Nur Ali Muchtar

Archive for the ‘Kuliah’ Category

dulu, sewaktu aktif di kampus, tepatnya di rohis MII (Mushollah Izzatul Islam) FMIPA UI, saya sering memotivasi teman-teman satu tim di DSI (Departemen Syiar MIPA) untuk rajin-rajin nulis dan belajar buat blog. latar belakangnya simpel aja: mahasiswa harus bisa nulis. kalo mahasiswa-mahasiswa yang lurus-lurus dan pinter-pinter ini gak nulis, kan sayang toh. ilmunya berasa jadi kurang dimanfaatkan gitu. makanya saya bener-bener getol nagih tulisan-tulisan mereka. saya targetkan waktu itu seminggu satu tulisan per satu orang. gak usah banyak-banyak. cukup dua halaman. dan cara saya agar mereka membuat tulisan yang agak-agak serius adalah dengan mengatakan pada mereka: “tulisan terbaik akan kita terbitkan menjati lembar tausyiah yang akan dibagikan untuk mahasiswa-mahasiswa FMIPA UI”.

terkait dengan blog, waktu itu sekitar tahun 2008 yang kebetulan blog baru mulai ngetren di indonesia, saya terus mendorong agar teman-teman yang lain juga buat blog. alasannya simpel juga: supaya tulisan-tulisan yang udah pernah dibuat, juga dibukukan dalam bentuk media online. biar lebih banyak yang baca dan memberikan sumbangsih manfaat bagi konten-konten blog di indonesia.

dan sekarang, setelah lulus, ternyata kedua ilmu tersebut (nulis dan blog) kepake pada saat sekarang saya aktif di PKS. satu hal yang dulu sebenarnya iseng-iseng aja saya lakukan eh ternya sekarang kepake untuk hal yang lebih manfaat. semoga teman-teman yang dulu pernah satu bidang dengan saya juga mendapatkan manfaat dari kedua hal tersebut. harapannya sih kita-kita semua bisa sedikit ngebantu di program-program PKS terkait dengan media (tulisan dan blog).

ada seorang teman, sma “jagoan”. kuliah pun masih “jagoan”. setelah lulus, kerja, punya gaji gede (karena gajinya lebih gede dibanding anak-anak fresh graduate yang laen), udah gak liqo. capenya lagi, pacaran. dinasehatin, eh dia malah bilang: “udah lah, sekarang gini, masing-masing urusan kita aja lah. gak usah ngurusin orang laen”.

lantas kemudian saya merenung, kenapa bisa begitu? apa yang menyebabkan sohib ini futur dari jalan dakwah. “dia udah enggak ngaji lagi akh”, tutur seorang teman yang laen. kemudian saya coba flash back ke belakang mengenang sohib yang semasa sma dan kuliah bisa dibilang “jagoan”. nih orang, ditimpa segala macam ujian dan cobaan dakwah, kuat deh dulu perasaan. tapi kenapa setelah lulus mudah sekali goyah.

oh iya, saya jadi teringat perkataan seorang guru: ujian terberat seorang aktivis itu bukan semasa ia sekolah atau kuliah, tapi justru setelah ia lulus (ujian berat sesungguhnya yang pertama) dan setelah ia menikah (ujian berat selanjutnya). apabila kedua ujian berat ini lulus, insyaAllah dia akan kuat dan tetap istiqomah menapaki jalan dakwah yang penuh onak dan duri ini.

kenapa sekolah dan kuliah belum bisa dijadikan barometer komitmen seseorang terhadap dakwah? jelas ini banyak faktornya. di sekolah dan kuliah kan segalanya serba teratur. antum di posisi ini. antum di posisi itu. dakwah kita sudah ada yang ngatur. jadi masih asik lah dakwah di kampus. palingan ujiannya ya kuliah itu sendiri. buat orang yang kuliahnya gak ada masalah, tentu dakwah di kampus memiliki kenikmatan yang luar biasa. di kampus juga masyarakatnya cenderung homogen. beda dengan masyarakat yang kita temukan setelah lulus kuliah. masyarakatnya cenderung heterogen. masa kuliah juga belom ada tuntutan pekerjaan (tuntutan maisyah/penghasilan). belom ada “gangguan-gangguan” dari istri dan anak-anak. belom juga dituntut oleh pihak keluarga dari orang tua dan mertua. semasa sekolah dan kuliah kan orang tua kita hanya membebankan kita akan satu hal: sekolah atau kuliah yang bener. setelah lulus?? beda kan??

mengenang sang sohib, saya jadi teringat perkataan alm ust Rahmat Abdullah: “manusia itu akan di uji di tempat terlemahnya dia”. sohib di atas, jelas telah diuji dengan pekerjaan (gaji gede). merembet hingga ke pacaran. entah nanti merembet lagi ke mana.

perihal menikah, biar lulus dari ujian suami/istri, seorang guru tak bosan-bosannya menasihati, “cari istri, kriteria utamanya antum harus liat dari tarbiyahnya. harus yang tarbiyahnya bener dan punya komitmen kuat dengan tarbiyah dan dakwah”. siap ustadz..hehehe…

ada lagi seorang teman yang curhat pada seorang guru, “bang, ane kangen ama dakwah semasa kuliah dulu. kayaknya jelas gitu kerjanya. setelah lulus, kok ane bingung yah mau kerja (dakwah) apa?”. sang guru hanya menasihati simpel, “muncul lah antum ke dpra tempat antum tinggal. insyaAllah banyak kerjaan di sana”. jlebbbb… dalem.

terakhir, mari kita berdoa pada Allah SWT semoga Ia menguatkan komitmen kita dengan dakwah ini. tentunya hingga akhir hayat. amin.

selalu seperti itu. bahwa tenaga yang harus ia kerahkan untuk mengerjakan segala sesuatu yang berhubungan dengan kewajiban-kewajiban kuliah membutuhkan hentakan energi yang jauh lebih besar ketimbang melakukan sesuatu lain yang tidak ada hubungannya dengan kuliah. inilah alasan terbesar mengapa hampir selama lima tahun kuliah, sulit baginya untuk melakukan banyak hal lain di luar kuliah. maka jangan bayangkan seperti apa nikmatnya mendapati dirinya telah berada di tapal batas ujung bibir kelulusan.

bukan ia benci kuliah. sekali lagi bukan. tapi lebih kepada faktor intern: berupa gairah besar untuk bisa melakukan dan mengerjakan segala sesuatu yang membuatnya merasakan lebih banyak menjadi baiknya, berupa kejumudan mempelajari sesuatu yang hanya membuat otak menjadi pintar tapi tidak membuat sisi-sisi kepribadiannya juga ikut-ikutan “pintar”, berupa kenyataan bahwa otaknya sulit untuk menyambut dan menerima kedatangan makluk aneh nan abstrak yang tak terjangkau oleh pikiran-pikiran oportunis dan pragmatisnya.

maka menyambut kelulusan, ibarat seseorang yang hendak merayakan hari lebaran setelah sekian tahun lamanya tak pulang ke kampung halaman, lantas berkesempatan untuk cipika cipiki dengan sanak keluarga dan handai tolan. atau seperti seorang bocah udik yang seumur hidupnya tak pernah menjamah keindahan negeri lain, lantas berkesempatan untuk menjelajahi seisi dunia free of charge. atau semisal seorang bujang lapuk yang telah berumur lima puluh tahun yang perjalanan cinta menuju pelaminannya selalu kandas secara tragis di tengah jalan, lantas bertemu bidadari sekufu dan seiya sekata yang mau menerimanya apa adanya sebagai seorang pangeran. atau lagi ibarat seseorang yang telah terdampar puluhan tahun lamanya di sebuah pulau terpencil nun jauh tak terpetakan dalam ekskalasi dunia, lantas datang cahaya penolong berupa sebonggah kapal yang untuk kemudian menyelamatkan dirinya dari kurungan sepi keterasingan hidup di pulau terisolir tak berpenghuni tersebut. seperti itulah rasanya. seperti itulah sensasinya. seperti itulah semangatnya. seperti itulah letupan gairah dirinya menyambut datak detik kemerdekaan kuliahnya.

mari kita acungkan empat jempol terbesar untuk pemuda tersebut karena telah berhasil menaklukkan api layaknya kisah nabi ibrahim tempo doelo. mari kita ucapkan selamat atas keberhasilannya bertahan untuk sesuatu yang mungkin aneh bagi orang lain tapi tidak bagi dirinya. mari kita tertawa bersama-sama sepuasnya sambil menyunggingkan senyum terindah biar dunia merasa iri dengan keberhasilan pemuda tersebut menaklukkan rintangan konyol dalam hidupnya. hahahahahahahahahaha…..

Dari lubuk hati yang paling dalam, dengan hati yang berat diiringi rintikan kesedihan, ane mau minta maaf sama beberapa temen ane dan teman-teman kita semua. Sedih gak bisa wisuda bareng bulan Agustus nanti. Padahal kalaupun kita lulus di semester ini, terhitung genap lima tahun kita baru bisa lulus. Lebih setahun ketimbang waktu normal biasanya. Ane sih maklumin aja kenapa kita semua lulusnya pada telat. InsyaAllah akan diganti dengan sesuatu yang lebih baik sebagai bentuk kompensasi dari Allah karena kita telah berjuang di jalan ini selama kuliah. InsyaAllah jamaah ini akan banyak membantu kita ke depannya. Keep istiqomah di jalan ini. InsyaAllah.

Maafin ane ya teman. Sewaktu kita sama-sama ngerjain skripsi sejak beberapa bulan yang lalu, ane gak terlalu peduli dengan perkembangan skripsi teman-teman. Ane pikir tadinya, karena kita sama-sama skripsi dan sama-sama ngerjain skripsi, jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan. Nah pas ane selesai seminar skripsi sekitar dua minggu yang lalu, sekali lagi ane gak terlalu peduli dengan perkembangan skripsi teman-teman. Setelah selesai urusan dengan skripsi, pikiran ane langsung tertuju pada hal lain yang jujur, perkerjaan ini benar-benar membuat ane sangat-sangat bersemangat dan bergairah. Lebih semangat ketimbang kuliah selama lima tahun. Saking bersemangatnya, akhirnya ane malah lupa menanyakan perkembangan skripsi teman-teman. Aneh sedih. Ane minta maaf teman. Menyesaaallllll…. Ya Allahhhh…

Tapi gak ada yang bisa kita lakukan sekarnag selain pasrah dan tawakal pada Allah. Yuk ambil sisi positifnya terhadap kejadian ini. Semoga bisa memberikan hikmah yang baik pada kita ke depannya. Yuk kerjain skripsi biar bisa lulus. Tinggal selangkah lagi kawan. Jangan lengah karena lengah berarti kita akan tersalip. Jangan kalah karena kalah sungguh tak mengenakan. Jangan mundur karena mundur adalah sifat seorang pengecut (Ini kan ane alami sendiri. Semoga ane banyak belajar dari kejadian ini. InsyaAllah). Dan jangan pernah mati dalam keadaan hina dina karena mati dalam keadaan ini, sungguh membuat kita buruk di dunia lebih-lebih di akhirat. Perjuangan kita di kampus belumlah usai kawan saat kita belum bisa menuntaskan misi besar kita menumbangkan makhluk bernama skripsi. Yuk bersahabat dengan skripsi. Semoga Allah selalu memberi kita kekuatan dan kemudahan dalam segala urusan kita. Amin.

Untuk semua orang yang membaca tulisan singkat ini, yuk kirimin doa buat temen-temen ane dan temen-temen kita ini biar bisa menuntaskan skripsi hingga ke akar-akarnya, kalo perlu.

Sekali lagi ane minta maaf atas kejadian ini, teman. Hikssss….

Alhamdulillah, akhirnya setelah bergelut selama kurang lebih satu tahun dengan makhluk yang bernama skripsi, saya bisa menuntaskannya kemarin (19 Mei 2011). Saya telah melewati bagian puncak dari gunung skripsi yaitu kolokium (seminar skripsi). Kolo ini adalah fase terakhir dari semua rangkaian “acara” yang berhubungan dengan skripsi. Memang masih ada sidang sarjana, tapi, seperti kebanyakan teman saya bilang: “Kalo udah bisa lewatin kolo, hati sudah bisa tenang. Setidaknya 80% kita telah lulus”. Dan sidang sarjana itu tidak berhubungan dengan skripsi. Sidang sarjana berkaitan dengan mata pelajaran. Di matematika UI, sidang sarjana melibatkan dua mata pelajaran yang akan diujikan. Nah saya tinggal sidang sarjana ini.

Memang senang rasanya bisa menuntaskan misi penyelamatan kehidupan saya di kampus. Tapi saya tidak ingin terlalaru larut dalam euforia atas keberhasilan saya melewati rintangan sedahsyat skripsi. Saya malah jadi lebih terfokus pada pencapaian lain di luar skripsi. Ada target yang jauh lebih membuat saya bergairah ketimbang mengerjakan skripsi. (Emang dari kapan ya saya bergairah belajar matematika? Rasa-rasanya, hampir selama lima tahun, saya tidak merasakan adanya gairah yang meledak bak sebuah bom saat belajar matematika. Mungkin ini yang disebut: bukan bidang saya). Maka ketika saya menyelesaikan kolo saya kemarin, dan pada saat yang bersamaan banyak teman-teman dan junior-junior yang memberikan ucapan selamat pada saya, saya tidak terlalu exited. Saya tetap mengucapkan terima kasih pada mereka semua atas bantuan dukungan dan doanya. Tapi ada hal yang membuat saya terus memikirkan hal itu dan tidak mau bersenang-senang dulu sebelum hal itu saya dapatkan.

Lantas saya teringat dengan ayat di Surat Al-Insyirah ayat 7 yang intinya tentang perintah Allah agar kita segera beralih dari satu urusan ke urusan lain apabila kita telah menyelesaikan urusan yang pertama. Dan sertailah dengan kesungguhan.

Mungkin karena ayat ini pula lantas membuat saya tidak mau terlalu hanyut karena telah menyelesaikan skripsi. Saya mau bersungguh-sungguh untuk mengejar dan menyelesaikan urusan-urusan atau kerjaan-kerjaan lainnya yang telah menanti di depan. Jujur, ini jauh lebih menggairahkan ketimbang masa belajar saya di matematika yang lima tahun itu. Semoga banyak hal yang bisa saya dapatkan setelah ini. Amin.

Tahun-tahun yang berat di periode masa kuliah, insyaAllah telah saya lewati. Hampir gak kebayang dalam benak saya bahwa saya bisa ada di tempat ini, seperti sekarang ini. Kelulusan udah di depan mata. Boleh dibilang sudah di ujung tanduk. InsyaAllah tanggal 19 Mei 2011 hari Kamis minggu depan saya akan kolokium. Kolokium adalah tahap ketiga dari total empat tahap yang ada di matematika UI untuk syarat kelulusan. Kolokium adalah tahap puncak dari skripsi kita di matematika. Di sinilah penilaian yang sesungguhnya dilakukan. Karena kolokium ini menyumbang empat sks dari total enam sks untuk skripsi, maka bisa dibilang: “Kalo udah bisa ngelewatin kolokium, insyaAllah sudah hampir bisa dipastikan kita akan lulus. 80% lah kira-kira lulus”. Tinggal tahapan yang terakhir (tahapan ke empat) yaitu sidang sarjana. Sidang sarjana ini adalah test secara lisan untuk dua mata kuliah wajib yang telah dipilih oleh departemen untuk kita. Biasanya satu mata kuliah satu bab. Dua minggu sebelum sidang sarjana, kita udah dikasih tau bab mana yang harus kita pelajari untuk nanti ditanyakan dosen penguji. Jadi minimal kita hanya perlu belajar masing-masing satu bab untuk dua mata kuliah. Semoga Allah mempermudah dan melancarkan proses kolokium dan sidang sarjana yang akan saya lakukan nanti. Amin.

Back to topic. Kalo mau dilihat ulang ke belakang, ada satu hal yang membuat saya begitu senang dan bahagia dengan sampainya saya pada tahap seperti sekarang ini. Praktis saya hanya tinggal menyisakan kolokium dan sidang sarjana saja. Sewaktu kuliah di awal-awal dan pertengahan sampai kuliah di semester sebelum skripsi kemarin, saya benar-benar “remuk redam”. Kenapa saya katakan “remuk redam”? Iya, karena saya harus berjibaku membanting tulang agar bisa lulus untuk tiap-tiap mata kuliah selama kuliah di matematika. Camkan itu baik-baik: untuk tiap-tiap mata kuliah. Saya akui, buat saya, kuliah di matematika demikian amat beratnya (ini buat saya lho). Kok bisa berat? Alasannya cuma satu kenapa saya mengatakan kuliah di matematika demikian amat beratnya buat saya, yaitu: hati saya tidak berada di matematika. Yes, that’s it. HATI SAYA TIDAK BERADA DI MATEMATIKA. HATI SAYA BERADA DI TEMPAT LAIN. JADI SELAMA MASA KULIAH, SAYA MERINDUKAN DAN MEMIKIRKAN TEMPAT LAIN. Secara sederhana, bisa dibayangin dong gimana beratnya saya ngejalanin kuliah saya di matematik. Kuliah di matematika itu, selain butuh kerajinan dan ketekunan, kita harus punya yang namanya kesenangan. Kesenangan belajar matematika. Akan sangat sulit bagi kita ngejalanin kuliah di matematika jika kita tidak mencintai matematika. Ini mungkin berlaku juga untuk jurusan-jurusan yang lain.

Saya ingat dulu. Di semester empat, saya pernah mengutarakan keinginan saya untuk pindah ke jurusan yang lain yang saya minati. Tapi ada kakak saya pada saat itu yang mengatakan: “Sayang lho Li kalo kamu harus keluar trus pindah jurusan. Kamu itu udah diterima di Matematika UI. Bahkan sekarang udah duduk di semester empat. Terusin aja. Ga papa ambil target yang paling minimal sekalipun. Misal: lulus enam tahun dengan IPK standar. Yang penting Ali terusin kuliah. Jangan keluar. Jangan berhenti”.

Inilah nasihat kakak saya yang membuat saya terus berjibaku berjuang menuntaskan kuliah saya hingga akhir. Hinggat saat kelulusan telah ada di pelupuk mata saya. Mungkin kalo saya jadi keluar pada saat itu, saya malah masih memerlukan beberapa tahun lagi untuk bisa lulus S1. Nah sekarang, dengan komitmen saya untuk terus tetap berada di matematika, kelulusan hanya tinggal menghitung minggu. InsyaAllah. Ada hikmah besar yang bisa saya ambil di sini. Yaitu pelajaran tentang: Istiqomah dan Kesabaran. Alhamdulillah dari sini saya bisa merasakan betapa manisnya istiqomah itu. Betapa manisnya sabar itu. Betapa manisnya bertahan di tengah guncangan badai yang mampu meporak-porandakan segala sisi kepribadian kita. Betapa manisnya ketika kita bisa melewati kesemuanya itu. Dan di akhir, hanya satu kalimat yang bisa kita lafalkan: Alhamdulillah. Semoga hal ini bisa merembet akan komitmen saya pada dakwah. Semoga hal ini bisa terus menambahkan kesadaran dan penghayatan yang lebih dalam pada diri saya akan hakikat dari dakwah. Bahwa dakwah itu berat dan panjang jalannya, iya benar. Tapi harapannya adalah saya bisa terus istiqomah dan bersabar dalam berdakwah. Semoga.

Maka di sini
Ijinkanlah ya Allah hamba merasakan keindahan itu
Keindahan karena telah bertahan dari segala goncangan dan terpaan
Yang mampu mengoyak batinku
Mengguncang kepribadianku
Dan melemahkan gairahku

Biarkan hamba merasakan indahnya hari akhir ini
Dengan Engkau memudahkan kelulusanku
Engkau mudahkan cintaku untuk bertambat pada pelabuhan yang tepat
Engkau buat gairah hidupku kembali meletup
Engkau buat komitmenku terhadap dakwah ini menjadi kenyataan
Engkau buat hari-hariku setelah ini adalah hari-hari yang penuh tantangan yang bisa membuat diri ini menjadi lebih matang dan lebih baik lagi

Indah rasanya jika saat di wisuda nanti, telah ada seseorang yang menemani di sana
Apalagi jika ia juga diwisuda pada saat yang bersamaan
Kami di wisuda bareng
Ada cinta hakiki bersemi di balairung UI
Momentnya: saat kami wisuda

Ahhhh
Indah sekali rasanya

Disini saya hanya ingin berbagi. Semoga ada hikmah yang bisa diambil.

Mungkin tidak banyak orang (luar departemen matematika) yang tahu bagaimana kehidupan pertemanan saya di departemen matematika dahulunya. Mungkin hanya rekan-rekan di departemen matematika saja yang tahu seperti apa hubungan saya dengan sohib-sohib di departemen sendiri. Yang jelas, jika saya mengenangnya kembali ke masa silam dan melihat potret diri saya pada etalase civitas academica matematika UI, saya hanya akan berkata: “Alhamdulillah semuanya telah berubah”. Kenapa demikian? Begini jalan hidup ceritanya:

Dahulu kala, di departemen matematika, bisa dibilang saya tergolong orang yang jarang kelihatan di departemen. Lebih tepat jika dikatakan orang hilang mungkin. Batang hidung saya hanya kelihatan saat kuliah saja. Diluar itu, saya raib bak ditelan bumi dari departemen. Waktu itu saya lebih banyak berkegiatan diluar departemen ketimbang di dalam departemen. Hal ini menyebabkan lambat laun saya mulai betah di luar ketimbang di dalam departemen. Karena saya menemukan lingkungan nyaman di luar departemen, bisa ditebak dong jalan cerita selanjutnya? Yah, itu menyebabkan saya tidak menyukai departemen saya sendiri. Bahasa kasarnya: benci.

Buruknya lagi, saya tidak hanya membenci departemen saya, tapi keseluruhan “ekosistem” yang ada di departemen matematika ini saya benci. Saya mulai tidak menyukai pelajaran matematika. Saya mula tidak menyukai teman-teman di matematika. Saya mulai tidak menyukai dosen-dosen yang mengajar. Saya mulai tidak menyukai karyawan-karyawan yang bekerja di sana. Dan di atas segala-galanya, saya mulai membenci tugas-tugas yang diberikan dosen kepada saya (yang ini harus dikerjakan kan?).

Maka dimulailah tinta kelam masa-masa hidup saya di kampus. Pada saat itu. Hal ini berlangsung selama beberapa semester. Hingga akhirnya, pada suatu saat, saya dihadapkan pada kenyataan pelik bahwa nilai-nilai kuliah saya amat sangat memprihatinkan. Sungguh mengenaskan. Tak enaklah jika saya menyebutkan berapanya. Yang jelas, problem ini menyebabkan derita hidup saya bertambah. Belum lagi saya harus menghadapi kenyataan bahwa sebagian teman-teman saya di departemen mulai mengacuhkan saya. Tentu hal ini terjadi lantaran saya tidak mengikuti hukum kehidupan yang berlaku: Jika saya ingin direspek orang lain, maka saya harus terlebih dahulu merespek orang lain. Justru sebaliknya, saya malah acuh tak acuh pada rekan-rekan saya itu. Maka terjadilah kenyataan seperti itu: Saya dijauhi teman-teman.

Saya mulai mengeluhkan masalah-masalah ini pada keluarga terutama kakak saya. Saya mintai masukan dan saran-sarannya untuk membantu saya menghadapi masalah-masalah ini. Dan kebijaksanaanpun turun dari telaga jiwanya. Ia bak hujan bagi musafir di tengah kegersangan gurun. Penyelamat itu datang membawa suntai kalung berisi nasihat-nasihat bijak. Simpel saja sarannya: “Ali kurangi kegiatan di luar. Perbanyak nongkrong dan bergaul di departemen sendiri”. Semudah itulah kelihatannya. Tapi nyatanya hal ini tidak mudah untuk dilakukan. Butuh usaha ekstra untuk katakanlah memperbaiki citra diri yang sebelumnya sudah dipersepsikan (agak) buruk oleh orang lain. Saya jalankan nasihat singkatnya itu. Dan sekarang, alhamdulillah, sedikit banyak saya telah berhasil membangun respek dari teman-teman saya di departemen. Yang tadinya saya kira saya akan sulit untuk bisa keluar dari tempurung departemen matematika, alhamdulillah sekarang saya boleh sedikit mengumbar rasa optimisme akan kelulusan yang telah di depan mata. Alhamdulillah, semuga ini berkat Allah Swt. dan dukungan keluarga saya (saya belum beristri. Jadi ini keluarga ibu bapak saya).

Ceritanya cukup panjang jika harus saya teruskan bagaimana teknik-tekniknya membangun respek pada orang lain, Dalam hal ini rekan-rekan saya di departemen matematika UI. Tapi inti dari kesemua cara yang saya lakukan adalah: gagasan untuk mencintai. Saya memutuskan untuk mulai mencintai segala sesuatu yang berhubungan dengan matematika. Ya itu pelajarannya, tugas-tugasnya, teman-temannya, dosen-dosennya, karyawan-karyawannya, kegiatan-kegiatannya, dan lani-lainnya. Tentu tidak mudah awalnya. Tapi saya berusaha keras untuk memutuskan tali buhul kebencian yang sempat hinggap di hati dan pikiran saya. Saya ganti dengan kata indah yang penuh daya gelora ini: mencintai. Alhamdulillah saya bisa. Dan respek itu pun saya dapatkan. Tentu ini menurut penilaian saya yang saya lihat dari sudut pandang saya.

Dari sepenggal kisah hidup saya di kampus ini, tentunya boleh sedikit kita ambil ibrah bahwa masalah-masalah sosial yang sering kita hadapi baik itu di dalam lingkungan kampus, keluarga, masyarakat, berbangsa dan bernegara, itu bisa kita atasi dengan cara: membangun gagasan untuk mulai mencintai. Baik itu di dalam lingkungan keluarga, kampus, masyarakat, bangsa dan negara. InsyaAllah, apabila kita benar-benar serius untuk melibatkan hati, emosi dan pikiran untuk bisa mencintai, kehidupan kita akan penuh ditaburi bunga-bunga harus semerbak nan wangi. InsyaAllah.

Do’akan gan biar skripsweet ane cepet kelar, lancar saat ngebuatnya, mudah saat sidangnya. Ane janji gan, entar kalo skripsi ane udah kelar en palu udah diketuk untuk menyatakan bahwa ane telah lulus, yang berarti gelar S.Si udah nyantol di nama ane, ane pasti akan posting skripsi ane di sini. Biar ente-ente semua pada bisa belajar en pada tau about skripsweet ane di matematika. Sekali lagi do’akan ya agan dan aganwati sekalian. Thx untuk do’anya. Semoga dibales Allah dengan yang lebih bae. Aminnnn….

SKRIPSI. Seremmmm, ya gak teman? Bagi sebagian besar mahasiswa, satu kata ini adalah kata ajaib, angker, misterius, penuh keganjilan, harga diri, pengorbanan, cinta, harapan, masa depan, pertaruhan harga diri, kehidupan, prestise, dan segala-galanya. Saya tidak mengada-ada. Tapi seperti itulah ia adanya. Satu kata ini yang membuat sebagian besar mahasiswa merinding saat mengucap pun mendengarnya. Apalagi, bagi orang matematika yang memiliki kemampuan dan otak terbatas seperti saya ini. *ketauan dech…hehehe.

Jujur, matematika itu agak berbeda dengan jurusan-jurusan lain saat kita menyusun dan menulis skripsi. Di jurusan lain, sejauh yang saya amati, cukup mudah untuk menuliskannya. Cari bahan referensi di perpus atau data-data dari luar, sedikit olah analisa, kemudian tuliskan. Sedang di matematika, tidak semudah itu. Ada cabang-cabang tertentu yang mengharuskan kita membuat program (jika skripsinya tentang Matematika Komputasi). Ada cabang-cabang tertentu yang mengharuskan kita menemukan pola-pola dan rumus-rumus baru seperti yang saya lakukan (skripsi saya tentang graf (cabang Matematika Murni)). Ada cabang-cabang tertentu yang mengharuskan kita membuat model-model matematika dari masalah yang ada untuk kemudian menemukan solusi optimalnya (ini untuk Matematika Operasional Research). Ada skripsi yang maunya membuktikan rumus-rumus “jelimet” beserta aplikasinya dalam ilmu-ilmu lain (matematika Murni banget). Ada juga yang skripsinya tentang pengolahan data statistik dengan alat bantunya berupa SPSS (ini untuk matematika Statistik). Atau, ada juga yang menganalisa pergerakan saham di bursa efek (kerjaannya anak Matematika Aktuaria). Dan banyak yang lainnya (mohon maaf karena keterbatasan ilmu sang penulis).

Untungnya saya pilih tema skripsi yang gak terlalu jelimet. Saya pilih tentang graf. Penelitian tentang graf mulai berkembang baru-baru ini. Banyak teman-teman saya yang pilih topik tentang graf ini. Alasannya: inilah topik yang lumayan gampang. Kita hanya perlu menentukan graf macam apa yang ingin kita “oprek-oprek”, ditinjau dari apanya yang ingin kita teliti (bisa pelabelan busur atau simpulnya), cari pola umumnya, kemudian tentukan rumus umumnya, lalu tuliskan hingga ia berbentuk skripsi. Jadi. Segampang itu kah?

Gak gampang juga sebenernya. Apalagi buat saya. Saya memang biasa menulis. Tapi itu masalahnya. Saya menulis di blog yang notabene tulisan “acakadut” saja. Bukan tulisan-tulisan yang berbau ilmiah. Hanya sekedar unek-unek saya terutama terkait dengan olahraga. Menulis sesuatu tentang matematik, jarang. Kalaupun saya menulis matematika, itu juga palingan tulisan di orat-oretan saja saat belajar.

Skripsi di matematika, tidak hanya tulisan-tulisan berbentuk huruf yang akan kita rangkai. Banyak angka-angka dan persamaan-persamaan yang harus dituliskan. Belum lagi diagrm-diagram dan gambar-gambar yang harus kita taburkan di sekujur tubuh skripsi tersebut. Butuh kesabaran, keuletan dan ketangguhan (lebay). Tapi buat saya, kebiasaan nulis di blog ini cukup membantu juga dalam memacu gairah saya untuk menulis skripsi. Adalah pasti manfaatnya.

Memang baru semester depan saya akan benar-benar bergelut dengan skripsi. Tapi saya sudah mulai menyusunnya dari sekarang. Alhamdulillah bahannya sudah jadi. Hanya tinggal dituliskan. Semoga Allah memudahkan segalanya serta memberikan kekuatan pada saya selalu. Amin.

Tags:

piuhhh,, hari ini, dua mata kuliah ga ada. yang pertama adalah analisis real dua yang memang sudah saia ketahui sejak minggu kemarin dan yang kedua adalah geometri yang baru saia ketahui saat tadi datang ke kampus pukul13.00. terus terang, saia tidak tahun mengapa tidak ada kuliah. yang saia tahu bahwa kedua dosennya tidak bisa datang. gubrakkkk.

tapi tetap, meski tidak ada kuliah, kami tetap diberi tugas untuk kedua mata kuliah tersebut.

saia bingung kalo ditanya, apakah saia senang karena tidak ada kuliah, atau malah sebaliknya, saia senang karena tidak ada kuliah. sama aja. maksudnya, apakah saia justru kecewa karena tidak ada kuliah?

hmmm,, kalo ditanya dari lubuk hati yang paling dalam, jujur saia senang. duh, ketauan dech. bukan karena ga ada alasan. pasalnya, saia lebih senang belajar sendiri di kos-kosan. lebih gimana gitu. hehe. tapi sayang juga kali ya. udah dateng ke kampus dengan niat menuntut ilmu, eh malah ga ada kuliah. rugi kan jadinya?!

kalo begitu, cukup dech sampe disini doeloe perjumpaan kita. saia mo ngerjain tugas dulu. have a nice day.


Total Kunjungan:

  • 659,178 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Komentar Terakhir:

ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Download Majalah Xcode Yogyafr…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Download Majalah Xcode Yogyafr…
Sharonda Teller on Download Majalah Xcode Yogyafr…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Selamat Milad (Ulang Tahun) Ya…
Kata Mutiara Islami… on Selamat Milad (Ulang Tahun) Ya…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Halloo Dunia
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…

Kenal Lebih Dekat di: