Nur Ali Muchtar

Archive for the ‘Keluarga’ Category

Tiba-tiba kangen rumah. Gerangan ada apa nian? Ahhh,, ternyata, saya udah nyuekin emak sebulan lamanya. Pantesan aja sekarang berasa kangen. Kangen amat. Saya harus pulang ke rumah hari ini. Harus minta maaf, padanya, sekarang, hari ini, saat ini juga. Dan mulai bercakap-cakap kembali dengannya seperti biasa layaknya tempo doeloe.

Jika mengingat sebabnya mengapa saya nyuekin emak, kini saya hanya bisa tertawa sendiri. Ternyata, emak yang tak pernah mengenyam secuilpun bangku pendidikan itu, memiliki mata batin yang jauh lebih dalam ketimbang saya yang telah menempuh jenjang pendidikan hingga S1. Rupanya ia mengetahui apa yang tidak saya ketahui saat ini. Mungkin karena ia telah mengandung dan membesarkan diri ini sejak keceprot hingga dewasa dan gagah perkasa seperti sekarang.

Ahhh,, emak. Tunggu anakmu ini kembali di rumahmu yang sejuk itu. Ingin rasanya mengalungkan bunga untukmu atas segala kebaikan yang telah engkau berikan. Betapa lacurnya diri ini yang telah mendiamkanmu sebulan lamanya hanya gara-gara hal remeh temeh yang saya kehendaki. Jelas engkau lebih tau kepentingan anakmu ini. Jelas naluri keibuanmu terlibat di sana: saat engkau tak mengizinkan keinginan anakmu ini. Dan mungkin itulah yang terbaik.

Mulanya saya merasa kecewa, bahkan amat kecewa dengan keputusan emak ini. Tapi rupanya, emak mengetahui bahwa keinginan saya itu hanyalah keinginan yang sifanya sekadar nafsu belaka. Keinginan yang sifatnya temporer. Keinginan tak berdasar atas pertimbangan yang kurang matang. Keinginan yang hanya mendatangkan kebahagiaan sesaat. Tapi malah bisa jadi suatu saat membawa petaka besar yang tak saya dan emak harapkan.

Kini ingin tak ucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya buat emak tercinta. Terima kasih atas keputusan bijaksana yang telah engkau ambil. Kini, anakmu hanya ingin bertekad untuk menuruti segala macam petuahmu. Biar engkau ridha. Biar engkau senang. Biar boleh anakmu berharap surga kerana ikhlasmu. Maafkanlah anakmu ini duhai emak sayang. Doakan terus anakmu ini. Doakan yang terbaik biar beroleh segala yang terbaik dalam hidup ini. Engkau adalah emak nomor satu sedunia. Wanita yang tak ada tandingnya oleh wanita manapun di dunia ini.

Di sini saya tidak berbicara mengenai ketampanan wajah. Di sini saya juga tidak berbicara mengenai kecantikan rupa. Yang saya bicarakan di sini adalah tentang seni merawat penampilan dan menjaga kesehatan tubuh. Betapa banyak orang-orang –mungkin juga ada di antara kita- yang tidak terlalu peduli dengan perawatan, penjagaan, pemeliharaan, dan kesehatan tubuh. Padahal, dalam keseharian kita berinteraksi dengan manusia lain, yang pertama kali terlihat dan dinilai orang lain saat bertemu adalah penampilan luar kita (performance). Nah dari sini, dari penampilannya ini, seseorang bisa dinilai apakah ia termasuk orang yang percaya diri atau tidak, apakah ia termasuk orang yang care atau tidak, apakah ia termasuk orang yang mencintai keindahan atau tidak, apakah ia termasuk orang yang sehat atau tidak, apakah ia termasuk orang yang rapi atau tidak, dan bermacam-macam penilaian lainnya yang bisa kita dapatkan berkat penglihatan yang hanya sekilas saja dari penampilan luar kita.

Saya mau juga menyorotinya ke kondisi rumah tangga (Mohon maaf apabila terkesan sok tau perihal satu ini, padahal saya belum menikah. Makanya di sini saya ingin merujuk pada sebuah buku. Biar terhindar dari mengatakan/menuliskan sesuatu tapi belum mempraktekkannya. Anggap saja apa yang saya tulis ini sebagai bekal saya di kemudian hari dan sebagai pelecut bagi saya untuk lebih keras lagi mempraktekkan apa-apa yang saya tulis). Belum lama saya membaca sebuah buku yang ditulis oleh seorang wanita. Isi dalam buku ini perihal pria egois dan pria idaman. Nah, ada bagian tertentu dari buku ini yang cukup menarik bagi saya. Yaitu bagian ketika sang penulis membahas perihal kerapihan dan kebersihan tubuh suami.

Selama ini kan kebanyakan istri yang selalu berdandan untuk suaminya. Istri disuruh bersolek setiap saat. Disuruh berdandan setiap waktu. Intinya, setiap istri harus siap untuk melayani sang suami kapanpun sang suami menginginkannya. Istri harus menyediakan waktunya selama 24 jam untuk selalu menjaga kebersihannya. Sedang di sisi yang lain –sisi dimana sang penulis terkesan agak sinis terhadap kaum pria- tidak demikian demikian dengan suami. Suami justru berkebalikan dengan istri. Disaat suami menuntut istrinya untuk menjaga tubuhnya setiap saat, tapi justru suami malah kurang atau bahkan tidak menjaganya. Bau keringat sepulang kerja, bau mulut yang tidak sedap baik dari rokok ataupun keengganannya untuk bersikat gigi secara rutin, penampilan yang tidak dirawat, dan lain sebagainya. Inilah letak pangkal masalahnya. Akibat perawata dan kebersihan tubuh yang kurang diperhatikan oleh salah satu pihak, menyebabkan hubungan menjadi kurang harmonis.

Dan yang menurut saya ada benarnya juga dengan apa yang dipaparkan sang penulis adalah bahwa Allah itu Maha Indah dan mencinta keindahan. Tuntutan untuk membersihkan diri ini bukan hanya menjadi kewajiban seorang istri. Lebih jauh, suami pun harus memperhatikannya. “Kebersihan adalah sebagian dari iman”, bukankah kalimat ini yang terus didengung-dengungkan saat kita SD dulu. Rasul itu kan orang yang sangat care dengan keberihan tubuhnya? Bukankah Nabi kita Muhammad pernah berkata bahwa ada lima hal yang harus dijaga terkait kebersihan oleh seorang muslim yaitu mencukur kumisnya, bersiwak, memotong kuku, memotong bulu ketiak, memotong bulu kemaluan. Bahkan Rasul menganjurkan kita untuk memakai wangi-wangian. Bukankah tubuhnya selalu wangi sepanjang hari?

Jadi kesimpulannya, kewajiban menjaga kebersihan tubuh bukan hanya milik seorang istri. Ini juga kewajiban seorang suami. Tentu jika kedua pasang suami istri bisa terus menjaga kebersihan tubuhnya, bisa berdampak pada kelanggengan dan keharmonisan bahtera rumah tangga yang mereka bina.

Berbicara mengenai tubuh, saya juga ingin menyoroti perihal sikap care kita terhadap kesehatan tubuh. Untuk mencapai kondisi tubuh yang sehat tentu kita harus memperhatikan tiga hal berikut: gizi yang cukup dan seimbang, istirahat yang cukup, dan olahraga secara rutin. Jika ketiganya konsisten untuk kita jaga, maka kondisi fisik yang ideal insyaAllah bisa kita peroleh. Tubuh kita menjadi sehat, lincah, bugar dan berenergi. Orang lain pasti senang melihat kita meski mungkin wajah kita kurang tampan atau kurang cantik.

Menjaga fisik ini juga penting untuk bisa membawa beban kerja berat kita setiap hari. Memang banyak kita lihat ada orang yang fisiknya tidak terlalu bagus tapi mampu bekerja dengan sangat-sangat produktif. Bahkan produktifitasnya melebihi orang yang jauh lebih sehat ketimbang dia. Boleh saja seseorang bekerja sangat giat, bersemangat dan tanpa kenal lelah. Bergadang, tidur hanya beberapa jam dalam satu hari, merokok, dan kebiasaan-kebiasaan buruk lainnya. Tapi percayalah bahwa tubuhnya pasti akan rontok suatu ketika.

Baru kemarin saya mengalami hal ini. Bekerja dengan sangat semangatnya. Saya harus bergadang untuk mengerjakan skripsi yang semakin dekat dari batas waktu pengumpulan. Skripsi selesai, ada hal lain lagi yang cukup menguras energi yaitu berkas-berkas pendaftaran sidang. Kemarin itu saya seharian bolak balik kampus-tempat print, harus mengetik, mengedit skripsi, minta tanda tangan dosen dan sebagainya. Luar biasa, kemarin itu saya merasakan betapa besarnya energi saya. Tapi kawan tau, apa yang terjadi setelah saya pulang sampai kost-an. Kaki saya seperti mau copot. Alhasil, saya harus tidur lebih banyak semalam untuk mengembalikan tubuh saya bugar seperti semula. Jika kondisi fisik saya lemah, bisa jadi hari ini saya sakit. Tapi alhamdulillah itu tidak terjadi pada saya. Kesimpulannya: beban berat harus diimbangi juga dengan fisik yang prima.

Ada hal yang membuat saya sampai sekarang bersemangat untuk terus menjaga fisik saya yaitu kenyataan bahwa kita tidak hanya hidup untuk hari ini, esok, lusa, sebulan, atau setahun. Kita akan hidup berpuluh-puluh tahun bahkan beratus-ratus tahun lamanya. Nah pertanyaan yang harus kita jawab adalah: Apa yang akan terjadi dengan tubuh saya disaat usia saya menginjak 40, 50, >60 tahun? Dari pertanyaan inilah saya mendapatakan penyadaran untuk terus menjaga tubuh saya mulai hari ini. Tujuannya: agar disaat usia saya telah memasuki rentang di atas 40 tahun kondisi tubuh saya masih sehat dan bugar. Harapannya adalah saya tetap bisa produktif di usia-usia ini. Semoga.

Yuk jaga, rawat, pelihara hal-hal berikut ini: kebersihan tubuh kita, performance luar kita, kondisi fisik kita. Semoga dengan kita menjaganya, kita tetap bisa mejaga bubungan baik dengan orang lain (termasuk keromantisan dengan pasangan kita), kita tetap terlihat baik di mata orang lain, dan kita tetap sehat hingga usia tua. Amin.

Seorang teman tiba-tiba saja bertanya pada saya di tengah-tengah kuliah, “Li, lo masih sering pulang ke rumah?”. Maka saya jawab dengan lugas, “Alhamdulillah masih.” Lantas saya balik bertanya padanya, “Lo sendiri gimana?”. “Wahhh, gw udah empat bulan nih gak balik ke rumah”. Astaghfirullahalazim.

Yang membuat saya sedikit iba pada sobat saya ini adalah sifat cueknya yang demikian mendominasi keseluruhan karakter kepribadiannya. Padahal rumah orang tuanya hanya berada di kawasan Jakarta Barat, sedang ia ngekost di depok. Hanya butuh paling lama dua jam perjalanan untuk pulang ke rumah. Tapi ia tidak melakukan itu (jarang pulang).

Harus difahami bahwa keluarga –terutama ibu dan bapak- juga punya hak untuk secara intens kita kunjungi. Apalagi status kita saat ini masih membujang. Lain halnya jika kost-kostan kita jauh. Di luar provinsi atau di luar negeri misalnya. Pertemuan fisik yang intens amat penting dalam menunjang keharmonisan kita dengan keluarga. Ini tentu memberikan kebahagiaan tersendiri bagi kita dan keluarga kita.

Tak hanya keluarga, cinta dua orang anak manusia pun membutuhkan pertemuan fisik. Coba Anda bayangkan jika cinta Anda pada seorang wanita tidak sampai bertemu pada tataran fisik alias sampai pada pelaminan. Tentu tidak bisa dibilang cinta namanya. Cinta pasangan suami istri harus melingkupi dua hal berikut: pertemuan jiwa dan pertemua fisik. Maka kita bisa melihat seperti yang terjadi pada Qois dan Laila atau Zaenuddin dan Hayati pada cerita Tenggelamnya Kapal Vanderwijk atau kenyataan pada masyarakat modern saat ini yang lebih memilih gantung diri karena cintanya tidak sampai ke pelaminan. Menderita dan penuh kepiluan. Inilah bukti bahwa cinta butuh fisik.

Orang-orang yang beperang di jalan Allah pun diwajibkan untuk pulang menemui istrinya maksimal empat bulan lamanya. Tujuannya agar jiwanya itu tidak dibakar api amarah sehingga ia tidak berperang dengan jiwa yang beringas. Maka saya percaya bahwa cinta tanpa pertemuan fisik adalah bulshit.

Hal ini juga merembet pada keluarga istri kita bahwa kita pun harus menjaga hubungan yang intens dengan mereka. Itulah mengapa kebanyakan pasangan yang baru menikah harus tinggal beberapa lamanya di rumah ibu mertua. Tujuannya adalah untuk menguatkan ikatan silarurahim antara kita dengan keluarga ibu mertua. Sehingga kita bisa lebih dekat dengan mereka. Dan ini merupakan salah satu tujuan dari pernikahan.


Total Kunjungan:

  • 659,904 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Komentar Terakhir:

ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Download Majalah Xcode Yogyafr…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Download Majalah Xcode Yogyafr…
Sharonda Teller on Download Majalah Xcode Yogyafr…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Selamat Milad (Ulang Tahun) Ya…
Kata Mutiara Islami… on Selamat Milad (Ulang Tahun) Ya…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Halloo Dunia
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…

Kenal Lebih Dekat di: