MENULIS SEUMUR HIDUP

Satu Hal Kecil Yang Saya Peroleh Dari I’tikaf Kemarin

Posted on: September 1, 2011

I’tikaf di sepuluh hari terakhir kemarin, memberikan banyak sekali manfaat pada saat. Salah satunya adalah kenalan baru. Kebetulan sepuluh hari kemarin saya memilih untuk i’tikaf di MUI (Masjid UI) Depok.

Tepat di hari ke tiga –tentu setelah mengamati mulai dari hari pertama- saya melihat ada seorang bapak yang menurut perkiraan saya akan i’tikaf full selama sepuluh hari. Artinya ia tak akan keluar-keluar dari lingkungan masjid. Hal itu terlihat dari banyaknya bawaan (bekal) yang ia bawa di dalam tasnya. Nah pas di hari ketiga itu, saya berkesempatan berkenalan dengan beliau. Setelah sedikit berdiskusi, akhirnya saya tahu bahwa beliau tinggal tak jauh dari lingkungan UI. Menurut penuturannya, beliau bekerja di IBM (International Business Machines). IBM ini merupakan salah satu perusahaan besar Amerika Serikat yang memproduksi dan menjual perangkat keras dan perangkat lunak komputer. Usianya sudah sekita 100 tahun. Hebat yah?? Sedang beliau, sudah bekerja di sana 21 tahun lamanya untuk cabang yang beroperasi di Indonesia. Posisi (jabatan) beliau pun sudah lumaya tinggi di sana. Ketika beliau menanyakan apakah saya kuliah, saya hanya mengatakan bahwa saya baru lulus dari Matematika UI dan tinggal menunggu waktu wisuda pertengahan bulan September nanti. Beliaupun menanyakan apakah saya saya sudah bekerja. Maka saya jawab, masih freelance. Akhirnya beliau menawarkan saya untuk melamar di perusahaan tempat beliau bekerja. Sampai di sini, saya tak menjawab. Beliau hanya memberikan saya alamat email beliau jika saya berminat untuk mencoba bekerja di sana.

Kenalan saya yang lain adalah seseorang yang dari segi face terlihat masih amat muda. Tapi nyatanya, beliau adalah senior saya (alumni) di FMIPA UI. Beliau lulusan Biologi UI tahun 2000. Belakangan, selama sepuluh hari itu, saya justru banyak berdiskusi dengan beliau mengenai banyak hal terutama tentang islam, pergerakan, dan jamaah. Saya suka berdiskusi dengan beliau karena keluasan ilmu dan kebijaksanaan sikapnya. Makanya saya nyaman sekali berdiksusi dengan beliau. Usut punya usut, ternyata beliau pernah bergelut dalam dunia bisnis potong ayam (sebagai distributor) selama kurang lebih 6 tahun lamanya. Tapi akhirnya ia menutup usahanya karena piutang dari pedang ayam yang ditotal-total telah mencapai 160 juta banyaknya. Dan sekarang beliau menjadi kepala cabang sebuah lembaga bimbel bonafit di jakarta.

Sedang kenalan saya yang ketiga adalah seorang pria keturunan jawa yang cukup mengagetkan saya. Meski dibilang cukup mapan dan berumur (33 tahun), ternyata beliau belum menikah. Dan setelah banyak berdiskusi dengan beliau, akhirnya saya mengetahui bahwa hajat utama beliau saat ini adalah menikah. Adapun trek record hidup beliau adalah sebagai berikut: mulanya beliau bekerja di salah satu perbank-an yang ada di Indonesia. Setelah enam tahun bekerja, akhirnya beliau memilih untuk resign. Dan memilih untuk menjadi pedagang. Ia pernah berdagan minyak wangi, buku, hingga kambing di pinggir-pinggir jalan. Hingga akhirnya, nasib berpihak baik pada beliau. Kini ia memiliki sebuah toko sepatu di salah satu pasar di depok dan memiliki sebuah distro yang lokasinya tak jauh dari rumahnya. Belum lagi beberapa usaha yang lain. Intinya, beliau sedang menapaki tangga kesuksesan bersama usahanya itu.

Tentu masih banyak kenalan-kenalan saya yang lain. Tapi yang paling menarik perhatian saya adalah ketiga orang tersebut. Nah dari ketiganya itu, untuk masalah pekerjaan, saya lebih memilih untuk menjadi seperti orang yang ketiga yaitu menjadi pedangan. Jujur saya kurang terlalu tertarik untuk bekerja di perusahaan-perusahaan milik orang lain meski perusahaan tersebut adalah perusahaan besar macam IBM. Saya pun kurang begitu tertarik lagi bergelut di bidang pendidikan karena saya telah merasakan bergelut di dunia pendidikan selama lima tahun baik sebagai pengajar ataupun pebisnis.

Kebetulan moment i’tikaf kemarin saya jadikan ajang untuk merenungi kehidupan saya terutama yang terkait dengan pekerjaan dan jodoh. Untuk pekerjaan, insayaAllah Allah telah menguatkan tekad saya untuk memilih jalan menjadi entrepreneur (pedagang). Sedang untuk jodoh, jujur, saya masih belum mendapatkan jawabannya (solusi). It’s very complicated. Hahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Total Kunjungan:

  • 519,989 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Kenal Lebih Dekat di:

%d bloggers like this: