Nur Ali Muchtar

Laut

Posted on: September 28, 2009

Sejauh selayang pandang

Laut, hanya laut yang tampak

Diujung batas horizon

Kulihat hanya melulu air

Saat kaki langit bertemu dengan bibir pantai

Cakrawala merekah dengan sempurna

Mengguratkan sesungging keabadian

Aku berdiri ditepian pantai

Menyongsong panorama ketakjuban

Segalanya terpampang dengan alami

Bebatuan, pepasiran, segala jenis hewan, air, ikan

Dan sejuta makhluk lain yang ada disana

Kian meneguhkan eksistensi kehadiran-Nya

Adakah manusia yang tak takjub melihat ini semua?

Bagaimana jika seseorang yang tengah terombang ambing di tengah lautan?

Seperti sejumprut buih dalam lautan putih

Maka, marilah kawan

Marilah kita bermain disini

Ditempat Allah kian dekat dengan kesadaran kita

Biarkan diri kita seperti anak-anak kembali

Saat kita melihat akan semua kuasa-Nya

laut

Laut, hanya laut. Sepanjang delikan mata. Laut, hanya laut yang kusaksikan. Dikejauhan sana, dibatas horizon sana, ditengah-tengah sana, ditepian sana, diujung sana, dibibir sana, laut, hanya laut yang tertampak. Gelimang air dipenuhi dengan digdayanya. Menepiskan segala yang datang menghampiri. Maka keluasannya adalah bukti betapa kecilnya kita. Maka kedalamannya adalah bukti betapa pendek diri kita. Maka kelapang dadaannya membuat segala yang tumpah disana hilang ditelan dalam sekejap tanpa berbekas. Lalu mengapa masih ada saja orang yang angkuh dan menyombongkan diri? Generasi Fir’aun kah ia? Generasi Qarun kah ia? Generasi Yahya bin Nuh kah ia? Generasi Qabil bin Adam kah ia?

Laut. Ditepian sini aku berdiri. Memandang indahnya eksotika alam. Decak kagum terus menyemburat menyeluruh dalam jiwa. Melambungkan asa dengan segala yang ada. Laut demikian indah. Laut demikian luas. Laut demikian mempesona. Laut demikian bijaksana. Laut demikian dalam. Laut demikian digdaya. Laut demikian alami. Begitulah ia diciptakan oleh Sang Kuasa. Lalu, adakah lessons yang bisa kita petik disana? Adakah sesuatu yang mengispirasi kita disana? Dan perlukah kita sejenak membuang segala peluh kesah dihadapan sang laut? Terserah engkaulah kawan.

Tapi kawan, engkau akan sangat merugi jika tak menyempatkan diri barang sesaat untuk menyaksikan pemandangan elok disana. Engkau akan sangat rugi jika tak bisa mengambil pelajaran kehidupan yang diberikan secara geratis oleh laut. Maka disinilah kita bisa merujuk pada teorema Howard Gardner dalam teorinya yang tentang Multiple Intelligence. Bahwa salah satu dari delapan kecerdasan yang ia paparkan, ada satu kecerdasan yang berkaitan dengan alam. Itulah kecerdasan natural. Maka menghidangkan eksotika laut dengan segala gelimang pesonanya adalah salah satu proses pembelajaran bagi kita untuk menambah pundi kecerdasan pada diri kita. Orang tarbiyah menyebutnya Rihlah (melancong) disertai dengan Tafakur Alam (merenungkan alam).

Ingatkah kawan akan ayat berikut ini:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal. Yaitu, orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkat, ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia’. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. [Ali Imran: 190-191].

Yuk sedikit kita renungkan:

Lihatlah itu kawan, keindahan laut saat mentari mulai bangun dari sarangnya. Para pelancong biasa menyebutnya dengan istilah sun rise (matahari terbit). Awalnya, malu-malu ia menampakkan wajahnya pada dunia. Barangkali karena ia masih belum mandi atau cuci muka. Tapi tunggulah barang beberapa menit. Sinarnya mulai memancar menerangi sang bumi. Mulanya hanya sebagian yang ia berikan. Tapi sebagian sinar itulah yang menawarkan pemandangan indah dipermukaan laut. Gelombang laut yang menggulung ditingkahi riakan-riakan air, saat terkena tamparan sinar itu, menimbulkan sensasi penuh keindahan. Warna air laut yang berubah menjadi keperakan, auranya memantulkan kesilauan yang membius mata kita. Beribu cincin yang membentuk rantai hadir disana. Seluruh permukaan laut berkilauan sempurna. Seolah percikan kaca yang hancur diterkam kilat.

Saat sang surya mulai menampakkan keseluruhan jati dirinya, kulihat seorang nelayan yang keseluruhan tubuhnya dipenuhi peralatan tempur ikan, bersiap-siap untuk pergi ke kantornya, di tengah laut sana. Ditemani hanya oleh laut dan langit. Namun kulihat wajahnya penuh dengan sumringah seolah ia akan memboyong banyak ikan saat pulang. Ia bergegas menuju perahu perang andalannya. Dinyalakan starter dan busss…, perahu berjalan dengan laju 60 km/jam. Moncongnya membelah lautan bak tongkat Musa menciduk laut. Sejurus ia telah berada ditengah. Dan lama-kelamaan ia mulai tenggelam ke dalam air. Dan sekarang ia telah hilang keseluruhannya. Inilah pembuktian sains bahwa bumi itu bulat. Maka satu pelajaran moral disana: tak perlu pergi ke luar angkasa menggunakan satelit untuk mebuktikan bahwa bumi kita ini bulat.

Tepat saat mentari mencapai umbun-umbun dan sinarnya membakar semua yang ada di bumi, aku telah berselonjor di dalam mushollah kecil yang ada di pinggir pantai. Kunikmati basuhan lembut angin yang bertiup sepoi-sepoi. Anganku terbang melayang bersama sang angin menuju awan. Lalu kulanjutkan rekreasiku menuju langit ke tujuh untuk menjumpai makluk langit yang ada disana.

Pasca shalat Dzhuhur, tak sengaja mataku disengat rasa kantuk. Tak kuat menahan gempuran hasrat yang menyala-nyala, kurebahkan diri, seketika mati menggerayangi diriku. Aku tertidur hingga Ashar menjelang. Kutunaikan Asharku. Setelah itu, aku berhambur keluar untuk mengambil bagian lain dari keseluruhan hari itu. Aku tak ingin rugi.

Aku berjalan-jalan di sepanjang bibir pantai. Kulihat segerombolan anak-anak sedang bercanda ria. Sebentar-sebentar mereka berenang, dilanjutkan membuat benteng dari pasir, bermain bola, meloncat ke dalam perahu, memancing, dan terakhir kulihat mereka merebahkan dirinya ditengah hamparan pasir putih. Ingin sekali aku bergabung disana. Tapi kuurungkan diri untuk bergabung bersama mereka. Maka kuputuskan untuk menjadi seorang pengamat saja.

Kulanjutkan perjalanan, kali ini, aku menyisiri tepian pantai yang berbatu. Bongkahan batu laut bertumpuk-tumpuk saling berebut posisi. Kombinasi puzzlenya begitu acak. Namun bukan sembarang acak yang bisa dengan gampangnya dihancur leburkan sang gelobang. Meskipun acak, namun kekuatan lemnya begitu dahsyat. Ia telah menyatu dengan kulit tanah. Tak bergeming walau dihajar badai berkali-kali. Kulihat banyak binatang yang menempel di bebatuan itu. Mulai dari kelomang-kelomang, kerang-kerang kecil, ikan buntelan yang timbul tenggelam di sekitar bebatuan, serta binatang-binatang kecil lainnya. Mereka semua hilir mudik di bebatuan itu.

Hari telah sore, tepat pukul 17.30. Kuputuskan untuk mencari tempat yang paling PW (Paling Wenak) untuk bisa menjarah sun set sekitar pukul 18.00. Kulihat diujung sana, ada sebongkah batu raksasa yang duduk menjulang tinggi. Maka kuputuskan untuk menjejakkan kaki kesana. Saat sampai, kurebahkan diri barang sesaat, menghembuskan napas sambil memandangi langit yang sebentar lagi ditelan malam. Kubuka bekalku berupa roti, gorengan-gorengan serta sebotol teh. Kunikmati itu semua sambil mendengarkan kombinasi musik alam yang dibentuk oleh paduan: deburan ombak menghajar bebatuan, kicauan burung-burung, tawaan anak-anak yang timbul tenggelam ditelan suara ombak, deru mesin perahu para nelayan, serta desiran angin yang menampar wajahku dan pepohonan. Untuk kesekian kalinya anganku melayang. Pikiranku terbang melintasi prahara ditengah laut sana. Kubayangkan aku terbang seorang diri ditengah laut, dan sejurus sayapku seperti keseleo. Aku tak kuasa untuk terbang lagi. Tak ada tempat untuk menyandarkan diri. Maka gulungan ombak segera menelanku seketika.

Disaat seperti itulah aku terbangunkan. Ah, kulihat mentari sudah mula undur diri dari pentas gelanggang dunia. Aku segera berdiri. Menikmati indahnya sun set yang membentuk cahaya keemasan di atas langit sana.

[Nur Ali Muchtar / DSI MII / BTA LA]

https://alymerenung.wordpress.com

Laut, hanya laut. Sepanjang delikan mata. Laut, hanya laut yang kusaksikan. Dikejauhan sana, dibatas horizon sana, ditengah-tengah sana, ditepian sana, diujung sana, dibibir sana, laut, hanya laut yang tertampak. Gelimang air dipenuhi dengan digdayanya. Menepiskan segala yang datang menghampiri. Maka keluasannya adalah bukti betapa kecilnya kita. Maka kedalamannya adalah bukti betapa pendek diri kita. Maka kelapang dadaannya membuat segala yang tumpah disana hilang ditelan dalam sekejap tanpa berbekas. Lalu mengapa masih ada saja orang yang angkuh dan menyombongkan diri? Generasi Fir’aun kah ia? Generasi Qarun kah ia? Generasi Yahya bin Nuh kah ia? Generasi Qabil bin Adam kah ia?

Laut. Ditepian sini aku berdiri. Memandang indahnya eksotika alam. Decak kagum terus menyemburat menyeluruh dalam jiwa. Melambungkan asa dengan segala yang ada. Laut demikian indah. Laut demikian luas. Laut demikian mempesona. Laut demikian bijaksana. Laut demikian dalam. Laut demikian digdaya. Laut demikian alami. Begitulah ia diciptakan oleh Sang Kuasa. Lalu, adakah lessons yang bisa kita petik disana? Adakah sesuatu yang mengispirasi kita disana? Dan perlukah kita sejenak membuang segala peluh kesah dihadapan sang laut? Terserah engkaulah kawan.

Tapi kawan, engkau akan sangat merugi jika tak menyempatkan diri barang sesaat untuk menyaksikan pemandangan elok disana. Engkau akan sangat rugi jika tak bisa mengambil pelajaran kehidupan yang diberikan secara geratis oleh laut. Maka disinilah kita bisa merujuk pada teorema Howard Gardner dalam teorinya yang tentang Multiple Intelligence. Bahwa salah satu dari delapan kecerdasan yang ia paparkan, ada satu kecerdasan yang berkaitan dengan alam. Itulah kecerdasan natural. Maka menghidangkan eksotika laut dengan segala gelimang pesonanya adalah salah satu proses pembelajaran bagi kita untuk menambah pundi kecerdasan pada diri kita. Orang tarbiyah menyebutnya Rihlah (melancong) disertai dengan Tafakur Alam (merenungkan alam).

Ingatkah kawan akan ayat berikut ini:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal. Yaitu, orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkat, ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia’. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. [Ali Imran: 190-191].

Yuk sedikit kita renungkan:

Lihatlah itu kawan, keindahan laut saat mentari mulai bangun dari sarangnya. Para pelancong biasa menyebutnya dengan istilah sun rise (matahari terbit). Awalnya, malu-malu ia menampakkan wajahnya pada dunia. Barangkali karena ia masih belum mandi atau cuci muka. Tapi tunggulah barang beberapa menit. Sinarnya mulai memancar menerangi sang bumi. Mulanya hanya sebagian yang ia berikan. Tapi sebagian sinar itulah yang menawarkan pemandangan indah dipermukaan laut. Gelombang laut yang menggulung ditingkahi riakan-riakan air, saat terkena tamparan sinar itu, menimbulkan sensasi penuh keindahan. Warna air laut yang berubah menjadi keperakan, auranya memantulkan kesilauan yang membius mata kita. Beribu cincin yang membentuk rantai hadir disana. Seluruh permukaan laut berkilauan sempurna. Seolah percikan kaca yang hancur diterkam kilat.

Saat sang surya mulai menampakkan keseluruhan jati dirinya, kulihat seorang nelayan yang keseluruhan tubuhnya dipenuhi peralatan tempur ikan, bersiap-siap untuk pergi ke kantornya, di tengah laut sana. Ditemani hanya oleh laut dan langit. Namun kulihat wajahnya penuh dengan sumringah seolah ia akan memboyong banyak ikan saat pulang. Ia bergegas menuju perahu perang andalannya. Dinyalakan starter dan busss…, perahu berjalan dengan laju 60 km/jam. Moncongnya membelah lautan bak tongkat Musa menciduk laut. Sejurus ia telah berada ditengah. Dan lama-kelamaan ia mulai tenggelam ke dalam air. Dan sekarang ia telah hilang keseluruhannya. Inilah pembuktian sains bahwa bumi itu bulat. Maka satu pelajaran moral disana: tak perlu pergi ke luar angkasa menggunakan satelit untuk mebuktikan bahwa bumi kita ini bulat.

Tepat saat mentari mencapai umbun-umbun dan sinarnya membakar semua yang ada di bumi, aku telah berselonjor di dalam mushollah kecil yang ada di pinggir pantai. Kunikmati basuhan lembut angin yang bertiup sepoi-sepoi. Anganku terbang melayang bersama sang angin menuju awan. Lalu kulanjutkan rekreasiku menuju langit ke tujuh untuk menjumpai makluk langit yang ada disana.

Pasca shalat Dzhuhur, tak sengaja mataku disengat rasa kantuk. Tak kuat menahan gempuran hasrat yang menyala-nyala, kurebahkan diri, seketika mati menggerayangi diriku. Aku tertidur hingga Ashar menjelang. Kutunaikan Asharku. Setelah itu, aku berhambur keluar untuk mengambil bagian lain dari keseluruhan hari itu. Aku tak ingin rugi.

Aku berjalan-jalan di sepanjang bibir pantai. Kulihat segerombolan anak-anak sedang bercanda ria. Sebentar-sebentar mereka berenang, dilanjutkan membuat benteng dari pasir, bermain bola, meloncat ke dalam perahu, memancing, dan terakhir kulihat mereka merebahkan dirinya ditengah hamparan pasir putih. Ingin sekali aku bergabung disana. Tapi kuurungkan diri untuk bergabung bersama mereka. Maka kuputuskan untuk menjadi seorang pengamat saja.

Kulanjutkan perjalanan, kali ini, aku menyisiri tepian pantai yang berbatu. Bongkahan batu laut bertumpuk-tumpuk saling berebut posisi. Kombinasi puzzlenya begitu acak. Namun bukan sembarang acak yang bisa dengan gampangnya dihancur leburkan sang gelobang. Meskipun acak, namun kekuatan lemnya begitu dahsyat. Ia telah menyatu dengan kulit tanah. Tak bergeming walau dihajar badai berkali-kali. Kulihat banyak binatang yang menempel di bebatuan itu. Mulai dari kelomang-kelomang, kerang-kerang kecil, ikan buntelan yang timbul tenggelam di sekitar bebatuan, serta binatang-binatang kecil lainnya. Mereka semua hilir mudik di bebatuan itu.

Hari telah sore, tepat pukul 17.30. Kuputuskan untuk mencari tempat yang paling PW (Paling Wenak) untuk bisa menjarah sun set sekitar pukul 18.00. Kulihat diujung sana, ada sebongkah batu raksasa yang duduk menjulang tinggi. Maka kuputuskan untuk menjejakkan kaki kesana. Saat sampai, kurebahkan diri barang sesaat, menghembuskan napas sambil memandangi langit yang sebentar lagi ditelan malam. Kubuka bekalku berupa roti, gorengan-gorengan serta sebotol teh. Kunikmati itu semua sambil mendengarkan kombinasi musik alam yang dibentuk oleh paduan: deburan ombak menghajar bebatuan, kicauan burung-burung, tawaan anak-anak yang timbul tenggelam ditelan suara ombak, deru mesin perahu para nelayan, serta desiran angin yang menampar wajahku dan pepohonan. Untuk kesekian kalinya anganku melayang. Pikiranku terbang melintasi prahara ditengah laut sana. Kubayangkan aku terbang seorang diri ditengah laut, dan sejurus sayapku seperti keseleo. Aku tak kuasa untuk terbang lagi. Tak ada tempat untuk menyandarkan diri. Maka gulungan ombak segera menelanku seketika.

Disaat seperti itulah aku terbangunkan. Ah, kulihat mentari sudah mula undur diri dari pentas gelanggang dunia. Aku segera berdiri. Menikmati indahnya sun set yang membentuk cahaya keemasan di atas langit sana.

Advertisements

3 Responses to "Laut"

subhanallah, nice post bro…lam kenal

hm…..laut..tak cukup kata bcra ttg laut..I like it..

Salah satu diantara sekian banyak kebesaran Allah.., Allahu akbar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Total Kunjungan:

  • 554,459 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Kenal Lebih Dekat di:

%d bloggers like this: