MENULIS SEUMUR HIDUP

Surat Untuk Walikota Jakarta Utara

Posted on: October 3, 2011

Yang terhormat walikotaku, walikota Jakarta Utara. Sebelumnya, maaf beribu-ribu maaf dan ampun beribu-ribu ampun telah berani-beraninya menulis surat terbuka untuk bapak. Meski saya tidak menujukan tulisan ini langsung pada bapak, tapi saya yakin, cepat atau lambat, tulisan ini akan bapak baca juga. Zaman sekarang, saya percaya dengan kekuatan bernama INTERNET. Dan internet ini yang nantinya akan bekerja untuk saya guna menyampaikan secuil curhatan saya akan kondisi Jakarta Utara, kini.

Perkenalkan pak, saya Nur Ali Muchtar, S.Si. Saya lahir dan besar di Jakarta Utara tepatnya di kampung Sungai Tiram (dekat Marunda Baru), Cilincing, Jakarta Utara. Konon, kedua orang tua saya yang kini berusia 60-65 tahun, sejak kecil telah menghuni wilayah ini. Kesimpulannya, saya asli penduduk Jakarta Utara. Betawi tulen.

Yang terhormat bapak walikota. Saya merasakan sendiri betapa Jakarta Utara ini, kian ke sini, kian padat dengan segala sesuatunya. Dulu, semasa kecil, di jalan raya di depan rumah saya, saya masih bisa bermain bola saat tengah malam. Tapi agaknya hal itu mustahil untuk dilakukan pada saat ini mengingat hampir 24 jam jalan raya di depan rumah saya itu penuh lalu lalang dengan berbagai macam kendaraan. Yang ingin saya keluhkan di sini bukan mengenai bertambah ramainya jalan di depan rumah saya. Saya memaklumi hal tersebut karena logikanya, semakin ke sini tahun berganti, pasti suatu daerah akan semakin ramai. Apalagi yang namanya Kampoeng Jakarta. Saya tidak mengeluhkan itu. Ada hal lain yang jauh lebih penting yang ingin saya sampaikan karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Hajat hidup masyarakat sekitar Jakarta Utara.

Begini loh pak. Saya kok agak risih ya melihat begitu banyknya kendaraan jenis kontainer dan truk yang melintas di wilayah Jakarta Utara. Semua orang pasti maklum kenapa hal ini terjadi mengingat Jakarta Utara adalah kota pelabuhan. Jadi wajar saja kalau toh disini banyak kontainernya. Tapi pak, yang jadi masalah adalah semakin ke sini kok saya melihat semakin banyak kontainer yang lalu lalang berbaur bersama kendaraan pribadi. Jumlahnya sangat-sangat tidak proporsional dengan kondisi jalan raya yang ada. Lihatlah wajah Jakarta Utara di jalur tengkorak (cakung, kbn marunda, cilincing, yos sudarso, pelumpang, semper), hampir setiap hari terjadi kemacetan. Hampir setiap hari terjadi kecelakaan. Terlebih saat makhluk-makhluk raksasa itu keluar dari sarangnya untuk urusan angkut mengangkut barang. Bukan main semrawutnya. Bukan main sumpeknya. Bukan main macetnya. Bukan main seramnya. Duhduhduhhh…

Pernahkah bapak berkendaraan, maksud saya naik motor (bukan naik mobil) melintasi jalur tengkorak tersebut saat lalu lalang kontainer sedang pada puncaknya? Bayangkan pak, kita diserang oleh kontainer dari berbagai macam arah penjuru angin: depan, belakang, samping kiri, samping kanan. Semuanya adalah kontainer. Bapak bayangkan sendiri sebesar apa dan seberat apa mesin raksasa bernama kontainer itu beserta seluruh peralatan tempurnya (baca: peti kemas)? Entahlah pak sudah berapa banyak nyawa yang teregang akibat terjangan ganas kontainer-kontainer ini!! Baru beberapa hari yang lalu saya melihat terjadi kecelakaan motor karena disenggol oleh kontainer di jembatan di samping rumah susun cilincing. Saya tak berani melihat maka saya langsung kabur. Mau muntah saya melihatnya. Melihat kejadian-kejadian seperti itu, darah saya seolah berhenti mengalir. Atau jantung saya seolah berhenti berdetak. Saya benar-benar takut dan ngerih. Terlebih kalo ngebayangin yang kecelakkan itu adalah sanak saudara/tetangga/teman-teman saya sendiri. Bisa pingsan saya pak. Nauzubillah. Semoga jangan.

Saya rasa sudah tidak masuk logika lagi jika jalur tengkorak itu harus terus digunakan berbarengan antara keperluan jalan kontainer dengan kendaraan-kendaraan pribadi. Sudah saatnya buat jalur khusus untuk kontainer yang tentu berbeda dengan jalur kendaraan-kendaraan umum. Atau batasilah jumlah kontainer hingga batas-batas yang wajar dan proporsional. Jangan terus menerus mengikuti keingingan-keinginan para pengusaha kontainer itu. Saya merasa kasihan aja pak dengan masyarakat Jakarta Utara yang batinnya tiap hari tertekan (ini saya yang alami sendiri kok) saat melintasi jalan-jalan di Jakarta Utara. Entahlah apa yang sedang direncanakan oleh para pemimpin ini dengan tata kota wilayah Jakarta Utara. Tapi kalo mau berkaca sedikit dengan keseriusan pemerintah membenahi infrastruktur yang ada di wilayah Jakarta Utara, baiknya kita lihat dengan pembangunan jembatan tinggi yang ada di sebelah rumah susun cilincing.

Saya tahu jembatan yang saat ini sering digunakan oleh kendaraan-kendaraan untuk melintasi wilayah kbn marunda menuju cakung adalah jembat yang baru dibangun. Tadinya saya senang sekali karena saat itu ada dua jembatan yang bisa di lewati kendaraan dari dua arah yang berbeda. Pasti gak akan macet. Tapi selang berapa lama, jembatan yang lama, rubuh (rusak). Saya maklum karena usia jembatan ini sudah sedemikian lamanya. Saya kok yang menjadi saksi hidup dan mengalami getir pahitnya melintasi jembatan yang lama itu. Saat jembatan lama ini rusak, hampir dipastikan macet yang sangat dahsyat melanda wilayah Jakarta Utara bagian paling Utara ini. Dan seperti proyek pengerjaan-pengerjaan jembatan / jalan raya yang lain, perbaikannya pun membutuhkan waktu yang bisa dibilang tidak sedikit. Akhirnya, kami harus rela berhari-hari, berminggu-minggu bahkan berbulan bulan untuk terus terjebak dengan kemacetan.

Kini jembatan itu hanya tinggal satu yaitu yang baru jadi. Tapi itu juga sudah mulai terlihat kerusakannya hanya dalam waktu beberapa bulan. Saya mafhum karena setiap hari jembatan itu harus digerus oleh kontainer-kontainer yang jumlahnya sealaihim gambreng dan beratnya nauzubillahiminzhalik.

Jadi kalo mau ngeliat keseriusan pemerintah khusunya pemerintah Jakarta Utara, mari kita lihat pembangunan Jembatan yang satunya itu (jembatan yang lama). Pak walikota yang terhormat. Setiap hari saya melintasi wilayah itu dan yang saya lihat hanya ada segelintir pekerja yang mengerjakan perbaikan jembatan tersebut. Bisa jadi jumlahnya tidak lebih dari sepuluh orang. Bayangkan saja. Jembatan yang sedemikian besarnya harus diperbaiki oleh sedikit orang, kapan selesainya pak? (Kondisi ini sudah cukup lama lho semenjak perubuhan jembatan yang lama). Sedang disisi yang lain, kenyataan di lapangan bahwa kemacetan, kecelakaan, dan lain-lainnya menjadi hal yang tak terelakkan. Semakin lama perampungan jembatan tersebut, tentu akan semakin menambah daftar panjang kemacetan dan kecelakaan (kematian) warga sekitar Jakarta Utara. Mbok ya kasihan toh pak dengan kami-kami rakyat kecil ini.

Saya sebagai rakyat jelata kadang merasa jealous (jengkel) dengan pengusahan-pengusaha peti kemas yang ada di wilayah Jakarta Utara. Saya bukan iri pada harta melimpah yang mereka peroleh. Saya merasa kayaknya mereka belom mengeluarkan insentif yang lebih besar untuk mengganti semua kerugian-kerugian yang telah mereka perbuat di wilayah Jakarta Utara. Saya tidak menafikkan jasa mereka bagi pembangunan ekonomi nasional. Saya rasa itu hanya sebagai konsekuensi dari keuntungan besar yang mereka peroleh. Kalau mereka memang peduli dengan masyarakat sekitar, harusnya, disamping pajak yang mereka bayar pada negara, mereka memberikan hal-hal lain yang berguna bagi masyarakat Jakarta Utara. Tidak usah membayangkan yang aneh-aneh. Cukup dengan memikirkan bagaimana caranya agar masyarakat sekitar Jakarta Utara tidak menjadi korban-korban kemacetan dan kecelakaan berikutnya yang lebih banyak. Entah dengan membuat jalan khusus untuk kontainer yang berbeda dengan kendaraan umum. Entah dengan membatasi jumlah kontainer yang boleh dimiliki oleh setiap pengusaha. Renovasi jembatan secepatnya. Atau dengan cara-cara yang lain yang lebih memperhatikan keselamatan.

Perlu dicamkan. Kami ini manusia-manusia pak yang hidup sama seperti tuan-tuan dan bapak-bapak terhormat. Kami juga butuh ketenangan, kenyamanan dan keselamatan. Sama seperti bapak-bapak. Tidak bisa Anda egois dengan hanya mementingkan keuntungan perusahaan atau golongan Anda saja.

Tak ada salahnya jika saya membeberkan juga apa yang menjadi keluhan saya pada pengusaha-pengusaha peti kemas di wilayah Jakarta Utara. Kalo kita mau melihat keseriusan mereka dengan usaha yang mereka geluti terhadap hati kemanusiaan yang harusnya mereka berikan, mari kita lihat dengan contoh kecil berikut ini. Kita semua tahu betapa besarnya kontainer itu. Betapa tingginya ia. Dan betapa panjangnya ia. Jelas-jelas di bagian belakangan kontainer sering disebutkan: Long Vehicle. Kendaraan Panjang. Tapi pak, ini yang membuat saya justru miris. Kok bisa-bisanya ya kaca spion yang ada di setiap kendaraan super raksasa itu berukuran amat mininya. Ukurannya hanya lebih besar sedikit dari kaca spion kendaraan pribadi. Sungguh sebuah perbandingan yang amat tidak proporsional jika dibandingkan dengan ukuran badannya. Dari sini kita sudah melihat akan ketidakseriusan para pengusaha itu terhadap keselamatan pengguna jalan yang lain. Harusnya, kendaraan yang sebegitu besarnya, spionnya juga harus lebih besar. Jauh lebih besar dari kendaraan-kendaraan yang lain agar bisa menjangkau sasaran dengan lebih luas. Tentu hal itu bisa mengurangi angka kecelakaan dan kematian di jalan Raya Jakarta Utara

Belum lagi pak betapa garangnya sopir-sopir kontainer itu. Subhanallah. Saya tahu kebanyakan dari mereka buka masyarakat Jakarta Utara. Mereka semua adalah pendatang yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Jelas mereka tak punya ikatan batin dan emosional dengan warga kota Jakrta Utara. Contoh kasusnya seperti ini, entah benar atau salah, ini saya dapat dari penuturan teman saya yang ia dengar langsung dari sopir kontainer. Kalo misalkan sebuah kontainer menerjang kendaraan pribadi, mereka lebih mengharapkan korbannya itu langsung meninggal di tempat. Alasannya sederhana: biaya yang harus ditanggung perusahaan kontainer jauh lebih murah. Paling kisaran di bawah 5 jutaan. Tapi kalo misalkan gak langsung mati dan harus di operasi, kan biayanya akan jauh lebih mahal. Bisa puluhan atau bahkan ratusan juta rupiah. Belom lagi jika disangkutpautkan dengan hal-hal yang berbau mistis. Teman saya itu bilang, katanya, kalo kontainer itu semakin banyak memakan korban, semakin makmur pula usaha kontainer itu. Wallahu’alam bisshawwab.

Maafkan duhai bapak-bapak atas kelancangan saya menyampaikan surat ini secara terbuka. Saya hanya bermaksud menyampaikan unek-unek yang sempat terpendam bertahun-tahun lamanya. Puncaknya adalah sekarang karena semakin ke sini, kondisi jalan raya Jakarta Utara semakin kurang kondusif untuk dilewati. Tapi mau bagaimana lagi. Kami harus bekerja. Harus mencari penghidupan. Tolonglah pak bangun sedikit empati untuk kami warga masyarakat Jakarta Utara. InsyaAllah apa-apa yang bapak-bapak lakukan pasti akan dibalas oleh Allah dengan balasan yang setimpal. Jika banyak kezhaliman dilakukan, pasti Allah akan membalasnya dengan yang setimpal. Tapi jika sebaliknya yaitu banyak kebajikan-kebajikan yang bapak-bapak lakukan untuk warga sekitar, maka balasan Allah juga pasti akan indah. InsyaAllah.

2 Responses to "Surat Untuk Walikota Jakarta Utara"

aduh serem jalur tengkorak nya. banyak mkan korban pasti itu mah jalurnya dipake ama motor dan kontainer. serem banget bang.

semoga pak walikota denger ya. benerin infrastruktur jalan. sangat zhalim kalau ngebiarin situasi kayak gitu terus. naudzubillah

so pasti makan korban jiwa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Total Kunjungan:

  • 519,430 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Kenal Lebih Dekat di:

%d bloggers like this: