Nur Ali Muchtar

Posts Tagged ‘Menulis

Setidaknya saya mencatat kurang lebih hampir dua tahun belakangan jarang sekali menulis. Bukan karena saya sudah tidak suka menulis lagi. Atau bukan karena keinginan menulis itu redup. Tapi lebih kepada dorongan hati saya untuk stop dulu menulis barang sesaat. Alasannya karena saat itu saya merasa tulisan-tulisan saya jauh mutu dan bobotnya. Bisa jadi lebih banyak “tulisan-tulisan sampah” yang saya buat. Waktu itu tujuan saya menulis memang untuk melatih dan membiasakan diri menulis. Jadi unsur kualitas nomor sekian. Yang penting setiap hari harus menulis. Untuk pembiasaan aja.

Lambat laun saya berpikir, kayaknya kurang bagus juga produktif nulis tapi tulisannya gak berkualitas. Jadi saya stop dulu menulis sampe sekarang.

Kapan saya lanjut untuk nulis? Waktu itu kepikiran saya bakal lanjut nulis kalo sudah banyak pengalaman di lapangan dibarengi dengan ilmu yang makin banyak, luas dan dalam.

Sekarang, selang hampir dua tahun berselang, saya kembali meninjau kebijakan atas diri saya itu. Apakah sudah saatnya saya kembali menulis? Apakah saya bisa menjamin tulisan-tulisan yang saya buat bisa lebih berbobot dibanding dua tahun yang lalu?

Setelah dipikir-pikir, kayaknya pengalaman saya dua tahun belakangan di lapangan, khususnya yang terkait dengan politik praktis, sudah cukup untuk membuat diri saya merasa PeDe jika saya harus kembali menulis. Kayaknya, dua tahun terus menjaga gairah membaca, utamanya baca-baca apa saja yang bisa saya baca via BB, sudah cukup buat saya untuk PeDe menuliskan ide-ide yang berseliweran di kepala.

Mulai sekarang saya harus kembali memupuk sikap PeDe untuk menulis. Mulai sekarang saya harus benar-benar menulis dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa, sepenuh ilmu dan sepenuh pengalaman. Mulai sekarang saya harus mulai menghidupkan dan merealisasikan satu cita-cita hidup saya yang lain: Menjadi Seorang Penulis ternama.

Akhir kata, hidup hanya pantas diperjuangkan dengan optimisme tinggi. Maka saya memilih untuk merealisasikan mimpi-mimpi saya dengan gairah semangat seorang pemuda. Mohon doanya. Sekian 🙂

Tags:

pagi ini tiba-tiba saja saya sangat ingin menulis. sebabnya sehabis baca buku 101 Creative Notes karya Yoris Sebastians yang pernah menjadi General Manager (GM) Hard Rock Cafe di usia 26 tahun. kebetulan saya dipinjamkan buku ini oleh mentor sekaligus investor saya di English Prestige (Lembaga Kursus TOEFL dan bahasa Inggris), bapak Deddy Muchtadi. beliau sudah berbisnis sejak bangku kuliah dulu di UI sekitar tahun 1985. dan bisnisnya yang sudah cukup besar yaitu bisnis impers (popok bayi). apabila rekan-rekan berbelanja di carrefour dan melihat popok bayi dengan merek lolla’s dan dufy, itu adalah dua merek milik beliau. karyawannya sudah ratusan, pabriknya ada dua yaitu di tanggerang dan malaysia, omsetnya milyaran rupiah perbulan, dan distribusi barangnya sudah se-Indonesia dan Malaysia.

kebali pada alasan kenapa tiba-tiba saya ingin sekali menulis pagi ini. di cover belakang bukunya ini, Yoris mengatakan bahwa seluruh isi bukynya itu ia tulis di Samsung Galaxy Note 10.1. jlebbb.. dahsyat.. keren.. saluthsss mas broohhh… bisa-bisanya ya Bung Yoris ini menulis buku di Samsung Galaxy. kalau Yoris bisa, kitapun pastinya bisa dong?! ya kann?? pelajaran penting yang bisa kita ambil dari kisah Bung Yoris ini: menulis tidak harus selalu di laptop/pc/buku tulis, tapi bisa juga di HP (Samsung Galaxy Note dan BB).

banyak keuntungan-keuntungan yang bisa kita dapatkan tatkala menulis via HP: salah satu diantaranya adalah optimalisasi waktu saat kita sedang berada di luar atau di jalan atau sedang menunggu. kita bisa mengganti aktivitas yang cenderung membosankan itu dengan menulis. bila dihitung-hitung, berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk aktivitas yang bisa dibilang cukup membosankan itu dalam satu hari? totalkan selama satu bulan, juga satu tahun. lumayan banyak ya waktu kita terbuang. tentu akan lebih produktif jika kita mengganti waktu-waktu tersebut dengan menulis di HP seperti yang dilakukan Bung Yoris. s4 apa s7?

sebenarnya, dulu juga saya sempat beberapa kali mencoba untuk mulai menulis via BB sebagai ganti menulis di laptop. alasannya biar gak terlalu ngabisin banyak waktu untuk menulis di depan laptop karena masih banyak kerjaan-kerjaan lain yang harus dikerjakan. tapi entah kenapa, selang beberapa hari, gairah menulis di BB mulai meredup hingga akhirnya saya jarang lagi menulis.

rasa-rasanya saya harus mulai mencoba untuk “memaksakan” diri saya lagi untuk sering-sering menulis meski lewat BB sekalipun. bismillah ahh …

Tags:

woww, ternyata harus menunggu sekitar tiga hari bagi postingan saya berjudul “DISTRO ONLINE” untuk bisa masuk dalam kancah persaingan google. saya menunggu-nunggu kehadirannya di page google seperti seorang bapak menunggu kelahiran anak pertamanya di rumah sakit. satu hari, ia tak muncul. hari kedua, saya makin cemas karena tak urung muncul. baru pada hari ini, hari ketiga, saya bisa merayakan kehadirannya meski posisinya sekarang masih ada di page tiga peringkat tiga. dirgahayu kawan!! 😆 namun ada sebetik gundah gulana dalam hati saya. pasal apa? begini, saya kan buat postingan ini bukan tanpa tujuan. ada tujuan yang ingin saya capai dengan membuat tulisan berjudul “DISTRO ONLINE“. silakan agan n sista liat ke postingan tersebut, bahwa banyak sekali saya tautkan link menuju website DISTRO ONLINE. tujuannya yang pasti untuk mendongkrak posisi DISTRO ONLINE di mata mbah google (bagi yang belum tau DISTRO ONLINE itu apa website apa, silakan tengok sendiri di tkp). tapi sayangnya, di hari ke tiga ini, justru blog saya dengan judul postingan “DISTRO ONLINE” (page tiga) jauh melangkahi posisi DISTRO ONLINE yang kini masih duduk manis di page sebelas 😥

sebenarnya saya berharap supaya dua-duanya bisa duduk manis di posisi teratas google. atau minimal, DISTRO ONLINE bisa dapet page one atau pertamax. kan itu tujuan saya buat postingan berjudul “DISTRO ONLINE” di blog ini. tapi kenyataannya, website yang saya harapkan berjaya justru kalah pamor dengan kedigdayaan https://alymerenung.wordpress.com/. tapi, jauh di lubuk hati terdalam, saya masih menyimpan sebuah harapan bagi perbaikan posisi DISTRO ONLINE di mata google. kan baru tiga hari dan masih mungkin untuk membuat postingan-postingan lain demi mendongkrak popularitas DISTRO ONLINE di masa-masa yang akan datang. untuk engkau hai DISTRO ONLINE, sing sabar yah. untuk engkau hai https://alymerenung.wordpress.com/, jangan pernah bosa membantu belahan jiwamu itu yah. okhay?? hheheh…

Distro Online biruhitamcom

Saya rasa sudah cukup lama juga saya jarang menulis. Tangan rasanya kaku. Jari jemari agak sulit untuk mengiringi kecepatan otak dalam berpikir. Dan ide-ide pun tak seperti dulu, kala terbiasa menulis, banyak dan berhamburan meminta untuk dituliskan semua. Sekarang terasa sekali perbedaannya. Rasa enggan untuk menulis lebih banyak mendominasi ketimbang rasa ingin menulis.

Tapi bukan tanpa sebab saya jadi jarang menulis. Sebab yang paling utama adalah aktivitas di luar yang membuat saya jarang sekali bertatap muka dengan komputer. Maklumlah, kan sudah tidak kuliah!! Terlebih, selama beberapa bulan, komputer yang biasa saya gunakan untuk menulis saya pinjamkan ke salah seorang teman. Sulitnya akses internet juga turut andil atas keengganan saya untuk menulis.

Sekarang saya telah kembali ke kampung halaman (rumah) setelah kurang lebih menimba ilmu selama lima tahun di salah satu kampus ternama di Indonesia. Sekarang saya tinggal di rumah sendiri bersama orang tua. Semua barang-barang (yang memang sedikit) yang ada di kamar kost sewaktu saya kuliah, saya boyong ke rumah. Komputer saya letakkan di dalam kamar. Dan subhanallahnya, kamar saya ini jadi begitu asik untuk digunakan sebagai tempat menulis. Dan tiba-tiba, beberapa saat usai merapikan komputer, batin saya bergumam: “Saya harus kembali menulis”. SEMOGA!!

Tags:

Bermula dari kedua tokoh itu, ia suka menulis. Tapi belakangan, justru karena kedua orang tersebut ia pun lantas malas untuk menulis. Simple alasannya. Hanya karena tokoh pertama mengatakan, “Saya sudah tak tertarik lagi dengan keindahan kata. Saya lebih tertarik pada makna yang terkandung dalam sebuah tulisan. Dan sejauh apa tulisan itu mampu menggerakan masa”. Lain halnya dengan tokoh kedua. Idolanya itu bilang, “Pidato lebih mampu menggambarkan keseluruhan karakter orang yang mengucap. Ia mengalahkan tulisan”. Yes, that’s it. Hanya gara-gara itu. Hanya karena dua hal itu sekarang ia malas untuk menulis.

Sejenak ia berpikir untuk kemudian mengumbar seonggok pertanyaan ini: “Dari mana lagi aku harus mendapatkan gairah menulis?”. Biarlah ia berpikir dan mendoa. Semoga ia beroleh bening mutiara dalam tapanya, segera.

Tags:

Inilah tekad bulat saya. Telah saya tasbihkan pada dunia bahwa saya akan menulis hingga akhir hayat. Saya akan menulis hingga akhir hidup saya meski nanti menulis bukan pekerjaan utama saya. Entah nanti saya akan jadi pengusaha (amin), negarawan (amin), pegawai negeri, politisi, trainer, konsultan, pembicara, atlet, tenaga profesional, ilmuwan, peneliti, dosen, guru sekolah, guru private, bankir, ekonom, pengamat, manager, marketer, programmer, karyawan, travel guide , pengembara, pesakitan cinta, pendongeng, ketua masjid, tukang becak, tukang ojek (bechek), tukang pos, ambtenar, atau yang lainnya, saya akan tetap menulis. Saya merasa bahwa menulis ini adalah salah satu bakat inti saya.

Ada hal yang begitu menggairahkan dalam benak saya ketika menulis. Apalagi saat membaca buku-buku bagus karangan penulis-penulis terkenal. Biasanya nyali saya langsung melonjak girang. Semangat saya meletup-letup seperti buah polong. Tak jarang malah secara spontan menitikan air mata. Hingga muncul keinginan yang begitu kuat dalam hati saya untuk menulis. Selalu seperti itu bahwa ketika saya membaca tulisan yang begitu gurih dibaca, langsung secepat kilat naluri saya mendesak raga saya untuk segera menulis. Jika tidak kesampaian juga untuk menulis, biasanya malah semakin dalam keinginan saya untuk menulis setelah itu. Begitu seterusnya. Hingga terkadang tiba-tiba muncul kalimat-kalimat: “saya akan buat tulisan yang mampu membuat orang terbius seolah terbang melayang tak sadarkan diri”, “saya akan buat tulisan yang indah dibaca dengan gaya bahasa campuran atara: puitis dan penuh bobot”, “saya akan buat tulisan yang gurih dikunya, renyah dipapah, asik dipilah, dan nikmat ditelaah“, “saya akan buat tulisan yang penuh dengan nilai gizi”, “saya akan buat tulisan yang mampu mengubah diri saya dan orang lain”, “saya akan buat tulisan yang mampu menaklukan hatinya”, “saya akan terus mengasah kemampuan menulis saya secara kontinu terus menerus hingga nyawa saya dicabut malaikat Izrail”, “saya akan baca banyak buku biar konten-konten yang saya tulis lebih berbobot”, “saya akan terus bergerak dan bergerak di lapangan biar klop antara apa yang saya tulis dengan pengalaman hidup saya”, “saya akan buat tulisan untuk anak-anak saya, istri saya, emak baba saya, mertua saya, sodara-sodara saya, tetangga saya, handai tolan, dan seluruh umat manusia”, “saya akan buat tulisan yang kelak membuat nama saya harum semerbak layaknya kesturi dalam sejarah peradaban manusia”, “saya akan buat tulisan yang lainnya dan yang lainnya”.

Salah satu inspirasi mengapa saya ingin terus menulis hingga akhir hayat adalah perkataan dari Bung Gede Prama. Sewaktu menjadi pembicara tamu di serial Kick Andy, beliau bilang bahwa “pekerjaan yang tak pernah saya tinggalkan selama hampir 20 tahun adalah menulis”. Padahal kita tahu Bung Gede Prama telah menggeluti banyak sekali profesi mulai dari pembicara publik, konsultan manajemen, pemimpin perusahaan, spiritualis, dan lain-lainnya. Tapi profesi yang tak pernah ia tinggalkan adalah menulis. Camkan itu teman: MENULIS. Saya mau itu.

Dengan menulis berarti kita telah mengukir goresan tinta keabadian bagi hidup kita dalam sejarah umat manusia. “Orang boleh jenius seperti Einstein. Orang boleh tekun setekun Mary Sklodowska Cury atau Thomas Alfa Edison. Tapi orang akan terlupakan oleh sejarah jika ia tak menulis”. Begitulah kata salah seorang guru kehidupan.

Buat saya, tak masalah saat ini konten yang saya tulis hanya konten-konten sederhana yang kebanyakan orang juga sebenarnya bisa tulis. Tapi, seperti pisau. Ia akan tajam jika kita terus mengasahnya. Tapi, seperti beternak hewan. Ia akan terus bertambah bobotnya jika terus kita beri makan. Maka seperti itulah pandangan saya tentang menulis. Bahwa saya akan terus mengasa bakat dan kemampuan menulis saya hingga kian hari kian waktu tulisan saya semakin enak, renyah, garing, gurih, bergizi, dan enak serta nikmat dibaca. Bahwa saya akan terus membaca banyak buku yang berdampak pada kualitas dan kuantitas bobot tulisan saya.

Toh saya baru mulai benar-benar menulis sejak 26 Juni 2009. Tepat saat saya mulai membangun rumah maya saya ini: Menulis Seumur Hidup. Pertama kali saya menulis adalah beberapa minggu sebelum tanggal 26 Juni 2009 tersebut. Jadi sebenarnya saya masih tergolong anak “bau kencur” dalam dunia tulis menulis. Sejak kecil saya tidak pernah menulis yang benar-benar menulis dalam artian menulis yang sesungguhnya, menulis sebuah artikel, puisi, cerpen, novel, apalagi karya ilmiah dan jurnal. Sejak SD-SMA hampir-hampir tidak pernah saya membikin itu semua. Hanya baru dua tahun ke belakang saya mulai mengerjakan proyek ini: menguntai kata. Rekan-rekan bisa melihat semua tulisan saya di blog ini (Menulis Seumur Hidup) sekarang.

Semoga apa yang saya azamkan ini benar-benar bisa saya realisasikan. Dua tahun memang tergolong usia yang muda untuk bisa mengatakan bahwa saya adalah penulis seumur hidup. Tapi, tanpa tekad, kesabaran dan keistiqomahan, hidup ini berasa hambar untuk dijalani. Tak bergairah dan sulit untuk memiliki daya ledak. Yuk kita menulis. Menulis hingga mati. Menulis hingga akhir hayat. Menjadi penulis seumur hidup. InsyaAllah.

Ada yang berniat sama?

kurangkai kata-kata tanpa makna
hanya untuk menyalurkan hasrat
hasrat untuk menulis
yang sebenarnya teramat ingin kulakukan
tapi sulit tuk terlaksana

mungkin karena mentari kian beranjak
dan aku harus segera beralih pada kewajibanku yang lain
yang tak ada sangkut pautnya dengan untaian kata
mungkin juga karena tak ada bahan bagus untuk kutulis
sehingga aku enggan untuk, sekali lagi, menuliskannya
atau mungkin karena keinginan itu hanya sesekali mampir
tak terencana, muncul secara tiba-tiba, temporer
dan akhirnya keinginan baik itu terkalahkan oleh setan

ah, terlalu banyak alasan yang datang
tapi tak apa
asalkan gairah itu tetap tersimpan selama-lamanya
selekat-lekatnya dalam hati
menyekam dalam jiwa
matang bersama denyut jantung yang kian berdetak
hingga jika saatnya tiba dipertemuan:
bahan, gairah, waktu
barulah kumulai dengan segenap jiwa dan raga

semoga

Tags:

Total Kunjungan:

  • 634,713 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Kenal Lebih Dekat di: