Nur Ali Muchtar

Archive for the ‘Cerpen’ Category

Wajahnya cemberut. Mesem. Kedua alisnya bertemu pada satu titik membentuk huruf “V”. Ia begitu murka. Ingin marah. Ingin berteriak. Ingin lari dari semua kenyataan yang ada dihadapannya. “Mengapakah aku harus dijodohkan dengan lelaki tua berusia 80 tahun yang di tempurung kepalanya itu tak kulihat sehelaipun rambut berwarna hitam. Seluruhnya putih. Seluruhnya dipenuhi uban. Aku tak sudi menikah dengannya”. Begitulah pemberontakan seorang gadis cantik belia yang hendak dijodohkan orang tuanya.

Sang kakek –kalau boleh kita menyebutnya seperti itu- bisa membaca arti dari mimik wajah gadis belia nan semlohai itu. Lantas dengan bijaknya, ia berkata pada Naila yang berasal dari negeri Syam tersebut: “Engkau kaget dengan semua uban yang tumbuh di kepala ini? Jika demikian adanya, percayalah bahwa engkau hanya akan mendapati kebaikan yang ada di dalamnya”. Selanjutnya adalah pembuktian.

Lambat laun seiring waktu silih berganti, malam ditelan siang, siang pun berganti ditelan malam, benar seluruhnya adalah kebaikan. Kakek berusia 80 tahun yang kepalanya dipenuh uban itu, yang kelak kita ketahui bernama Utsman Bin Affan –khalifah ketiga umat Islam- benar-benar membuktikan ucapannya dengan tindakan dan cinta yang tulus sejiwa raga. Tak ada yang meragukan kapasitas kepribadiannya. Ia mampu memimpin umat ini, maka ia pasti mempunyai sesuatu yang tak dimiliki oleh banyak orang lain di muka bumi. Beliau adalah seorang ulama. Beliau juga salah seorang pengusaha terkaya yang hidup pada zaman Rasulullah. Beliau salah seorang sahabat yang dijamin masuk surga oleh Allah. Maka segalanya ada di dalam diri kakek tua itu. Segala kebajikan. Segala kebaikan. Segala keluhuran. Segala kedermawanan. Segala keshalihan. Segala kecintaan. Dan segala-galanya. Inilah jawaban dari rasa cintanya pada sang gadis.

Hanya ini yang bisa kita simpulkan di akhir cerita: Bahwa setelah kematian Utsman, Naila yang merupakan istri terakhir khalifah, tak sudi lagi untuk menikah dengan sesiapapun sekepergian Utsman. Ia mengambil cara yang tak lazim untuk menolak semua pingitan pria-pria lain yang ada di Jazirah Arab pada saat itu. Ia merusak dan mencakar-cakar wajahnya hingga penuh dengan luka dan berharap tak akan ada lagi pria yang mau untuk menikahinya. Itulah bukti perkataan sang khalifah: “Percayalah bahwa engkau hanya akan melihat kebaikan yang ada di dalam diri ini”.

Sayyid, begitulah ia biasa dipanggil. Ia lelaki bungsu delapan bersaudara. Ia duduk di kelas sembilan (kelas tiga SLTP). Ia tidak cerdas. Tidak pula pintar. Bahkan ia tergolong anak yang nakal. Di sekolah, ia terkenal hanya karena paling jago untuk semua cabang olahraga. Di sekolahnya, hanya di sekolahnya. Selain itu, tidak ada yang spesial darinya. Dan bukan karena dia pula ceritera ini dibuat. Karena tokoh utama di balik skenario kehidupan kali ini adalah sang kakak. Namanya Inna. Ia gadis dewasa berumur 32 tahun yang merupakan kakak ke tiga Sayyid. Apa yang terbayang di benak kawan jika ada seorang gadis berusia 32 tahun tetapi masih melajang? Mungkin kebanyakan dari kita akan merasa kasihan. Kasihan pada sang gadis karena biasanya, umumnya masyarakat Indonesia, seorang gadis menikah di usia 22-28 tahun. Inilah mungkin usia ideal bagi seorang gadis untuk menikah. Di bawah rentang usia itu, mungkin terbilang masih terlalu muda. Di rentang usia di atas, bisa dibilang agak sedikit ketuaan. Nah, Inna sang kakak ini belum menikah juga meski usianya kini telah memasuki kepala tiga. Bukan hanya ke dua orang tuanya saja yang cemas, Sayyid pun merasakan derita pilu yang dialami oleh kakaknya itu. Inna adalah kakak terbaik yang pernah ia miliki. Kakaknya ini yang suatu ketika, telah merubah Sayyid menjadi anak yang pintar di kelasnya saat ia duduk di bangku SLTA.

Pabila ditilik dengan mata telanjang, sebenarnya, bisa dibilang sang kakak tidak terlalu jelek. Ia memiliki kualifikasi wajah pada rentang 75-80 menurut penilaian seorang pria. Namun, nilai lebih dari wanita malang ini adalah ia merupakan gadis dengan tingkat pendidikan yang cukup baik yaitu S1. Gelarnya Spd. Sarjana Pendidikan untuk bidang Bahasa Indonesia. Keluarganya pun tergolong keluaraga baik-baik dan berkecukupan. Bapak ibunya tuan haji. Tak kurang Inna mendapatkan gemblengan agama sejak kecil. Hal ini terlihat dari komitmennya untuk memakai jilbab sejak ia berusia 10 tahun. Jadi, secara kualifikasi wajah, pendidikan, keturunan, kekayaan dan  agama, Inna adalah wanita yang merupakan incaran banyak pria. Namun, nasib berkata lain. Ia harus menjadi single hingga usianya telah mencapai 32 tahun. Inilah mungkin yang dikatakan: jodoh ada di tangan Tuhan.

Sebenarnya, bukan karena tidak ada pria yang menyukai sang kakak. Bukan, bukan karena itu. Sudah lumayan banyak pria yang datang padanya, namun tidak ada yang pernah mencapai jenjang perkawinan. Semuanya kandas di tengah jalan. Macam-macam alasannya. Ada yang karena sang bapak dan ibu tidak setuju meski Inna telah setuju. Ada pula yang karena Inna telah setuju namun bapak dan ibunya menolak. Yang ini juga karena bermacam-macam alasan. Entah karena sang pria belum memiliki pekerjaan yang pasti, karena tidak sederajat dengan Inna dari segi pendidikan, karena agamanya kurang baik, dan lain sebagainya. Dan yang paling tragis adalah saat ketiganya telah setuju: Inna, bapak dan ibunya. Namun na’as, sang pria harus meninggal karena tertabrak kereta. Dramatis.

Di tengah kegundahannya pada penantiannya yang panjang akan kedatangan pangeran penyelamat, ia terus memanjatkan doa pada Sang Penguasa Hati. Tiap malam ia bangun untuk bersimpuh memohon pada Ilahi agar segera diberikan jodoh yang terbaik bagi dirinya. Hari berganti bulan, dan doanya terkabul. Kini ada seorang pria yang datang pada dirinya. Tidak jelek wajahnya. Namun untuk dikatakan ganteng jauh lebih sulit. Sebenarnya Inna telah mengenal pria ini sejak lama. Ia merupakan adik dari gurunya sewaktu SLTA. Sudah sejak tiga tahun yang lalu pria ini mendekati Inna. Namun selalu ditampik hanya karena Inna tidak menyukai wajahnya. Pria ini datang lagi untuk yang kesekian kalinya. Tapi kali ini, Inna tidak membuang muka begitu saja. Ia memilih untuk shalat Istikharah terlebih dahulu. Anehnya, di shalat itu ia seolah medapat petunjuk dari Sang Maha Esa untuk menerima pria berwajah tak menyenangkan hatinya yang telah tiga tahun ditolaknya. Berat sekali bagi Inna untuk menerima kenyataan ini. Akan tetapi, keadaan pula yang membuatnya mau tak mau berpikir seribu kali untuk menolak pinangan pria yang satu ini. Usianya kini telah 32 tahun. Bagaimana kejadiannya seandainya ia menolak adik dari mantan gurunya sewaktu SLTA ini? Akankah ia bisa menemukan pria lain yang bisa dijadikan suami? Runyam.

Singkat cerita, setelah berpikir matang-matang, akhirnya Inna menerima cinta sang pria. Resmilah mereka menjadi suami istri. Dan betapa kagetnya Inna melihat kenyataan bahwa suaminya ini, yang telah ia tampik selama lebih dari tiga tahun, yang mukanya jelek di matanya, adalah pria penyayang melebih pria manapun juga di muka bumi. Ia merasa bahagia bersuamikan seorang yang amat penyayang. Di matanya sekarang, pria ini jauh lebih tampan melebihi nabi Yusuf sekalipun. Hari-harinya penuh diliputi kebahagiaan.

Hingga suatu saat, setelah melalui masa pernikahan sampai dikarunia anak sebanyak lima orang, Inna berpesan untuk setiap wanita melalui adiknya itu: “Terimalah pinangan seorang pria yang benar-benar tulus mencintaimu lahir dan batin. Jangan engkau pernah menolaknya sekalipun karena tak akan kau jumpai lagi ada pria yang lebih baik dari dirinya setelah engkau menolaknya.”

Sang raja heran, mengapa anak semata wayangnya ini sama sekali berbeda dengan dirinya. Ia tak memiliki semua syarat yang dibutuhkan untuk menjadi raja. Kharisma, kepribadian, karakter, kekuatan narasi (pidato), kecerdasan kognitif, kemauan, fisik, semangat, dan lain-lainnya. Semuanya minus. Sungguh sangat berbeda dengan dirinya yang memiliki itu semua sama baiknya. Apa yang harus ia lakuan? Siapa lagi yang harus menggantikan dirinya kelak jika bukan anak tunggalnya itu. Orang lain tak mungkin. Tapi ia yang seorang ini tak bisa diandalkan untuk memimpin kerajaan sedemikian besar. “Bisa hancur nanti”, bisiknya dalam hati.

Semua cara telah ia lakukan. Mendatangkan guru, menyekolahkannya, mendadarnya secara individu lewat dirinya, mendatangkan dukun, dan lain sebagainya. Nihil. Tak bisa. Tak berhasil. Ia hampir putus asa. Dan di ujung tanduk keputus asaannya itu, ia beroleh sebuah ide brilian. “Mungkinkah kudatangkan seorang bidadari cantik nan jelita untuk dirinya?”. Sang raja tersentak. Segera bangkit berdiri untuk berkeliling ke seluruh penjuru dunia mencari permaisuri yang memiliki semua kehebatan dan kebaikan di dalam dirinya: kehebatan akal, kehebatan hati dan kehebatan fisiknya. Ia butuh wanita yang super lengkap. Memiliki gabungan: cerdas secara otak, matang secara spiritual, elok secara paras. “Aduh nian,, dimana harus kucari. Kalaupun ada wanita aduhai seperti itu, tentu aku juga mau”, gumamnya sambil cekikikan. “Akan kucari hingga ke ujung dunia sekalipu. Demi anakku tercinta yang akan mewariskan kerajaan ini”.

Setelah mencarinya dan berkeliling ke seluruh pelosok bumi dan langit, akhirnya ia menemukan gadis impian itu. Gadis pujaan semua pria, semua orang, semua jin, semua setan dan semua malaikat. Ia yakin, tak mungkin ada pria baik itu dari golongan manusia, jin dan malaikat yang mampu menolaknya untuk menjadi istrinya. Parasnya cantik bak purnama, kulitnya bening sebening mata air, matanya indah murni tanpa softlens, hidungnya mirip hidung pinokio, giginya rapi membentuk barisan paspampres, akhlaknya indah pertanda agamanya sudah matang, tuturnya halus membuat semua orang yang mendengar seketika luruh. Sempurna. Adakah lagi wanita yang lebih agung dari dirinya?

Sambil memboyongnya ke kerajaan, sang raja tak henti-henti berdoa dalam hati agar puteri ini mampu membuat anaknya berubah seketika. Ia berharap semoga perubahan-perubahan itu mampu menjadikan anaknya siap untuk menggantikan posisinya sebagai raja, kelak. Semoga wanita ini membawa berkah.

Jam berganti hari yang kemudian ditelan bulan dan tahun, luar biasa. “Eureka eureka,,, Anakku berubah. Anakku berubah”, teriaknya sambil melompat tanpa busana. Yah,,perubahan itu terjadi. Seketika sang anak berubah menjadi baik. Semuanya menjadi baik. Menengok ke sini berubah. Melongok ke sana berubah. Semuanya kebaikan. Terlihat sekali dari pancaran wajahnya. Wajahnya penuh berseri-seri. Berbeda dengan dahulu yang selalu murung. Semangatnya hidup. Penuh vitalitas dan daya ledak. Seketika ia rajin belajar. Tak pernah menghabiskan waktunya untuk berleha-leha. Kemampuan orasinya perlahan mulai terlihat. Jiwa leadernya muncul ke permukaan. Tak kurang, ia rajin berdandan: menyisir rambut, memakai wangi-wangian, bersiwak dan memakai pakaian yang indah-indah. Penuh kharisma dan wibawa.

“Ajaib. Hanya gara-gara wanita anakku berubah. Rupanya, ini rahasianya”. Sang raja senang bukan main. Ia yakin dan optimis, anaknya ini sebentar lagi akan mampu memimpin kerajaan. Tak diragukan lagi. Maka usailah sudah kebingungan sang raja perihal anaknya itu. Kini ia hanya bisa beryukur pada gadis ajaib yang mampu membawa perubahan besar pada diri anaknya. Dan ia pun tak kurang bersyukurnya pada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah menciptakan gadis cantik semlohai penuh pesona itu.

Hatinya tercekat. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat ia mengingat kejadian itu. Kejadian yang membuatnya jatuh tersungkur tak berdaya seperti saat sekarang ini. Ia harus menelan pil pahit kenyataan bahwa cintanya harus kandas di tangan orang tua sang gadis. Ibu sang gadis tak setuju menikahi anaknya dengan pria itu hanya karena alasan yang tak masuk diakal: tradisi. Tradisi sukunya yang Arab tak mengizinkan anaknya untuk dinikahi oleh orang di luar suku Arab. Hanya karena itu. Sesederhana itu cintanya menuju pelaminan harus kandas. Tragis. Kejam. Tak berperikemanusiaan. Putus asa. Lemah tak berdaya. Nasibnya kini.

Padahal, jika sang ibu mau membuka hati sedikit akan perjuangan pemuda itu, pantaslah dirinya merasa iba. Iba sekaligus kagum pada pemuda itu, seharusnya. Segalanya telah ia lakukan. Segalanya telah ia kerjakan. Hanya untuk pujaan hatinya itu. Tak terhitung hari lamanya ia berjuang untuk mempersiapkan diri jika seandainya cintanya itu bermuara juga pada pernikahan. Ia telah mempelajari segala sesuatunya terkait pernikahan. Mulai dari mengapa ia ingin menikah? Mengapa gadis itu yang ia pilih? Apa arti pernikahan bagi dirinya? Untuk apa dia menikah? Mau dibawa kemana keluarganya kelak setelah menikah? Sampai pada tataran teknis tentang bagaimana suami istri berhubungan. Tak lupa, ia pun telah mempersiapkan diri mempelajari segala sesuatu terkait hak-hak dan kewajiban pasangan suami istri. Pengetahuan tentang anak pun tak luput dari pikirannya.

Mentalnya jauh-jauh hari telah dipersiapkan. Ia tak mau gegabah mengambil keputusan itu. Keputusan untuk menikah. Harus ada alasan yang tepat bagi dirinya mengapa ia ingin menikah. Ia tak mau tergesa-gesa. Keputusannya untuk menikah adalah keputusan yang matang mengingat usianya telah cukup untuk menuju bahtera rumah tangga. Semata-mata ia takut terjerumus kedalam kenistaan. Semata-mata ia takut berlumur dosa. Semata-mata ia ingin menjalankan sunah Rasul.

Ia pun mulai melatih dirinya dalam hal kemampuan menciptakan materi. Tidak, tidak. Dia tidak hanya melatih, tapi dia telah membuat materi itu. Dia telah menghasilkan cukup uang untuk meminang sang gadis yang ia kumpulkan dari kerja serabutan membanting tulang. Meski tak terlalu besar, tapi uang itu cukup untuk biaya perkawinannya. Karena memang kesederhanaan yang ia inginkan. Buat apa bermewah-mewah? Ia berpikir, toh lebih baik uang itu diinvestasikan saja pada hal-hal yang menunjang masa depannya kelak.

Tapi itulah kenyataan. Kenyataan bahwa cintanya tertolak. Bukan oleh sang gadis. Justru oleh orang tua sang gadis. Maka untuk melampiaskan rasa kecewanya itu, ia pun memutuskan untuk mengembara. Pergi ke suatu tempat yang sangat jauh antah berantah. Tujuannya hanya satu: untuk dapat melupakan sang gadis.

Hari berganti hari dan bulan berganti bulan. Hingga suatu ketika, ia mendengar kabar bahwa sang gadis pujaan hatinya itu bunuh diri karena tak kuat menjalani kehidupan bersama pria pilihan ibunya. Tragis.

Melihat kenyataan itu, sang pemuda hanya menarik nafas dalam-dalam dan berkata dalam hati, “Seandainya …”

Hikmah: semoga para orang tua sadar bahwa ada hal yang jauh lebih penting ketimbang hanya memikirkan masalah tradisi. Yang jauh lebih penting untuk diperhatikan adalah masalah hati. Dua hati seiman yang telah terpaut dengan cinta, layaklah untuk kita dukung menuju pelaminan. Permudahlah dan jangan dipersulit. Niscaya Allah akan meridhai perkawinan mereka. InsyaAllah berkah.

Dalam rangka meramaikan dunia blogging Indonesia, ane, “makhluk hidup” bernama asli Ali, turut serta menyumbankan sebuah tembang kenangan FiksiMini (FikMin) yang dapat sodara-sodara liat di bawah ini. Mohon maaf apabila ada kesamaan karakter, tokoh, sifat, cerita dan lain sebagainya. Mohon dimaklumi karena sang pembuat -saya sendiri- tidak bermaksud untuk menyamakannya. Hanya bermaksud untuk MERAMAIKAN kontes fiksi mini yang diadakan oleh link berikut:

http://akubunda.wordpress.com/2010/05/16/wi3nda/

berikut fiksi mininya yang berjudul Kepala Sekolah:

“Ali, bangun. Kamu bisa telat”

“Ga mau ke sekolah. Nanti diledekin”

Ibu pun ngedumel, karena Ali, sang kepala sekolah, tak urung bangun.

LAMUNAN DI PAGI HARI

Pagi datang menyapa bumi. Mentari mulai terlihat di upuk timur sana. Mulanya ia malu-malu untuk bangun. Tapi semakin ke sini, keberaniannya kian membesar. Dan terlihatlah ia sekarang dengan pesonanya yang membius siapa saja di pagi hari ini. Pagi ini begitu indah. Senyum mereka pada setiap makhluk yang kulihat di sekelilingku. Mungkin karena ia telah terbebas dari bekapan malam yang meneror dengan sangat ganasnya. Hujan turun dengan amat lebatnya semalam. Disertai raungan guntur yang menggelegar disana sini. Petir dan halilintar saling menyambar dan berkejaran di angkasa untuk kemudian jatuh di permukaan bumi. Malam tadi alam memang sedang murka. Mungkin Tuhan hendak menghukum siapa saja yang berani menentang akan segala titah-Nya. Tak sedikitpun ruang tersisa bagi setiap makhluk untuk bergerak melintasi prahara yang sedang mengamuk. Segala yang ada di bumi terkungkung dalam kerangkeng petaka malam ini.

Namun selalu seperti itu. Bahwa habis gelap terbitlah terang. Pagi ini terang benderang. Bumi dan langit dan segala isinya merekah untuk merenda hidup yang baru. Tak surut walau gempuran alam begitu dahsyatnya semalam. Aku berhambur melalui jendela di lantai dua untuk sejenak menikmati indahnya pagi hari ini. Kutatap sang mentari dengan sinarnya yang mengandung ultraviolet yang bisa menyehatkan tulangku dan mempertajam sorot mataku. Kukedipkan mataku secara perlahan membiarkan sejumprut sinar memasuki mataku melalui celah sempit kelopak mata. Kugerakkan seluruh badanku untuk mendapatkan basuhan lembut sinarnya sekaligus untuk meregangkan otot yang ikut membeku bersama matinya kehidupan semalam. Kurentangkan tangan sambil mengacungkan kepalan tangan ke udara seraya berkata, “Duhai dunia, aku siap melalui hari ini”. Kuambil bangku favorite yang biasa menemaniku hampir di setiap pagi hari. Secangkir teh telah terhidang. Sejurus aku duduk di bangku itu dan kuseruput teh itu dalam hitungan detik. Kubiarkan lama-lama teh itu menjalari seluruh rongga mulutku. Sambil memejamkan mata. Menikmati hangatnya teh serta belaian lembut angin yang bertiup sepoi-sepoi. Tiba-tiba, aku teringat akan sekelumit mozaik potongan hidupku yang telah terlewati. Begini certanya:

Aku teringat akan masa-masa SD-ku dulu. Betapa lucunya aku saat itu. Lucu dalam artian yang sebenarnya. Aku bukanlah anak yang spesial. Bukan pula anak yang pintar. Bahkan cenderung bisa dikatakan anak yang bodoh bin dungu. Selama enam tahun masa studiku di SD waktu itu. Hanya satu kali aku mendapatkan gelar kehormatan di atas podium. Yaitu saat aku kelas 3 caturwulan 3 dengan meggondol ranking 3. Aku tidak tahu ada apa dengan angka tiga ini. Mungkinkah angka 3 adalah angka keberuntunganku? Ah, mungkin ini hanyalah kebetulan semata. Sisanya, aku harus merengguk kenyataan pahit tersingkir dalam zona bergengsi kelas. Aku menjadi murid yang terpojokkan selama enam tahun itu. Terutama dalam hal akademis. Namun demikian, tidak melulu aku bisa diremehkan seperti itu. Ada dua hal yang membuatku bangga pada saat itu. Yaitu hal-hal yang berkaitan dengan pergaulan dan mata kuliah olahraga. Sehingga aku tak perlu minder dengan keseluruhan hidupku di sekolah.

Aku bisa bergaul dengan siapa saja pada saat itu. Tidak seperti teman-temanku yang lain yang hanya mau bergaul dengan orang-orang satu paguyubannya. Aku telah terbiasa untuk berbaur dengan siapapun itu. Aku tidak pernah mensekatkan antara satu kelompok dengan kelompok yang lain. Bagiku semua kelompok sama saja. Justru yang membedakannya adalah keterbukaan kelompok itu untuk bisa menerima kelompok-kelompok yang lain. Itulah ciri-ciri orang atau paguyuban yang dewasa menurutku. Aku biasa berloncatan dari satu kelompok ini ke kelompok itu. Mirip seperti kutu loncat. Aku diterima mulai dari kalangan orang-orang cerdas akademisi, geng yang berisi anak-anak nakal dan bodoh, golongan kiri, golongan kanan, yang berhaluan agamis, para olahragawan, anak-anak guru, anak-anak musik, kaum nasionalis, status qou, konservative,  dan lain-lainnya. Aku bisa berbaur dengan mereka semua. Bahkan aku sudah terbiasa bergaul dengan lintas agama dan lintas sekolah.

Disamping itu, aku unggul di bidang olahraga. Hampir di semua cabang olahraga aku unggul dibanding teman-temanku. Baik cabang olahraga yang mayoritasnya adalah lelaki maupun yang mayoritasnya adalah perempuan. Baik cabang olahraga yang masuk dalam kurikulum sekolah ataupun cabang yang hanya diperlombakan saat istirahat sekolah pukul sepuluh atau saat pulang sekolah. Aku unggul mulai dari: lari maraton, sepak bola, bola basket, kasti, voli, tenis meja, bulu tangkis, galaksin, benteng, petak kumpet, takcor hingga karet, bekel, ular tangga, monopoli, congklak, dan lain-lainnya. Hal inilah yang membuatku cukup bangga meskipun otakku saat itu bisa dibilang dungu. Hanya dua ini saja sudah membuat namaku melambung tinggi di kelas bak roket yang siap meluncur membumbung tinggi di angkasa. Banyak sekali wanita yang melirikku saat itu. Kadang aku menjadi amat malu mengapa aku bisa demikian tenarnya di kelas. Padahal, sekali lagi padahal, otakku ini adalah otak udang.

Sejenak aku teringat akan kebodohan-kebodohan yang pernah terjadi pada diriku. Aku ingat dulu bahwa aku tak pernah mengetahui kalau pelajaran yang ada setiap hari sudah ada jadwalnya masing-masing. Alhasil, hampir setiap hari selama enam tahun itu aku membawa buku yang sama ke sekolah. Aku baru menggantinya jika buku catatanku telah habis terisi oleh catatan-catatan anehku. Dan aku juga memiliki kebodohan yang lain lagi. Aku tidak paham saat itu bahwa daftar presensi kelas yang ada diurutkan sesuai dengan urutan dalam abjad. Aku baru memahaminya saat aku duduk di bangku SLTP kemudian. Ah, betapa bodohnya aku saat itu.

Aku masih duduk di bangku dan masih memegang secangkir teh itu. Sejenak kulihat raja siang mulai memperbesar intensitas pancaran cahayanya. Kini ia telah menjelma menjadi bulat sempurna. Kubiarkan saja tubuhku diterkam dan ditusuk oleh sinarnya. Dan saat aku mulai untuk menyeruput tehku untuk yang kedua kalinya, aku teringat akan masa-masa indahku sewaktu aku berada di SLTP. Setelah lulus dari SD, aku langsung masuk ke sebuah sekolah berhaluan Islam. Aku tak tahu mengapa aku bisa terhempas kesana. Mungkin karena jaraknya yang cukup dekat dengan rumahku. Hanya berjarak sekitar 150 meter ke arah timur dari rumahku yang bisa dicapai dengan menerabas pesawahan di belakang rumahku. Nama sekolah itu adalah Mts (Madrasah Tsanawiyah) Negeri 15 Marunda. Sebuah sekolah biasa yang masih minim akan jumlah murid serta masih minim akan prestasi. Jelas saja aku bisa dikontrak sekolah itu meski NEM ku sangat kecil, alasannya kutahu kemudian karena sekolah itu memang sedang kekuarang murid. Hanya tiga kelas untuk satu angkatan. Jadi, siapapun yang mendaftar kesana, hampir bisa dipastikan ia akan diterima dengan lenca kehormatan 100 persen.

Prestasi akademisku, perlahan-lahan mulai menanjak di sekolah ini. Kalau ia bisa diibaratkan dengan sebuah grafik, maka ia adalah grafik fungsi kuadrat dengan nilai dari koefisien X kuadratnya adalah negatif. Namun demikian, ia tetap mencapai titik jenuhnya saat aku berada di kelas dua semester dua. Itu adalah saat kenaikan kelas menuju kelas tiga. Nilaiku terjun bebas di kelas dua itu. Tapi aku berhasil bangkit di kelas tiga. Nah, di kelas tiga inilah semuanya terasa begitu indah bagiku. Terasa begitu mengesankan. Bisa dibilang bahwa masa-masa terindah aku saat menuntut ilmu di lembaga formal adalah saat aku duduk di kelas 3 Mts itu.

Aku teringat kejadian jatuh tersungkur di kelas dua semester dua itu. Semua bermula saat aku mati kutu menghadapi derasnya gempuran ilmu yang diterorkan oleh guru-guruku. Dan saat-saat kenaikan kelas dan menerima raporku, aku mendapatkan kartu merah untuk banyak mata kuliahku. Termasuk di dalamnya matematika. Perlu kawan ketahui bahwa matematika ini adalah pelajaran yang paling aku benci, paling aku hindari, paling sulit kumengerti, paling males untuk kupelajari, paling sulit dipahami, paling-paling buruk nilainya diantara mata kuliah yang lain. Namun, semuanya berubah berkat kejadian itu. Kejadian saat aku terlempar dari zona podium terhormat kelas. Aku terhempas jauh. Dan saat itu seperti segalanya runtuh. Badai dahsyat itu demikian kuatnya mengoyak-ngoyak tubuhku. Aku menangis sesenggukan. Sampai dirumah aku uring-uringan. Orang tuaku sampai keheranan sendiri. Pasalnya, aku yang mulai bergeliat sejak kelas satu Mts harus menelan pil pahit nilai rapor.

Nah, disaat seperti itulah malaikat penolong itu datang. Malaikat itu adalah kakakku sendiri. Kakak kandungku sendiri. Seorang wanita dewasa baik dari segi pemikiran maupun segi usianya. Kebetulan ia baru lulus dari studinya di Yogyakarta. Ia ambil jurusan matematika di UIN Yogyakarta. Dan kebetulan saat itu ia telah menggondol gelas Sarjana Pendidikan untuk bidang matematika. Baru beberapa hari ia datang dan tingal di rumah bersama-sama keluargaku.

Desas desus tentang kebangkrutan akademisku itu sampai juga ke telinganya. Malamnya ia datang ke kamarku. Aku masih sesenggukan di kamar. Dia datang dengan gayanya yang keibu-ibuan. Dia usap bagian batok kepalaku. Ia tanyakan tentang kabarku. Tentang mengapa aku menangis. Lalu aku jelaskan padanya kalo semuanya ini ulah rapor yang berani datang dengan muka yang buruk kepadaku. Merah padam disekujur tubuhnya. Ia mendengarkan dengan penuh minat. Sesekali ia menganggukan kepala. Ia masih terus mendengarkan keluh kesahku. Hingga saatnya aku tak kuat lagi menanggung beban air mata yang selalu meminta untuk menetes. Hingga sejurus kemudian aku telah berada di dalam bekapannya dengan kucuran air mata yang menderas.

Lalu ia mulai berkhotbah menitakan untaian nasihat yang selanjutnya turut mengubah kehidupanku ke depannya. Ia mulai bercerita tentang perjuangan kuliahnya di Yogya sana. Ia bercerita tentang pentingnya kita prihatin. Ia bercerita tentang pentingnya usaha maksimal. Ia bercerita tentang pentingnya tawakal pada Allah. Dan satu yang paling aku ingat nasihatnya hingga hari ini. “Dik, kalo belajar bo ya dicicil to. Biar ga berat nanti saat ujian. Coba adik biasakan untuk belajar di subuh hari ba’da shalat tahajud. Ga usah lama-lama, cukup setengah atau satu jam saja”.

Esoknya aku mulai mengaplikasikan apa yang kudapat dari sang kakak. Aku mulai melirik matematika yang sebelumnya adalah ilmu yang paling menebarkan teror maut pada diriku. Mulanya aku menanyakan hanya satu dua soal kepada kakakku. Tapi intensitasnya begitu mencengangkan. Setiap hari aku secara rutin belajar matematika. Mulai memelucuti misterinya sedikit demi sedikit. Kian hari kian menggairahkan. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku. Aku mulai terbius dalam lamunan panjang tanpa ujung pencarian misteri angka. Ada apa ini. Mengapa bisa seperti ini. Mengapa bisa jadi demikian lezat. Mengapa bisa jadi demikian nikmat. Mukjizatkah ini?

Aku mengawali kelas tiga itu dengan jiwa fress penuh dengan keoptimisan. Pasalnya satu: aku telah mendapatkan rasa percaya diri. Dan kini semangatku sedang berada di puncak umbun everest. Sontak dikelas aku menjadi buah bibir. Gunjang-ganjing di kelas, semuanya membicarakan aku. Katanya: senyumku demikian merekah bak bunga kembang sepatu yang sedang bersemi. Setiap ada pelajaran matematika, aku selalu duduk di bangku yang paling depan. Leherku menjulang tinggi seolah jerapah yang tak mau makanannya direbut oleh kompetitor. Aku selalu unjuk jari jika ada soal yang dikhususkan untuk dijawab oleh setiap siswa. Guruku sampai pangling kubuat. Kuliahat matanya nanar penuh dengan kesyahduan. Seolah berkata Einsteinku telah datang.

Ujungnya adalah saat sekolah hendak menyeleksi siswa-siswi super jenius untuk menjadi delegasi kehormatan dalam ajang kompetisi matematika se-Jabodetabek untuk tingka Mts negeri dan swasta. Rencananya, sekolahku akan menjaring 6 siswa-siswi jawara yang akan mewakili sekolahku. Singkat kata, aku menjadi satu dari 6 abdi sekolah yang beruntung. Keenam orang itu dipecah menjadi 2 kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari tiga orang. Kebetulan kelompokku adalah kelompok yang lebih di unggulkan.

Dimulailah pagelaran itu. Mulanya diseleksi untuk tingkat kotamadya. Yaitu seluruh Mts negeri dan swasta yang ada di Jakarta Utara karena aku dan sekolahku berada dalam lintang Utara Jakarta. Dan kami sempat kaget, kamilah juara satu untuk tingkat kotamadya itu. Di final kami mengalahkan sepupu tua sekolah kami, yaitu Mts 5 Cilincing. Sialnya, kru kami yang lain harus gagal di babak penyisihan. Maka jadilah kami sebagai satu-satunya tim yang mewakili Jakarta Utara dalam ajang bergengsi itu. Putaran finalnya akan dilangsungkan di kampus UIN Syarif Hidayatullah Ciputat, Jakarta. Kami bertiga sangat senang. Pun dengan guru-guru dan pihak sekolah. Sontak sekolah kami dipenuhi oleh yel-yel kebanggaan. Maklumlah, sekolah kami bukanlah sekolah favorit yang biasa menggondol gelar jawara dalam ajang-ajang kompetisi bergengsi.

Semenjak saat itu, kami bertiga dispesialkan. Kami harus ikut penggemblengan secara intensive. Kami digenjot habis-habisan. Kehidupan kami diisolasi. Berlatih setiap hari mengerjakan soal-soal yang bagi kebanyakan anak seusia kami akan sangat kualahan jika disuruh untuk mengerjakannya. Tapi kami harus menang. Kami harus juara. Apapun yang terjadi. Rintangan seperti apapun yang akan menghadang di depan. Sekolah manapun yang akan kami hadapi. Kami harus menang. Kami harus mengalahkannya. Kami harus memboyong tropi juara itu. Ini adalah kesempatan yang sangat bagus bagi seluruh civitas academica sekolah. Terutama untuk mendongkrak pamor sekolah yang tidak pernah bersinar semenjak berdirinya institusi ini. Semua pihak bahu membahu. Semuanya mendukung. Semuanya mulai bekerja. Hingga saatnya tiba event bersejarah itu. Maka, lembar pertualangan telah terbuka bagi kami.

Kami datang ke kampus UIN itu dengan semangat yang menyala-nyala. Pijar cahaya kulihat pula pada penampakan wajah ke dua sohibku itu. Seolah wajahnya adalah kunang-kunang yang berseliweran di malam yang kelam. Tapi kawan, ciut juga nyali kami melihat pemandangan yang ada disana. Tenyata banyak sekali peserta yang akan berlaga disana. Kami bergetar melihat kerumunan kontestan yang menggunakan jubah megahnya kesana. Menggunakan kaca mata serta bertampang penuh daya kejut intelektualitas. Kami meringkuk di ketiak pendamping kami saat mendengarkan beberapa kandidat jawara memekikkan suara-suara aneh seperti: integral, differensial, gradien, trigonometri, kurfa parabola, definite, SPL, pemrograman linier, aljabar, dimensi n, regresi, kofarian, alfa, beta, gama, chi square, binom newton, teorema cauchy, gauss, lemma, corollary, bilangan imajiner, hiperbola, elips, kontinyu, dan masih banyak yang lainnya. Jika sudah seperti itu, mud kami langsung encok. Tak nyenyak lagi kami belajar. Akhirnya kami memutuskan untuk tidak belajar lagi disana.

Aku meminta izin pada pembimbingku untuk pergi ke kamar kecil. Tiba-tiba perutku terasa mual dan mulas. “Jangan lama-lama. Ajangnya segera dimulai”, pesan pendampingku. Sesampainya di kamar kecil, aku langsung membasuh muka dengan air. Dingin menyeruak di sekujur kepalaku. Kurasakan menggigil menjalar di seluruh permukaan tubuhku. Sakitkah aku. Haruskah aku melarikan diri dari ajang ini. Haruskah aku mundur saja. Pikiran-pikiran itu yang bertebaran di dalam benakku. Tapi segera kuingat perjuanganku selama ini, kuingat akan masa-masa bodohku saat di SD dulu, kuingat kakakku di rumah yang turut andil pula merubah hidupku, kuingat pula wajah orang tuaku, kuingat wajah guru dan teman-temanku di sekolah. Haruskah aku mundur padahal kesempatan itu sedang ngejogrog di depanku. Tidak teman, tidak boleh. Aku tidak boleh menyerah. Ini adalah pengalam pertamaku. Aku tidak boleh mundur. Aku harus kerahkan semua kekautanku. Aku harus tetap tenang. Aku harus tetap optimis. Kubasuh lagi kepalaku dengan air. Aku keluar dan segera kuhirup udara segar di pelataran kampus. Kutemui tim ku. Aku katakan kepada mereka semya bahwa aku telah siap. Dan kita pasti bisa menang. Sejurus kulihat tatapan semangat mulai berkobar di wajah kedua sahabatku itu.

Dimulailah ajang bergengsi itu. Masing-masing dari kami harus mengerjaka soal babak penyisihan berupa pilihan ganda. Dan nanti akan dipilih 12 regu dari 36 tim yang ada. Kami mengerjakan sebisanya kami. Dan saat pengumuman, betapa kagetnya kami melihat bahwa regu kami termasuk salah satu yang lolos ke babak final. Sontak kami berteriak memekik kegirangan. Berarti, hanya tinggal 11 tim yang harus kami singkirkan.

Rasa optimis kian membumbung tinggi dalam dada kami. Kami tak peduli lagi dengan segala apapun juga. Keyakinan kami hanya satu, tekad kami hanya satu, bahwa kami pasti bisa menang bagaimanapun caranya. Tapi kami menyadari bahwa tim yang lolos ke babak final ini adalah tim yang sangat tangguh. Kami melihat dengan mata kepala kami sendiri bahwa hampir seluruh tim yang tersisa berasal dari sekolah-sekolah favorite. Baik negeri maupun swasta. Hanya sekolah kami yang tak masuk dalam hitungan sekolah unggulan. Pendamping kami meyakinkan bahwa sekolah tak menjadi jaminan bahwa mereka bisa mengalahkan kami. Semangat kami kembali menemukan kurva yang tepat untuk menanjak.

Dan tepat sehabis shalat Dzhuhur, dimulailah babak penentuan untuk mencari 3 tim sebagai kandidate juara 1, 2, dan 3. Adapun soal yang diujikan kali ini berbentuk pertanyaan esai yang dibacakan oleh dewan juri yang harus dijawab saat itu juga. Dan terakhir adalah sesi persentasi ke depan forum untuk melihat jawaban dari soal penentu kemenangan yang akan diberikan pada tiap-tiap regu. Saat persentasi itulah kami merasa seperti sekelompok terdakwah yang sedang menjalani persidangan akibat ulah dosa-dosa kami. Kami seperti sedang diteror di depan orang-orang yang penuh dengan digdaya. Jantungku tercekat saat persentasi di depan sana. Aku, orang yang seumur-umur belum pernah mempresentasikan makalah di depan podium yang terhormat, kali ini harus merasakan pengalaman yang penuh dengan euforia ketegangan itu. Presentasi pun selesai. Dan kami melihat pada tatapan binar penuh pancaran kebahagiaan yang ditebarkan oleh wajah-wajah pendamping kami. Dari wajahnya itu sempat kulihat harapan bahwa kami bisa untuk menjadi kandidate juara, masih terbuka lebar.

Babak final selesai. Dan kami segera berhambur untuk beristirahat sambil menunggu hasil olah tim juri untuk menentukan 3 kelompok yang akan menjadi juara. Kami langsung diboyong ke kantin yang ada di kampus itu. Di kantin itu, tak henti-hentinya kami dipuji oleh pendamping sekaligus guru kami di sekolah. Padahal, pengumuman belum juga ditentukan. Namun para pendamping kami sangat optimis bahwa paling tidak kami bisa berada di posisi tiga. Alasannya karena presentasi kami tebilang salah satu yang bagus. Tak henti-hentinya kami berdoa di dalam hati. Belum apa-apa aku sudah menghayalkan yang macam-macam. Mulai dari nanti pasti akan di arak di altar suci gedung sekolah, diberikan hadiah yang mungkin tidak sedikit, diumumkan ke seluruh penjuru kampung, dan tentunya akan banyak sekali wanita-wanita cantik yang akan melirik aku. Aih, betapa indahnya jika kami bisa juara.

Seusai makan, kami langsung menyambangi tempat diumumkannya kejuaraan ini. Sesampainya di ruangan itu, kami langsung dikejutkan dengan tropi besar yang teronggok di depan sana. Ia ditempatkan di atas bangku yang telah dihias sedemikian rupa hingga menambah keindahan tropi itu. Air liur kami menetes-netes bak anjing yang sudah tiga hari tak bertemu tulang. Tropi itu demikian megahnya. Hingga kami berasumsi bahwa keudikan dan keterasingan sekolah kami akan musnah seketika jika kamilah yang menenteng tropi megah itu di depan sana.

Dewan juri masuk dengan kewibawaannya. Jantung kami berdegub. Sejenak kemudian kami tak bisa bernafas. Sebentar lagi keputusan besar itu akan diumumkan. Detik-detik itu begitu lama sekali kami rasakan. Seolah waktu memang benar-benar berhenti. Kami masih terus berdoa sambil memejamkan mata. Kami dan pendamping saling berpegangan tangan. “Ya Allah, berikanlah kami kemenangan. Berilah kami yang terbaik ya Allah”. Dan seketika itu juga dunia meledak menebarkan aurora diatas bintang kejora. Dunia serasa ringan. Tubuh kami lebih ringan lagi. Kami serasa melayang-layang di udara. Kulihat dunia dipenuhi dengan bunga yang berwarna warni saling berterbangan. Tempias cahaya redup-redup menambah keromantisan moment itu. Suara dewan juri terdengan begitu indahnya terdengar di telinga. Melolong-lolong membuat telinga kami bergerak ke bawah ke atas. Moment inilah yang kami tunggu. Saat inilah yang kami nantikan. Akhirnya, terjawab sudah perjuangan panjang kami. Kami berhasil duduk di bangku ke dua. Sebuah prestasi yang amat membanggakan bagi anak udik dan sekolah terbelakang kami. Tak dinyana betapa bahagianya hati kami. Kami bersungkur bersujud pada Allah SWT atas semua yang telah dianugerahkannya pada kami. Dan moment ini, peristiwa ini, kejadian ini, ajang ini, lomba ini, event ini, akan mengisi lembaran sejarah hidup kami yang tak akan pernah terlupakan selamanya. Thank to our god.

Sejenak lamunanku terbuayarkan. Kicau burung membangunkan khayalanku akan sepotong kisah hidup yang pernah kualami. Itulah moment yang paling mebanggakan dalam sejarah hidupku. Kulihat di atas sana. Gumpalan awan merekah saling berkejaran bak biri-biri berbulu putih yang sedang berebut makanan. Gelinjangnya terus berseliweran di atas kanvas langit kehidupan. Aku suka akan pagi hari. Aku cinta akan mentari pagi. Aku selalu tekesan akan awan-awan yang hidup di atas sana. Dan aku begitu takjub melihat langit luas yang menjulang tinggi tanpa tiang penyangga. Kuseruput sisa tehku yang mulai mendingin. Kuhabiskan dalam tenggakan yang terakhir itu. Dan aku bersyukur atas semua karunia yang telah Allah berikan pada hidupku ini.

SINOPSIS

Lamunan di pagi hari. Sebuah kisah dari seorang anak yang telah beranjak dewasa, yang disuatu pagi teringat kembali akan potongan mozaik kisah hidupnya yang telah lalu. Lamunannya berisi tentang lika-liku hidupnya sewaktu SD hingga ia mendapatkan gelar kehormatan sebagai juara kedua lomba matematika se-Jabodetabek untuk tingkat Mts (Madrasah Tsanawiyah) baik negeri maupun swasta. Dicerita ini dikisahkan bahwa sewaktu SD, sang anak bukanlah orang yang pintar dalam hal kemampuan akademis. Ia tak diperhitungkan dalam jajaran para jawara di kelas. Otaknya dungu bin bebel. Namun, ia memiliki beberapa kelebihan dibanding teman-temannya yang lain. Diantaranya adalah kelebihannya dalam bergaul dengan teman-temannya. Ia bisa bergaul dengan siapa saja dan bisa diterima oleh paguyuban manapu. Disamping itu, ia memiliki kelebihan yang lain yaitu keunggulannya dalam bidang olahraga. Ia menguasai hampir segala cabang olahraga yang biasa dipertandingkan di sekolahnya.

Lamunannya masih terus berlanjut hingga pada kehidupannya pasca SD. Ia masuk ke jenjang yang lebih tinggi di sebuah lembaga formal berhaluan Islam. Namanya Madrasah Tsanawiyah di kawasan marunda. Sekolah ini bukanlah sekolah ungulan. Ia masuk ke sekolah itu dengan NEM yang pas-pasan. Namun, kisah hidupnya berubah sejak di Mts ini. Grafik prestasi akademisnya mulai menanjak. Perlahan-lahan tapi pasti ia mulai bangkit dari kubang kebodohan. Hingga puncaknya ia harus terperosok di zona kelas akibat tak kuat mengikuti kuliah-kuliah berat yang disodorkan oleh sang guru. Ia jatuh tersungkur. Putus asa. Nah, disaat seperti itulah malaikat itu datang menolong. Malaikat itu tak lain adalah kakanya sendiri. seorang perempuan yang baru menyelesaikan studinya di UIN Yogyakarta. Major sang kakak adalah matematika.

Dari kakanya itulah ia mendapatkan sebuah nasihat yang untuk kemudian bisa mengubah hidupnya untuk bangkit dari keterpurukan akademisnya. Sedikit demi sedikit ia mulai belajar. Terutama ilmu matematika yang sebelumnya sangat dia benci. Namun, berkat dorongan dari sang kakak, ia menjadi keranjingan dengan ilmu yang satu itu. hingga kemudian, di sekolah ia mulai dilirik oleh guru-gurunya. Dan pada akhirnya, dia terpilih bersama lima orang yang linnya untuk mewakili sekolahnya dalam ajang matematika se-Jabodetabek untuk tingkat Mts baik negeri maupun swasta.

Singkat cerita, ia berhasil merengkuh podium kehormatan dengan menggondol peringkat kedua dalam ajang itu. Itu adalah gelar kehormatan untuk dia bersama sohib-sohibnya juga untuk guru-guru dan pihak sekolahnya.

Namaku telah tercatat dalam lembar sejarah umat manusia. Karena aku, seperti makhluk-makhluk yang lain, telah menetas dari alam yang penuh dengan kesucian menuju alam yang penuh dengan penderitaan. Namun kuyakini bahwa suatu saat nanti, aku dan kita semua akan menuju pada kehidupan maha abadi. Disanalah kan kita raih kebahagiaan hidup yang hakiki.

Rabu, tertanggal 18 November 1987, aku menyapa dunia. Suaraku mengguncang alam semesta. Membuat semua orang tersenyum penuh lara. Terlebih orang tuaku saat itu. Kini, setelah aku dewasa, mereka menceritakan semuanya padaku. “Kau tau nak, kelahiranmu ditandai dengan raungan adzan dimana-mana. Kau lahir tepat saat adzan maghrib bergema. Seharian itu alam diliputin kecerahan. Mentari pagi muncul dengan pesonanya. Menebarkan cahaya ke setiap penjuru dunia. Siangnya orang-orang pergi berbondong-bondong dengan siulan hati untuk mengais rizki. Sepertinya setiap orang yang saat itu aku jumpai, tertampak di wajahnya sebuah keoptimisan akan takdir hidup. Sorenya kulihat layang-layang bertebaran mengangkasa. Dan kau tau nak, ibu sangat menginginkan engkau seperti layang-layang itu. Lihatlah itu layang-layang, bukankah saat badai angin datang menerpa, dia tak pernah surut. Bahkan ia justru semakin tinggi membumbung menusuk angkasa saat cobaan hidup kian menderas. Lihatlah itu layang-layang, bukankah ia dengan bebasnya meliuk-liuk di atas kanvas langit kehidupan. Ia tak pernah terpengaruh dengan apapun jua. Ia terbang bebas untuk menemukan dirinya sendiri. Maka, jadilah engkau seperti layang-layang nak”. Itulah cerita kebanggaan yang sering disebarkan oleh ibuku tercinta. Tak pernah sekalipun ia bosan untuk menceritakan hal itu padaku. Bahkan iapun mengkhotbahkan pada dunia tentang lika-liku kelahiranku.

Aku keluar dari rahim seorang ibu yang taat akan perintah agama. Ayahkupun keturunan orang terpandang yang taat pula pada agama. Paman-pamanku dari pihak ibu, hampir semuanya adalah pemuka agama. Jadi bisa dibilang, aku ini adalah orang yang kiri kanannya dibalut penuh oleh nuansa keagamaan. Hal ini memang terlihat dalam desah nafas kehidupan keluargaku.

Dan kini setelah aku dewasa, aku memahami akan satu hal. Bahwa orang-orang yang terlahir dalam rahim keturunan orang-orang yang hanif, mereka itu pada dasarnya adalah orang-orang yang hatinya bersih. Akan mudah untuk mengembalikan mereka pada jalan yang benar apabila suatu saat orientasi mereka telah menyimpang. Cukup disentuh sedikit. Mereka akan kembali putih. Seperti baju putih yang sempat kotor akibat debu. Maka, hanya dengan merendamnya dengan sedikit deterjen, lalu dibilas, dan cling bersih seperti semula. Seperti itulah orang-orang yang terlahir dari ruh yang hanif. Dan kini kupahami, seperti itulah aku. Meski menyimpang seperti apapun, meski banyak kelalaian yang sering kuperbuat, akan dengan sangat mudahnya aku menyesali kesemuannya jika ada orang yang menasihatiku dengan hati yang ikhlas. Dan kehidupankupun kembali berjalan lurus menuju rel kehidupan yang hakiki.

Sebeanarnya, setelah menggondol gelar Mts (setingkat SMP), aku sangat ingin sekali merantau jauh untuk menuntut ilmu di pesantren-pesantren. Aku sangat ingin sekali menjadi Ustadz. Tapi, apa hendak dinyana. Orang tuaku mendelik matanya sesaat kusodorkan keinginanku itu padanya. Melotot hingga bola matanya seperti ingin melompat. ”Apa nak, kamu ingin masuk pesantren. Mau makan apa kamu nanti”. Hingga akhirnya, seperti inilah nasib hidupku.

Nasib hidup memang telah ditentukan oleh Allah. Terkait dengan hal ini, aku teringat akan wejangan dari seorang tokoh, sebut saja ia Ust. Herry Nurdi. Di dalam bukunya ”The Secret of Heaven” aku menemukan potongan kalimat yang tak akan pernah menghilang dari memori ini, ”Allah memberikan kebebasan untuk melakukan apapun di awal. Tapi Allah telah takdirkan semuanya di akhir”. Dan ada lagi ayat yang menambah pemahamanku akan takdir Allah. ”Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga orang itu sendiri yang mengubah nasibnya”. (Ar-Ra’d: 11). Nah, disinilah kupahami akan arti dari nasib hidup. Bahwa aku harus berusaha dahulu semaksimal mungkin. Adapun masalah finishing touch-nya, biarlah saja Allah yang menuntaskannya.

Maka kusyukuri saja kenyataan hidup yang kuperoleh bahwa aku harus menjalani potongan mozaik hidupku di sini, di kampus ini, Universitas Indonesia. Kenapa aku harus mensyukurinya? Ya, karna itu sudah menjadi takdir Sang Penguasa kehidupan. Lagi pula, siapa orang yang tidak bangga jika bisa berkuliah di kampus besar bertitelkan nama Indonesia? ”Pastilah ia orang yang tidak waras jika tak bersyukur bisa masuk UI”, gumamku seketika.

Di UI, aku kuliah di jurusan Komunikasi FISIP UI. Menjadi masyarakat civitas academica suatu institusi perguruan tinggi, sontak melejitkan hasratku untuk mengikut gaya-gaya yang biasa dipraktekkan oleh para kaum intelek. Kuduplikat saja semua gaya itu. Aku masih teringat saat-saat awal masuk kampus. Gaya bicaraku kulebay-lebaykan layaknya gaya seorang ilmuan gaek. Cara berjalanku, tak kurang tangan ini selalu kuumpatkan ke dalam celana. Tentunya berjalan sambil menunduk. Tak lupa pula aku berdehem tiga kali saat hendak berbicara. Rambutku selalu kusisir dengan amat rapihnya. Kelimis. Mirip oli yang ditampar sinar mentari pukul 12 siang. Pakaian yang kugunakan adalah pakaian yang biasa digunakan orang-orang kota terpelajar. Jeans dengan T-shirt terbaru. Tak sudi sikitpun aku menggunakan sandal dan kaos oblong ke kampus. Inti dari kesemuanya adalah: Aku sedang mabuk gaya orang kota berpendidikan tinggi.

Hari-hari kulalui hampir tiap hari di kampus. Aku telah kecanduan dengan dunia kampus. Ia semacam ekstasi bagiku. Pil penumbuh kegairahan. Betapa tidak, disini aku bisa menuntut ilmu disaat tidak semua orang bisa seberuntung aku. Akses segala sesuatupun demikian amat mudahnya tidak seperti di kampung tempat tinggalku. Wanita-wanitanyapun demikian amat menawannya. Akupun sering bergaul dengan orang-orang kalangan tajir, konglomerat, milyardes, jet set, atau apalah namanya. Kesimpulannya adalah: aku sangat menikmati kesemuanya. Namun, seiring roda waktu yang terus berputar. Tibalah masa dimana aku mulai terbius oleh cumbuan dunia. Hingga aku terkadang lalai akan kewajiban-kewajibanku sebagai seorang muslim. Shalat jama’ah yang biasa kulakukan di masjid, lambat laun kian punah. Aku tak pernah mengaji lagi saat itu. Aku menjadi sangat anti dengan ceramah-ceramah seorang Ustadz. Buku-buku Islam yang dahulu hampir tiap hari kulahap, tak pernah kusentuh barang sikitpun. Terkadang, akupun suka lupa menjenguk rumahku di desa terpencil sana, di pedalaman Cirebon.

Saat itu aku telah masuk semester tiga. Niali-nilaiku berantakan. Selalu terjun bebas tiap semester. Hampir semua mata kuliah membentuk rantai karbon (C). Terkadang aku suka bolos hanya karena ingin shoping-shoping bareng teman di suatu mall. Dan di akhir semester tiga itu, saat semuanya demikian amat memperihatinkannya, akupun lemas terkapar tak berdaya. Kehidupan yang kulalui saat itu demikian amat sulitnya. Hatiku sering dilumat oleh kegundahan. Aku sering menangis sesenggukan saat malam datang. Terlebih saat teringat orang tua di kampung. Kuratapi semua kebodohan yang telah kulakukan. ”Mengapa semuanya bisa seperti ini”, gumamku di suatu malam yang pekat. Apa  yang harus kulakukan. Aku lemas. Aku putus asa. Aku tak kuat lagi untuk bertahan hidup. Ingin kuakhiri saja hidup ini. Aku tak kuat lagi. Sungguh, aku tak kuat lagi. Adakah orang yang bisa menolongku?

Begitulah hari-hari yang kulalui pasca semester tiga itu. Kebetulan saat itu liburan semester ganjil tiba. Aku belum berani untuk mudik menjenguk keluargaku. Aku tak tega sekaligus malu pada kedua orang tuaku mengingat nilai-nilaku yang bisa membuat jantung seseorang berhenti berdetak untuk sementara waktu. Dan disaat-saat itulah aku sering pergi menyendiri. Baik saat siang maupun malam. Saat di kampus ataupun saat di kost-an. Always kulalui dengan kesendirian. Karena seringnya sendiri, aku jadi keseringan merenung. Kujelaskan disini kawan bahwa aku merenung, bukan melamun. Kian hari-kian intens proses perenunganku. Kebetulan kuliah libur, maka kuhabiskan waktu-waktuku pergi ke perpustakaan untuk melahap buku-buku. Kian hari aku kian keranjingan membaca. Ya, membaca. Itulah yang kulakukan setiap hari saat itu. Baik siang ataupun malam. Pagi pun sore. Di kampus atau di kost-an. Buku-buku dari jenis apapun kulahap saat itu: motivasi, psikologi, pengembangan diri, marketing, bisnis, filsafat, politik, ekonomi, sains, novel, cerpen, koran, majalah, agama hingga buku-buku kuliah. Proses membaca yang dibarengi dengan perenungan itu, membuat hari-hariku, sedikit demi sedikit, mulai membetikkan sedikit fajar cahaya pada semesta. Aku mulai bangkit. Kini kutatap mentari keoptimisan dengan pandangan tegak penuh kegairahan. Buku itu, proses perenungan itu, telah membawa dampak yang demikian dahsyatnya pada diriku.

Hingga terjadilah semuanya. Moment yang merubah hidupku untuk selama-lamanya. Moment itu, yang terjadi siang itu, di kampus, saat alam menggelora memuntahkan amara, aku tersadarkan untuk selama-lamanya. Awalnya aku hendak pulang menuju kost-an di sekitar wilayah margonda raya. Aku baru saja membaca buku di perpustakaan pusat UI yang letaknya tepat di jantung kota UI. Saat itu tepat pukul satu siang dan untuk menuju kost-an, aku harus berjalan kaki menerabas semak belukar, melewati jalan setapak, menaiki gundukan tanah yang berbukit, menuruni lereng tanah yang curam, berkelit di antara pepohonan rindang yang tersebar di sekujur tubuh UI. Saat di perjalan, saat kaki ini tepat terhuyung di sekitar gedung Rektorat UI, tiba-tiba kucium bau gelagat alam yang hendak menumpahkan amarahnya. Kutatap awan yang biasanya demikian indahnya, kali ini ia menggelap penuh kemuraman. Seolah ia hendak mengancam bagi siapapun yang berada dibawahnya untuk melemparkan batu hujan ke arahnya. Petir, geledek, kilat, berhamburan di angkasa. Memamerkan atraksi sirkusnya pada dunia. ”Ada apa ini”, gumamku. Dan seketika itu, hujan turun dengan amat derasnya. Waktu itu hari Minggu. Seperti biasa, jika hari Minggu, maka UI akan penuh dengan orang-orang yang hendak memancing di sekitar danau UI. Danau yang terletak tepat di samping kiri gedung rektorat. Danua yang indah penuh pesona. Sontak saja orang-orang yang ada disana berhamburan mencari tempat untuk berteduh. Kulihat mereka semua seperti semut yang hendak dilibas oleh pasukan Sulaiman yang hendak memberengus ratu Balkis.

Aku telah mendapatkan tempat berteduh saat itu. Tepat di lorong-lorong yang menghubungkan antara rektorat dengan balairung UI. Seperti yang kuceritakan padamu kawan bahwa alam demikian amat ganasnya pada saat itu. Belum pernah kusaksikan dimanapun aku berada, keadaan alam yang sedemikian itu. Amat dahsyat. Membuat bulu kuduk merinding. Aku meringkuk tepat di ketiak lorong itu. Hujan turun dengan lebatnya. Menimpa semua yang ada di bumi. Satu jam sudah aku menunggu hujan. Tapi ia tak kunjung reda. Bahkan guyurannya kian menderas. Seolah ia ingin menghukum UI beserta cecunguk-cecunguk yang berkeliaran di dalamnya. Dan setelah dua jam, akhirnya ia mulai mau berdamai. Gencatan senjata dimulai. Hatinya kian reda setelah menampar dengan kilatan cahayanya semua yang berada di bawahnya. Seperti raja yang sudah puas mencambuk sang abdi. Mereka puas menjarah bumi.

Tepat pukul 3 sore. Ashar memanggil. Maka kukayuh diriku menuju masjid yang terletak tepat di seberang danau. Namun, aku harus memutari setengah circle danau terlebih dahulu untuk bisa sampai ke sana. Kulihat banyak sekali pohon yang tumbang di sana sini. Tanah demikian beceknya. Air danau meluap ke sekujur jalan yang membatasinya. Daun-daun berguguran. Danau terlihat amat buteknya. Ia terlihat seperti habis diobrak-abrik oleh ribuan entok yang kelaparan mencari makan. Kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri keadaan kampusku itu demikian amat mengenaskannya. Ia seperti keadaan tempat yang baru saja terjadi peperangan hebat di sana. Hancur sudah UI ku. Dan inilah moment itu, moment yang merubah segalanya pada diriku, moment yang membuat aku tersujud tersungkur meratapi kemaksiatan-kemaksiatan yang sering kulakukan. Saat itu, ketika aku hendak menuju MUI (Masjid UI) untuk menunaikan shalat ashar. Tepat dipertengahan perjalanan. Kulihat seonggok mayat terapung tak berdaya tepat 5 meter dari tempatku berdiri. Mayat itu tersangkut oleh akar pohon cemara yang berdiri kukuh seolah ialah yang membunuhnya. Seorang diri aku disana. Hanya ditemanai oleh alam yang membisu seketika. Tidak, mayat itu juga menemaniku. Tak kuasa ku menahan diri. Aku berlari menuju segerombolan orang yang sedang berteduh di pinggiran masjid. ”Tolonggggg…tolonggggg…tolongggg…”, pekikku menggemakan dunia. Sejurus orang-orang itu tau apa yang telah terjadi. Bersama-sama mereka aku menuju tempat mayat itu tergeletak. Kulihat wajahnya sudah menghitam, perutnya membuncit, tubuhnya terbujur kaku. Demikian mengenaskannya. Aku bersama orang-orang yang ada di sana segera mengangkat sang mayat. Tak lama setelah itu datanglah seorang yang mengaku sebagai sohibnya. Ia tak kuasa menahan isak tangis. Tangisnya menggelegar menghentak bumi, pohon, dan langit untuk meratapi kepergian sang teman. Untuk kemudian, setelah ia tenang, ia menceritakan duduk perkaranya.

Bertutur ia, ”kami ini bang dari tanjung priok, hendak memancing disini kami. Waktu hujan datang, kami sebenarnya sudah siap-siap untuk melarikan diri. Kugamit tubuh Ucok itu. Kukatakan padanya: sudahlah cok, tinggalkan itu, mari kita berteduh. Nah ketika aku hendak berlari untuk mencari tempat berteduh, kulihat si Ucok itu telah tersambar oleh petir yang mengamuk. Mungkin karena kakinya masih terendam air dan ia berada di bawah pohon cemara itu bang. Tak kuasalah aku bang melihatnya. Ia dihantam dari bagian atas kepala”. Sambil sesenggukan menahan isak tangis, itulah yang dituturkan oleh sahabat malang itu. Tragis nian.

Sontak aku lemas seketika. Merinding bulu kudukku. Tak kuat aku untuk berdiri. Sejenak bayangan kematian menggerayangi pelopak mataku. Seolah akulah yang menjadi korban ganas sambaran petir itu. Aku terduduk merenung meratapi kejadian itu. Aku sangat takut sekali. Sangat takut jika seandainya aku yang mengalami event itu. Aku belum siap untuk mati. Amalku masih amat sedikit. Banyak sekali dosa-dosaku. Gimana nanti seandainya aku telah mati, apa yang akan dikenang oleh orang tuaku, adik-adik dan kakak-kakakku, sahabatku, guru-guruku, atau orang-orang yang pernah mengenalku. Aku sangat takut jika seadainya yang mereka kenang adalah hal-hal yang buruk menyangkut diriku. Jika seadainya di dunia saja aku sudah dikenang seperti itu. Bagaimana nanti aku akan dikenang oleh makhluk langit? Bagaimana nanti aku harus menemui sang Robb? Bagaimana harus kupertanggung jawabkan semua dosa-dosaku? Ah, aku takut sekali.

Semenjak saat itu, setiap aku melalui tempat itu, aku selalu teringat akan kejadian naas itu. Dan kejadian itu selalu mengingatkanku akan kematian. Kutahu dalam salah satu riwayat bahwa seorang sahabat Rasul, selalu mengingat-ingat kematian hingga tak kurang 70 kali dalam satu hari. Dan kuingat pula bahwa Rasulullah pernah bersabda: ”Orang yang cerdas adalah orang yang pikirannya selalu tertuju pada kehidupan setelah kematian”.

Sontak seperti disengat listrik, aku mendapatkan semangat dan gairah yang amat besarnya dari peristiwa itu. Betapa tidak, mengingat kematian, membuatku selalu memikirkan kehidupan setelah kematian. Membuatku selalu memikirkan akan surga dan neraka. Tiba-tiba saja aku amat rindunya dengan surga dan amat takutnya akan neraka. Mengingat kejadian itu, membuat semangatku melambung hingga puncak everest, untuk kemudian menjelma menjadi tindakan konkret untuk mempersembahkan kehidupan yang terbaik. Kejadian itupun mengembalikan ingatanku akan masa-masa dimana aku amat giatnya untuk menuntut ilmu agama. Kejadian itu membuatku menjadi amat takut untuk melakukan maksiat sekecil apapun, untuk kemudian berusaha semaksimal mungkin mengumpulkan pundi-pundi amal berbuah surga. Hidupku berubah setelah itu. Pikiranku selalu tertuju pada keabadian akhirat. Dunia terasa amat kecilnya sekarang dimataku. Kumaknai sekarang bahwa kematian adalah awal dari kehidupan yang abadi. Dan awal dari perjumpaan indah dengan sang Kekasih. Kusaksikan kini bidadari-bidadari surga menyapaku dengan sapaan lembut nan melembutkan. Kulihat ia melambaikan tangannya padaku. Seolah ia berkata, ”Aku merindukanmu duhai lelaki akhirat”.

Hingga akhirnya kehidupanku berubah 180 derajat. Kini, ingin kuuntai kata-kata indah berasal dari retupan hatiku yang terdalam. Dari seorang fakir yang merindukan manisnya iman dan belitan ketakwaan hidup.

Duhai Rabi, betapa rindu diri ini akan surgamu

Duahi Rabi, betapa takut diri ini akan nerakamu

Ya Rabb, ingin kutemui dirimu di atas Aras sana

Ingin rasanya kubersujud di surga-Mu

Bersimpuh penuh haru akan kuasa-Mu

Lelaki akhirat

Aku ingin menjadi lelaki akhirat

Aku ingin dicemburui oleh bidadari-bidadari-Mu

Aku ingin mati dalam ridho-Mu

Aku ingin kehidupan yang abadi di sisi-Mu

Aku ingin menemu Nabi-Mu disana, di surga-Mu

Kan kukerahkan waktu, tenaga, dan pikiranku hanya untuk-Mu

Segalanya adalah milik-Mu

Aku milik-Mu

Dan akan kembali hanya pada-Mu

Akan terus kusempurnakan kehidupan ini

Kusempurnakan ia hingga aku menjadi makhluk yang

sepenuhnya bertakwa kepada-Mu

Sepenuhnya beriman kepada-Mu

Biarlah kulalui hari-hariku untuk mendapatkan iklas dari-Mu

Kau ya Rabb, yang selalu kurindu

Tiupkanlah ruh kerinduan pada makhluk langit

Agar mereka semua menyimpan rindu padaku

Karna aku ingin

Aku ingin menjadi lelaki akhirat

Seperti yang Kau inginkan

Rindhoilah

Amin

[Nur Ali Muchtar / DSI MII / BTA LA]

https://alymerenung.wordpress.com


Total Kunjungan:

  • 659,178 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Komentar Terakhir:

ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Download Majalah Xcode Yogyafr…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Download Majalah Xcode Yogyafr…
Sharonda Teller on Download Majalah Xcode Yogyafr…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Selamat Milad (Ulang Tahun) Ya…
Kata Mutiara Islami… on Selamat Milad (Ulang Tahun) Ya…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Halloo Dunia
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…

Kenal Lebih Dekat di: