Nur Ali Muchtar

Archive for the ‘Renungan’ Category

  • Td sore sharing2 ke anak2 SMA ttg “Cinta Dalam Koridor Islam”. Selanjutnya akan sy singkat #CDKI. Sy kultwit kan yah sedikit. Sila simak
  • Bahasan sy mulai dgn definisi dr cinta. Sy tanya tuh satu2 ttg arti cinta. Btw, dr total 5 orang, satu di antaranya pacaran. #CDKI
  • Ada yg mengatakan, “cinta sulit diungkapkan dgn kata2”, “cinta adl ungkapan hati yg terdalam”, “cinta adl ungkapan sayang”, dll. #CDKI
  • Saya tdk mengatakan bhw jwbn mereka benar atw salah. #CDKI
  • Saya hnya mengutipkan kata2 seorang sastrawan Eric Fromm dlm bukunya The Art of Loving bhw cinta terlalu rumit untuk didefinisikan. #CDKI
  • Sehingga tokoh sekaliber Eric Fromm pun enggan atau bahkan tak sanggup untuk mendefinisikan arti dari kata CINTA ini. #CDKI
  • Cinta adl satu kata lima huruf yg punya ribuan makna dan rasa di dalamnya. #CDKI
  • Kita mungkin tdk bs mendefinisikan arti kata cinta, tp kita bs mengetahui cara kerjanya. #CDKI
  • ibarat angin yg bertiup di muka bumi, seperti itulah cinta. bahwa kerjanya terlihat saat manusia merasakan semilir surgawi. #CDKI
  • atau, ibarat mentari yg menyinari bumi, seperti itulah cinta. bahwa kerjanya terlihat saat bumi ini terang benderang. #CDKI
  • cinta ini adl kekuatan maha dahsyat yg mampu memindahkan gunung dari satu pulau ke pulau lain. #CDKI
  • atau mengubah lahar panas jadi es yang membeku. seperti itulah dahsyatnya kekuatan cinta. #CDKI
  • tapi pertanyaannya, cinta yg seperti apa yg dibenarkan dalam agama (Islam)? #CDKI
  • untuk menjawabnya, mari kita mulai dari hirarki (tingkatan) cinta. jadi bukan cuma sekolah aja yg punya hirarki. cinta jg punya. #CDKI
  • suatu ketika Umar bin Khattab menemui Rasulullah Muhammad SAW. lantas berkata: #CDKI
  • “Ya Rasulullah, aku cinta padamu melebihi cintaku pd semua orang selain diriku”. Rasulullah lantas menjawab: #CDKI
  • “Tidak, engkau harus mencintaiku melebihi cintamu pd dirimu sendiri”. #CDKI
  • karena kita ini adl makhluk ciptaan Allah SWT dan nabi Muhammad pun bagian dari ciptaan-Nya, maka hirarkinya adl sbg berikut: #CDKI
  • bahwa cinta pd Allah SWT harus menempati urutan teratas dr sekian banyak anak2 tangga cinta. #CDKI
  • menyusul kemudian adl cinta kita pd Nabi Muhammad SAW selaku org yg paling berjasa mengenalkan Islam bagi penduduk bumi. #CDKI
  • baru deh yg lainnya ngikutin. bisa cinta pada: ortu, suami/istri, anak2, murid2 (@skharisma2 @Aretasabil @NadiaIndrS30), dll. #CDKI
  • dengan hirarki cinta seperti ini, maka perasaan kita akan tertata sedemikian sehingga menimbulkan keharmonisan dlm relung jiwa kita. #CDKI
  • cinta pd ortu, istri, anak, saudara, dll akan menjadi lurus saat qt membingkainya dlm satu wadah besar bernama cinta pd Allah SWT. #CDKI
  • kayaknya kurang asik ya kl gak nyantumin ayat dr Al-Qur’an. fokelah kl gitu saya kasih..hehe #CDKI
  • sila tengok surah Ali Imran ayat 14. ini ayat tentang koridor cinta dlm Islam. #CDKI
  • “dijadikan indah pd (pandangan) manusia kecintaan pada apa2 diingini, yaitu: wanita2, anak2, harta yg banyak dr jenis emas & wanita, #CDKI
  • kuda pilihan, binatang2 ternak & sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia. Dan di sisi Allah-lah tmpat kembali yg baik (surga)” #CDKI
  • ayat yg lain, sila simak surah At Taubah ayat 24. #CDKI
  • “katakanlah jk bapak2mu, anak2mu, saudara2mu, istri2mu, keluargamu, harta kekayaanmu, perdagangan, dan rmh2mu, …#CDKI
  • … lebih kamu cintai dr pada Allah dan Rasul-Nya serta jihad fisabilillah, mk tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya”. #CDKI
  • jelas yah dr kedua ayat di atas bhw cinta pd Allah SWT harus di atas segalanya. ini syarat agar cinta kita tdk sia2. #CDKI
  • segitu dulu yah tuips. ini blm sy jabarin lho ttg #pacaran dlm Islam. InsyaAllah di lain kesempatan. sekian. #CDKI
  • Tugas manusia diciptakan di dunia ini ada dua: #Ibadah dan menjadi khalifah (pemimpin) di muka bumi.
  • Oleh karena itu, menjadi sangat penting bg qt untuk meniatkan diri bhw segala sesuatu yg qt kerjakan adl semata2 krn #Ibadah pd Allah SWT.
  • “Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk #Ibadah padaKu” (Az-Zariyat: 56)
  • Sebagian dr qt menyempitkan makna #Ibadah
  • Ada yg mengartikan bhw yg namanya #Ibadah haruslah di masjid dan pake sarung(shalat, ngaji, haji, dll) atau puasa.
  • Sekali-kali janganlah qt menyempitkan makna #Ibadah ini tuips. Rugi!!
  • Intinya, segala sesuatu yg qt kerjakan (niatkan) demi mengharap ridha dan pahala dr Allah, adl #Ibadah
  • Contoh: 1. Bekerja (cari duit). Kl niatnya krn Allah disertai dgn cara yg halal tk mendapatkannya, insyaAllah #Ibadah.
  • 2. Berpolitik. Kl niat qt berpolitik krn ingin berdakwah disertai dgn cara2 yg benar serta tdk korupsi, insyaAllah #Ibadah.
  • 3. Nikah. Kl niat qt menikah krn Allah yaitu untuk menjaga diri dr perbuatan zina dan membangun peradaban, insyaAllah #Ibadah
  • Dan masih bnyk lg contoh2 lainnya terkait dgn #Ibadah krn yg namanya ibadah, spektrumnya (cakupannya) begitu luas.
  • Sungguh sayang beribu sayang apabila segala sesuatu yg qt kerjakan tdk dinilai #Ibadah hny krn qt tdk meniatkannya krn Allah.
  • Oleh krn itu, menjadi sangat penting peranan niat ini di dalamnya. #Ibadah
  • Karena dgn niat, qt bs menjadikan setiap detik yg qt lalui bernilai #Ibadah asalkan niatnya krn Allah SWT.
  • Bagaimana dgn pacaran? Bisakah berpacaran itu qt niatkan krn Allah SWT? #Ibadah @salamui @izzatulislamipa
  • Jwbnny: oh tdk bs. Knp? Krn yg namanya pacaran itu menghalalkan “hub” lk2 & pr yg jelas2 dilarang Allah. #Ibadah @salamui @izzatulislamipa
  • 1. Al-Isra 32: “Janganlah kamu mendekati zina; krn itu adl perbuatan yg keji & jln yg buruk”. #Ibadah @salamui @izzatulislamipa
  • 2. An-Nur 30: “Katakanlah kpd lk2 beriman, agar mereka menjaga pandangannya & memelihara kemaluannya”. #Ibadah @salamui @izzatulislamipa
  • Zaman skrg org pacaran itu gimana? Ada gak yg tanpa pegang2an tangan, boncengan motor, tanpa tatap2an?” #Ibadah @salamui @izzatulislamipa
  • Cukup yah tuips. Semoga bs jd bahan renungan qt di pg yg cerah ini. Keep semangat tuk #Ibadah pd Allah. InsyaAllah

“kekalahan” bukan akhir dari hidup. “kekalahan” berarti berhenti sejenak untuk melompat lebih tinggi hingga menembus batas cakrawala. pada dasarnya kita sudah menang karena kejujuran yang jadi pondasi kita melangkah. orang/kelompok/organisasi/jamaah yang berjuang dengan kejujuran sedari awal, sudahlah menang sejak dalam hatinya, apalagi dalam kenyatannya. betapa indah memperjuangkan sesuatu dengan kejujuran. dan orang/kelompok/organisasi/jamaah yang seperti ini, tak pantas untuk ditinggalkan. bahkan kita harus mengikatnya erat-erat dalam hati sanubari kita dan menjadikannya sebagai langkah hati kita membangun peradaban. dan peradaban itu adalah keniscayaan yang harus kita semai dalam hidup. selamat berjuang saudaraku. lanjutkan perjuangan. enyahkan segala kesedihan dan kegalauan. lalui semuanya dengan penuh semangat dan senyum merekah bak putri terpingit. ganjaran pahala menantimu di surga abadi.

Pemuda zaman, di langit kehidupan. Namanya melegenda, dalam ingatan kolektif manusia. Rahasianya, karena ia mengabdi untuk manusia dan kemanusiaan. Ia tak ego memikirkan dirinya sendiri, karena ia telah keluar dari lingkar dirinya menuju lingkar orang lain. Memikirkan orang lain, diri sendiri pun dapet. Memikirkan diri sendiri, tak akan sempat memikirkan orang lain. “Orang yang hidup hanya untuk dirinya, akan menjadi orang kerdil. Orang yang hidup untuk orang lain, akan menjadi orang besar (pahlawan)”, begitulah kata Asy Syahid Sayyid Qutb. Barang siapa bertanya, bagaimana agar bisa keluar dari lingkar diri menuju lingkar orang lain. Jawaban sederhananya ada di kata singkat nan mulia berikut: BERDAKWAH. Karena di dalam berdakwah, seluruh orientasinya adalah menyeru orang lain pada jalan kebenaran. Sungguh mulianya pekerjaan ini.

Mungkin Anda akan menemukan seorang petani yang pekerjaannya menggarap ladang, jauh lebih mulia ketimbang seorang pengacara terkenal seantero jagat. Mungkin iya sekasat mata bahwa sang pengacara ini lebih “wah” ketimbang petani. Tapi, itulah pandangan manusia. Bahwa segalanya serba terbatas, tak bisa melihat dari sisi lain. Dan sisi yang lain itu, hanyalah Allah yang maha tahu. Itulah takwa. Inilah karakter inti pemuda zaman.

Suatu ketika, saat Rasul bersama para sahabat duduk-duduk di pelataran masjid, datang seorang yang berpenampilan amat sangat sederhana. Lantas Rasul bertanya pada para sahabat: “Bagaimana pendapatmu mengenai orang itu?”. “Dia tak berarti apa-apa di mata kami. Apabila ia bertamu, semua orang akan acuh. Pabila melamar seorang gadis, penolakan yang ia bawa”, begitu jawaban para sahabat. Lantas datang orang kedua dengan tampilan parlente. Rasul pun kembali bertanya pada para sahabat, “Sekarang, bagaimana pendapat kalian mengenai orang yang kedua ini?”. Sabat pun menjawab, “Dia adalah orang mulia di sisi kami. Apabila ia datang, semua orang akan takjub dan menyambutnya dengan ramah. Dan pabila ia melamar seorang gadis, tak ada yang kuasa menolaknya”. Dan Rasulpun menjawab: “Orang yang pertama jauh lebih mulia kedudukannya di sisi Allah ketimbang yang kedua”.

Begitulah pandangan manusia. Bahwa ia tak mampu melihat apa yang sesungguhnya ada di dalam hati seseorang. Berbeda dengan penglihatan Allah yang maha tahu akan segala sesuatunya. Lantas, jika kita mengetahui kaidah ini, masihkah kita berlomba-lomba untuk caper (pemer) kemuliaan di hadapan manusia. Inilah ilusi. Tipu daya dunia. Maka pemuda zaman adalah orang-orang sederhana yang tautan hatinya kuat melekat di atas langit bersama Sang Pencipta. Ia tetap bergaul dengan baik bersama manusia, tapi lebih memilih sunyi dalam perjuangannya mencari ridha Ilahi.

Pemuda zaman mungkin saja orang-orang “kecil” dalam struktur atau jabatan suatu organisasi atau jamaah. Tapi ia tak pernah berpikir atau berambisi menjadi petinggi. Yang ada di pikirannya adalah bagaimana ia bisa berkontribusi secara maksimal di dalam jamaahnya. Mungkin yang dikerjakannya memang hal-hal yang dianggap orang kecil dan sepele. Tapi bukan itu yang ia pikirkan. Ia menyadari bahwa visi jamaahnya jauh lebih mulia dari dunia dan segala isinya. Bahwa visinya bersama jamaahnya jauh lebih besar dari ambisi-ambisi pribadinya. Maka ia memilih untuk tulus bekerja tanpa pamrih. Ikhlas semata-mata hanya karena Allah. “Biarlah tak ada orang yang memperhatikan, Allah yang Maha Tahu”, begitu gumam hatinya.

Karakter pemuda zaman yang lain adalah bahwa ia punya gairah yang besar untuk menjadi manusia pembelajar. Ia memandang bahwa proses belajar harus dilaluinya seumur hidup. Tak pernah ada kata berhenti karena berhenti belajar, berarti kematian. Allah telah mengaruniai ia dengan segala potensi yang bisa ia kembangkan tanpa batas. Ia selalu berpikir bahwa ia dan orang-orang berimanlah yang mendapatkan mandat dari Allah SWT untuk memimpin dunia ini. Karena ia meyakini bahwa agamanya memang dipilihkan oleh Allah untuk menjadikannya pemimpin di muka bumi. Sesungguhnya, risalah kedamaian, keadilan, ketentraman, kesejahteraan, dan keselamatan adalah muatan-muatan yang terkandung di dalam agamanya. Dan untuk itulah agama Islam diturunkan. Maka ia merasa terpanggil hatinya untuk mewujudkan misi-misi tersebut.

Pemuda zaman adalah orang-orang yang positif memandang kehidupan. Ia lebih memilih untuk terus bekerja tanpa pernah mau mengeluh seberapapun besarnya tanggung jawab yang ia pikul. Ia merasa bahwa dirinya jauh lebih besar ketimbang masalah-masalah yang ada. Dan bahwa Allah maha pembela orang-orang beriman. Maka ia yakin akan pertolongan Allah. Allah lah yang akan memenangkan dirinya dan agamanya di atas siapapun juga. Insya Allah.

begitulah cinta, bahwa ialah yang menggerakkan hati ini untuk memberi dan menjamah tiap-tiap hati dengan taburan bunga nan indah. dan begitulah memberi, bahwa ia hanya akan berbuah amal jika disertai keikhlasan. dan begitulah keikhlasan itu, bahwa ia tercipta saat visi dan misi telah memenuhi relung hati terdalam. maka jangan tanya nikmatnya saat memberi di jalan-Nya. bahwa ada ganjaran yang begitu besar menanti dibalik kelamnya dunia ini: SURGA. dan begitulah saat visi akhirat hadir di kehidupan dunia kita, bahwa memberi satu akan mendapat dua: DUNIA AKHIRAT DAPET.

Kebaikan. Begitulah rupa kata dan perbuatan yang teramat indah mempesona untuk diucap dan didengar. Terlebih untuk diaplikasikan. Bahwa setiap orang yang memancarkan aura kebaikan dalam dirinya, maka ia pasti memberi. Memberi sebanyak-banyaknya pada siapapun orangnya. Inilah agaknya rahasia dibalik rahasia tentang, “Mengapa ada orang yang memiliki magnet penarik yang begitu kuatnya pada diri kita?”. Jawabannya adalah: Karena orang-orang yang banyak memberi kebajikan itu adalah orang-orang yang telah mengembangkan gagasan dalam dirinya untuk menjadi seorang pecinta. Yah, pecinta. Pecinta sejati. Cinta dengan sebenar-benarnya cinta. Bahwa cinta adalah memberi. Itulah makna sejatinya. Itulah gagasan utamanya.

Itulah fenomena yang menjelaskan mengapa ada orang yang ketika kita berhadapan dengannya, kita tak mampu untuk berkata tidak dihadapannya. Saat ia berbicara. Saat ia berceramah. Saat ia berkhutbah. Saat ia memberikan petuha-petuah dan nasihat-nasihatnya kepada kita. Kita tunduk pada dirinya. Itulah fenomena yang menjelaskan mengapa kita seolah menjadi seekor keledai yang hidungnya telah dicucuk oleh sang pemilik. Jawabannya adalah karena kebaikannya yang terjelma dari apa yang ia berikan pada kita jauh lebih banyak dari apa yang kita berikan untuknya.

Hal inilah yang terjadi pada seorang pemuda dengan ibu kost-annya di suatu tempat di dekat kampus ternama di Depok sana.

Pemberian pertama ibu kost-an tersebut pada pemuda itu adalah harga sewa kamar yang murah. Cukuplah itu membantu meringankan biaya bulanan yang harus dikeluarkan sang pemuda. Bukan main kelabakannya jika pemuda itu harus mengeluarkan biaya yang lebih besar dari harga sewa kost-an yang ditetapkan oleh ibu kost-an tersebut. Maka harga sewa kamar yang murah itu adalah pemberian. Pemberian pertama seorang ibu kost-an pada seorang pemuda yang tentu sangat-sangat membantunya.

Pemberian kedua adalah dalam hal menyediakan makanan. Ibu kost-an selalu menyediakan makanan setiap harinya untuk pemuda itu dan beberapa orang kawannya yang lain yang kebetulan kost di sana. Memang pemuda itu harus membayar setiap kali makan. Tapi sekali lagi, ia hanya membayar relatif lebih murah ketimbang ia harus membeli makanan di luar. Lagipula, ia tak perlu repot-repot untuk mencari makanan di warung-warung makan. Makanan yang dibut ibu kost-an itu pun enak-enak. Sangat enak dan menunya selalu berganti. Setiap kali makan, yang selalu dikatakan di dalam hati pemuda itu adalah: “Jika saya makan ini di luar, tidak mungkin saya mengeluarkan biaya sebesar yang harus saya bayar pada ibu kost-an. Pasti bayarnya akan jauh lebih besar makan di luar”. Terlihat bahwa ibu kost memang tidak mencari keuntungan dari sana. Ia hanya ingin membantu. Hanya ingin memberi. Itu saja.

Jika ingin menjabarkan apa yang telah diberikan ibu kost pada anak muda tersebut, tentulah tak cukup untuk dituliskan dalam cerita ini. Karena memang ada begitu banyaknya hal yang diberikan ibu kost pada pemuda tersebut. Tapi cukuplah bahwa kebajikan memberi untuk dua hal tersebut saja sudah membuat sang pemuda menuruti segala apa yang “dikehendaki” –tentu yang baik-baik- dari ibu kost-an. Karena kedua hal itu adalah kebutuhan pokok bagi pemuda tersebut. Sehingga kita bisa melihat di sini bahwa ketika kita mampu untuk memberikan kebajikan berupa hal-hal pokok pada seseorang, maka seolah kita telah menyelamatkan nyawanya dari kematian. Disitulah hati orang tertaklukkan. Disitulah makna cinta sejati tersemai.

*Semoga kita semua bisa seperti ibu kost-an tersebut yang mampu memberi hal-hal tepenting dalam hidup seseorang. Amin.

Total Kunjungan:

  • 641,440 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Kenal Lebih Dekat di: