MENULIS SEUMUR HIDUP

Kisruh Tiket

Posted on: December 27, 2010

Niat saya untuk menonton langsung final leg 2 Piala Suzuki AFF harus kandas. Kesulitan untuk mendapatkan tiket menjadi alasan utama. Ketidakprofesionalan pihak penyelenggara (panitia lokal) menjadi faktor kunci kekisruhan. Kita bisa melihatnya pada berita-berita di televisi betapa amburadulnya manajemen penjualan karcis oleh PSSI. Banyak suporter yang tidak puas. Mereka melampiaskannya di sana, di senayan.

Saya menyaksikannya secara langsung kemarin bagaimana kekacaua yang terjadi di sana. Mulanya, pukul setengah empat pagi, seorang teman menelepon saya. Ia mengatakan bahwa antrean sudah demikian panjang meski masih pagi-pagi buta. Banyak orang yang bela-belain untuk menginap di sana. Bahkan ada yang telah mengantri sejak sore hari. Padahal, kupon yang akan dibagikan baru akan dibuka keesokan paginya pukul 10. Teman saya itu berangkat dari depok pukul dua pagi dan sampai senayan sekitar pukul tiga pagi. Sedang saya, setelah berdoa meminta petunjuk pada gusti Allah, berangkat juga pukul setengah lima pagi.

Sesampainya di sana, benar, antrean sudah amat panjang. Setau saya, ada sekitar lima loket yang dibuka dan kesemuanya telah berbentuk ular dimana saya ada pada posisi perut. Tapi pajang keseluruhan ular untuk satu loket saya perkirakan sekitar lima ratus meter. Dan ada dua antrean untuk satu loket.

Mulanya saya tetap optimis untuk mendapatkannya. Makanya saya rela-relain untuk mengantri meski antrean sudah panjang pagi itu. Saya bersama “orang-orang malang” itu yang terkadang harus berdiri untuk merapatkan barisan tetap sabar awalnya. Namun, semakin siang hari, semakin memanas tensi para suporter.

Akhirnya loket di buka pukul 10 lebih. Saya mengantri di loket TVRI. Namun betapas sialnya, belum lama loket dibuka terpaksa harus ditutup kembali akibat kisruh para pengantiri. Saling dorong antar pengantri tak terelakan terutama di bagian depan. Para pengantri kecewa. Dan ujungnya, sekitar pukul 11, antrian yang telah dibentuk demikian panjang sejak pagi dini hari (bahkan sore hari kemarin), buyar. Para suporter menyerbu loket secara bergerombol. Bentrokan tak bisa dihindarkan. Yang saya lihat kemarin, bentrokan mungkin terjadi antara petugas keamanana dan panitia dengan para suporter. Tapi ada juga sepertinya keributan antar suporter.

Pintu loket dibobol. Botol-botol minuman melayang-layang di atas kepala. Kericuhan kian membesar. Saya dan seorang teman memutuskan untuk segera pulang. Teman saya yang lain yang menitip karcis telah mewanti-wanti, “Li, kalo seandainya ricuh, lo langsung balik aja. Nyawa lo lebih penting”. Tanpa pikir panjang saya langsung go hom.

Setelah sampai di kost-an, saya langsung menyalakan televisi. Dan dari televisi saya ketahui bahwa para suporter yang tidak puas itu mulai menerobos masuk stadion. Tapi agaknya memang panitia yang menggiring mereka untuk masuk ke dalam stadion. Jangan dikira di dalam stadion cerita usai. Para suporter semakin menjadi-jadi. Bisa saya lihat mereka mulai mengobrak-abrik beberapa fasilitas stadion termasuk menginjak-injak rumput yang sedianya dipakai tanggal 29 Desember nanti. Tapi, itulah suporter. Mereka sudah demikian geram dengan buruknya mekanisme penjualan tiket.

Setelah merasakan betapa kerasnya perjuangan untuk mendapatkan tiket. Akhirnya saya maklum mengapa para suporter bisa demikian beringasnya. Dan bagi saya, keberingasan mereka itu wajar-wajar saja. Bukan salah mereka jika mereka harus berbuat onar di sana. Sudah mengantri berjam-jam sejak pagi dini hari, belum tidur, belum sarapan, dorong dan desak-desakan antar suporter, menjadi penyebab emosi mereka meningkat.

Kekisruhan ini pun berbuntut pada kehilangan nyawa. Saya tidak tau berapa orang tepatnya yang meninggal. Berdasarkan keterangan kompas, satu orang pemulung meninggal karena masuk angin. Tapi yang pingsa, banyak sekali. Astaghfirullahaladzhim. Adakah di negara lain yang seperti ini?

Saya tak habis pikir aja, di era teknologi seperti ini, PSSI masih tak mau menggunakan bantuan internet. Mereka lebih memilih cara manual yang sangat-sangat bodoh menurut saya. Lima loket untuk belasan ribu orang. Sungguh tak masuk diakal. Saya tak tau apa yang mereka pikirkan. Tapi patut juga diperhatikan pendapat seorang teman yang mengatakan: “kalo lewat online, gak bisa dikong-kalingkong deh tiketnya. Gak bisa “dicaloin” deh. Gak bisa dapet untung besar dech”. Setuju?

Sekalian saya lemparkan pertanyaan pada teman saya itu, “kenapa mereka tidak mau menggunakan jasa agen atau membuka loket yang tersebar di beberapa daerah sehingga tidak terpusat hanya di GBK?”. Jawabnya, “Kalo lewat agen, kan ngeluarin duit lagi. Nanti untungnya tambah kecil dech. Kalo ngebuka loket di daerah-daerah, untungnya entar kecil dong”. Ckckck, masuk akal juga. “Ah, terserah kamulah PSSI. Mau markas kamu dibakarpun kami tak peduli. Dibubarkan pun kami tidak peduli. Kami sudah muak dengan segala intrikmu”.

Kesedihan rakyat Indonesia bertambah dengan kalahnya timnas di leg 1 dengan skor telak 3-0. Sebuah skor yang hampir tidak bisa kita percaya. Tapi semoga di leg 2 kita bisa menang besar agar tetap bisa menjadi jura untuk kali pertama. Semoga.

kisruh tiket

1 Response to "Kisruh Tiket"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Total Kunjungan:

  • 520,163 hits

Follow me on Twitter

Yang Lagi OL

PageRank

Kenal Lebih Dekat di:

%d bloggers like this: