Nur Ali Muchtar

Archive for the ‘Buku & Ebook’ Category

Saya teringat akan sebuah pernyataan: Jika ingin mengenal seseorang, maka lihatlah apa yang dia baca (buku)!! Lama sudah saya mendengar dan mengetahui pernyataan ini. Adapun saya, sependapat juga dengan pernyataan tersebut bahwa orang memang bisa dilihat dari buku apa yang dia baca. Secara lebih spesifik saya akan mengatakan, buku apa yang paling memenuhi rak pikirannya. Misalkan seseorang menyenangi buku-buku yang berkaitan dengan psikologi. Maka secara otomatis, pikirannya akan cenderung dominan dengan hal-hal yang berkaitan dengan psikologi. Maka kita bisa sedikit membaca seperti apa orang itu. Ada juga misalkan orang yang suka membaca buku-buku yang, katakanlah lebih banyak negatifnya ketimbang positifnya. Maka kita juga akan bisa menyimpulkan seperti apa orang tersebut.

Berkaitan dengan hal tersebut, saya ingin mencoba sedikit mengevaluasi diri sendiri. Tentunya terkait dengan buku apa saja yang paling sering saya baca. Atau yang paling banyak memenuhi rak buku dan pikiran saya. Perlu saya akui bahwa selama ini, buku-buku yang saya baca adalah buku-buku yang memang secara langsung ingin saya baca –tema yang paling saya senangi-, bukan buku-buku yang harus saya baca. Padahal sebaiknya, seseorang membaca buku-buku yang memang harus dia baca. InsyaAllah kedepannya saya akan mengganti bahan-bahan bacaan yang tidak asal senang, tapi juga yang memang harus saya baca.

Saya mulai menyadari buku-buku apa saja yang sering saya baca saat saya mulai memikirkannya dan melihat rak buku yang ada di rumah. Ternyata ada tiga kategori buku yang paling dominan saya baca. Buku-buku tersebut adalah yang berkaitan dengan: Pengembangan diri, Sastra dan Agama. Terus terang, untuk ketiga tema tersebut saya memiliki pengalaman yang lumayan panjang.

Buku-buku sastra –termasuk di dalamnya: novel, cerpen dan puisi- telah banyak saya baca saat saya duduk di kelas 3 SLTP. Saya ingat buku sastra yang pertama kali saya baca adalah novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk serta Di Bawah Naungan Ka’bah yang kebetulan keduanya adalah karya Buya Hamka. Saya menyenangi karya-karya Pramoedya Ananta Toer, Andrea Hirata, Habiburrahman El-Shierazy dan beberapa penulis luar. Adapun membaca sastra, terus berlanjut hingga sekarang. Dampaknya bagi saya hingga sekarang ini adalah keinginan yang bisa dikatakan menggebu-gebu untuk terus menulis. Dan bisa jadi, jiwa halus sastra mengalir juga dalam diri saya. Hehehe.

Adapun pengalaman saya dengan buku-buku agama dimulai ketika saya masuk di SLTP. Kebetulan waktu itu saya bersekolah di Madrasah Tsanawiyah yang bisa dibilang pelajaran agamanya dominan. Berlanjut hingga saya kuliah. Nah di kuliah ini, saya terlibat aktif di rohis kampus. Maka secara tidak langsung, saya banyak membaca buku-buku islam yang berkaitan dengan keagamaan, tasawuf dan pemikiran islam. Adapun hingga sekarang, saya masih terus membaca buku-buku yang berkaitan dengan islam dan pemikiran islam. Dan bagi saya, membaca buku-buku islam adalah sebuah kemestian yang harus saya lakukan hingga akhir hayat. Karena dari sinilah pengetahuan tentang ketuhanan –basic seorang muslim- saya dapatkan.

Sedang buku-buku yang berkaitan dengan pengembangan diri baru mulai saya selami saat saya kuliah, saat saya mulai mengalami “split” jiwa. Hahaha. Di kuliah ini saya mulai menemukan banyak sekali masalah-masalah yang berkaitan dengan kepribadian. Dan pelarian saya tentunya ke-dua hal: buku-buku dan mentor (guru). Adapun buku, maka buku-buku pengembangan dirilah yang menjadi tempat pelarian saya untuk menyelami samudera dari segala masalah dan potensi yang ada di dalam diri. Memang harusnya, buku-buku seperti ini sudah kita baca sejak kita duduk di bangku SLTP. Tapi bagi saya, tidak ada kata terlambat untuk memulai daripada tidak sama sekali memulai. Setuju tidak? Hehehe.

Kedepannya, saya akan mencoba (dan memang harus) membaca buku-buku yang memang mesti dibaca. Mungkin itu buku-buku yang berkaitan dengan bisnis, kenegaraan, pemikiran, dan lain-lainnya. Tentunya setelah saya lulus dari matematika UI.

Bagi saya, membaca buku itu adalah sebuah kehidupan. Karena dengan membaca buku, berarti saya telah memberikan kehidupan “yang luar biasa” bagi diri saya sendiri. Memang membaca buku sudah menjadi hobi tersendiri bagi saya, tapi saya menyadari bahwa membaca buku yang tepat yang sesuai dengan kebutuhan adalah yang harus menjadi prioritas.

Sekarang, bagaimana dengan rekan-rekan sekalian. Buku-buku apa yang paling sering rekan-rekan baca? Apa dampaknya bagi rekan-rekan hingga saat ini? Dan buku-buku apa yang harusnya banyak rekan-rekan baca kedepannya?

Tags:

bismillahir rahmanir rahim.

Tadi sore, waktu saya sedang main di kamar teman yang kebetulan satu kost-an, saya melihat Tafsir Fi-Zhilal Qur’an buah karya Sayyid Quthb. Kan rekan-rekan semua sudah tau tafsir itu, kan? Sebagai selingan matematika, saya ambil tafsir itu dan saya baca. Mulanya daftar isi, koment-koment para tokoh di bagian sampul belakang, dan sampai pada kata pengantar dari sang perakit buku. Memang tafsir ini dikenal oleh khalayak sebagai tafsir yang ditulis dengan bahasa sastrawi. Dan inilah salah satu mengapa saya lebih menyukai tafsir Fi-Zhilal dibanding tafsir-tafsir yang lain.

Saya baca halaman demi halaman hingga akhirnya saya sampai pada untaian kalimat berikut:

“Selama menjalani kehidupan –di bawah naungan Al-Qur’an- saya akhirnya sampai pada keyakinan yang pasti dan tegas bahwa tidak ada kebaikan bagi bumi ini, tidak ada kedamaian bagi umat manusia, tidak ada ketenangan bagi manusia ini, tidak ada martabat, keberkahan dan kesucian, tidak ada keharmonisan bersama sunnah-sunnah kauniyah dan fitrah kehidupan.. kecuali dengan kembali kepada Allah.
sedangkan kembali kepada Allah –seperti nampak jelas di bawah naungan Al-Qur’an- hanya memiliki satu gambaran dan satu jalan.. hanya satu tiada duanya.. Yaitu mengembalikan seluruh kehidupan kepada manhaj Allah yang telah digariskan-Nya untuk umat manusia di dalam Kitab-Nya yang mulia. Yakni menjadikan Kitab Allah satu-satunya sumber hukum dalam kehidupannya dan hanya berhakim kepadanya dalam semua urusan. Jika tidak, maka pasti akan terjadi kerusakan di muka bumi, kenestapaan bagi umat manusia, keterpurukan ke dalam lumpur kehinaan dan kejahiliahan yang menjadikan hawa nafsu sebagai tuhan selain Allah.”

Ah, sungguh sebuah pernyataan yang keluar tidak asal sembarang keluar. Pastilah ia keluar dari hasil renungan yang mendalam. Mengingatkan kepada kita untuk kembali menengok kitab suci Al-Qur’an yang telah berdebu di rak sana.

Saya juga teringat akan sepanduk-sepanduk yang bertebaran di sekitar depok baru-baru ini yang mengingatkan khalayak untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk dan cahaya dalam kehidupannya. Namun hati ini kadang suka berbisik, “engkau sudah cukup tua untuk belajar Al-Qur’an?”. Namun seketika juga suara lain membela, “janganlah engkau berputus asa duhai teman. Lihatlah para sahabat. Bukankah kebanyakan mereka baru bertemu Al-Qur’an saat usia sudah puluhan tahun. Abu Bakar contohnya di usia 38 tahun yang baru belajar Al-Qur’an. Masih berkecil hati?”

“yaya, tidak ada kata terlambat untuk belajar Al-Qur’an. Harus dimulai dari sekarang. Bismillah.”

alhmadulillah, baru aja saya menyelesaikan buku ke-dua dari tetralogi buru milik bang Pram (lengkapnya: Pramoedya Ananta Toer). buku pertama: Bumi Manusia. buku ke-dua: Anak Semua Bangsa. butuh waktu tiga hari untuk merampungkan membaca ke-dua buku ini. kesan yang saya dapet dari buku ini adalah, singkat: LUAR BIASA. saya jadi tidak sangsi atas banyaknya pujian yang datang pada bang Pram. dan saya baru menyadari mengapa dialah satu-satunya orang indonesia yang pernah dinominasikan untuk menyabet penghargaan bergengsi: nobel sastra.

sebenarnya saya masih ingin melanjutkan “mengunyah” serial lanjutan dari tetralogi ini: Jejak Langkah (buku ke-tiga) serta Rumah Kaca (buku ke-empat). tapi agaknya saya harus menahan-nahan hasrat keinginan. harus menyelesaikan urusan saya dengan MATEMATIKA. hehe.

tunggulah wahai kawan
sampai waktu itu kan datang
kunikmati semuanya darimu

SERIAL PEMBELAJARAN: ini buku yang sangat ingin ane baca. ane belum tau apakah sudah terbit atau masih dalam proses penulisan. karena lagi sibuk kuliah, akhirnya ane tahan-tahan dulu untuk hunting buku “sakti” yang satu ini. kenapa “sakti”? karena, baru baca judulnya aja ane udah merinding plus bergetar. maklum, ane pecinta filosofi: BELAJAR. buat agan-agan yang mo tau cover depannya, ini dia di bawah:

buku serial pembelajaran ini adalah buku lanjutan serial-serial sebelumnya: SERIAL KEPAHLAWANAN (MENCARI PAHLAWAN INDONESIA) dan SERIAL CINTA karya Anis Matta. selain sebagai seorang penulis, beliau adalah seorang politisi ulung dari PKS (Partai Keren Sekali) yang menjabat sebagai Sekertaris Jenderal-nya. merangkap juga sebagai wakil ketua DPR RI. hebat yach gan?

jujur, ane penggemar berat tulisan-tulisan beliau. suatu saat, ane pasti bisa menghasilkan tulisan-tulisan dan pemikiran-pemikiran cemerlang kayak beliau. tapi butuh waktu tentunya. hehe.

btw, buat agan-agan yang pengin baca beberapa artikel dari SERIAL PEMBELAJARAN ini, monggo cekidot dimari:
http://muchlisin.blogspot.com/2009/12/serial-pembelajaran.html

semoga bermanfaat 😛

Ebook Motivasi

buat rekan-rekan semua, yang tertarik dengan dunia motivasi atau yang lagi butuh tambahan motivasi. monggo ke alamat ini; http://www.ziddu.com/download/8696538/BukuMotivasi.zip.html

silakan disedot dan dibaca-baca. file sizenya cuma 639,7 KB kok. ga perlu nunggu lama-lama. kali-kali aja dapet yang sedang dicari-cari.

okelah kalo beg beg begitu. selamat menikmati

kawan, di FIB UI ada pameran buku lho. kebetulan kemari saya pergi ke sana. iseng-iseng aja. memang bukunya ga sebanyak yang ada di GRAMEDIA depok (ya iya lah). tapi lumayan cukup lah untuk ukuran pameran buku yang ada di kampus. ada banyak beragam buku bacaan di sana. mulai dari: komik, cerita-cerita rakyat, puisi, novel, marketing, bisnis, agama, komputer hingga majalah. tentunya masih banyak lagi yang lain yang belum saya sebutkan.

untuk hari kemarin, kebetulan ada acara bedah bukunya juga. dengan menghadirkan penulis baru bernama Chris X yang juga pernah menjadi produser dan bekerja di Productin House itu, ia membedah buku pertamanya yang berjudul Jejak Darah. bukan main kawan, buku ini telah menajadi best seller dan telah naik cetak untuk yang ke dua sejak diterbitkan pada bulan Agustus lalu. bukunya ini terispirasi dari kisah nyata tentang plasma yang ternyata banyak digunakan untuk produk kecantikan yang biasa digunakan oleh para kaum wanita.

ada sedikit kejadian lucu di sana. pas sang MC memanggil mas Kris ini naik ke podium pembicara, banyak penonton yang sedikit terperangah melihat baby face dari sang pembicara itu. harin ada yang berseloroh, “jangan-jangan pembicaranya ini juga pengonsumsi produk kecantikan itu”. tapi segera di jawab oleh mas Kris kalo dia memang berwajah baby face. namun dia tidak lebay-lebay gitu dan juga tidak menggunakan produk kecantikan.

di sana saya menelurkan sebuah pertanyaan pada sang pembicara. saya menanyakan tentang proses kreatif dari penulis ketikan menulis novel yang katanya ditulis hanya dalam waktu satu minggu itu. wah-wah. saya juga menanyakan kiat-kiat menulis ala mas kris.

jawabannya memberikan saya sedikit inspirasi.

katanya, dia tidak mengalami kesulitan ketika menuliskan novelnya itu. meski novel itu adalah buku pertama yang dia buat. namun, jika ditanya proses kreatif, sebenarnya dia juga agak bingun menjawabnya. yang jelas, ada beberapa hal yang mendasarinya bisa mudah dalam menulis. yang pertama adalah karena dia sudah banyak sekali membaca. dia membaca buku apa saja. laliu, dia jaga mengatakan kalo dia juga penggemar film. banyak sudah film yang ia tonton. dan yang terakhir, dia punya basik sarjana arsitek. jadi, mudah bagi dia untuk berimajinasi ketika menggambarkan lingkungan yang ingin dia gambarkan.

untuk kiat-kita menulis ala mas kris, dia bilang satu cara yang paling efektif adalah dengan terus menulis, menulis, menulis. sejelek apapun hasil tulisan kita, yang penting tulis, tulis,  dan tulis tersus. beliau mengisahkan kisahnya dulu ketika pertama kali membuat buku saat kuliah. bukunya jadi setebal 400 halaman. namun, kemudian, buku itu hanya menjadi bahan tertawaan teman-temannya. bukunya jelek seloroh teman-temannya. tapi itu tidak meruntuhkan mentanya untuk terus menulis. dia masih terus menulis, menulis dan menulis hingga kini.

by the way teman, mas kris ini, meski baru menulis buku, dia sudah terbiasa menulis. dia merupakan penulis naskah skenario. dari sanalah dia belajar.

adapun pesan utama yang ingin disampaikan oleh sang penulis adalah jangan pernah menyerah menghadapi kehidupan.

kebetulan saya belum membeli dan membacanya. semoga nanti bisa membacanya.

kemarin saya baru saja membaca dua buah buku yang merupakan kumpulan dua puisi. saya membacanya di perpustakaan pusat UI. kebetulan sudah cukup lama saya tidak ke sana. niatnya memang sengaja untuk membaca buku di sana. tapi, saat curi-curi pandang ke rak-rak buku yang ada di sana, saya menemukan dua buah buku yang merupakan kumpulan puisi. yang pertama adalah kumpulan puisinya Khalil Gibran tentang cinta. dan yang ke dua adalah kumpulan puisinya Anand Krishna yang berjudul Jala Sutera. bukunya Khalil Gibran saya baca di tempat sedang bukunya Anand Krisna saya selesaikan di BTA.

nah kawan, dari bukunya Khalil Gibran saya mulai membuka pikiran saya ini untuk satu tema yang lain, yaitu CINTA. memang belum banyak yang saya ketahui tentang tema yang satu ini. namun saya juga punya sumber rujukan yang lain tentang tema yang satu ini, yaitu bukunya Anis Matta yang berjudul Serial Cinta. itu buku yang satu ini saya sudah membacanya sebanyak tiga kali. buku ini sangat bagus menurut saya. kembetulan saya dapet banyak inspirasi dari buku ini. harapannya, semoga saya lebih banyak lagi mengetahui tentang tema yang satu ini. bukan untuk gaya-gayaan tetunya. tapi lebih dikarenakan akan pentingnya tema yang satu ini untuk dipelajari.

di buku yang ke dua, bukunya Anand Krishna yang berjudul Jala Sutera itu, sebenarnya banyak juga ngebahas tema CINTA. namun buku itu lebih mengkhususkan tentang Cinta seorang hamba pada Tuhannya. biasalah, mirip-mirip sufi gitu. kalo bukunya Khalil Gibran yang saya sebutin di atas kan Cinta makhluk terhadap makhluk.

semoga benih cinta bisa tumbuh dalam jiwa ini

agar ia terus menerangi jiwa ini dengan keindahan

semoga cinta bisa membuat segalanya menjadi indah

seperti apa yang dikatakan oleh sang guru Khalil Gibran

manusia tanpa cinta akan mati

maka, anugerahkanlah cinta duhai Rabi ke dalam dada ini


Total Kunjungan:

  • 634,713 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Kenal Lebih Dekat di: