Nur Ali Muchtar

“BUKU YANG MENGKRITIK ABIS TETRALOGI LP”

Posted on: September 22, 2009

“BUKU YANG MENGKRITIK ABIS TETRALOGI LP”

Teman, awalnya saya sangat tertarik sekali melihat buku ini pada pandangan pertama. Ya begitulah. Selalu dan pasti kalo saya melihat buku-buku yang berkaitan dengan tetralogi Laskar Pelangi (LP), atau buku-buku yang berkaitan tentang sang pengarang, gairah saya meletup-letup.

Biasa, saya menemukannya di TM bookstore Detos, Depok. Tempat itu sudah menjadi perpustakaan saya saat ini. Pengganti perpustakaan pusat UI yang dulu sering saya kencani. Sekedar intermezo. Kenapa saya bermigrasi ke sana, ke TM itu? Mau tau? Karena referensi buku-buku bacaan disana lebih banyak dan juga koleksi buku-bukunya adalah keleksi terbaru. Ngeliatnya jadi seger ditambah penampakan suasana yang sangat nyaman baik dipandang, diraba, dicium, diduduki, diinjek-injek, ditiduri, dipacari. Hehe

Seperti biasa, jika sudah masuk ke sana, mata saya langsung jelalatan kemana-mana. Bukan karena ingin melihat pelayan-pelayan yang cantik mempesona, tapi karena godaan dari buku-buku itu. Baru saja saya masuk ke tempat penitipan tas, seolah-olah ratusan bahkan ribuan pasang mata telah melirik-lirik saya. Saat saya mengayuh kaki lebih jauh memasuki pelataran buku, serempak lambayan tangan mereka melambai-lambai mengibaskan pesonanya. Ada yang bergaya centil, agak-agak jutek gitu, ada yang menari-nari, ada yang pasang kuda-kuda, ada yang berdehem-dehem. Intinya, mereka semua berebut untuk menarik simpati saya. Ah dasar.

Nah saat itulah buku yang satu ini berhasil mengikat hati saya. Tak perlu berkeliling untuk menemukan buku bagus. Saat saya baca judulnya adalah “LASKAR PEMIMPI; ANDREA HIRATA“, langsung aja saya jambret dari tempat persembunyiannya. Tertera dibagian paling atas cover buku nama Nurhady Sirimorok. Siapa dia itu orang. Tak perduli. Tapi, sebelum menggondolnya menuju kasir, saya sempatkan dulu untuk melirik-lirik barang sejenak isi serta gaya bahasa yang dituturkan oleh sang empunya tulisan. Wuihhh,,lumayan. Gaya bahasanya lumayan mengikat, meski tak selihay kelitan kata-kata Andrea.

Kuboyong ia. Kubayar tunai di kasir. Eits, sempat kulirik pelayan cantik di kasir itu. Senyumnya merekah miri bunga matahari pukul 10. Dan nanti, belakangan, dia akan kecele bingung-bingung ngeliat saya mondar-mandir dalam ruangan dan bolak-balik ke kasir. Bukan karena saya genit untuk melirik, tapi karena memang saya membeli banyak buku dengan membayarnya atu-atu. Bingung dia. Biasa aja kale mbak.

Tak kuat menahan hasrat untuk segera melahapnya. Sesampainya di BTA, langsung aja saya bredelin kulitnya sedikit demi sedikit. Saya perkosa ia. Membuka sedikit-sedikit dengan gaya gambler mirit kartu. Dan brakkk. Daku kecewa. Kecewa berat dengan buku ini. Secara umum memang bagus dari segi penuturan bahasa. Tapi daku kecewa karena sang penulis, Nurhady Sirimorok itu, menghina-hina novel bagusnya bang Andrea. Hampir saja ga saya terusin proses pemerkosaannya. Tapi karena sayang campur penasaran. Saya gabres juga ampe tak bersisa.

Tentu teman semua penasaran apa aja yang dia –sang penulis- paparin di buah karyanya itu. Baiklah, dia ini:

Pertama-tama kita mulai dari mengapa dia menulis buku itu. Dia orang nulis itu buku karena dia merasakan kegundahaan akan dampak buruk yang mungkin ditimbulkan dari tetralogi laskar pelangi itu. Alasan yang paling kuat adalah dia tidak mau kalo pembacanya itu akan termakan oleh pemikiran kotor kaum modernis. Yang paling nyata dia bilang kalo Andrea itu orang yang pikirannya telah tercemar oleh polusi pemikiran kaum orientalis barat. Nah Andrea itu datang bersama tetralogi itu untuk menyebarkan virus pemikiran kotor itu.

Awalnya dia membuka dengan memproklamirkan komentar-komentar sang penggemar Andrea. Awalnya itu memang bagus. Saya kira dia orang juga penggemar bang Ikal. Tapi ternyata, perlahan-lahan tapi pasti, kedoknya mulai terbongkar. Setidaknya mulai dari bab tiga dia kobarkan semangat kebencian itu. Dia tulis judul bab tiganya itu dengan: Laskar Pelangi, Resep Menjadi Moderen. Cobalah sohibku semua baca sendiri. Saya aja ampe emosi ngebacanya. Beruntung saya sedang puasa. Kalo enggak. Hmmmm….

Dia komentarin tuh satu-satu kalimat-kalimat yang dia ga suka. Dia bilang Andrea ga logis lah. “gimana mungkin anak seusia SD dah tau sains-sains tingkat tinggi?“ katanya. Maka balas saya dalam hati, “ya iyalah, itu kan sekedar memoar yang bang Andrea kemas dalam bahasa sastrawi. Intinya, di lebay-lebin gitu dah“. Gitu aja kok diributkan.

Then dia ga setuju dengan praktek Andrea yang terlalu mengagung-agungkan sekolah formal. Seolah-olah harus S2 ke luar negeri dulu baru bisa sukses. Lebih lanjut dia bilang kalo Andrea itu telah termakan oleh kata-kata barat. Andrea itu ingin mengganti nama-nama hewan dan binatang dengan bahasa Barat dan Latin sana. Hal itu terlihat dari bagaimana Andrea menamakan banyak makhluk hidup dengan bahasa Latin. Nah untuk ini gumam saya adalah, “lah, bukannya itu justru bagus. Kita bisa belajar bahasa Latin. Bukankah di biologi kita disuruh menghafal itu semua. Bang Hady, di jurusan biologi FMIPA UI itu, para mahasiswanya malah harus-harus menghafal selain nama Indonesianya berikut juga nama Latinnya.

Ah, udahlah pusing saya. Kenapa ya ada orang yang bisa-bisanya nulis buku yang kayak gitu. Saya tetep bersuudzhon aja. Paling-paling saya hanya menantang sang penulis itu. Kalo kamu emang bisa, ga usah banyak cing cai. Sekarang, coba buat buku yang sefenomenal tetralogi bang Andrea itu. Bisa?

[Nur Ali Muchtar / DSI MII / BTA LA]

https://alymerenung.wordpress.com

“BUKU YANG MENGKRITIK ABIS TETRALOGI LP”

Teman, awalnya saya sangat tertarik sekali melihat buku ini pada pandangan pertama. Ya begitulah. Selalu dan pasti kalo saya melihat buku-buku yang berkaitan dengan tetralogi Laskar Pelangi (LP), atau buku-buku yang berkaitan tentang sang pengarang, gairah saya meletup-letup.

Biasa, saya menemukannya di TM bookstore Detos, Depok. Tempat itu sudah menjadi perpustakaan saya saat ini. Pengganti perpustakaan pusat UI yang dulu sering saya kencani. Sekedar intermezo. Kenapa saya bermigrasi ke sana, ke TM itu? Mau tau? Karena referensi buku-buku bacaan disana lebih banyak dan juga koleksi buku-bukunya adalah keleksi terbaru. Ngeliatnya jadi seger ditambah penampakan suasana yang sangat nyaman baik dipandang, diraba, dicium, diduduki, diinjek-injek, ditiduri, dipacari. Hehe

Seperti biasa, jika sudah masuk ke sana, mata saya langsung jelalatan kemana-mana. Bukan karena ingin melihat pelayan-pelayan yang cantik mempesona, tapi karena godaan dari buku-buku itu. Baru saja saya masuk ke tempat penitipan tas, seolah-olah ratusan bahkan ribuan pasang mata telah melirik-lirik saya. Saat saya mengayuh kaki lebih jauh memasuki pelataran buku, serempak lambayan tangan mereka melambai-lambai mengibaskan pesonanya. Ada yang bergaya centil, agak-agak jutek gitu, ada yang menari-nari, ada yang pasang kuda-kuda, ada yang berdehem-dehem. Intinya, mereka semua berebut untuk menarik simpati saya. Ah dasar.

Nah saat itulah buku yang satu ini berhasil mengikat hati saya. Tak perlu berkeliling untuk menemukan buku bagus. Saat saya baca judulnya adalah “LASKAR PEMIMPI; ANDREA HIRATA“, langsung aja saya jambret dari tempat persembunyiannya. Tertera dibagian paling atas cover buku nama Nurhady Sirimorok. Siapa dia itu orang. Tak perduli. Tapi, sebelum menggondolnya menuju kasir, saya sempatkan dulu untuk melirik-lirik barang sejenak isi serta gaya bahasa yang dituturkan oleh sang empunya tulisan. Wuihhh,,lumayan. Gaya bahasanya lumayan mengikat, meski tak selihay kelitan kata-kata Andrea.

Kuboyong ia. Kubayar tunai di kasir. Eits, sempat kulirik pelayan cantik di kasir itu. Senyumnya merekah miri bunga matahari pukul 10. Dan nanti, belakangan, dia akan kecele bingung-bingung ngeliat saya mondar-mandir dalam ruangan dan bolak-balik ke kasir. Bukan karena saya genit untuk melirik, tapi karena memang saya membeli banyak buku dengan membayarnya atu-atu. Bingung dia. Biasa aja kale mbak.

Tak kuat menahan hasrat untuk segera melahapnya. Sesampainya di BTA, langsung aja saya bredelin kulitnya sedikit demi sedikit. Saya perkosa ia. Membuka sedikit-sedikit dengan gaya gambler mirit kartu. Dan brakkk. Daku kecewa. Kecewa berat dengan buku ini. Secara umum memang bagus dari segi penuturan bahasa. Tapi daku kecewa karena sang penulis, Nurhady Sirimorok itu, menghina-hina novel bagusnya bang Andrea. Hampir saja ga saya terusin proses pemerkosaannya. Tapi karena sayang campur penasaran. Saya gabres juga ampe tak bersisa.

Tentu teman semua penasaran apa aja yang dia –sang penulis- paparin di buah karyanya itu. Baiklah, dia ini:

Pertama-tama kita mulai dari mengapa dia menulis buku itu. Dia orang nulis itu buku karena dia merasakan kegundahaan akan dampak buruk yang mungkin ditimbulkan dari tetralogi laskar pelangi itu. Alasan yang paling kuat adalah dia tidak mau kalo pembacanya itu akan termakan oleh pemikiran kotor kaum modernis. Yang paling nyata dia bilang kalo Andrea itu orang yang pikirannya telah tercemar oleh polusi pemikiran kaum orientalis barat. Nah Andrea itu datang bersama tetralogi itu untuk menyebarkan virus pemikiran kotor itu.

Awalnya dia membuka dengan memproklamirkan komentar-komentar sang penggemar Andrea. Awalnya itu memang bagus. Saya kira dia orang juga penggemar bang Ikal. Tapi ternyata, perlahan-lahan tapi pasti, kedoknya mulai terbongkar. Setidaknya mulai dari bab tiga dia kobarkan semangat kebencian itu. Dia tulis judul bab tiganya itu dengan: Laskar Pelangi, Resep Menjadi Moderen. Cobalah sohibku semua baca sendiri. Saya aja ampe emosi ngebacanya. Beruntung saya sedang puasa. Kalo enggak. Hmmmm….

Dia komentarin tuh satu-satu kalimat-kalimat yang dia ga suka. Dia bilang Andrea ga logis lah. “gimana mungkin anak seusia SD dah tau sains-sains tingkat tinggi?“ katanya. Maka balas saya dalam hati, “ya iyalah, itu kan sekedar memoar yang bang Andrea kemas dalam bahasa sastrawi. Intinya, di lebay-lebin gitu dah“. Gitu aja kok diributkan.

Then dia ga setuju dengan praktek Andrea yang terlalu mengagung-agungkan sekolah formal. Seolah-olah harus S2 ke luar negeri dulu baru bisa sukses. Lebih lanjut dia bilang kalo Andrea itu telah termakan oleh kata-kata barat. Andrea itu ingin mengganti nama-nama hewan dan binatang dengan bahasa Barat dan Latin sana. Hal itu terlihat dari bagaimana Andrea menamakan banyak makhluk hidup dengan bahasa Latin. Nah untuk ini gumam saya adalah, “lah, bukannya itu justru bagus. Kita bisa belajar bahasa Latin. Bukankah di biologi kita disuruh menghafal itu semua. Bang Hady, di jurusan biologi FMIPA UI itu, para mahasiswanya malah harus-harus menghafal selain nama Indonesianya berikut juga nama Latinnya.

Ah, udahlah pusing saya. Kenapa ya ada orang yang bisa-bisanya nulis buku yang kayak gitu. Saya tetep bersuudzhon aja. Paling-paling saya hanya menantang sang penulis itu. Kalo kamu emang bisa, ga usah banyak cing cai. Sekarang, coba buat buku yang sefenomenal tetralogi bang Andrea itu. Bisa?

[Nur Ali Muchtar / DSI MII / BTA LA]

https://alymerenung.wordpress.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Total Kunjungan:

  • 554,459 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Kenal Lebih Dekat di: