Nur Ali Muchtar

Archive for the ‘Kesehatan’ Category

Hidup ini adalah kumpulan masalah-masalah. Kalo mau gak ada masalah, ya di surga tempatnya. Tapi bung, nyatanya, sekarang ini kita hidup di dunia. Jadi, gak mungkin dan tak akan pernah mungkin kita terhindar dari makhluk yang namanya “MASALAH”. Masalah datang silih berganti. Yang ini selesai, datang yang itu. Yang itu selesai, datang lagi yang ono. Begitu seterusnya. Maka cara terbaik untuk menjalani hidup adalah bukan menghindari setiap masalah yang datang. Tapi menghadapi dan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan masalah itu dengan cara-cara yang elegan.

Di sini saya cuma mau berbagi sedikit pengalaman. Biasanya, masalah itu mempengaruhi seseorang hingga pikiranannya berasa gak enak. Dan ini berpengaruh pada kondisi badan juga. Orang yang lagi dirundung banyak masalah, terlebih tak bisa menyelesaikan masalah-masalah yang ada, dapat dipastikan bahwa hidupnya kurang bergairah. Badannya lemah, letih, lesu dan loyo (kekurangan vitamin kali ya?). Lantas pertanyaannya, tips apa yang hendak saya berikan di sini?

Sederhana aja. Saya pribadi, kalo lagi banyak masalah yang menyebabkan gak enaknya badan dan pikiran, biasanya langsung mencoba untuk berolahraga. Banyak olahraga yang bisa kita lakukan. Saya pribadi lebih sering lari atau skipping (sebagai pengganti kalo lagi gak bisa lari karena satu dan lain hal). Kalo lari, biasanya saya jatain 20 menit. Tapi kalo skipping, paling-paling cuma 10 menit. Sederhana dan simple keliatannya. Tapi rasakan sendiri dampaknya kawan. Hahahah….

Biasanya, sehabis melakukan aktivitas olahraga ini, pikiran dan badan berubah secara drastis. 180 derajat. Bener deh, dijamin. InsyaAllah gak bo’ong. Yang tadinya mumet, berubah jadi plong. Yang tadinya butek, berubah jadi bening. Yang tadinya susah senyum, tiba-tiba jadi seperti bayi yang gampang senyum. Yang tadinya asem, berubah jadi manis. Yang tadinya lemes, berubah jadi sueger makjus.

Simple khan? Cuma butuh 20 menit lho untuk lari atau 10 menit untuk skipping. Tapi dampaknya bagi badan dan pikiran, sungguh dahsyat. Gak percaya, cobain aja sendiri.

Ada dua hal yang membuat saya sampai sekarang tetap rutin berolahraga. Hal yang pertama adalah kenyataan bahwa kita tidak hanya ingin hidup hingga batas usia 40, 50, 60 tahun saja. Kita ingin hidup hingga usia di atas 60 tahun. Tapi, ada titik penekanannya di sini: bahwa kita ingin tetap hidup sehat, lincah, bergirah, segar nan bugar meski usia kita telah memasuki usia-usia senja. Begitu banyak saya melihat orang-orang usia pensiun (sekitar 60 tahun-an) yang sudah tidak bisa melakukan apa-apa selain, maaf, menunggu kematian. Mestinya, kematian itu gak usah kita tunggu. Ia pasti akan datang untuk menjamah nyawa setiap orang.

Ada beberapa hal yang menyebabkan mengapa orang-orang di usia 60 tahun ke atas sudah tidak mampu lagi berkontribusi banyak bagi masyarakat. Salah satu sebabnya adalah faktor kesehatan. Rata-rata, orang-orang Indonesia terutama yang tinggal di Jakarta, seperti realita yang saya lihat dalam keseharian, di usia 60 tahun sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ini mencakup segala jenis bidang pekerjaan. Entah itu profesinya sebagai pegawai negeri, pegawai swasta, bahkan hingga atlet sekalipun.

Saya begitu terispirasi dengan orang-orang macam B. J. Habibie, Jusuf Kalla, dan tokoh-tokoh lainnya. Lihatlah usianya, berapa? Keduanya sudah jauh di atas 60 tahun. Tapi kualitas fisiknya, sungguh mengagumkan. Mereka terlihat begitu enerjiknya. Begitu lincahnya. Begitu bergairahnya. Begitu bersemangatnya. Begitu sehatnya. Lihatlah sorot matanya. Luar biasa. Hal yang berbeda kita temukan dengan kebanyakan orang tua yang ada di sekeliling kita yang sudah tidak mampu lagi berbuat apa-apa. Banyak sekali faktor mengapa di usia yang harusnya produktifitas itu semakin meninggi melanglang buana mengembara ke setiap tempat yang mungkin bisa dicapai, tapi malah sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi di usia-usia tersebut. Sebut misalkan pola hidup masa mudanya yang tidak baik seperti mengonsumsi narkoba, alkohol, rokok, dan lain-lain sebagainya. Yang lainnya mungkin karena semasa muda jarang atau bahkan tidak pernah berolahraga dengan alasan sibuk bekerja mencari duit. Mengkonsumsi makanan-makanan yang kurang bergizi atau bahkan tidak baik bagi kesehatan seperti: jantung, hati, jeroan, sate, dan lain sebagainya. Menghabiskan usia mudanya hanya untuk bekerja terus bekerja membanting tulang saban hari saban waktu tanpa pernah berpikir bahwa mereka ingin tetap produktif hingga jauh di atas usia 60 tahun, kelak. Tanpa adanya kesadaran seperti ini, sulit bagi kita untuk tetap bisa mengontrol pola hidup kita setiap hari.

Memang ada satu faktor yang ga bisa kita hindari. Faktor ini kita sebut faktor eksternal. Kita tak kuasa untuk menolak faktor yang satu ini. Misal, ada seorang atlet yang masa mudanya begitu sehatnya, begitu berjayanya, bagitu bugarnya, begitu enerjiknya, pemegang medali emas olimpiade internasional di bidangnya, tapi suatu ketika ia mengalami musibah dalam suatu pertandingan hingga kakinya patah dan tidak bisa lagi berjalan. Alhasil, ia harus menjalani kehidupannya setelah itu hingga meninggal, di atas kursi roda dan tak mampu lagi berbuat apa-apa. Nah faktor seperti ini memang tak bisa kita elakkan. Tapi faktor yang seperti ini sangat kecil kemungkinan terjadinya. Sama seperti ketika kita ingin mengikuti ujian SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Ada faktot eks yang tak bisa kita hindari yang memungkinkan kita ga lulus dalam ujian tersebut semial: lupa tanda tangan, salah melingkari nomor ujian, kertas kotor dan terlipat sehingga tak bisa dibaca komputer pemeriksa, dan lain sebagainya. Tapi seperti yang saya bilang tadi bahwa faktor-faktor yang seperti ini kemungkinan terjadinya kecil. Contoh faktor eks lainnya yang membuat kita tak bisa melakukan apa-apa kala senja adalah faktor kecelakaan parah. Apa yang bisa kita perbuat jika kita mengalami hal semacam ini? Semoga tidak.

Hal yang kedua yang memotivasi saya rutin untuk berolaharaga adalah saya tidak ingin menyengsarakan istri dan keluaraga saya saat usia tua. Sekali lagi, betapa banyaknya saya melihat seorang suami yang di usia tuanya harus terus menerus dilayani oleh seorang istri. Jangan salah, maksud saya dilayani di sini adalah dilayani dalam segala hal termasuk pekerjaan-pekerjaan yang harusnya menjadi kewajiaban seorang suami malah dikerjakan oleh istrinya. Kebanyakan yang saya lihat, istri biasanya lebih sehat di usia tuanya ketimbang suami. Disamping karena kebanyakan istri usianya lebih muda ketimbang suami, faktor lainnya  adalah biasanya istri lebih mampu menjaga polah hidup yang baik setiap harinya. Kan kebanyakan pria kurang mampu menjaga nafsu perutnya? Apa aja yang ada digabres. Apa aja yang mengiurkan dilahap. Apa aja yang serasa enak disantap. Belum lagi kebiasaan merokoknya. Belum lagi kebiasaan bergadangnya. Belum lagi kebiasaan-kebiasaan yang lain yang tidak bagus dilakukan.

Itulah dia faktor yang memicu saya untuk tetap rutin berolahraga setiap harinya. Tidak hanya olahraga, saya juga berusaha semampu saya untuk tidak mengonsumsi makan-makanan yang tidak baik untuk ditelan. Godaannya memang berat untuk orang-orang yang tinggal di kawasan Jakarta ini. Tapi tetap harus ada yang faktor yang mengekang. Faktornya ya karena kita ingin hidup sehat dan produktif hingga usia senja dan hingga akhir usia kita. Saya juga berusaha untuk menghindari rokok, alkohol, dan narkoba. Tapi ada satu hal yang tak bisa saya hindari dan hanya bisa saya kurangi yaitu polusi asap kendaraan. Asap kendaraan ini gak bisa saya hindari karena saya hidup dan mencari nafkah di Jakarta ini. Tapi ada hal yang bisa saya lakukan untuk mengurangi polusi asap ini masuk ke tubuh saya secara massal dan menggerogotinya secara perlahan-lahan semisal: memakai masker saat bepergian, mengonsumsi susu sehabis bepergian, dan memilih tinggal di kawasan yang tidak terlalu tinggi polusi udaranya seperti di Depok (pinggiran Jakarta) ini.

Memang kita tidak tau akan seperti apa kita di usia 60 tahun ke atas. Tapi mudah-mudahan, ketika Allah memang memanjangkan umur kita hingga jauh di atas usia 60 tahun, kita tetap bisa produktif dalam melakukan amal-amal shalih bagi masyarakat luas. Amin.

*Mohon maaf apabila ada kata-kata yang terlalu kasar dan tidak mengena di hati pembaca. Yang saya ingin sampaikan di sini hanya anjuran untuk menjaga kesehatan kita masing-masing agar di usia senja kita tetap bisa melakukan produktifitas yang tinggi. Semoga.

Alhamdulillah, seneng rasanya bisa nyumbang emas buat matematika di ajang MIPA CUP cabang lari “maraton”. Katanya ini adalah emas pertama untuk matematika. Dua hari yang lalu, saya dipesan oleh junior di matematika yang kebetulan jadi koordinator kontingen matematika (Soleman): “Ka, lo harus dapet emas ya. Kita (matematik) belom dapet emas satu pun nih. Futsal, tenis meja, catur, voli, basket, tarik tambang, bulu tangkis, dll ga ada yang bisa ngedapetin emas”. Woowwwww,,, luar biasa pikir saya kalo saya bisa nyumbang satu emas dari cabang lari maraton. Dari sini timbul keinginan besar saya untuk nyumbang emas paling enggak di satu cabang ini.

Kebetulan saya sudah sering lari (berarti itung-itung latihan) sebelumnya. Paling minimal seminggu dua kali saya lari keliling UI. Satu kali putaran UI kira-kira hampir 5 km jaraknya. Biasanya saya lari nonstop. Catatan waktu saya pada kisaran 20 menit setiap kali lari. Tapi ada masalah sebelum saya lari. Dua minggu sebelum saya lari, memang saya masih menyempatkan diri untuk lari sebanyak dua kali. Tapi seminggu belakangan, saya malah tak sempat untuk mencuri-curi waktu biar bisa lari. Alasannya adalah karena kerjaan makhluk bernama “SKRIPSWEET”. Skripsi ini benar-benar menguras baik energi maupun waktu saya. Tak jarang selama seminggu ini saya tidur hanya dua jam dalam semalam. Belum lagi siangnya saya tetap harus banting tulang memeras keringat untuk bisa menyelesaikan skripsi tepat pada waktunya. Tapi dua hari yang lalu, junior saya itu mengingatkan saya untuk dateng pas hari H. Karena termotivasi untuk bisa menyumbang satu emas sebelum saya lulus kuliah, akhirnya saya bela-belain juga untuk berlatih pada sore harinya. Jadi selama seminggu ini, saya hanya lari (latihan) satu kali. Lumayanlah biar gak ngedrop-ngedrop amat pas tanding. Kan saya juga sudah rutin lari kemarin-kemarin. Jadi gak masalah meski hanya satu kali saya latihan dalam satu minggu ini.

Ternyata eh ternyata, berkat dukungan, doa dan motivasi dari temen-temen matematika, saya bisa nyumbang satu emas dari cabang ini. Dan yang membuat saya tercengang adalah kenyataan rekor waktu saya yang tak biasa. Kamsudnya maksudnya tak seperti biasa-biasanya. Biasanya kan saya butuh waktu 20 menitan untuk satu keliling UI. Tapi pas di lomba ini, saya malah bisa mecahin rekor hingga 17 menit sekian detik. Wowwww,,,dahsyat. Selama saya lari di UI, saya belum pernah mencapai rekor waktu 17 menit. 19 menitpun saya jarang.

Sesampainya di kost-an, saya coba pikir-pikir lagi apa penyebab saya bisa membukukan catatan waktu yang menurut saya fantastis? Mungkin atas beberapa alasan ini:

  1. Saya pernah dapet ilmu dari seorang atlet yang menganjurkan hal-hal berikut: pertama, total istirahat pas H-1. Tapi kenyataannya tidak demikian dengan saya. H-1 saya malah sibuk untuk daftar kolokium (sidang). Bukan main dah ribetnya persyaratan yang harus dipenuhi agar bisa ikut kolokium. Full satu hari saya ngerjain ini. Bahkan di malam sebelumnya, saya hanya tidur dua jam saja untuk bisa merampungkan skripsi saya. Hingga saya pulang ke kost-an di sore harinya, saya merasakan betapa dengkul saya seperti hendak lepas dari engselnya. Makanya ketika saya diajak untuk main basket di MIPA CUP juga untuk memperebutkan juara tiga, saya menolak. Bukan karena saya tidak peduli. Bukan. Sama sekali bukan. Alasannya semata-mata karena kaki saya memang sudah tidak kuat lagi untuk menyangga tubuh saya. Apalagi untuk bermain basket. Biaa koit saya. Tapi beruntung malamnya saya bisa total istirahat. Kedua, sang atlet juga menganjurkan agar 1,5-2,5 jam sebelum lari, makan nasi. Saya ikuti anjurannya. Ketiga, makan gula merah sebelum lari. Yang ini juga saya ikutin.
  2. Motivasi dari temen-temen saya di matematika terutama junior saya yang kebetulan menjadi penanggung jawab kontingen matematika (Soleman). Kata-katanya ini yang melecutkan semangat 45 dalam diri saya, “Ka, lo harus dapet emas ya. Kita (matematik) belom dapet emas satu pun nih. Futsal, tenis meja, catur, voli, basket, bulu tangkis, tarik tambang, dll ga ada yang bisa ngedapetin emas”.
  3. Dirinya yang terus membayang-bayangi pikiran saya semenjak saat lari hingga saya finis di urutan pertama. Dalam hati, meski agak lucu, saya berkata, “Akan kupersembahkan emas untukmu sayang”. Duhhhhh,,, betapa cinta telah membuat saya menjadi seperti orang yang tidak memiliki perut saat berlari. Kalut seperti kuda yang telah senewen ingin kawin.

Mungkin emas ini biasa karena sekupnya hanya untuk MIPA UI saja. Tapi bukan itu yang ingin saya sorot. Yang ingin saya tekankan di sini adalah bahwa meski saya sedang sibuk-sibuknya skripsi, meski saya sudah angkatan “tuir”, meski dia tak pernah hadir di hadapan saya dalam wujud nyata, tapi toh fisik saya masih tetep OK. Gak kalah dengan adik-adik saya yang lain di MIPA. Ini bukti bahwa skripsi (angkatan tua) tidak boleh menjadi makhluk penggerogot kesehatan (fisik) kita.

Maka terimalah persembahan emas ini dari saya. Bukan saya ingin sombong atau menyombongkan diri. Tapi anggaplah ini hadiah dari saya yang belum banyak berkontribusi buat matematika UI. Semoga bisa menambah motivasi bagi kalian-kalian (angkatan di bawah saya) untuk lebih semangat lagi mengharumkan nama matematika UI baik itu untuk tingkat fakultas, universitas, nasional, bahkan internasional. Lewat apapun itu sarananya.

Untuk dia yang di sana, rindu demikian bergemuruhnya di dalam dada. Setip hari setiap saat selalu merindu. Kian hari kian besar desakan rindu ini. Kadang saya merasakan sesak yang demikian hebatnya hingga saya tak kuat lagi melakukan apa-apa selain berbaring di atas tempat tidur. Biasanya, pelarian bagi saya adalah menulis (puisi). Semoga engkau mendengar jeritan hati ini. Jeritan hati yang keluar dari kedalaman sanubari. Tidak saya buat. Tidak saya sengaja. Ia datang begitu saja. Seperti air yang mengalir dari hulu ke hilir. Atau seperti matahari yang terbit di Timur dan terbenam di Barat. Ikhlas, tulus, penuh pemberian, berenergi, bermanfaat, indah mempesona. Begitulah cintaku padamu, sayang.

Di sini saya tidak berbicara mengenai ketampanan wajah. Di sini saya juga tidak berbicara mengenai kecantikan rupa. Yang saya bicarakan di sini adalah tentang seni merawat penampilan dan menjaga kesehatan tubuh. Betapa banyak orang-orang –mungkin juga ada di antara kita- yang tidak terlalu peduli dengan perawatan, penjagaan, pemeliharaan, dan kesehatan tubuh. Padahal, dalam keseharian kita berinteraksi dengan manusia lain, yang pertama kali terlihat dan dinilai orang lain saat bertemu adalah penampilan luar kita (performance). Nah dari sini, dari penampilannya ini, seseorang bisa dinilai apakah ia termasuk orang yang percaya diri atau tidak, apakah ia termasuk orang yang care atau tidak, apakah ia termasuk orang yang mencintai keindahan atau tidak, apakah ia termasuk orang yang sehat atau tidak, apakah ia termasuk orang yang rapi atau tidak, dan bermacam-macam penilaian lainnya yang bisa kita dapatkan berkat penglihatan yang hanya sekilas saja dari penampilan luar kita.

Saya mau juga menyorotinya ke kondisi rumah tangga (Mohon maaf apabila terkesan sok tau perihal satu ini, padahal saya belum menikah. Makanya di sini saya ingin merujuk pada sebuah buku. Biar terhindar dari mengatakan/menuliskan sesuatu tapi belum mempraktekkannya. Anggap saja apa yang saya tulis ini sebagai bekal saya di kemudian hari dan sebagai pelecut bagi saya untuk lebih keras lagi mempraktekkan apa-apa yang saya tulis). Belum lama saya membaca sebuah buku yang ditulis oleh seorang wanita. Isi dalam buku ini perihal pria egois dan pria idaman. Nah, ada bagian tertentu dari buku ini yang cukup menarik bagi saya. Yaitu bagian ketika sang penulis membahas perihal kerapihan dan kebersihan tubuh suami.

Selama ini kan kebanyakan istri yang selalu berdandan untuk suaminya. Istri disuruh bersolek setiap saat. Disuruh berdandan setiap waktu. Intinya, setiap istri harus siap untuk melayani sang suami kapanpun sang suami menginginkannya. Istri harus menyediakan waktunya selama 24 jam untuk selalu menjaga kebersihannya. Sedang di sisi yang lain –sisi dimana sang penulis terkesan agak sinis terhadap kaum pria- tidak demikian demikian dengan suami. Suami justru berkebalikan dengan istri. Disaat suami menuntut istrinya untuk menjaga tubuhnya setiap saat, tapi justru suami malah kurang atau bahkan tidak menjaganya. Bau keringat sepulang kerja, bau mulut yang tidak sedap baik dari rokok ataupun keengganannya untuk bersikat gigi secara rutin, penampilan yang tidak dirawat, dan lain sebagainya. Inilah letak pangkal masalahnya. Akibat perawata dan kebersihan tubuh yang kurang diperhatikan oleh salah satu pihak, menyebabkan hubungan menjadi kurang harmonis.

Dan yang menurut saya ada benarnya juga dengan apa yang dipaparkan sang penulis adalah bahwa Allah itu Maha Indah dan mencinta keindahan. Tuntutan untuk membersihkan diri ini bukan hanya menjadi kewajiban seorang istri. Lebih jauh, suami pun harus memperhatikannya. “Kebersihan adalah sebagian dari iman”, bukankah kalimat ini yang terus didengung-dengungkan saat kita SD dulu. Rasul itu kan orang yang sangat care dengan keberihan tubuhnya? Bukankah Nabi kita Muhammad pernah berkata bahwa ada lima hal yang harus dijaga terkait kebersihan oleh seorang muslim yaitu mencukur kumisnya, bersiwak, memotong kuku, memotong bulu ketiak, memotong bulu kemaluan. Bahkan Rasul menganjurkan kita untuk memakai wangi-wangian. Bukankah tubuhnya selalu wangi sepanjang hari?

Jadi kesimpulannya, kewajiban menjaga kebersihan tubuh bukan hanya milik seorang istri. Ini juga kewajiban seorang suami. Tentu jika kedua pasang suami istri bisa terus menjaga kebersihan tubuhnya, bisa berdampak pada kelanggengan dan keharmonisan bahtera rumah tangga yang mereka bina.

Berbicara mengenai tubuh, saya juga ingin menyoroti perihal sikap care kita terhadap kesehatan tubuh. Untuk mencapai kondisi tubuh yang sehat tentu kita harus memperhatikan tiga hal berikut: gizi yang cukup dan seimbang, istirahat yang cukup, dan olahraga secara rutin. Jika ketiganya konsisten untuk kita jaga, maka kondisi fisik yang ideal insyaAllah bisa kita peroleh. Tubuh kita menjadi sehat, lincah, bugar dan berenergi. Orang lain pasti senang melihat kita meski mungkin wajah kita kurang tampan atau kurang cantik.

Menjaga fisik ini juga penting untuk bisa membawa beban kerja berat kita setiap hari. Memang banyak kita lihat ada orang yang fisiknya tidak terlalu bagus tapi mampu bekerja dengan sangat-sangat produktif. Bahkan produktifitasnya melebihi orang yang jauh lebih sehat ketimbang dia. Boleh saja seseorang bekerja sangat giat, bersemangat dan tanpa kenal lelah. Bergadang, tidur hanya beberapa jam dalam satu hari, merokok, dan kebiasaan-kebiasaan buruk lainnya. Tapi percayalah bahwa tubuhnya pasti akan rontok suatu ketika.

Baru kemarin saya mengalami hal ini. Bekerja dengan sangat semangatnya. Saya harus bergadang untuk mengerjakan skripsi yang semakin dekat dari batas waktu pengumpulan. Skripsi selesai, ada hal lain lagi yang cukup menguras energi yaitu berkas-berkas pendaftaran sidang. Kemarin itu saya seharian bolak balik kampus-tempat print, harus mengetik, mengedit skripsi, minta tanda tangan dosen dan sebagainya. Luar biasa, kemarin itu saya merasakan betapa besarnya energi saya. Tapi kawan tau, apa yang terjadi setelah saya pulang sampai kost-an. Kaki saya seperti mau copot. Alhasil, saya harus tidur lebih banyak semalam untuk mengembalikan tubuh saya bugar seperti semula. Jika kondisi fisik saya lemah, bisa jadi hari ini saya sakit. Tapi alhamdulillah itu tidak terjadi pada saya. Kesimpulannya: beban berat harus diimbangi juga dengan fisik yang prima.

Ada hal yang membuat saya sampai sekarang bersemangat untuk terus menjaga fisik saya yaitu kenyataan bahwa kita tidak hanya hidup untuk hari ini, esok, lusa, sebulan, atau setahun. Kita akan hidup berpuluh-puluh tahun bahkan beratus-ratus tahun lamanya. Nah pertanyaan yang harus kita jawab adalah: Apa yang akan terjadi dengan tubuh saya disaat usia saya menginjak 40, 50, >60 tahun? Dari pertanyaan inilah saya mendapatakan penyadaran untuk terus menjaga tubuh saya mulai hari ini. Tujuannya: agar disaat usia saya telah memasuki rentang di atas 40 tahun kondisi tubuh saya masih sehat dan bugar. Harapannya adalah saya tetap bisa produktif di usia-usia ini. Semoga.

Yuk jaga, rawat, pelihara hal-hal berikut ini: kebersihan tubuh kita, performance luar kita, kondisi fisik kita. Semoga dengan kita menjaganya, kita tetap bisa mejaga bubungan baik dengan orang lain (termasuk keromantisan dengan pasangan kita), kita tetap terlihat baik di mata orang lain, dan kita tetap sehat hingga usia tua. Amin.


Total Kunjungan:

  • 661,164 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Komentar Terakhir:

ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Download Majalah Xcode Yogyafr…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Download Majalah Xcode Yogyafr…
Sharonda Teller on Download Majalah Xcode Yogyafr…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Selamat Milad (Ulang Tahun) Ya…
Kata Mutiara Islami… on Selamat Milad (Ulang Tahun) Ya…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Halloo Dunia
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…

Kenal Lebih Dekat di: