MENULIS SEUMUR HIDUP

Pendakian Awal Yang Melelahkan

Posted on: October 8, 2011

Dirinya memilih untuk tidak mundur. “Maju terus. Ini baru awal”, begitu batinnya berteriak. Sama seperti ketika hendak mendaki gunung. Atau ketika pesawat hendak take off. Keduanya membutuhkan energi awal yang dahsyat. Energi yang jauh lebih dahsyat justru harus dikerahkan di sini, di awal ini. Karena ketika segalanya telah berjalan, mudah saja untuk menggerakkannya. Seumpama telah sampai di puncak. Atau pesawat telah terbang landas. Tentu segalanya akan jauh lebih mudah. Dan energi yang dikeluarkanpun tak sebesar di awal. Maka seperti itu pula bagi orang yang hendak terjun ke dunia bisnis. Terlebih bagi orang awam seperti dirinya yang baru mencicipi dunia yang penuh dengan ketidakpastian ini. Ia sadar sesadar sadarnya bahwa label “anak bawang” masih melekat kuat di jidatnya. Maka ia memilih untuk bersabar. Bersabar tingkat tinggi. Bersabar dalam diamnya. Bersabar dalam keheningannya. Bersabar dalam meniti tiap-tiap tangga yang harus dilalui. Setahap demi setahap. Dan tentu saja, sambil terus berusaha belajar dan bekerja di lapangan sebanyak-banyaknya.

Bagaimana dengan kegagalan/kerugian yang ia dapatkan di perjalanan? Ia memandang kegagalan dan kerugian justru sebagai bagian penting dari proses panjang menjadi pengusaha kaliber dunia. Ia malah mengaggap kegagalan/kerugian sebagai kesuksesan kecil yang harus ia acuhkan dan tak harus dipikirkan. Justru ia semangat dengan buka tutup bisnis yang ia lakukan. Karena yang ada di dalam benaknya, ia harus beroleh banyak ilmu. Ia harus memperbanyak jam terbangnya. Maka ia berusaha sekuatnya. Dan ketika tidak membuahkan hasil alias bisnis yang ia jalankan tak berjalan sebagai mana mestinya, yang menyebabkan harus gulung tikar, baginya, tak ada masalah. Ia hanya akan ambil pelajaran di sana dan bersyukur bahwa tekadnya untuk menjadi pengusaha belum luntur. Bahkan tekadnya semakin membahana. Semakin sering ia gulung tikar, maka jiwanya akan semakin memberontak sambil berkata: “Saya tidak akan mundur sedikitpun (insyaAllah). Bismillah”.

Kenapa seseorang yang hendak terjun ke dunia bisnis membutuhkan energi jiwa yang dahsyat di awal? Jawabannya adalah karena orang-orang ini adalah penentang arus kehidupan. Tak seperti lazimnya orang. Biasanya, begitu lulus kuliah, hal besar yang terpikir dalam benak kebanyakan mahasiswa adalah mencari dan melamar pekerjaan. Inilah gagasan yang sangat amat disukai oleh para orang tua dan para mertua (entah dengan para ahwat?) yang memiliki jangkauan pandang terbatas. Hampir 100% dari mereka, jika kita selidiki, pasti bukan pengusaha. Atau, kalaupun mereka berdagang, pasti berdagang kecil-kecilan yang gajinya hanya untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Karena sejatinya, pengusaha-pengusaha besar yang menghiasi kancah hidup panggung dunia ini, menghendaki setiap anaknya untuk menjadi pengusaha juga seperti orang tuanya. Ada imbalan berbarengan dengan resiko yang begitu besar yang siap mengganti dan menghadang di depan bagi seorang pengusaha.

Maka kemampuan seseorang untuk tidak takluk pada kehendak orang tua (meski sebenarnya kehendak mereka baik yaitu menghendaki kita melamar pekerjaan di perusahaan orang lain) termasuk syarat mutlak bagi seseorang untuk menjadi penguasaha besar. Ini bukan masalah patuh atau tidak patuhnya seorang anak pada orang tua. Ini masalah jalan hidup dan kehidupan apa yang paling kita inginkan untuk kita jalankan. Bukankah kita ini sudah besar dan mestinya, kita tau apa yang paling kita inginkan di dunia. Kita pun pasti tau apa-apa yang baik yang ingin kita lakukan. Jelas kita yang lebih tau ketimbang orang tua kita dalam hal ini.

Belum lagi godaan ketika hari-hari berlalu dimana teman-teman semasa kuliah sudah banyak yang bekerja di perusahaan ini perusahaan itu. Atau godaan ketika banyak sekali tawaran untuk bekerja di perusahaan-perusahaan bonafit. Nah yang perlu dicamkan di sini: kemampuan seseorang untuk tidak tergoda dengan hal-hal itu adalah mutlak diperlukan bagi orang yang bercita-cita hendak menjadi pengusaha besar. Ia tak ragu dan goyah meski setiap pagi, teman-temannya itu pergi ke kantor dengan dasi dan baju mentereng sedang dia masih di rumah dengan kaos oblong melekat pada badannya. Ia tidak tergoda meski diiming-imingi gaji besar dan posisi yang menggiurkan di perusahaan tertentu. Pikirannya tetap fokus pada bisnis yang hendak ia jadikan gurita. Maka yang perlu kita gunakan di sini adalah kaca mata kuda. Agar pikiran kita tetap lurus pada satu tujuan yaitu BE AN ENTREPRENEUR.

Itu baru segelintir rintangan-rintangan awal. Dan tentunya masih banyak lagi rintangan-rintangan lain yang patut kita cermati. Tapi bagian yang paling penting yang ingin disampaikan di sini adalah bahwa sekali terjun ke dunia bisnis, pantang untuk mundur. Dan selalu ingat: energi yang kita butuhkan di awal harus dahsyat. InsyaAllah. Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk menjadi hamba-hambanya yang kuat. Kuat segala-galanya. Kuat iman, fisik, harta, dan jiwanya. Amin.

Advertisements

1 Response to "Pendakian Awal Yang Melelahkan"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Total Kunjungan:

  • 550,680 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Kenal Lebih Dekat di: