Nur Ali Muchtar

Posts Tagged ‘KONTAINER

Cukup sudah kita mengutuki jalan raya. Saatnya memandang jalan raya dengan perspektif baru. Memang kemacetan Jakarta telah membuat banyak orang “stress” dan gampang naek pitam. Gak percaya? Silakan gas sepeda motor Anda untuk berjibaku dengan kemacetan. Saya jamin, Anda akan melihat banyak orang “stress” mengendarai sepeda motor ataupun mobil. Macet, panas, debu, kontainer membuat manusia Jakarta semakin gampang meledak-ledak. Istilahnya, “senggol dikit, bacookk”. Tapi mari kita tidak melulu mengutuki kondisi. Karena biar bagaimanpun, kita tak bisa melakukan banyak hal dengan kondisi yang ada. Ini adalah kondisi di luar (eksternal) diri kita. Maka cara termudah bagi kita untuk merubah keadaan adalah dengan memperbaiki cara kita menyikapi kondisi yang ada. Jadi dimulai dari dalam diri kita sendiri. Kondisi internal diri kita sendiri.

Kebetulan saya sudah naek motor selama enam tahun sejak kelas tiga SMA. Dulu memang saya jarang keliling Jakarta. Tapi saat kuliah, keliling Jakarta sudah menjadi semacam ritual rutin bagi saya. Betapa tidak, saya tinggal di Jakarta Utara dan harus kuliah di Depok. Sedang untuk bisa mencapai Depok, saya harus “mendaki gunung melewati lembah” Jakarta Timur, Jakarta Pusat, dan Jakarta Selatan. Hanya Jakarta Barat yang jarang saya lalui. Tapi setelah lulus kuliah, saya malah sering keliling Jakarta Barat. Kesimpulannya: hampir semua sudut dari kota Jakarta ini pernah saya lewati. Dan alhamdulillahnya, selama enam tahun malang melintang di dunia permotoran, saya tidak pernah kecelakaan yang penyebabnya karena kelalaian saya sendiri (mudah-mudahan kedepannya juga tidak. amin). Memang saya pernah kecelakaan sebanyak dua kali. Tapi itu bukan karena kesalahan saya. Yang pertama adalah kesalahan teman saya yang membawa motor (saya bonceng). Alhamdulillah tidak terlalu parah. Hanya pantat celana saya yang robek. Yang kedua, karena saya ditabarak dari belakang saat di lampu merah. Konyol kan? Begitulah orang Jakarta kalo udah di jalan raya. Lampu merah, masih mau diterobos. Edan.

Berikut adalah hal-hal positif yang bisa kita pelajari dari kehidupan keras jalan raya:

  1. Buat saya, jalan raya adalah tempat yang paling sering mengingatkan saya pada Tuhan semesta alam, Allah SWT. Saya menyadari bahwa kita tak punya kuasa lagi atas nyawa kita saat berkendaraan di jalan raya. Semuanya bisa saja terjadi. Maka cara terbaik buat saya adalah selalu bedoa dan mengingat Allah di setiap kesempatan naek motor. Di sinilah waktu paling banyak saya beristighfar. Saya selalu berdoa: semoga Allah melindungi saya dari mara bahaya selama dalam perjalanan dan semoga saya bisa sampai ke tujuan dan balik lagi ke rumah dalam kondisi sehat wal afiat. Amin.
  2. Belajar untuk menjadi orang yang sabar. Kondisi panas, macet, debu, kontainer, dan lain-lainnya membuat emosi orang gampang meluap. Tapi inilah saat yang paling tepat untuk kita belajar bersabar. Belum lagi kalo ada orang yang naek motornya seenak udelnya aja atau kita ditabarak dari belakang. Pasti ini membuat emosi kita gampang meledak. Tapi justru dari kejadian-kejadian inilah harusnya kita lebih banyak belajar tentang arti kesabaran. Belum lagi jika sedang jalan enak-enak, eh ternyata ban bocor. Nah lo, kalo kita gak sabaran, saya jamin kita akan tambah sengsara dan gampang stress. Maka sekali lagi, di sinilah kita bisa belajar untuk bersabar.
  3. Tenang dan tidak tergesa-gesa. Bayangkan jika Anda berkendaraan di wilayah saya di Jakarta Utara dimana mobil kontainer hampir sama banyaknya dengan kendaraan pribadi. Bayangkan jika semua kontainer keluar dari sarangnya dan tumpah ruah di jalan raya. Apa yang akan terjadi: jalanan menjadi angker dan nyawa kita dipertaruhkan di sana. Jika kita tidak tenang dan maunya terburu-buru terus, maka peluang untuk terjadinya kecelakaan pasti lebih besar. Coba bayangkan jika di depan Anda ada sebuah kontainer yang sedang jalan merayap. Lantas di depan kontainer itu ada jalanan menikung. Karena Anda tak sabaran dan maunya buru-buru, ternyata ada sebuah mobil dari arah yang berlawanan juga melintas. Tamat sudah kisah hidup Anda. Ada pekataan “waspadailah apa yang tidak terlihat”. Saya pribadi, kalo sudah berkendaraan di wilayah Jakarta Utara, lebih milih prinsip “lama sampe gak apa-apa, yang penting selamat, gak masalah ketimbang terburu-buru hingga harus bertaruh nyawa”.
  4. Belajar untuk menjadi manusia kuat. Bayangkan jika di jalan raya kita gampang sekali lesu dan ngantuk. Tentu akan sangat beresiko buat kita. Maka di jalan raya inilah kita belajar untuk menjadi manusia kuat. Atas alasan inilah saya memiliki motivasi yang cukup kuat untuk terus menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat, segar, bugar dan kuat. Ini salah satu motivasi saya untuk terus berolahraga rutin setiap hari. Bayangkan jika kita tidak pernah berolahraga, mungkin kita akan mudah sekali lemas saat tengah berada di jalan raya. Ujung-ujungnya, sakit.
  5. Belajar untuk memiliki respek yang lebih besar pada diri sendiri. Memang nyawa ada di tangan Tuhan, tapi bukan berarti menjadi alasan bagi kita untuk ugal-ugalan di jalan raya. Selalu ingat perjuangan yang telah kita lakukan untuk bisa survive hingga saat ini, bisa menjadi semacam pengontrol bagi kita untuk berhati-hati saat di jalan raya. Kalo kita tetep nakal juga hingga sampai kecelakaan di jalan raya yang menyebabkan nyawa kita terancam, hilang sudah semua jerih payah yang kita perjuangkan untuk survive dalam kehidupan. Semuanya menjadi sia-sia karena kekonyolan kita sendiri di jalan raya. Inget juga: kita belum nikah (buat yang belum nikah seperti saya. hehehehe…), belum bisa ngebahagiain orang tua, belum kontribusi banyak tuk masyarakat dan negara. InsyaAllah ini akan menjadi motivasi tambahan tuk kita agar selalu berhati-hati saat berkendaraan di jalan raya. Saya ingin mengatakan pada orang-orang yang suka kebut-kebutan di jalan raya (bukan di ajang balapan yang sesungguhnya): mereka adalah orang-orang yang pikirannya pendek, gak peduli sama nyawanya, preman tengik, cuma bisa buat orang kesel, gayanya sebakul, bermasa depan suram, dan gak punya harapan. Maaf, ini saking keselnya saya sama orang-orang yang suka kebut-kebutan seenak udelnya di jalan raya. Orang ini adalah orang yang paling banyak disumpain sama masyarakat biar tabrakan. Maaf.
  6. Saat di jalan raya adalah saat yang paling tepat buat kita berpikir, merenung dan instrospeksi diri. Saya pribadi, lebih senang untuk menghabiskan waktu yang bisa dibilang cukup banyak terbuang di jalan raya dengan berpikir, merenung dan instrospeksi diri. Inilah waktu dimana saya sering meninjau ulang apa-apa yang pernah saya alami, baca, dan diskusikan dengan orang lain. Saya selalu berusaha untuk mencari yang terbaik dari apa-apa yang saya pikirkan itu. Tujuannya adalah untuk mendapatkan pola pandang baru yang akan digunakan untuk mengatasi masalah-masalah hidup agar lebih baik dan bermakna.
  7. Belajar fokus. Meski di poin 6 saya katakan bahwa saya lebih banyak berpikir, merenung dan instrospeksi diri saat berkendaraan, bukan berarti saya lalai. Justru karena saya melakukan “pekerjaan” lain di dalam pikiran saya, kewaspadaan, kehati-hatian dan sikap fokus saya bertambah dua kali lipat. Malahan saya lebih bisa menikmati perjalanan sambil mengayuh kendaraan dengan pelan-pelan. Tentu sambil berpikir, merenung dan instrospeksi diri. Tidak jarang saya malah banyak dapet ide nulis dari sana (saat berkendaraan). Contohnya adalah tulisan ini. Fokus berarti kita tetap pada keadaan siaga dan tidak gampang buyar pikiran. Biasanya, kalo orang gampang emosian di jalan raya, orang tersebut akan mudah kehilangan fokus. Dan ini sangat berbahaya untuk berkendaraan di jalan raya. Dengan fokus, kita tetap berusaha untuk menjaga jarak dengan kendaraan lain yang ada di depan, belakang, samping kanan dan kiri. Kita bisa menghindar dengan cekatan untuk mengelak dari tabrakan sebabnya karena kita tetap fokus. Jadi fokus ini menjadi sebuah keharusan saat berkendaraan di jalan raya.
  8. Preparation. Sapa bilang ini tidak penting? Justru ini sangat penting sekali. Dengan persiapan yang matang berarti kita telah mengantisipasi untuk segala kejadian yang tak kita harapkan. Misal: mengecek kondisi motor (apakah dalam kondisi siap “tempur” atau tidak), mengecek dompet dan hp agar tidak tertinggal di rumah (takut sewaktu-waktu ban boco, beli air mineral, dll), menganalisis jalur-jalur tercepat dan tidak terlalu macet untuk bisa sampai ke tujuan, membawa jas hujan, mengenakan jaket yang tebal, helm, masker, sarung tangan, sepatu, dll. Semua ini adalah persiapan-persiapan yang harus kita lakukan saat hendak berjibaku di jalan raya. Ini memberi pelajaran pada kita bahwa kehidupan kitapun harus direncanakan.

Yang terhormat walikotaku, walikota Jakarta Utara. Sebelumnya, maaf beribu-ribu maaf dan ampun beribu-ribu ampun telah berani-beraninya menulis surat terbuka untuk bapak. Meski saya tidak menujukan tulisan ini langsung pada bapak, tapi saya yakin, cepat atau lambat, tulisan ini akan bapak baca juga. Zaman sekarang, saya percaya dengan kekuatan bernama INTERNET. Dan internet ini yang nantinya akan bekerja untuk saya guna menyampaikan secuil curhatan saya akan kondisi Jakarta Utara, kini.

Perkenalkan pak, saya Nur Ali Muchtar, S.Si. Saya lahir dan besar di Jakarta Utara tepatnya di kampung Sungai Tiram (dekat Marunda Baru), Cilincing, Jakarta Utara. Konon, kedua orang tua saya yang kini berusia 60-65 tahun, sejak kecil telah menghuni wilayah ini. Kesimpulannya, saya asli penduduk Jakarta Utara. Betawi tulen.

Yang terhormat bapak walikota. Saya merasakan sendiri betapa Jakarta Utara ini, kian ke sini, kian padat dengan segala sesuatunya. Dulu, semasa kecil, di jalan raya di depan rumah saya, saya masih bisa bermain bola saat tengah malam. Tapi agaknya hal itu mustahil untuk dilakukan pada saat ini mengingat hampir 24 jam jalan raya di depan rumah saya itu penuh lalu lalang dengan berbagai macam kendaraan. Yang ingin saya keluhkan di sini bukan mengenai bertambah ramainya jalan di depan rumah saya. Saya memaklumi hal tersebut karena logikanya, semakin ke sini tahun berganti, pasti suatu daerah akan semakin ramai. Apalagi yang namanya Kampoeng Jakarta. Saya tidak mengeluhkan itu. Ada hal lain yang jauh lebih penting yang ingin saya sampaikan karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Hajat hidup masyarakat sekitar Jakarta Utara.

Begini loh pak. Saya kok agak risih ya melihat begitu banyknya kendaraan jenis kontainer dan truk yang melintas di wilayah Jakarta Utara. Semua orang pasti maklum kenapa hal ini terjadi mengingat Jakarta Utara adalah kota pelabuhan. Jadi wajar saja kalau toh disini banyak kontainernya. Tapi pak, yang jadi masalah adalah semakin ke sini kok saya melihat semakin banyak kontainer yang lalu lalang berbaur bersama kendaraan pribadi. Jumlahnya sangat-sangat tidak proporsional dengan kondisi jalan raya yang ada. Lihatlah wajah Jakarta Utara di jalur tengkorak (cakung, kbn marunda, cilincing, yos sudarso, pelumpang, semper), hampir setiap hari terjadi kemacetan. Hampir setiap hari terjadi kecelakaan. Terlebih saat makhluk-makhluk raksasa itu keluar dari sarangnya untuk urusan angkut mengangkut barang. Bukan main semrawutnya. Bukan main sumpeknya. Bukan main macetnya. Bukan main seramnya. Duhduhduhhh…

Pernahkah bapak berkendaraan, maksud saya naik motor (bukan naik mobil) melintasi jalur tengkorak tersebut saat lalu lalang kontainer sedang pada puncaknya? Bayangkan pak, kita diserang oleh kontainer dari berbagai macam arah penjuru angin: depan, belakang, samping kiri, samping kanan. Semuanya adalah kontainer. Bapak bayangkan sendiri sebesar apa dan seberat apa mesin raksasa bernama kontainer itu beserta seluruh peralatan tempurnya (baca: peti kemas)? Entahlah pak sudah berapa banyak nyawa yang teregang akibat terjangan ganas kontainer-kontainer ini!! Baru beberapa hari yang lalu saya melihat terjadi kecelakaan motor karena disenggol oleh kontainer di jembatan di samping rumah susun cilincing. Saya tak berani melihat maka saya langsung kabur. Mau muntah saya melihatnya. Melihat kejadian-kejadian seperti itu, darah saya seolah berhenti mengalir. Atau jantung saya seolah berhenti berdetak. Saya benar-benar takut dan ngerih. Terlebih kalo ngebayangin yang kecelakkan itu adalah sanak saudara/tetangga/teman-teman saya sendiri. Bisa pingsan saya pak. Nauzubillah. Semoga jangan.

Saya rasa sudah tidak masuk logika lagi jika jalur tengkorak itu harus terus digunakan berbarengan antara keperluan jalan kontainer dengan kendaraan-kendaraan pribadi. Sudah saatnya buat jalur khusus untuk kontainer yang tentu berbeda dengan jalur kendaraan-kendaraan umum. Atau batasilah jumlah kontainer hingga batas-batas yang wajar dan proporsional. Jangan terus menerus mengikuti keingingan-keinginan para pengusaha kontainer itu. Saya merasa kasihan aja pak dengan masyarakat Jakarta Utara yang batinnya tiap hari tertekan (ini saya yang alami sendiri kok) saat melintasi jalan-jalan di Jakarta Utara. Entahlah apa yang sedang direncanakan oleh para pemimpin ini dengan tata kota wilayah Jakarta Utara. Tapi kalo mau berkaca sedikit dengan keseriusan pemerintah membenahi infrastruktur yang ada di wilayah Jakarta Utara, baiknya kita lihat dengan pembangunan jembatan tinggi yang ada di sebelah rumah susun cilincing.

Saya tahu jembatan yang saat ini sering digunakan oleh kendaraan-kendaraan untuk melintasi wilayah kbn marunda menuju cakung adalah jembat yang baru dibangun. Tadinya saya senang sekali karena saat itu ada dua jembatan yang bisa di lewati kendaraan dari dua arah yang berbeda. Pasti gak akan macet. Tapi selang berapa lama, jembatan yang lama, rubuh (rusak). Saya maklum karena usia jembatan ini sudah sedemikian lamanya. Saya kok yang menjadi saksi hidup dan mengalami getir pahitnya melintasi jembatan yang lama itu. Saat jembatan lama ini rusak, hampir dipastikan macet yang sangat dahsyat melanda wilayah Jakarta Utara bagian paling Utara ini. Dan seperti proyek pengerjaan-pengerjaan jembatan / jalan raya yang lain, perbaikannya pun membutuhkan waktu yang bisa dibilang tidak sedikit. Akhirnya, kami harus rela berhari-hari, berminggu-minggu bahkan berbulan bulan untuk terus terjebak dengan kemacetan.

Kini jembatan itu hanya tinggal satu yaitu yang baru jadi. Tapi itu juga sudah mulai terlihat kerusakannya hanya dalam waktu beberapa bulan. Saya mafhum karena setiap hari jembatan itu harus digerus oleh kontainer-kontainer yang jumlahnya sealaihim gambreng dan beratnya nauzubillahiminzhalik.

Jadi kalo mau ngeliat keseriusan pemerintah khusunya pemerintah Jakarta Utara, mari kita lihat pembangunan Jembatan yang satunya itu (jembatan yang lama). Pak walikota yang terhormat. Setiap hari saya melintasi wilayah itu dan yang saya lihat hanya ada segelintir pekerja yang mengerjakan perbaikan jembatan tersebut. Bisa jadi jumlahnya tidak lebih dari sepuluh orang. Bayangkan saja. Jembatan yang sedemikian besarnya harus diperbaiki oleh sedikit orang, kapan selesainya pak? (Kondisi ini sudah cukup lama lho semenjak perubuhan jembatan yang lama). Sedang disisi yang lain, kenyataan di lapangan bahwa kemacetan, kecelakaan, dan lain-lainnya menjadi hal yang tak terelakkan. Semakin lama perampungan jembatan tersebut, tentu akan semakin menambah daftar panjang kemacetan dan kecelakaan (kematian) warga sekitar Jakarta Utara. Mbok ya kasihan toh pak dengan kami-kami rakyat kecil ini.

Saya sebagai rakyat jelata kadang merasa jealous (jengkel) dengan pengusahan-pengusaha peti kemas yang ada di wilayah Jakarta Utara. Saya bukan iri pada harta melimpah yang mereka peroleh. Saya merasa kayaknya mereka belom mengeluarkan insentif yang lebih besar untuk mengganti semua kerugian-kerugian yang telah mereka perbuat di wilayah Jakarta Utara. Saya tidak menafikkan jasa mereka bagi pembangunan ekonomi nasional. Saya rasa itu hanya sebagai konsekuensi dari keuntungan besar yang mereka peroleh. Kalau mereka memang peduli dengan masyarakat sekitar, harusnya, disamping pajak yang mereka bayar pada negara, mereka memberikan hal-hal lain yang berguna bagi masyarakat Jakarta Utara. Tidak usah membayangkan yang aneh-aneh. Cukup dengan memikirkan bagaimana caranya agar masyarakat sekitar Jakarta Utara tidak menjadi korban-korban kemacetan dan kecelakaan berikutnya yang lebih banyak. Entah dengan membuat jalan khusus untuk kontainer yang berbeda dengan kendaraan umum. Entah dengan membatasi jumlah kontainer yang boleh dimiliki oleh setiap pengusaha. Renovasi jembatan secepatnya. Atau dengan cara-cara yang lain yang lebih memperhatikan keselamatan.

Perlu dicamkan. Kami ini manusia-manusia pak yang hidup sama seperti tuan-tuan dan bapak-bapak terhormat. Kami juga butuh ketenangan, kenyamanan dan keselamatan. Sama seperti bapak-bapak. Tidak bisa Anda egois dengan hanya mementingkan keuntungan perusahaan atau golongan Anda saja.

Tak ada salahnya jika saya membeberkan juga apa yang menjadi keluhan saya pada pengusaha-pengusaha peti kemas di wilayah Jakarta Utara. Kalo kita mau melihat keseriusan mereka dengan usaha yang mereka geluti terhadap hati kemanusiaan yang harusnya mereka berikan, mari kita lihat dengan contoh kecil berikut ini. Kita semua tahu betapa besarnya kontainer itu. Betapa tingginya ia. Dan betapa panjangnya ia. Jelas-jelas di bagian belakangan kontainer sering disebutkan: Long Vehicle. Kendaraan Panjang. Tapi pak, ini yang membuat saya justru miris. Kok bisa-bisanya ya kaca spion yang ada di setiap kendaraan super raksasa itu berukuran amat mininya. Ukurannya hanya lebih besar sedikit dari kaca spion kendaraan pribadi. Sungguh sebuah perbandingan yang amat tidak proporsional jika dibandingkan dengan ukuran badannya. Dari sini kita sudah melihat akan ketidakseriusan para pengusaha itu terhadap keselamatan pengguna jalan yang lain. Harusnya, kendaraan yang sebegitu besarnya, spionnya juga harus lebih besar. Jauh lebih besar dari kendaraan-kendaraan yang lain agar bisa menjangkau sasaran dengan lebih luas. Tentu hal itu bisa mengurangi angka kecelakaan dan kematian di jalan Raya Jakarta Utara

Belum lagi pak betapa garangnya sopir-sopir kontainer itu. Subhanallah. Saya tahu kebanyakan dari mereka buka masyarakat Jakarta Utara. Mereka semua adalah pendatang yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Jelas mereka tak punya ikatan batin dan emosional dengan warga kota Jakrta Utara. Contoh kasusnya seperti ini, entah benar atau salah, ini saya dapat dari penuturan teman saya yang ia dengar langsung dari sopir kontainer. Kalo misalkan sebuah kontainer menerjang kendaraan pribadi, mereka lebih mengharapkan korbannya itu langsung meninggal di tempat. Alasannya sederhana: biaya yang harus ditanggung perusahaan kontainer jauh lebih murah. Paling kisaran di bawah 5 jutaan. Tapi kalo misalkan gak langsung mati dan harus di operasi, kan biayanya akan jauh lebih mahal. Bisa puluhan atau bahkan ratusan juta rupiah. Belom lagi jika disangkutpautkan dengan hal-hal yang berbau mistis. Teman saya itu bilang, katanya, kalo kontainer itu semakin banyak memakan korban, semakin makmur pula usaha kontainer itu. Wallahu’alam bisshawwab.

Maafkan duhai bapak-bapak atas kelancangan saya menyampaikan surat ini secara terbuka. Saya hanya bermaksud menyampaikan unek-unek yang sempat terpendam bertahun-tahun lamanya. Puncaknya adalah sekarang karena semakin ke sini, kondisi jalan raya Jakarta Utara semakin kurang kondusif untuk dilewati. Tapi mau bagaimana lagi. Kami harus bekerja. Harus mencari penghidupan. Tolonglah pak bangun sedikit empati untuk kami warga masyarakat Jakarta Utara. InsyaAllah apa-apa yang bapak-bapak lakukan pasti akan dibalas oleh Allah dengan balasan yang setimpal. Jika banyak kezhaliman dilakukan, pasti Allah akan membalasnya dengan yang setimpal. Tapi jika sebaliknya yaitu banyak kebajikan-kebajikan yang bapak-bapak lakukan untuk warga sekitar, maka balasan Allah juga pasti akan indah. InsyaAllah.

Saya rasa, gak lebay juga kalo saya bilang, berkendaraan di wilayah Jakarta Utara seperti bertempur melawan maut. Apa pasal? Apa lagi sebabnya kalo bukan karena kontainer-kontainer dan truk-truk yang bejubel-jubel memenuhi seantero jalan raya Jakarta Utara. Dan untuk titik-titik tertentu, saya kira kondisinya sudah sedemikian parahnya karena menyebabkan kemacetan hampir setiap hari. Maklumlah, jumlah kontainer dan truk-nya lebih banyak dari kendaraan pribadi. Sedang Anda tau seberapa besar dan seberapa berat satu mobil kontainer berikut peti kemasnya itu?

Makanya, ketika melintasi jalur yang oleh kompas disebut jalur tengkorak yaitu: cakung, kbn marunda, bidara, cilincing-priok, plumpang, dan yos sudarso, saya sering sport jantung. Kadang saya menjerit dalam hati: “Kenapa saya harus tinggal di wilayah seperti ini?”. Semasa kuliah di UI depok, saya membayangkan bahwa di sekitar UI lah masa depan (baca: rumah) saya. Asri, hijau, adem, nyaman, sejuk, gak ngebul dan berdebu. Tapi nyatanya, setelah lulus, saya harus kembali ke kampung halaman, tempat saya lahir dan di besarkan ini, di Jakarta Utara ini. Tempat yang berbeda seratus delapan puluh derajat dengan wilayah depok. Karena di sini, di Jakarta Utara ini, Anda akan menemukan semua kriteria ketidakidealan tempat huni: panas, ngebul dan berdebu, bising, dan setiap hari harus “bertempur” melawan kontainer-kontainer dan truk-truk yang melintas.

Kadang saya sering membesar-besarkan diri dengan pemikiran para pahlawan penuh heroik dengan mengatakan dalam hati dan benak saya: “Meski saya harus bertempur melawan maut setiap hari di buminya para kontainer dan truk, tapi di sinilah saya dilahirkan. Maka di sinilah saya harus mengabdi”. Dan banyak lagi alasan-alasan lain yang sengaja saya buat agar saya mau lebih mencintai tanah kelahiran beta ini (meski batin selalu menjerit tiap kali melafalkan kalimat-kalimat sakti mandraguna itu).

Kenyataannya, kini, setiap hari saya harus melewati jalur terngkorak itu. Ada bagusnya memang bahwa setiap saya bermotoran di jalur tengkorak tersebut, saya lebih banyak mengingat Allah. Bisa jadi, itulah saat-saat dimana saya paling membutuhkan pertolongan Allah. Bahkan saya sering berdoa: “Ya Allah, jangan cabut nyawa hamba dengan cara yang “konyol” seperti tertabrak kontainer/truk. Cabut nyawa hamba dengan cara yang jaaaauuuhhhh lebih baik. Amin”.

inilah sedikit “gerutuan” saia mengenai tempat tinggal saia saat ini. kesannya kayak saia pernah tinggal di tempat lain aja ya!? padahal kawan, dari saia keceprot hingga saia tumbuh dewasa, sehat dan “ganteng” seperti sekarang ini, saia belum pernah tinggal / pindah ke tempat / daerah lain kecuali tempat saia ngekos di depok sekarang ini. cukup, ini cuma sekadar intermezo aja.

tempat / daerah saia tinggal saat ini berlokasi di Marunda, Jakarta Utara. siapa di antara kawan-kawan sekalian yang pernah pergi ke daerah ini? pastinya tau dong daerahnya seperti apa?

baiklah, sedikit saia kasih gambaran. sepotong gambarannya saja ya! marunda ini berada di kota Jakarta Utara. kawasan ini merupakan kawasan pinggiran kota Jakarta. marunda ini dekat dengan laut. berarti dekat pula dengan tanjung priok yang terkenal itu. nah, karena di pinggir laut dan dekat dengan priok, maka banyak sekali di sini mobil-mobil yang gede ukurannya. tau kan mobil yang saia maksud? yuph, KONTAINER. inilah yang menjadi kunci utama kenapa saia menuliskan hal ini.

saia tidak mengutuki tempat saia tinggal saat ini. ini hanya sekadar unek-unek yang ingin saia tumpahkan sejak dahulu kala. terus terang, tinggal di daerah jakarta utara sini, khususnya daerah yang dilewati oleh mobil kintainer ini -eks: marunda, cilincing, cakung, jalan baru, semper, mambo, kota dan sekitarnya- agak kurang enak menurut saia. bayangkan kawan kalo kita lagi berada di jalan raya, maka saingan kita di jalan ini adalah kontainer. nah, masalahnya adalah, siapa yang berani melawan mobil super bueeesaaaaarrrr penguasa jalan ini? bayangkan kalo kita sedang berada di jalan raya, then di samping kiri kanan depan dan belakang kita diapit oleh mobil hulk ini!? fiuhhhh, gak ngebayangin dech. kalo saia Valentino Rosi sih gak masalah. saia bisa selap selip dengan sangat mudahnya. tapi kawan, yang namanya kecelakaan itu kan gak pandang bulu yah? jadi Valentino Rosi pun bisa “dilahap” oleh mobil jangkung kurus bertubuh panjang ini.

belum lagi debunya. iuhhhhhhhh, ngebul boo, ngebul banget. apalagi kalo kita sedang berjalan di belakang maskot pelabuhan ini. udah ngerih, ngebul lagi. biasanya saia sering nyebut-nyebut (baca: instighfar) kalo udah kayak gini.

entah sudah berapa korban yang “dimakan” oleh mobil ganas ini. yang jelas, bagi saia, tinggal di kawasan ini agak kurang enak dan kurang nyaman. karena memang, menurut saia lagi, kawasan ini kurang cocok untuk dijadikan sebagai kawasan tempat tinggal. lebih cocok sebagai kawansan industri saja.

tapi, mau bagaimana lagi, ortu saia (enyak en babe), adik, kakak, encang, encing, engkong, nyai dan hampir seluruh saudara saia kan sudah tinggal dan menetap cukup lama di sini, maka mau tidak mau ya saia nikmati saja kesemuanya. makanya sekarang kalo saia ngeliat mobil yang satu ini, saia hanya bisa terkagum-kagum sambil bergumam, WOW WOW WOW WOW AMAZING WOW….

Tags:

Total Kunjungan:

  • 659,630 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Komentar Terakhir:

ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Download Majalah Xcode Yogyafr…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Download Majalah Xcode Yogyafr…
Sharonda Teller on Download Majalah Xcode Yogyafr…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Selamat Milad (Ulang Tahun) Ya…
Kata Mutiara Islami… on Selamat Milad (Ulang Tahun) Ya…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Halloo Dunia
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…
ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ on Daftar Situs Yang Menghina…

Kenal Lebih Dekat di: