Nur Ali Muchtar

Archive for the ‘Sepak Bola’ Category

LKG U-14. sumber gambar: sini

Masih jelas terngiang pernyataan Nurdin Halid tentang: Pembinaan usia muda adalah yang terpenting dari kesemuanya dalam sepak bola. Buat saya, ini hanyalah sebuat pernyataan klise bagi seseorang yang masih tetap keukeh atas posisinya sebagai ke ketua umum disaat tuntutan mundur dari jabatannya itu kian merebak di seluruh pelosok tanah air. Bahkan ingin nambah untuk ke-3 kalinya. Doyan apa doyan? Pernyataan-pernyataan seperti itu hanya kata-kata manis penuh bualan agar setiap orang yang mendengar, juga mendukung segala kebijakannya. Sama seperti janji-janji manis yang sering dibualkan oleh PSSI dulu-dulu. Teranyar adalah janji memberikan 99 persen saham PT Liga Indonesia pada setiap klub yang berlaga di ISL dan divisi utama. Plus iming-iming 2 miliar untuk klub ISL dan 300 juta untuk klub divisi utama. Janji-janji aduhai seperti ini, hanyalah janji yang ditebar sang puang agar terpilih lagi memimpin pada periode 2011-2015. Bukan sudah jelas?

Jika memang PSSI benar-benar memperhatikan pembinaan usia muda, tak mungkin mereka “berpesta pora” pada Kongres II PSSI di sebuah hotel mewah di Bali. Sedang di sini, di jakarta ini, di lapangan kuningan itu, para pejuang cilik yang berlaga di Liga Kompas Gramedia U-14 berendam lumpur saat mengikuti babak play off LKG U-14. Sungguh sangat memprihatinkan melihat kondisi lapangan yang lebih cocok digunakan untuk tempat berendam keledai ketimbang digunakan untuk pertandingan sepak bola. Atau tempat untuk menanam jagung ketimbang digunakan untuk suatu turnamen sepak bola.

Lihatlah keluhan mantan pemain timnas, Ricky Jakobi yang kebetulan klubnya berlaga di sana: “Seharusnya PSSI lebih memperhatikan kondisi lapangan untuk usia muda. Bagaimana mungkin anak-anak ini bisa bermain bagus sedang kondisi lapangan yang seperti ini? Jika lapangan bagus, permainan juga akan lebih baik. Skill individu akan terlihat. Stok timnas masa depan siap dipetik”.

Bukankah sejak dulu PSSI hanya bisa menebar janji dan janji. Janji manis dengan bumbu klise penuh kemunafikan. Inilah dia mafia dalam sepak bola Indonesia. Sudah jelas terpampang dihadapan kita. Lantas, masihkah tinggal diam duhai gilbol-gilbol Indonesia? Revolusi.

Di sini saya tidak ingin mengancam siapapun. Saya bukan ingin meneror sesorang. Saya hanya ingin mengingatkan seseorang yang mungkin saat ini sedang banyak dimusuhi oleh rakyat Indonesia khususnya para penggila bola tanah air. Kan jumlahnya banyak? Kan teman tau siapa?

Kekhawatiran saya ini menyangkut nyawa dari orang yang bersangkutan. Pasalnya, banyak sekali orang-orang yang menginginkan agar orang yang satu ini segerah enyah dari permukaan bumi. Orang banyak ingin segera dia turun dari kursi jabatan ketua umum organisasi sepak bola tertinggi Indonesia karena dinilai telah gagal membawa prestasi. Tapi ia tetap berdalih bahwa ia telah berhasil membawa kemajuan pada sepak bola Indonesia. Prestasi yang mana?

Hinaan, cacian, komentar-komentar negatif, cercaan, dan apapun yang berbau negatif telah dialamatkan padanya. Orang dari kecil hingga dewasa, dari orang yang hanya sekedar suka bermain sepak bola hingga pengamat sepak bola, dari pekerja hingga para mahasiswa, dari perorangan hingga para suporter fanatik tim sepak bola, semuanya serentak menginginkan ia turun. Tapi tak pernah ia tanggapi. Bisa jadi ia hanya menganggap itu sekedar angin lewat saja.

Ada orang yang saking pesimisnya bahwa ia akan turun dari tahta tertinggi, menjadi masa bodo dengan hal ini.  Katanya sudah bosa dan tak akan bisa membuahkan hasil meski kita berkoar-koar sapai suara kita habis kecuali orang yang bersangkutan ditembak mati. Ada lagi seorang teman sekost mengatakan kudunya kita cari orang yang bisa menyantet dirinya. Baru dah dia kapok. Lain lagi seorang teman kuliah yang mengatakan bahwa jika orang yang bersangkutan hadir dihadapannya, akan dia ludahi orang tersebut demgam air liurnya sendiri. Dia akan berhenti jika air liurnya itu habis atau disogok oleh NH dengan uang tunai sebesar 5 miliar. Ada lagi teman bermain sepak bola mengatakan bahwa orang seperti dia akan masuk ke neraka yang paling bawah dari yang terbawah.

Saya pribadi hanya tertawa saja melihat kekesalan dan kejengkelan dari mereka. Bisa jadi kekesalan mereka telah mencapai ubun-ubun. Makanya disini saya ingin mengingatkan pada orang yang bersangkutan agar berhati-hati dalam kesehariannya. Siapkan selalu body guard sebanyak mungkin agar aman di setiap pelesiran yang dilakukan. Jangan sampe kejadian-kejadian yang ditakutkan benar-benar terjadi pada diri Anda.

Dampak Positif LPI Bagi Perkembangan Sepak Bola Indonesia

Di sini, saya bukan berbicara atas nama LPI. Saya berbicara atas nama pribadi mengenai penilaian saya tentang kompetisi yang baru-baru ini muncul dan menghebohkan jagat sepak bola tanah air: LPI. Singkatan untuk Liga Primer Indonesia. Kompetisi ini digagas oleh penguasaha kondang pemilik Medco Group, Arifin Panigoro. Setau saya, bang Arifin ini dulu pernah tergabung dalam kepengurusan PSSI. Namun ia keluar. Mungkin karena tidak sejalannya visi antara ia dengan kepengurusan yang ada pada saat itu.

Kehadiran LPI menurut saya sangat berdampak positif bagi perkembangan sepak bola Indonesia. Memang belum banyak bukti yang bisa disajikan LPI mengingat kompetisi ini baru seumuran jagung alias baru mulai di tahun pertamanya. Namun gebrakan besar sudah mulai terlihat. Dimulai dengan konsep revolusioner untuk mengindustrikan sepak bola tanpa menggantukan setiap klub yang berlaga pada dana APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah). Satu hal ini saja menurut saya cukup revolusioner. Karena kita tahu bahwa kompetisi yang ada saat ini, LSI (Liga Super Indonesia) bentukan PSSI, sangat bergantung pada dana APBD. Uang rakyat yang seharusnya digunakan untuk kepentingan rakyat, malah digunakan untuk mengontrak pemain-pemain asing. Belum lagi kemungkinan uang ini dengan mudah dikorupsi oleh pihak-pihak yang terlibat.

Kucuran dana dari uang APBD ini tentu tidak sedikit. Bayangkan jika kita merata-ratakan setiap tim yang berlaga di ISL menghabiskan dana sekitar 15 miliar untuk satu musimnya. Ada berapa tim yang berlaga di kompetisi ISL? Puluhan. Belum lagi yang berlaga di divisi utama yang juga mendapatkan kucuran dana dari uang APBD. Sama banyaknya. Jika boleh berandai, seandainya kompetisi yang ada (LSI) memiliki konsep seperti LPI, maka anggaran dana yang jumlahnya ratusan miliar itu akan terselamatkan dan bisa kita muarakan pada saluran yang tepat seperti: pembinaan atlet usia muda serta pembangunan sarana dan prasarana olahraga. Kan pasti akan hebat jadinya?

Namun kita tahu bahwa kehadiran LPI ini tidak diakomodasi oleh otoritas sepak bola tertinggi tanah air yaitu PSSI. Bahkan cenderung untuk dimusuhi. PSSI tak mengijinkan LPI hadir di tanah air. PSSI malah mengklaim bahwa LPI adalah kompetisi ilegal. Semua perangkat yang terlibat di LPI akan “diberangus” alias dikenakan sanksi jika tetap nekat melanjutkan kompetisi. Bahkan PSSI telah melaporkan LPI kepada FIFA –otoritas tertinggi sepak bola dunia- agar segera memberikan sanksi. Entah apa yang mereka (PSSI) pikirkan. Orang tujuannya mulia: untuk memajukan sepak bola Indonesia. Ini malah dihalang-halangi.

Disisi yang lain, kehadiran LPI akan berdampak baik pada PSSI sendiri. Kehadiran LPI mau tidak mau segera “membangunkan” PSSI yang selama ini seolah tidur dari lamunannya yang panjang. Mau tidak mau PSSI harus segera berbenah jika tidak ingin kompetisinya (LSI) tergantikan oleh LPI. Biar bagaimanapun, LPI kan masih “anak bayi” karena baru terlahir ke dunia. Sedang ISL kan sudah tahunan. Tapi jika PSSI tidak segera membenahi kompetisinya, siap-siap saja untuk digantikan oleh LPI. PSSI harus mengeluarkan terobosan-terobosan baru agar tidak kalah bersaing. LPI tak mungkin dibendung kehadirannya karena ia adalah produk masyarakat yang menghendaki adanya kompetisi yang profesional. Kompetisi yang bersih dari segala intrik-intrik busuk. Kompetisi dimana setiap klubnya menjadi klub mandiri yang keuangannya tidak bergantung pada dana APBD. Entah bagaimana jadinya jika pemerintah mencabut dana APBD untuk klub-klub yang berlaga di LSI. Bisa hancur mereka. Inilah yang harus dipikirkan PSSI. Bukan saatnya untuk menjatuhkan lawan. Tapi saatnya untuk melihat ke dalam dan berbenah diri.

Kehadiran LPI dengan konsep industri sepak bola tentunya akan turut serta memajukan perkonomian negara. Klub-klub akan mandiri secara finansial (ditargetkan LPI bahwa empat tahun klub-klub sudah bisa mandiri). Ini pastinya akan menyedot banyak sekali tenaga kerja yang terlibat di sana. Perputaran uang di sepak bola tanah air akan semakin hidup dan membesar. Fasilitas-fasilitas serta produk-produk marcendise ikut merebak yang artinya akan semakin banyak lagi tenaga-tenaga kerja yang terlibat di sana. Maka bukan tidak mungkin jika dari sepak bola inilah perekonomian negara akan terangkat.

Memang LPI baru mulai. Mereka masih harus menunjukkan taringnya pada insan tanah air. Akan lebih bijak jika seandainya PSSI tidak menghalang-halangi niatan baik LPI yang ingin memanjukan sepak bola tanah air dengan caranya sendiri. Bukankah PSSI juga diuntungkan dengan hadirnya LPI ini? Kalo LPI sukses, bukannya akan lebih mudah bagi PSSI untuk mencari bibit-bibit pemain untuk membela timnas? Dengan demikian, potensi sepak bola tanah air akan lebih termaksimalkan.

Kita lihat saja babak-babak selanjutnya. Semoga semuanya bisa lebih dewasa lagi baik PSSI maupun LPI dalam menyikapi konflik. Semoga diperoleh titik tengah bagi keduanya. Demi kemajuan tanah air Indonesia. Semoga.

sumber gambar: sini

Usai sudah teka teki para pemain yang akan membela skuat merah putih U-23. Dari sekitar 26 nama yang telah dirilis oleh BTN (Badan Tim Nasional), tak kita temukan satu pun pemain yang merumput di LPI (Liga Primer Indonesia). Kalaupun ada, hanya satu orang yang “dicurigai” berlaga di LPI yaitu Muhammad Ridwan yang diklaim bermain di Tanggerang Wolves. Tanya kenapa? Mungkin BTN dan coach Alfred sedang khilaf so gak liat kalo ternyata masih ada satu pemain LPI yang nyempil di sana.

Sungguh disayangkan memang para pemain LPI tak mendapatkan hak untuk membela timnas. Padahal sebagai negara hukum, kita, setiap warga negara Indonesia, berhak untuk membela negara di bidang apapun. Tapi inilah kenyataan yang terjadi di negara kita. Entah siapa yang harus disalahkan?!

Saya rasa bukan karena kualitas seorang Irfan Bachdim, Kim Kurniawan, Fandy Edy, Dajusman Trisadi, Joko Ribowo, Reza Mustofa dan sederet pemain LPI lainnya yang menyebabkan mereka tak terpilih dalam skuat timnas U-23. Tapi lebih dikarenakan masalah nonteknis yang sebenarnya, kalau kita mau melihat secara lebih luas dan berpandangan dewasa, yang menyebabkan mereka tidak terpilih. Bukan LPI masih dianggap ilegal oleh PSSI? Bukan itu terlihat sikap arogan dan otoriternya PSSI? Bukan LPI itu hadir bermula dari keprihatinan insan sepak bola tanah air? Kenapa mesti dihalang-halangi?

Jawabannya: tanyakan saja pada PSSI mengapa bisa seperti itu.

Saya juga memaklumi posisi coach Alfred yang telah mengambil keputusan untuk tidak menyertakan para pemain LPI di dalam skudanya. Mungkin ia tak menginginkan ada masalah ke depannya terkait ganjalan hukum yang mungkin akan diterima timnya saat akan bertanding pada kejuaraan internasional. Kan sayang juga kalau misal tim yang sudah disiapkan jauh-jauh bulan tapi dilarang bertanding karena status pemainnya yang dianggap “tidak jelas” alias ilegal.

Biar bagaimanapun, inilah realitas yang kita hadapi di negara ini. Sekalian saya ucapkan pada semua pemain U-23 yang telah terpilih mewakili bangsa Indonesia di ajang sepak bola. Selamat berjuang. Berlatihlah dengan keras. Persembahkan yang terbaik. Semoga bisa menjadi anak yang berbakti pada orang tua, agama, nusa dan bangsa. Amin.

Belakangan, saya jarang mengikuti berita seputar olahraga terutama sepak bola dan utamanya lagi sepak bola dalam negeri termasuk berita-berita seputar timnas. Disamping memang pagelaran Piala AFF 2010 usai sudah, nyatanya kabar-kabar di televisi masing juga sering diwartakan. Bukan itu banyak ada di tv one? Metro tv juga kan? Bukan pula karena kesenangan saya akan olahraga sepak bola berkurang. Bukan pula saya kecewa dikarenakan Indonesia tak juara. Juara untuk kali pertama sepanjang sejarah Piala AFF (dahulu bernama Piala Tiger). Juara untuk menghilangkan predikat finalis karena memang Garuda Indonesia sudah empat kali (termasuk yang 2010 ini) masuk final tanpa juara. Nyata-nyata memang predikat itu layak pula untuk disandang sekarang.

Saya kecewa akan satu hal. Dimana hal yang saya kecewakan ini bersangkut paut dengan kekuasaan di tubuh PSSI. Saya telah mengultimatum diri: kalo seandainya timnas bisa juara yang berarti mengganyang Malaysia dengan skor lebih telak ketimbang di Bukit Jalil lalu, saya akan senang. Dan itu yang paling saya harapkan. Kalo seandainya kalah, satu yang saya harapkan untuk bisa mengobati kekecewaan yang datang, Nurdin Halid harus turun. Cukup dengan menghayalkan Nurdin turun dari singgasana PSSI, senang tak alang kepalang menerbitkan sungging senyum di wajah saya. Hanya mengingat itu dan rasa kecewa Indonesia kalah atas Malaysia dipastikan hilang tak berbekas. Tak akan saya ingat Indonesia pernah dikalahkan Malaysia.

Saat justru Indonesia tertinggal lebih dahulu 1-0 sewaktu bermain di GBK untuk leg ke-2, sempat dengar kan dengan jalas kalo para suporter kembali meneriaki “Nurdin Tu-run!! Nurdin Tu-run!! Nurdin Tu’run!!? Karena suaranya bergema bertalu-talu hingga bisa saya rasakan di rumah meski jarak antara GBK dengan rumah saya puluhan kilometer jauhnya, pastilah yang berteriak-teriak banyak sekali. Dan itu saya yakin bukan karena mereka dibayar ataupun hanya sekedar ikut-ikutan meneriaki. Itu saya yakin suara yang keluar dari hati sanubari yang terdalam. Suara yang keluar bukan karena iming-iming duit serupiah dua rupiah (lagian siapa yang mau dan mampu bayar orang sebanyak itu?). Bukan pula atas dasar kuasa seorang tokoh atau segelintir golongan yang ingin naik untuk bisa menggantikan Nurdin Halid. Suara itu murni semurni-murninya -mengalahkan bensi yang paling murni sekalipun- datang atas dasar kekecewaan manahun buah tak adanya kemajuan sepak bola tanah air. Kan begitu? Sudara setuju?

Saat itu, meski Merah Putih tertinggal 1-0, saya mulai menghibur diri. Sekelebat wajah khas orang Makasar berambut pendek dan bergaya politikus muncul di wajah saya. Mulanya ia mulai malu dan kecewa karena alat yang digunakan olehnya untuk berkuasa dan lebih berkuasa lagi nyaris ambruk diterjang badai. Saat yang bersamaan ribuan bahkan puluhan ribu orang meneriaki agar ia segera turun. Muka kecewa yang sempat ia perlihatkan di awal gol pertama pada senjata nuklir miliknya itu buru-buru ia rubah. Mirip seperti bunglon. Kalo bunglon pada warnanya, sedang ia pada mimik wajahnya. Kan sama saja? Mukanya kini berubah cepat 180 derajat dengan ketenangan dan sesungging senyum. Ia tak boleh gentar dengan geletar guruh di angkasa GBK. Mulanya ia ciut juga dan ingin mengumpat pada ketiak bapak presiden SBY yang secara kebetulan hadir di sana. Tapi enggan juga untuk ia lakukan. Bukankah saingan politiknya? Suara terus bergema dan ia terus tersenyum. Semakin lebar dan semakin lebar saja. Seperti wajah suka cita meski alat kekuasaannya itu kalah.

Esok hari wajah penuh sumringah itu muncul di layar kaca televisi. Saluran televisi mana yang menyiarkan, sudara tentu sudah tahu dan paham. Tak mungkin ia berani datang jika yang memanggilnya bukan stasiun tv yang satu itu. Alasannya: tv itu milik tokoh bekingan sang penguasa PSSI berwajah politisi itu. Jadi bisa kita duga apa yang bakal terjadi kemudian: Ia akan gunakan sesi diskusi itu sebagai alat pembelaan bagi dirinya. Dan nyatanya memang benar pula hal ini terjadi. Tak pernah ada terlontar sepatah kata pun yang mengindikasikan bahwa ia berani bertanggung jawab atas kegagalan timnas Indonesia. Yang keluar, semua yang keluar dari mulut manisnya itu adalah pembelaan. Hanya pembelaan saja. Pembelaan untuk dirinya. Sungguh watak yang berbeda dengan kebanyakan pemimpin di negeri Matahari (Jepang) sana.

Mulanya sang pembawa berita menanyakan “Kenapa Indonesia bisa gagal?”. Jawabnya dengan enteng “Kita tidak kalah. Kita menang”. Loh, kok bisa? Lantas sang penanya yang hanya tau tugasnya adalah menanya, hanya menanya tanpa perlu berdebat kembali bertanya “Gimana tanggapannya mengenai suara penonton yang menginginkan pak N.H. turun?”. Lagi-lagi, dengan jiwa dan bekal seorang politisi ia menjawab “Itu hanya suara orang-orang yang tidak senang dengan saya. Hanya suara segelintir orang. Tak perlu itu ditanggapi”. Menohok, menohok hingga ke sumsung tulang belakang saya. Tak habis pikir. Semudah itukah jalan pikirannya? Satu bekal menjadi politisi patut kita dapat di sini. Pertanyaan berlanjut “Bagaimana menanggapi dua periode kepemimpinan bapak (berarti delapan tahun) yang tanpa gelar juara itu?”. Jawabnya lagi “Kita telah berhasil. Ini adalah yang paling berhasil di sepanjang sejara Indonesia. Lihatlah itu animo masyarakat Indonesia. Bukankah hanya baru ini euforia yang demikian besarnya? Kamilah (PSSI) yang berjasa menciptakan semuanya itu”. Horeeeeeee, kau telah berhasil Nurdin. Selamat untukmu.

Rasa nyiut di kepala saya mulai tak tertahankan. Tak kuat menanggung beban kecewa demikian besar, segera saya matikan televisi. Saya hendak tidur. Tidak ingin memikirkan apa-apa barang beberapa hari terutamanya sepak bola. Tapi tetap saja bayangan itu muncul. Bayangan orang berwajah khas Makassar itu dengan senyum politisinya. “Zihhh!! Enyah kau dari pikiranku. Jangan ganggu aku. Makan itu kekuasaan. Tetaplah engkau berkuasa menjadi orang nomor satu di PSSI. Makan situ semua duit yang masuk. Berkuasalah engkau barang berapa periode lagi. Agar engkau semakin kaya. Aku tak mau peduli. Biar dilaknat Tuhan. Engkau dikeroyok masa pun aku tak peduli. Bahkan itu yang aku harapkan. Jika itu tak terjadi pun aku tak peduli. Aku benci. Enyah kau dari pikiranku. Jangan ganggu aku lagi”. Tetap saja bayangan itu tak bisa saya enyahkan. Tiap hari menggerayangi pikiran dan alam bawah sadar saya hingga membuat saya nyaris gila. Maka sejak saat itu saya putuskan untuk tidak mengikuti berita seputar sepak bola lagi. Entah untuk selanya atau hanya sementara hingga pikiran jernih atau hingga ajal menjemput Nurdin.

Maka saya mulai lagi menasihati diri “Sabar lah jika ingin melihat sepak bola Indonesia berjaya di angkasa layaknya garuda. Sabar-sabar. Tak lama lagi orang berwajah politisi itu habis masa jabatannya. Memang tak mungkin menurunkan dia di tengah jalan karena memang telah menjadi tekadnya untuk tidak turun meski jutaan orang sekalipun mendemonya. Sabar hingga masa jabatannya usai. Tapi bagaimana jika orang itu kembali naik? Ya sabar lagi. Toh sampai juga waktunya seseorang menemui ajal. Hingga ajalnya datang, barulah gelombang kebangkita itu bisa muncul. Doakan saja”.

sumber gambar: sini

Peluang Indonesia untuk bisa menjadi juara di pagelaran Piala Suzuki AFF 2010 untuk pertama kalinya kian tipis mengingat kekalahan 3-0 di leg pertama. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan timnas Indonesia bisa membalikan keadaan. Segalanya bisa terjadi dalam sepak bola. Di dalam lapangan, tim manapun bisa saja bermain buruk meski di laga-laga sebelumnya bermain sangat superior. Bukankah di penyisihan Garuda Merah Putih begitu superiornya saat menerkam Harimau Malaya 5-1 tanpa ampun di Stadion Gelora Bung Karno? Namun di final leg pertama justru Indonesia bermain di bawah performa terbaiknya. Giliran Malaysia yang bermain bagus dan memenangkan pertandingan. Semoga saja Indonesia bermain bagus dan Malaysia bermain buruk besok. Seperti di babak penyisihan itu. Sehingga harapan kita agar Indonesia menjuarai Piala Suzuki AFF 2010 ini benar-benar menggapai kenyataan. amin.

Masih begitu segar teringat di kepala kejadian final Liga Champions tahun 2005 antara Liverpool VS AC Milan. Saat babak pertama, Liverpool kalah 3-0. Rasa-rasanya mustahil untuk bisa memenangkan pertandingan itu bagi Liverpool. Namun, apa yang terjadi kemudian? Liverpool hanya membutuhkan waktu istirahat selama 15 menit dan 45 menit waktu normal untuk membalas. Keajaiban itu datang. The Reds mampu menjebol gawang milan tiga kali. Hingga akhir, skor berubah menjadi 3-3. Perpanjangan waktu habis dan skor tidak berubah. Maka diadakanlah adu penalty untuk mendapatkan sang juara. Dan kita semua pun tahu hasil akhirnya adalah kemenangan untuk Liverpool. Sejarah. Liverpool telah mengukir sejarah dalam sepak bola dunia. Disamping mereka telah merengkuh supremasi tertinggi kedigdayaan sepak bola Eropa, mereka telah mengukir moment yang tak akan pernah dilupakan manusia seumur hidup. Ceritanya akan tetap abadi hingga kapanpun.

Nah, kesempatan untuk mengukir sejarah pun kini hadir di hadapan kita. Para pemain masih memiliki waktu 90 menit untuk mengerjar defisit tiga gol. Empat puluh lima menit lebih banyak ketimbang Liverpool. Indonesia harus membalas tiga gol itu untuk bisa menjadi juara. Ini adalah kesempatan emas untuk bisa menjadi juara kali pertama sejak pagelaran ini diadakan tahun 1996. Kita tak mau hanya menjadi langganan finalis karena memang ini adalah final kita yang ke-empat. Kita bermain dihadapan pendukung sendiri. Para suporter Indonesia yang terkenal akan kefanatikannya terhadap timnas pasti akan mendukung dengan sekuat tenaga. Yakinlah bahwa pemain ke-12 ini akan memberikan spirit yang luar biasa pada garuda untuk menerkam harimau. Biarlah stadion GBK menjadi kuburan yang menakutkan bagi pasukan Malaysia. Indonesia pasti bisa.

Berjuanglah garudaku. Demi Indonesia yang lebih bermartabat di mata dunia.

garuda di dadaku
garuda kebanggaanku
kuyakin hari ini pasti menang

sumber gambar: sini

Disini saya tidak ingin mencari kambing hitam atas kekalahan Indonesia atas Malaysia di leg pertama di Stadion Bukit Jalil Malaysia. Saya hanya ingin memaparkan sedikit analisa yang sempat mampir di kepala. Ada minimal tiga faktor yang menurut saya menjadi andil terbesar atas kekalahan telak Indonesia di leg pertama.

Faktor yang pertama adalah begitu percaya dirinya para pemain Malaysia bermain di kandang mereka. Hal inipun diamini oleh coach Alfred Riedl.

Faktor kedua adalah faktor teknis yaitu kesalahan fatal yang disebabkan oleh pemain belakang Maman Abdurrahman. Berniat untuk membiarkan bola agar keluar dan menjadi tendangan bebas bagi timnas, malah berbuntut pada kelihaian Norsahrul Idlan merebut bola dari Maman yang gagal membodi lawannya itu. Bola dari Norsahrul Idlan kemudian dioper pada Mohd Safee Sali yang dengan mudahnya merobek jala Markus Haris Maulana lewat tendangannya. 1-0 Indonesia tertinggal. Gol ini membawa petaka. Para pemain Indonesia mulai kehilangan konsentarasi. Mental para pemain down. Dan secara beruntun, dengan hanya bermodalkan 12 menit saja, Malaysia bisa mencukur Indonesia dengan 3 gol. Ckckckckck.

Faktor ketiga adalah faktor non-teknis. Faktor ini yang sebelum Indonesia bertandang ke Malaysia sempat membuat saya cemas akan konsentrasi para pemin kala bentrok dengan Malaysia. Banyaknya acara-acara seremonial menyebabkan para pemain mulai jenuh. Mulai dari penjamuan makan di kediaman Aburizal Bakrie, Istighosah di Ponpes Asshiddiqiyah Jakarta Barat, hingga diganggunya para pemain di dalam pesawat oleh reporter yang ingin meliput. Sebenarnya coach Alfred tidak setuju dengan kesemuanya itu. Namun, Alfred hanyalah Alfred yang seorang pelatih. Ia bukan siapa-siapa kecuali sebagai pelatih. Ia tak kuasa melawan “rezim” Nurdin yang disokong konglomerat Aburizal Bakrie sang pemilik TV One dan pesawat Pegasus Aviation. Semua acara seremonial itu bisa terjadi karena mereka-mereka itu.

Saya pribadi tidak menyalahkan pemberitaan yang begitu hebohnya pada timnas. Karena sekali lagi saya katakan bahwa dampak positifnya jauh lebih besar ketimbang dampak negatifnya. Saya hanya menyayangkan mengapa mesti ada acara-acara seremonial sementara Indonesia belom ada di podium juara. Kalo sudah jadi juara tak masalah tentunya. Entahlah apa yang ada dipikiran para “penguasa” itu. Entah apa yang mereka cari. Saya tidak tahu. Ada yang tau?

Meski Indonesia kalah 3-0 atas Malaysia, kita tak boleh patah semangat. Optimis harus tetap kita usung. Meski peluang Indonesia kini hanya sekitar 10% untuk bisa juara, tak masalah. Yang terpenting adalah mengembalikan kepercayaan diri para pemain, meningkatkan konsentrasi, berlatih disisa waktu yang ada dan berjuang semaksimal mungkin saat tanding. Semoga leg ke dua tetap dilaksanakan di Gelora Bung Karno. Stadion ini adalah stadion keramat buat Malaysia karena di babak penyisihan lalu mereka pernah digilas Garuda Merah Putih dengan skor lebih telak, 5-1. Bukan mustahil hal ini akan terulang.

Saya hanya berharap seperti apa yang diharapkan oleh Presiden SBY agar masyarakat Indonesia tetap mendukung perjuangan timnas hingga akhir. Hingga titik darah penghabisan.

garuda di dadaku
garuda kebanggaanku
kuyakin hari ini pasti menang

Niat saya untuk menonton langsung final leg 2 Piala Suzuki AFF harus kandas. Kesulitan untuk mendapatkan tiket menjadi alasan utama. Ketidakprofesionalan pihak penyelenggara (panitia lokal) menjadi faktor kunci kekisruhan. Kita bisa melihatnya pada berita-berita di televisi betapa amburadulnya manajemen penjualan karcis oleh PSSI. Banyak suporter yang tidak puas. Mereka melampiaskannya di sana, di senayan.

Saya menyaksikannya secara langsung kemarin bagaimana kekacaua yang terjadi di sana. Mulanya, pukul setengah empat pagi, seorang teman menelepon saya. Ia mengatakan bahwa antrean sudah demikian panjang meski masih pagi-pagi buta. Banyak orang yang bela-belain untuk menginap di sana. Bahkan ada yang telah mengantri sejak sore hari. Padahal, kupon yang akan dibagikan baru akan dibuka keesokan paginya pukul 10. Teman saya itu berangkat dari depok pukul dua pagi dan sampai senayan sekitar pukul tiga pagi. Sedang saya, setelah berdoa meminta petunjuk pada gusti Allah, berangkat juga pukul setengah lima pagi.

Sesampainya di sana, benar, antrean sudah amat panjang. Setau saya, ada sekitar lima loket yang dibuka dan kesemuanya telah berbentuk ular dimana saya ada pada posisi perut. Tapi pajang keseluruhan ular untuk satu loket saya perkirakan sekitar lima ratus meter. Dan ada dua antrean untuk satu loket.

Mulanya saya tetap optimis untuk mendapatkannya. Makanya saya rela-relain untuk mengantri meski antrean sudah panjang pagi itu. Saya bersama “orang-orang malang” itu yang terkadang harus berdiri untuk merapatkan barisan tetap sabar awalnya. Namun, semakin siang hari, semakin memanas tensi para suporter.

Akhirnya loket di buka pukul 10 lebih. Saya mengantri di loket TVRI. Namun betapas sialnya, belum lama loket dibuka terpaksa harus ditutup kembali akibat kisruh para pengantiri. Saling dorong antar pengantri tak terelakan terutama di bagian depan. Para pengantri kecewa. Dan ujungnya, sekitar pukul 11, antrian yang telah dibentuk demikian panjang sejak pagi dini hari (bahkan sore hari kemarin), buyar. Para suporter menyerbu loket secara bergerombol. Bentrokan tak bisa dihindarkan. Yang saya lihat kemarin, bentrokan mungkin terjadi antara petugas keamanana dan panitia dengan para suporter. Tapi ada juga sepertinya keributan antar suporter.

Pintu loket dibobol. Botol-botol minuman melayang-layang di atas kepala. Kericuhan kian membesar. Saya dan seorang teman memutuskan untuk segera pulang. Teman saya yang lain yang menitip karcis telah mewanti-wanti, “Li, kalo seandainya ricuh, lo langsung balik aja. Nyawa lo lebih penting”. Tanpa pikir panjang saya langsung go hom.

Setelah sampai di kost-an, saya langsung menyalakan televisi. Dan dari televisi saya ketahui bahwa para suporter yang tidak puas itu mulai menerobos masuk stadion. Tapi agaknya memang panitia yang menggiring mereka untuk masuk ke dalam stadion. Jangan dikira di dalam stadion cerita usai. Para suporter semakin menjadi-jadi. Bisa saya lihat mereka mulai mengobrak-abrik beberapa fasilitas stadion termasuk menginjak-injak rumput yang sedianya dipakai tanggal 29 Desember nanti. Tapi, itulah suporter. Mereka sudah demikian geram dengan buruknya mekanisme penjualan tiket.

Setelah merasakan betapa kerasnya perjuangan untuk mendapatkan tiket. Akhirnya saya maklum mengapa para suporter bisa demikian beringasnya. Dan bagi saya, keberingasan mereka itu wajar-wajar saja. Bukan salah mereka jika mereka harus berbuat onar di sana. Sudah mengantri berjam-jam sejak pagi dini hari, belum tidur, belum sarapan, dorong dan desak-desakan antar suporter, menjadi penyebab emosi mereka meningkat.

Kekisruhan ini pun berbuntut pada kehilangan nyawa. Saya tidak tau berapa orang tepatnya yang meninggal. Berdasarkan keterangan kompas, satu orang pemulung meninggal karena masuk angin. Tapi yang pingsa, banyak sekali. Astaghfirullahaladzhim. Adakah di negara lain yang seperti ini?

Saya tak habis pikir aja, di era teknologi seperti ini, PSSI masih tak mau menggunakan bantuan internet. Mereka lebih memilih cara manual yang sangat-sangat bodoh menurut saya. Lima loket untuk belasan ribu orang. Sungguh tak masuk diakal. Saya tak tau apa yang mereka pikirkan. Tapi patut juga diperhatikan pendapat seorang teman yang mengatakan: “kalo lewat online, gak bisa dikong-kalingkong deh tiketnya. Gak bisa “dicaloin” deh. Gak bisa dapet untung besar dech”. Setuju?

Sekalian saya lemparkan pertanyaan pada teman saya itu, “kenapa mereka tidak mau menggunakan jasa agen atau membuka loket yang tersebar di beberapa daerah sehingga tidak terpusat hanya di GBK?”. Jawabnya, “Kalo lewat agen, kan ngeluarin duit lagi. Nanti untungnya tambah kecil dech. Kalo ngebuka loket di daerah-daerah, untungnya entar kecil dong”. Ckckck, masuk akal juga. “Ah, terserah kamulah PSSI. Mau markas kamu dibakarpun kami tak peduli. Dibubarkan pun kami tidak peduli. Kami sudah muak dengan segala intrikmu”.

Kesedihan rakyat Indonesia bertambah dengan kalahnya timnas di leg 1 dengan skor telak 3-0. Sebuah skor yang hampir tidak bisa kita percaya. Tapi semoga di leg 2 kita bisa menang besar agar tetap bisa menjadi jura untuk kali pertama. Semoga.

kisruh tiket

Ada hal yang menurut saya sedikit lucu dari perkataan kapten timnas Indonesia, Firman Utina. Ia mengatakan bahwa “bermain di Malaysia akan terasa lebih berat karena mereka bermain di hadapan para pendukungnya. Mereka akan menjadi pemain ke-12 yang selalu meneror kami. Tapi kami tidak takut dengan ancaman para suporter mereka. Suporter kita lebih galak dari suporter mereka”. Itulah unek-unek yang dikatakan oleh gelandang timnas yang kini berusia 29 tahun.

Agaknya, apa yang diutarakan pemain andalan Indonesia ini ada benarnya. Kita bisa melihat bagaiamana angkernya Stadion Gelora Bung Karno saat Indonesia bentrok dengan Philipina. Setidaknya, hal ini diungkapkan oleh salah seorang jurnalis Philipina yang kebetulan datang untuk meliput. Ia mengatakan bahwa bermain di Indonesia ibarat bermain di kandang macan yang seolah-olah siap menerkam para punggawa The Azkals. Suporter Indonesia begitu garang. Kehadiran mereka turut membawa andil bagi kekalahan pasukan Simon McMenemy. Kehadiran pemain ke-12 ini benar-benar membuat para pemain Philipin tertekan.

Sebenarnya kita patut berbangga memiliki suporter yang teramat antusiasnya mendukung timnas. Kita memiliki suporter yang amat fantastis. Banyak sekali yang datang berbondong-bondong datang ke stadion GBK untuk menyaksikan dan mendukung secara langsung. Puluhan atau bahkan hingga ratusan ribu pasang mata tumpah ruah di sana. Tidak semua negara memiliki rakyat yang teramat besarnya memberikan dukungan seperti Indonesia. Ini adalah salah satu hal positif yang dimiliki oleh Indonesia.

Namun demikian, tak jarang kita melihat hal-hal buruk yang dilakukan oleh para suporter kita. Bisa kita lihat betapa banyaknya tawuran antar suporter di kompetisi negara kita. Alangkah baiknya jika para suporter kita belajar dari negara-negara lain di eropa sana. Jarang sekali kita lihat mereka pada tawuran. Hal yang berbeda dengan negara kita.

Semoga dengan euforia yang besar seperti sekarang ini para suporter kita bisa lebih dewasa lagi. Kita merindukan suasana yang aman saat menyaksikan langsung pertandingan di stadion. Bukankah kalah dan menang adalah hal yang biasa dalam pertandingan. Kalaupun semisal Indonesia kalah lawan Malaysia besok di final, semoga kita bisa menerimanya dengan lapang dada. Tapi semoga Indonesia bisang menang. Amin.

suporter indonesia

 

Suporter Indonesia Lebih Garang

“Inilah saatnya Indonesia berprestasi di pentas dunia”. Itulah ungkapan yang pas untuk kita umbar. Bukan tanpa sebab, hal ini punya alasan yang cukup kuat untuk mendukung tesis tersebut. Ada beberapa hal yang menurut saya tak berlebihan jika kita menganggap sekaranglah saatnya kebangkitan itu datang. Timnas telah berhasil melenggang dengan mulus ke partai final Piala AFF. Semua lawan ditekuk hingga babak belur. Tercatat tak kurang empat negara jadi tumbal Garuda: Malaysia (yang akan kita hadapi di final), Laos, Thailand, Filipina. Dan kini, hanya tinggal selangkah lagi bagi Merah Putih untuk menorehkan sejarah menjadi yang terbaik di Asia Tenggara.

Kita juga melihat betapa besarnya animo masyarakat akan geliat timnas yang kian menjadi-jadi. Harapan yang beberapa tahun belakangan redup pun kini mulai bersemi. Jiwa nasionalisme makin membumbung. Masyarakat kini kembali mencintai para bintang lapangan timnas. Mereka terus mengelu-elukan pujaan hatinya. Dan, bukankah ini adalah momentum yang pas untuk kembali menggeliatkan si kulit bundar di negeri ini?

Kita pun cukup beruntung karena pemerintah saat ini sangat mendukung perjuangan anak-anak Garuda. Presiden kita punya perhatian besar akan sepak bola negeri ini. Ia bersama menteri olahraga terus memberikan dukungannya pada pasukan Merah Putih. Bukankah negara ini cukup beruntung?

Tak lupa dengan peran media yang begitu besar dalam memberitakan keberhasilan timnas. Ada lebih banyak dampak positifnya ketimbang dampak negatif dari besarnya pemberitaan media massa. Karena dengan besarnya pemberitaan, animo dan minat penduduk Indonesia akan sepak bola kian membesar. Bisa jadi, akan banyak orang tua yang berbondong-bondong menyekolahkan anaknya di sekolah sepak bola. Suatu hal yang tak begitu direstui oleh orang tua dahulu kala.

Sekarang juga kita memiliki pelatih bertangan dingin yang datang membawa perubahan besar di kubu timnas. Lantas, apalagi yang kita tunggu untuk berprestasi?

Timnas

mau masuk UI atau masuk SMA favorit atau juara kelas? Les Privat di Accelera Plus aja. info kontak 02160930031 / 081314747309 / 089635795224. Cek di website http://les-private.com/. Follow @LesPrivat_Aplus 🙂


Total Kunjungan:

  • 659,630 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Komentar Terakhir:

ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Download Majalah Xcode Yogyafr…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Download Majalah Xcode Yogyafr…
Sharonda Teller on Download Majalah Xcode Yogyafr…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Selamat Milad (Ulang Tahun) Ya…
Kata Mutiara Islami… on Selamat Milad (Ulang Tahun) Ya…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Halloo Dunia
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…

Kenal Lebih Dekat di: