Nur Ali Muchtar

Kelucuan Masa Kecil (Part 1)

Posted on: September 24, 2011

Ada beberapa hal di masa kecil yang ketika saya mengingatnya kembali saat ini –setelah dewasa- menyebabkan saya tersenyum-senyum dan tertawa geli. Hal pertama adalah menyangkut banyaknya saudara kandung. Dulu, sewaktu kecil, saya merasa malu kalo ada teman / guru / orang lain bertanya pada saya tentang anak ke berapa dari berapa saudara. Sering malah saya enggan untuk menjawabnya tersebab rasa malu yang teramat besar. Dulu saya benar-benar malu untuk mengakui kalau saya anak ke tujuh dari delapan bersaudara. Pasalnya, yang ada di bayangan saya pada saat itu, orang-orang yang punya saudara banyak adalah orang-orang dari keluarga melarat, orang dari keluarga miskin, orang-orang dari keluaraga yang tak berpendidikan, orang dari pelanet lain, dan masih banyak lagi pandangan-pandangan negatif saya menyangkut orang yang punya banyak saudara kandung. Hampir setiap orang yang saya temui, yang berarti teman-teman saya, tak ada yang jumlah saudaranya melebihi saya. Bahkan hingga lulus kuliah seperti sekarang ini, hanya bisa dihitung dengan jari tangan untuk orang-orang yang punya saudara kandung melebihi jumlah yang dicapai oleh keluarga saya yaitu delapan orang anak.

Tapi justru setelah dewasa seperti sekarang, jangankan ditanya, gak ditanyapun saya akan menjawab dengan sangat bangga bahwa saya adalah anak ke tujuh dari delapan bersaudara. Bahkan konon menurut penuturan baba (bapak) saya, sebenarnya beliau telah berhasil membuat keturunan sebanyak satu lusin yang berarti dua belas orang. Hanya saja, empat orang saudara saya yang lain meninggal dunia lebih awal. Ckckckck. Salut untuk bokap dan nyokap. Hehehe…

Saya merasa bangga tentu ada penyebab yang melatar belakangi perubahan cara berpikir saya. Hal tersebut terjadi setelah saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kehidupan keluarga yang hanya dikaruniai seorang anak tunggal. Sepi. Sangat-sangat tidak enak menurut saya. Bahkan di kampung saya sempat ada cerita seperti ini: seorang ibu yang kebetulan hanya punya seorang anak (anak tunggal) harus rela ditinggal anaknya yang semata wayang untuk kuliah di provinsi lain. Saking tak kuasanya ia untuk ditinggal anak sulung sekaligus anak bungsunya itu, mulanya ia tak mengizinkan anaknya untuk kuliah karena ia tak sampai hati ditinggalkan dan meninggalkan anaknya di kampung halaman orang lain yang jauh dari tempat tinggalnya. Tapi, apa hendak dikata, sang anak keukeuh untuk kuliah. Hingga akhirnya, sang ibu mengizinkan anaknya itu untuk merantau di kampung orang untuk menuntut ilmu. Setelah kepergian anaknya itu, saban hari sang ibu didera rasa rindu yang kian dalam. SMS bahkan telpon tak pernah lepas demi bisa mengetahui kabar anak semata wayangnya itu. Bahkan setiap minggu ia merelakan untuk pergi menjenguk anaknya meski jaraknya terbilang jauh. Motovasinya hanya satu: bisa melihat anaknya yang hanya satu itu. Jika tidak berhasil menjenguk dalam satu minggu itu, batinnya semakin tertekan. Bahkan ia sering memimpikan anaknya tiap malam. Begitulah perasaan orang tua terhadap anaknya yang semata wayang (meski mungkin tidak semuanya). Tapi secara umum, hal tersebut berlaku untuk keluarga yang hanya memiliki satu orang anak dalam hidupnya.

Tentu kasusnya akan sangat berbeda dengan keluarga yang punya anak banyak seperti keluarga saya. Salah satu anaknya kuliah dan harus merantau jauh, tak sedemikian sedihnya seperti hal cerita orang tua di atas. Rasa sedih dan khawatir tentu ada, namun tak berlebih. Anaknya yang satu “pergi jauh”, masih ada anaknya yang lain. Kan begitu?

Selain pengalaman melihat langsung kondisi keluarga yang hanya punya satu anak, ada beberapa lagi yang menyebabkan saya merasa bangga memiliki banyak saudara kandung. Diantaranya adalah hadits nabi yang mengatakan bahwa kelak beliau akan membanggakan jumlah kaumnya yang banyak. Bukankah hadits ini menyiratkan pada kita akan keturunan keluarga Islam yang banyak? Belum lagi kepercayaan yang mengatakan bahwa banyak anak banyak rizki. Menurut saya, pernyataan ini ada benarnya terutama untuk orang tua yang punya anak banyak. Bayangkan jika seluruh anaknya yang banyak itu telah bekerja dan memiliki harta yang lebih. Sebagai anak yang berbakti pada orang tua, tentu sang anak akan memberikan sebagian harta yang lebih itu pada orang tua meski kita tau bahwa jasa-jasa orang tua pada kita tak bisa kita bayar dengan harta seberapapun besarnya.

Dan salah satu yang membuat saya merasa bahagia adalah keceriaan karena rumah yang saya tempati ini tak pernah sepi. Tiap hari (apalagi pas lebaran) selalu ada saja yang berkunjung. Entah itu keponakan yang masih bayi dan imut-imut, sepupu, tetangga, teman dan lain sebagainya. Kalo cuma punya anak tunggal, kan pasti jauh lebih sepi suasananya?

Atas dasar itulah saya menikmatai punya saudara banyak saat ini. Alih-alih malu mengakui punya keluarga besar seperti masa kecil, semua rasa malu itu kini tergantikan dengan rasa bangga memiliki keluarga besar. Hehehehe…

Hal kedua semasa kecil yang membuat saya tertawa geli saat dewasa seperti sekarang ini akan saya ceritakan di episode berikutnya. OK?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Total Kunjungan:

  • 639,927 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Kenal Lebih Dekat di:

%d bloggers like this: