ia bersimbuh dalam kelamnya malam yang semakin larut pada sang Ilahi Rabbi. Ia bermohon pada-Nya untuk tetap menegarkan dirinya bagai karang dalam kafilah dakwah ini. Ia terus berdoa dalam cucuran air matanya agar selalu diberi ketabahan, kesabaran dan keitiqamahan dalam setiap langkahnya menggapai mimpi bersama jamaahnya. Di dalam doanya itu, ia hanya berharap pahala, berkah, dan rahmat dari Sang Penggenggam Kehidupan, Allah Azza Wajala. Ia memohon agar senantiasa diberi keikhlasan, kefahaman, kegairahan, dan kelapangan dalam menapaki setiap titian hidup yang dilaluinya. Lantas ia menutup doanya agar umat ini jaya di masa-masa yang akan datang. Amin.

2 Responses to "Cuma Pindah Gerbong"

teringat sebuah kata-kata mutiara
“Kam fina walaisa minna wakam minna walaisa fina”.
berapa banyak orang ada ditengah kita, tetapi bukan kelompok kita dan berapa banyak orang yang tercatat bagian dari kita tetapi tak ada ditengah kita.
Sejatinya selama visi sama, maka sinergi gerak akan tetap terlaksana, karena hubungan-hubungan keimanan tidak terikat jarak dan waktu. =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Total Kunjungan:

  • 519,989 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Kenal Lebih Dekat di:

%d bloggers like this: