MENULIS SEUMUR HIDUP

Sepenggal Diskusi Dengan Teman Lama

Posted on: December 22, 2011

Dua hari yang lalu saya bertemu dengan seorang teman lama, teman SMA. Wajahnya ceria, tipikal fresh graduate yang baru diterima di perusahaan besar. Dan itu jelas terlihat dari cara ia menyapa saya. Benar saja, inilah kalimat pertama yang terlontar dari mulutnya: “Woiii gan, gawe di mana lo?”. Selalu jawaban ini yang saya berikan setiap ada orang yang menanyakan kerja dimana saya (maklum baru lulus kuliah jadi banyak orang yang nanya kerjaan): “PENGACARA (“pengangguran” banyak acara) gan. Hahaha…”. “Ahh yang bener lo?”, timpalnya. Dan saya pun bilang kalo saya sama sekali belum melamar pekerjaan sejak lulus bulan September lalu (sudah tiga bulan dan hampir seluruh teman-teman saya yang lulusnya bareng dengan saya sudah mendapatkan pekerjaan yang aman dan terjamin).

Yang menarik adalah perbincangan kami setelah itu. Dia ini:

Saya: Lo sendiri gawe dimana gan?
Teman: Gw gawe di Panin Bank gan
Saya: Dahsyat…!@$%
Teman: Nih sekarang gw lagi cuti setengah hari tuk ngurus KTP
Saya: Ohhhh….
Teman: Lo kenapa gak cari kerja dulu aja?
Saya: Gw mau belajar bisnis gan
Teman: Gw kasih tau aja gan. Sayang ijazah lo tau
Saya: Oh gitu?
Teman: Lah iyalah. Trus buat apa lo kuliah?
Saya: Buat dapetin ilmu
Teman: Iya maksudnya sayang aja ijazah lo
Saya: Ooooo….
Teman: Mumpung masih muda gan. Banyakin pengalaman kerja
Saya: Trus kalo udah banyak pengalamannya untuk apa?
Teman: Nanti kalo mau jadi PNS, bisa lebih gampang dan kemungkinan dapet tingkatan golongannya lebih tinggi
Saya: Oh gitu ya? Baru tau tuh gw
Teman: Enak gan kalo jadi PNS. Masa depan kita terjamin. Tunjuangannya gede, kayak nyokapnya pacar gua. Udah gitu kerjanya enak lagi. Dateng cuma absen doang. Abis itu pulang
Saya: Woowwww… Dahsyat

Kebetulan, saya tidak banyak mendebat teman saya itu di TKP. Disamping karena percuma membuang-buang energi kalo saya mendebat, tambahan yang namanya pekerjaan, itu semua adalah pilihan masing-masing orang. Kita tidak bisa mengklaim bahwa pilihan kitalah yang terbaik. Tapi, diskusi saya dengan teman lama saya itu, membuat saya kepikiran sepanjang perjalanan pulang.

Saya cuma tidak habis pikir, kenapa ia begitu “mengagung-agungkan” pendapatan tetap, pekerjaan terjamin, dan pekerjaan santai. Mungkin gaji yang ia dapatkan sekarang memang tergolong cukup besar untuk ukuran fresh graduate. Dan pastinya, prestis. Kerja di bank gitu loh.. Pake dasi, rapi, klimis, necis, dan lain sebagainya. Tapi, menurut hemat saya, pekerjaan sebagai karyawan gak cukup menjanjikan untuk masa depan. Kenapa? Karena pendapatannya tetap dan setiap bulan kita sudah dijatah dapet segini, dapet segitu. Susah kalo mau dapetin duit lebih dari gaji yang sudah ditentukan. Dapet duitnya cuma sebulan sekali. Kalo kata seorang pengusaha besar: “Lah gimana mau akrab sama duit kalo ketemu sama duit cuma sebulan sekali”.

Hal senadapun sama dengan PNS. Mungkin teman saya itu tipikal orang yang menyenangi kesantaian dalam bekerja. Mungkin loh..!!! Saya cuma menduganya dari apa yang ia katakan: “Enak gan kalo jadi PNS. Masa depan kita terjamin. Tunjuangannya gede, kayak nyokapnya pacar gua. Udah gitu kerjanya enak lagi. Dateng cuma absen doang. Abis itu pulang”. Bisa jadi bukan hanya teman saya yang memimpikan pekerjaan aman, nyaman, dan santai seperti itu. Mungkin banyak di sekeliling kita. Dan nyatanya, hampir setiap orang tua menginginkan anaknya punya pekerjaan yang terjamin, aman, santai, dan gak banyak kerja. Jadi wajarkan kalo banyak di antara PNS yang kerjanya seperti itu? Dari dirinya menginginkan mental seperti itu plus diamini oleh orang-orang tuanya.

Saya bukan tidak menyenangi kesantaian dalam bekerja. Bahkan saya sedang berusaha untuk menuju ke sana. Buat saya, ada yang membuat kita jauh lebih santai dari profesi sebagai karyawan atau PNS. Tapi titik penekanannya di sini adalah hal itu bisa tercapai hanya dalam jangka waktu yang panjang dan kesabaran yang super prima. Jelas itu adalah profesi sebagai pengusaha. Untuk jangka waktu yang pendek, pengusaha memang harus banting tulang membesarkan perusahaannya. Tapi semakin besar perusahaannya, percayalah bahwa waktu santainya akan semakin banyak. Asalkan ia tidak terlibat di dalam sistem perusahaannya dan hanya mendelegasikan perusahaannya pada orang lain serta menginvestasikan uang lebihnya untuk menghasilkan uang yang lebih banyak lagi dalam bentuk aset. Jadi, alih-alih mengikuti perkataan teman saya yang bilang: “Mumpung masih muda, banyak-banyakin pengalaman”, tidak berlaku pada saya. Saya justru berpikir: “Mumpung masih muda dan belum menikah, inilah saatnya untuk membangun armada bisnis”. Pertanyaannya: Emang kalo ngembangin bisnis kita gak dapet pengalaman? Bahkan menurut saya, bisa jadi pengalaman yang kita dapatkan dalam berbisnis lebih besar ketimbang kita kerja di perusahaan orang lain. Utamanya mungkin pengalaman mental. Mental pengusaha adalah membesarkan perusahaan sendiri dan pastinya harus tahan banting. Sedangkan mental karyawan adalah membesarkan perusahaan orang lain dan pastinya harus terus-terusan dibanting oleh majikan. Seneng jadi karyawan?

Saya pribadi memaklumi pilihan yang diambil teman saya itu karena nyatanya, lebih dari 80% lulusan perguruan tinggi memilih untuk menjadi karyawan atau PNS. Dan hanya sedikit sekali yang memilih untuk menjadi pengusaha. Dan ini real terlihat di lapangan. Entahlah apa penyebabnya. Tapi yang jelas, sekali lagi, itu semua adalah pilihan masing-masing individu.

So, Anda pilih yang mana?

1 Response to "Sepenggal Diskusi Dengan Teman Lama"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Total Kunjungan:

  • 519,656 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Kenal Lebih Dekat di:

%d bloggers like this: